Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 45


__ADS_3

Ada semacam perasaan nan menenangkan juga hangat menyelimuti, begitulah lembut selayaknya sedang berbaring di atas tumpukan kelopak-kelopak bunga yang semerbak menguar terbawa angin. Ketenangan dan keindahan ini tidak mungkin mampu tertolak, mensenyumkan wajah siapa pun yang merasakan pastinya.


Belum lagi, hal semacam ini terasa seperti di rumah. Saat di mana ibu memasak, dan ketika ayah sibuk akan pekerjaan di teras sembari ikut bergabung dengan para pekerja di lahan bunga. Bertepatan dengan itu pula, sebelah tangan teraih pun tergenggam menghentikan langkah dari keinginan untuk mendekati ayah lebih lagi.


“Ge?” lirihnya, membalas senyuman sang kakak. Apa aku kembali sekarang? Benarkah ... aku kembali ke rumah sekarang? Sembari mengedarkan pandangan, menangkap sosok Que Mo sibuk mendorong gerobak menyapa melambaikan tangan. “Ge ... ini ...?” Memalingkan wajah kembali pada sang kakak.


Namun, mengejutkannya. Sang kakak malah menyodorkan semangkuk ramuan kecokelatan pekat seraya meminta untuk meminumnya selagi hangat. Akan tetapi, kenapa? Yang mana Zhen Xian menutup rapat hidung, tak lagi tahan akan aroma menyengat yang sukses pula menghilangkan segala aroma semerbak bunga-bunga yang ada. Semacam, penghidunya telah kehilangan kemampuan.


Menepis, menjatuhkan bahkan memecahkan mangkuk menjadi adegan berikutnya. Pun Zhen Xian bergeming menyaksikan kekacauan yang diciptakan, merasa bersalah pada sang kakak yang entah kenapa pula kian menjauh dan menjauh bahkan sekeras apa pun memanggil suara bagai tak didengarkannya.


Dalam kesamar-samaran pandangan yang dikejap-kejapkan, berusaha netra beradaptasi dengan cahaya yang menyusup masuk. Mendapati sang kakak tak lagi berada jauh darinya, melainkan sangat dekat kini. Dan pastinya lagi, ketika dipanggil sang kakak menanggapi dengan cepat pula sembari tersenyum.


“Kau bangun sekarang ... syukurlah, syukurlah, Xian’er,” ucapnya lega, menggenggam lebih erat lagi sebelah tangan sang adik. “Bagaimana, apa masih merasa kurang nyaman atau masih pusing?”


Zhen Xian sendiri menggeleng, lidah bagai keluh sedangkan netra mengaliri sejumlah cairan bening seraya berusaha membangunkan diri dari posisi berbaringnya. Pun kemudian memeluk sang kakak, kelegaan memenuhi. “Maafkan aku ... ini semua terjadi karenaku, Ge,” lirihnya, mendapati bercak darah menembusi kain pakaian dari punggung kakaknya ini. “Sakitkah?” tanyanya penuh pilu, seakan ia-lah yang mendapat luka cambukan itu.


Menggeleng, berusaha pula Zhen Chen menahan air matanya untuk tak luruh. Di saat seperti ini, dirinya harus terlihat baik-baik saja meskipun nyatanya tak begitu baik, bukan? Setidaknya dengan begitu, sang adik tidak akan terlalu khawatir dan dapat sembuh dari demamnya lebih cepat lagi. “Kenapa kau harus sampai sakit begini? Kenapa tidak menjaga dirimu?”


“Karena aku merindukanmu ... juga mengkhawatirkanmu ....” Terisak, sisa ucapan pun tertelan tanpa diminta. Sedangkan pandangan penuh air mata itu menangkap nakas, mendapati mangkuk sisa ramuan terpampang. “Terima kasih, Ge,” ucapnya. Terima kasih sudah merawatku, padahal dirimu saja masih terluka parah.


“Apa hubungan kita masih perlu mengucapkan terima kasih?” Melepaskan pelukan, lekat memandang pun menyentuh wajah sang adik. “Aku baik-baik saja. Lihat! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Tersenyum, menyeka pergi air mata yang mana menghentikan pula sesi menangis sang adik.


“Kau pikir bisa membohongiku? Wajahmu masihlah begitu pucat, Ge. Kau tidak bisa membohongiku.”


“Aku sudah membaik beberapa hari ini, sungguh, tapi lihatlah dirimu yang sudah 2 hari tertidur bahkan demam tinggi.”


Yang mana Zhen Xian keluar dari ranjang, berdiri berhadap-hadapan dengan sang kakak. “Aku sudah membaik setelah melihatmu, Ge.” Berputar-putar riang, meyakinkan lebih lagi jikalau yang diucapkan bukanlah omong kosong belaka. Akan tetapi, pandangannya selalu menangkap mangkuk sisa ramuan di sana bagaikan suatu hal yang mengganggu.

__ADS_1


“Kau kenapa?”


“Ge, apa mungkin kau yang ....” Menggeleng, semacam ada sisi lain dalam diri Zhen Xian menahannya untuk tidak bertanya. Lagian jikalau bukan sang kakak, siapa lagi yang akan merawatnya, bukan? Masih ada juga Que Mo ataupun Dayang Yun, dan jika bukan mereka ... Jin Kai pria itu?


Tidak! Lebih baik aku tidak tahu sama sekali jika begitu adanya. Menyentuh keningnya, mengenyahkan jauh-jauh pikiran yang mampu membuat emosi kekesalannya meningkat tak karuan. “Bagaimana dengan Meng Jun dan Mo Zhu sendiri, Ge?” tanyanya mengalihkan, masa bodoh jikalau memang Jin Kai yang merawat. Yang terpenting, saat itu terjadi ia taklah sadarkan diri, dan yang terpenting pula sang kakak di hadapannya kini kembali bersamanya.


“Mereka juga baik-baik saja. Semua baik-baik saja, kecuali dirimu. Namun, tampaknya sekarang kau sungguh sudah membaik, syukurlah. Die dan Niang pasti akan senang mendengar kabar ini,” jawab Zhen Chen.


Lagian memang benar tidak ada gunanya memikirkan Jin Kai, bukan? Bahkan jika itu hanya terpikirkan sebentar saja, pria kejam penuh tipu muslihat itu hanya akan menghancurkan sepenuhnya hari membahagiakan Zhen Xian. Tidak, hal itu pastinya tak boleh sampai terjadi, tidak akan.


“Ge, kau belum makan apa-apa, bukan? Bagaimana jika kita sarapan bersama?” ajaknya cukup antusias. “Que Mo! Dayang Yun!” serunya, padahal sang kakak belumlah memberikan respons, sedangkan yang dipanggil memberikan hormat sebagaimana harusnya seorang bawahan, kecuali Que Mo tentunya yang dihentikan cepat oleh Zhen Xian sendiri. “Siapkan makanan untuk dua orang, tidak, tidak ... kurasa tiga orang.”


Dengan senang hati, Dayang Yun menerima dan segera melaksanakan permintaan Zhen Xian. Terlihat pula dirinya begitulah senang, entah karena memang senang Zhen Xian yang telah bangun atau ada alasan lainnya. Entahlah, karena balik lagi Zhen Xian atau bahkan Zhen Chen sendiri tak ingin menerka-nerka.


Lebih baik menikmati waktu kebersamaan seperti ini, bukan? Di mana lengkap pula rasanya akan keberadaan Que Mo yang ucapannya kini terdengar khawatir, tapi juga terdengar layaknya suatu protes akan lamanya Zhen Xian itu sendiri sadarkan diri. “Maaf, sungguh maaf, Que Mo.”


Namun, benarkah gadis ini sedang meminta maaf? Yang mana wajahnya sama sekali tak menunjukkan demikian adanya. Apalagi ketika bicara dengan Zhen Chen, semacam keberadaan Que Mo sendiri tak lain hanya sekadar pajangan belaka.


Akan tetapi, keputusan yang dibuat Que Mo sukses membawanya menyaksikan suatu hal yang sangat tidak mungkin bagi seorang saudara akan melakukan hal itu pada adik perempuannya. Apa ini? Kenapa tatapan Zhen Chen layaknya seorang pria yang menyukai wanita? Kembali Que Mo memalingkan wajah, berpura-pura menyibukkan diri akan kegiatan yang sebenarnya telah selesai dilakukan. Tidak mungkin! Sadarlah Que Mo, kau tahu lebih dari tahu bahwa mereka sangatlah dekat. Benar, itu benar. Apa yang kau pikirkan sungguh tak masuk akal, Que Mo.


Pun Que Mo kembali menolehkan pandangan diam-diam memerhatikan Zhen Chen, pun jenius bunga itu menangkap pandangan Que Mo dengan tanda tanya memenuhi wajah. Yang mana Que Mo tidak ada pilihan selain mendekatkan langkah sembari memutar otak jawaban apa yang harus dikatakan. Sedihnya, otak beku tak memiliki ide sama sekali.


Beruntung, ramai-ramai suara di luar kamar sembari hadirnya Dayang Yun melaporkan sarapan telah siap, sukses menjadikan Que Mo tak perlu menjawab. Pun mereka semua keluar kamar, mendapati meja sungguh telah dipenuhi makanan nan menggiurkan.


“Terima kasih, Dayang Yun,” ucap Zhen Xian.


Di mana Dayang Yun sendiri akhirnya meninggalkan mereka, meminta pelayan lainnya ikut keluar bersama termasuk Que Mo. Namun, lagi dan lagi Zhen Xian menghentikan, membiarkan Que Mo tetap di sini bersama dirinya juga sang kakak.

__ADS_1


Jikalau demikian, Dayang Yun pun tak bisa berkata apa-apa lagi selain keluar bersama pelayan lainnya. Meninggalkan ketiganya secara pribadi, tepatnya mereka yang memulai makan. Yang mana sesekali Zhen Xian akan mengambilkan lauk untuk diberikan pada sang kakak, dan juga Que Mo pastinya. Tawa mulai terdengar, tak peduli akan sekitaran yang tak diketahui mereka jikalau Jin Kai memerhatikan dalam diam tepat di luar dari kediaman yang sengaja dibukakan pintunya oleh Dayang Yun.


“Tampaknya dia sudah membaik.”


“Sejak bangun dan melihat Zhen Chen. Selir Zhen lebih banyak tersenyum, tertawa juga semangat,” timpal Dayang Yun. “Taizi, apa benar kau tidak ingin masuk?”


“Aku hanya akan membuat suasana menjadi dingin,” balasnya. “Sudahlah, yang terpenting kondisinya sudah membaik. Untuk hal lainnya aku akan sabar menunggu.”


“Taizi, jangan khawatir. Aku akan melaporkan setiap tindakan yang dilakukan Selir Zhen dan akan membantu sebisa mungkin ... karena aku adalah orangmu.”


Tersenyum, benar. Jin Kai sangat puas akan respons yang didapat. Dan memang sudah semestinya dayang setia yang melayani mendiang Selir Agung atau ibunya ini bersikap demikian, bukan? Jangan sampai berani-beraninya melupakan kepada siapa kesetiaan itu harus diberikan. Di mana senyum dari Jin Kai sendiri berubah menjadi keseriusan yang mampu menurunkan pandangan Dayang Yun lurus pada permukaan tanah pijakannya.


“Lin Feng, mari kita pergi.”


Membawa diri menjauhi Kediaman Chahua, pun keseriusan yang ditunjukkan pada Dayang Yun barusan hilang sudah. Tergantikan akan suatu desahan, atau dapat dikatakan kegugupan. Namun, terkait hal apa hingga langkah yang belumlah begitu jauh dihentikan kembali, menoleh pada kediaman.


“Taizi, Huangdi harusnya tidak akan terlalu memberatkanmu.”


“Benarkah? Dia adalah Huangdi. Apa menurutmu benar, aku akan bebas dari tuntutan hukuman beratnya?” tanyanya, dan Lin Feng berakhir diam.


Karena memang benar, Raja adalah sosok yang sangat tegas. Jika salah maka salah, bahkan tak peduli jika orang itu adalah keturunannya sendiri. Sedangkan Jin Kai, sebagai seorang Putra Mahkota yang dituntut untuk selalu setia padanya, malah kini dengan beraninya membebaskan Zhen Chen beserta Meng Jun dan juga Mo Zhu tanpa izin langsung ataupun resmi.


Akankah Jin Kai sungguh mendapat hukuman parah dari sang ayah kali ini? Yang mana dua hari lalu saat ketika Zhen Xian masihlah belum sadarkan diri, Raja telah memberitahukan akan mengumumkan hukuman kelancangan Jin Kai langsung di depan seluruh menteri kerajaan yang ada.


“Hanya karena seorang wanita, kau jadi lancang dan berani melawanku?!”


Pekikan itu masihlah terdengar jelas di telinga, mendatangkan kembali ingatan dalam benak Jin Kai ketika Raja begitulah murka sampai tangan melayang memukul Jin Kai hingga kehilangan keseimbangan. Pun Lin Feng yang menemani waktu itu, memohon dengan sangat pada Raja untuk tidak bermain fisik. Berusaha menenangkan amarah yang akhirnya justru Lin Feng-lah yang menjadi bahan pelampiasan sang Raja. Menendang, menjadikan Pengawal Pribadi setia ini bersujud seraya tubuh mendapatkan pukulan bertubi-tubi.

__ADS_1


Ingatan itu sangatlah jelas, dan itulah sosok ayah di mata Jin Kai. Tak ada kehangatan, tak ada kepedulian dan tak ada kasih sayang selagi ia tak bermanfaat baginya.


Sementara bagi Jin Kai sendiri, menyaksikan orang terdekatnya terluka dikarenakan dirinya, bagaimana mungkin tak terluka? Biar kata tak terlihat lukanya, tapi rasa sakit yang ia dirasakan jauh mengalahkan luka itu sendiri. Terukir nan jauh di dalam hatinya.


__ADS_2