
Tak lagi ada luruhan air mata, tak pula ada wajah sembab. Yang ada kini hanyalah ketajaman netra diarahkan pada sang surya yang hampir menenggelamkan diri, cahaya kemerahan pun memenuhi permukaan air kolam di mana Zhen Xian kini berdiri memandangi. Tidak, lebih tepatnya gadis muda ini memandangi tiap bangunan istana nan kokoh yang ada.
Namun, benarkah ini Zhen Xian? Wajah sama, tapi aura yang memancar dari tubuh yang dibawanya bergerak pergi meninggalkan area kolam ini terlihatlah seperti bukan dirinya yang biasa. Yang mana kedua tangan dikepalkan erat seraya mulut terkatup mempertegas rahangnya.
Zhen Xian gadis ini, akan ke mana sekiranya menuju kini?
Langkah yang tadinya teratur, mulai dipercepat seolah ada sesuatu yang mengejar. Tak heran apabila pelayan istana yang dijumpai atau dilaluinya memerhatikan dengan tanda tanya menguasai wajah mereka. Lebih tepatnya, terselipkan pula suatu kebencian.
‘Bagaimana bisa adik dari seorang pelaku pembunuhan masih bisa bebas berkeliaran? Semacam istana ini adalah miliknya saja’.
Namun, Zhen Xian tak peduli sama sekali, atau barangkali tak sadar akan pandangan para pelayan padanya. Lagian, para pelayan itu pun tidak akan berani berbuat hal-hal yang akan melukai fisik. Masih ingat dengan jelas dalam ingatan mereka, apa risiko jikalau sampai menyakiti Zhen Xian. Bahkan sang kakak saja yang merupakan pelaku kasus keracunan Putra Mahkota, masih dibiarkan saja tenang dalam penjara sana. Bukankah ini bukti, seberapa besar Putra Mahkota pujaan hati para pelayan ini menghargai pun menghormati Zhen Xian? Tak ingin melukai perasaan Zhen Xian yang memanglah bukan rahasia lagi akan kedekatannya dengan sang kakak, ketua dari Departemen Dekorasi.
Akan tetapi, apa ini? Zhen Xian sukses dibuat menghentikan langkah berkat jalan yang terhadang. “Maaf, Nona tidak bisa masuk!”
Sukses Zhen Xian dibuat mengarahkan pandangan dari yang nyatanya tempat dituju tak lain adalah Kediaman Putra Mahkota, tajam ke arah pengawal di mana kekesalan bagai siap meledak tak mampu tertahankan lagi. “Panggil Lin Feng! Katakan padanya Zhen Xian ingin bicara!”
“Ini kediaman Taizi. Menurutmu siapa dirimu berani memberi perintah pada pengawal istana!”
“Aku akan mengingat wajahmu,” kecam Zhen Xian, mendesah seraya melepaskan kepalan tangan. “Kalian berdua yakin tidak akan mengizinkan?” ucapnya lagi, kian mengikis jarak seolah untuk membiarkan pengawal ini melihat lebih jelas lagi siapa dirinya.
Dan benar saja, hal itu sukses menjadikan kedua pengawal ini melangkah mundur sembari bertukar pandang. Barangkali baru tersadarkan siapa gadis bernama Zhen Xian ini. Di mana penyelaan tegas seseorang mengejutkan dua pengawal ini, mendapati Lin Feng seseorang tersebut. “Kenapa ribut-ribut?” tanyanya.
“Tuan, Nona ini ingin bicara denganmu,” lapor salah satu pengawal, menyingkirkan diri. Dengan begitu, Lin Feng akhirnya mampu melihat siapa sosok yang datang mencarinya. “Zhen Xian,” gumamnya.
“Aku ingin bicara sebentar.” Pun Zhen Xian menarik diri, menjauhi kediaman Jin Kai yang tentu saja diikuti pula Lin Feng. Setidaknya di sini tidak ada yang mengawasi, biar kata masih lingkup area kediaman Jin Kai memang.
Lin Feng, hanya diam menanti hal apa yang akan disampaikan gadis ini.
“Saat Taizi bangun. Sampaikan padanya untuk segera membebaskan Chen Ge, jangan pernah pula mengusik keluargaku dengan semua permainan kotor dan liciknya.”
“Kau sudah tahu rupanya.”
“Awalnya kupikir bisa menjadi teman, tapi sekarang ....” Berbalik, berhadap-hadapan dengan Lin Feng. “Jangankan teman, melihatnya saja aku muak. Beritahu pula dia, aku akan menjadi selirnya sesuai dengan rencana licik yang dimainkan.” Yang mana netra kembali mendatangkan embun, dan Zhen Xian seketika memalingkan wajah dari pengawal pribadi Jin Kai ini seraya membawa diri pergi.
“Zhen Xian!” panggil Lin Feng kemudian. “Jangan terlalu membenci Taizi. Dia hanya terlalu menyukaimu dan takut kehilanganmu, itu saja.”
Tersenyum pahit, sebulir air mata pun kembali luruh menjejaki wajah Zhen Xian yang berusaha menahan diri untuk tidak terlarut dalam tangisan. Mendesah. “Dia tidak pantas untuk dicintai. Juga! Jangan pernah memanggilku Zhen Xian lagi. Baik untukmu ... dan juga Taizi,” ucapnya, bergegas pergi.
Pun Lin Feng dibuat bergeming, menyadari dengan betul gadis ceria penuh senyuman itu telah berubah kini. “Apa ini yang dimaksudkan Zhen Chen?” gumamnya, menolehkan pandangan pada Kediaman Jin Kai. “Apa hal ini akan semakin runyam ke depannya?” Menggeleng-geleng, mengenyahkan pikiran buruk yang ada. Namun, tampaknya pikiran itu tak bisa dienyahkan dengan begitulah mudah. Jika begitu, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus Taizi lakukan?
__ADS_1
Yang mana Zhen Xian sendiri kini telah kembali ke Departemen Dekorasi, mendapati Que Mo bersama Meng Jun dan juga Mo Zhu menanti dirinya. Pun Zhen Xian tak lagi berwajah masam, tersenyum seraya mulut meminta ketiga temannya ini kembali pulang untuk istirahat sebelum hari kehilangan cahaya sepenuhnya, menggelap.
“Kau tidak terlihat sehat, apa kau baik-baik saja?” tanya Meng Jun, karena jelas adik temannya ini bertingkah aneh. Bahkan pandangan saja seringkali dibuang ke arah lain. “Zhen Xian,” panggil Meng Jun, pun Zhen Xian menolehkan pandangan padanya.
Namun, gadis ini mengangguk sebagai respons atas pertanyaan Meng Jun tadi, mengartikan bahwa dirinya memanglah baik-baik saja. Sedangkan mulut, berakhir menyampaikan pesan yang terbilang menenangkan, yaitu terkait Zhen Chen yang meminta lainnya untuk tidak perlu khawatir dan menjamin pula segala hal akan membaik tanpa terjadi apa-apa.
Hal itu pun sukses menjadikan Que Mo, Meng Jun dan juga Mo Zhu saling bertukar pandang. Berada di antara percaya tidak percaya, tapi apa yang bisa dikatakan jikalau Zhen Xian sendiri tidak ingin mengatakan lebih. Maka, pengalihan topik pun Que Mo lakukan untuk memecahkan keheningan ini. “Ke mana kau pergi? Siapa yang kau temui?”
Hanya satu kata, ‘Taizifei’ yang keluar dari mulut Zhen Xian seraya menyunggingkan senyuman. Senyuman yang menundukkan wajah Zhen Xian sembari tungkai dibawanya meninggalkan Departemen Dekorasi pun istana memuakkan ini.
Punggung yang biasanya tegak, kini terlihat lesu layaknya bunga kehilangan kesegaran berkat terpaan kencang angin yang melanda. Di mana sepanjang perjalanan pulang mereka, dirinya tak mengatakan sepatah kata apa pun. Bahkan ketika berpisah jalan dengan Meng Jun juga Mo Zhu, gadis ini tetap saja demikian adanya.
Sekiranya, sampai kapan harus membiarkan ini terus-terusan dialami? Bagaimana jikalau sesampainya di rumah, dan ketika Tn. Zhen dan Ny. Zhen bertanya? Dan hal ini sukses mempercepat langkah Que Mo, menghadang jalan Zhen Xian yang seketika pula berhenti. “Katakan, apa yang kau sembunyikan?”
“Tidak ada hal yang seperti itu, Que Mo.”
“Kau pikir aku bodoh. Jika memang semua lancar, kau tidak akan bersikap seperti ini. Kau pikir kau pandai menyembunyikan sesuatu? Apa kau pikir Meng Jun dan Mo Zhu tidaklah menyadarinya?”
Namun, gadis ini masih tetap setia dengan bungkamnya yang bagai itu mulut tak akan mampu dibukakan lagi. Menyaksikan itu, Que Mo pada akhirnya memegang kedua bahu Zhen Xian sembari memintanya untuk menatap balik. “Apa aku ini masihlah orang asing bagimu?” tanyanya, pun pertanyaan itu malah menjadikan Zhen Xian tenggelam dalam tangisan.
Sesuatu yang salah, benar-benar telah terjadi di luar dari dugaan yang ada barangkali. Yang mana Que Mo hanya berakhir mendesah, menepuk-nepuk pelan punggung gadis terisak sulit mengontrol tangisan ini. Sampai pada waktu yang entah berapa lama telah dilalui, tangisan itu tergantikan sudah dengan suara pekikan.
“Tidak ada cara lain. Hanya ini yang bisa kulakukan, Que Mo.”
Udara malam yang menurunkan embun malah membuat Que Mo kepanasan. Mondar-mandir sembari tangan mengipas-ngipas dirinya, sesekali helaan napas dikeluarkan dari mulutnya yang kasar akan suara tak beraturan itu. “Aku akan pergi dan memberitahukan bahwa kau membatalkan ide gila itu.”
Dengan cepat pula Zhen Xian menghentikan langkah pria ini, meminta Que Mo tenang dahulu. “Berhentilah, jika kau pergi ke sana untuk membatalkan maka semuanya akan lebih sulit lagi ... terutama pada Chen Ge, Que Mo.”
“Berhenti! Bagaimana bisa aku berhenti? Kau akan menjadi selir, seorang selir Zhen Xian!” pekik Que Mo lagi. “Jika Zhen Chen tahu, menurutmu apa yang akan dilakukannya? Bagaimana dengan orang tuamu?”
“Lalu ...! Haruskah aku membiarkan Chen Ge terluka? Keluargaku terluka?! Dia adalah Taizi, seorang yang licik nan kejam yang akan melakukan apa saja bahkan membunuh. Baginya, semua hal itu sangatlah mudah, Que Mo. Bahkan dia rela meracuni dirinya sendiri untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.”
Que Mo yang tak kuasa menahan amarah hanya mampu berteriak keras menyuarakan nama Jin Kai. Benar, dunia ini memang hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkuasa. Kian berkuasa, kian pula mampu mendapatkan segalanya dengan mudah. Sedangkan, mereka yang tak begitu memiliki kekuasaan hanya mampu menjadi bidak yang diatur-atur ataupun menuruti saja.
Apa mungkin, bagi anggota kerajaan itu ... hidup ini adalah papan dari permainan catur yang biasa mereka mainkan di sela-sela waktu senggang mereka?
“Bantu aku menjelaskan pada kedua orang tuaku, Que Mo. Kumohon padamu.”
Jikalau demikian, lantas bagaimana Que Mo mampu menolak? Apa lagi yang mampu dikatakan Que Mo terkait keputusan Zhen Xian ini selain terdiam? Yang mana mata pada akhirnya menggantikan kerja mulut, berembun seraya mengangguk menyetujui pun menenangkan Zhen Xian. Di mana Que Mo sendiri meneteskan sebulir air mata, tak membiarkan gadis ini tahu. Setidaknya, Que Mo ingin menjadi sosok tegar di kala Zhen Xian terpuruk, menggantikan posisi Zhen Chen sejenak yang tak mampu di sini saat ini.
__ADS_1
Sementara dalam kediaman Jin Kai sendiri, Putri Mahkota Bai Hua terlihat baru saja mengunjungi, mengelap keringat Jin Kai menggantikan Kasim Ma yang tak berkesudahan mengeluarkan kata-kata khawatir pada Putra Mahkota-nya yang terbaring dengan wajah tanpa rona.
“Kasim Ma, keluarlah menenangkan dirimu dulu,” pinta Lin Feng, dan Kasim Ma menuruti karena itu memang ada benarnya. Tak ingin membuat Putra Mahkota Jin Kai terganggu biar kata belumlah sadarkan diri.
Sepeninggalan Kasim Ma dari kamar, kesunyian mengambil alih. Di mana Putri Mahkota melemparkan pandangan pada pengawal pribadi suaminya ini. “Apa Zhen Xian tadi menemuimu?” Dan Lin Feng pun membenarkan. “Itu aku yang memberi tahu dirinya, apa kau akan melaporkan hal ini pada Taizi?”
“Yang terpenting, Taizi berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Mengenai hal lainnya, aku tidak akan memberi tahu,” jawab Lin Feng.
“Apa kau yakin ....” Mengalihkan pandangan kembali pada sang suami. “Taizi akan bahagia setelah ini?”
“ .... ”
“Aku hanya merasa, masalah yang jauh lebih besarlah yang justru akan terjadi.”
Yang mana angin dari luar berembus, masuk melalui tiap celah pintu ataupun jendela yang ada, menggerakkan api lilin seolah sedang menari-nari bersama dengan Putri Mahkota dan Lin Feng yang memandangi Jin Kai. Barangkali angin ini, sengaja didatangkan untuk meredam ucapan buruk sang Putri Agung.
Namun, situasi dan suasana sunyi di kamar Jin Kai ini berbeda jauh dari kediaman yang biasanya hangat akan kehadiran lengkap anggota keluarga. Terlihat, Tn. Zhen menenangkan sang istri yang duduk di sampingnya pada meja makan ini. Mendapati Que Mo dan juga Zhen Xian di hadapan mereka menunduk, tak berani memandang balik kedua orang tuanya yang tampaknya sudah diberitahukan segala permasalahannya. “Aku sudah memikirkan, dan kurasa ini cara terbaik saat ini,” lirih Zhen Xian.
“Kenapa masalah pada akhirnya harus berhubungan kembali dengan kerajaan?” gumam ayah. “Kenapa takdir bisa seburuk ini?”
“Aku pasti akan menjaga Zhen Xian, kalian berdua tidak perlu begitulah khawatir. Percayakan saja padaku.”
“Apa maksudmu, Que Mo?”
Pun Que Mo mengalihkan pandangan pada Zhen Xian tepat di sebelahnya. “Bawa aku menjadi pelayan pribadimu,” ucapnya penuh kemantapan, keyakinan bagai tak lagi mampu digoyahkan siapa pun akan keputusannya ini.
“Apa kau sadar yang kau katakan barusan?”
“Apa kau ingin dijaga dan dikelilingi selalu oleh orang-orang Jin Kai? Setiap kali mereka akan mengawasimu dan melaporkan semuanya. Apa kau sanggup hidup seperti itu?”
“Apa yang dikatakan Que Mo benar,” sela ayah. “Bawalah dia bersamamu dan ingatkan Chen’er untuk tidak bertindak ceroboh,” lanjutnya, yang barangkali berusaha tegar untuk tidak terlalu memperlihatkan keterpurukannya seperti sang istrinya ini.
“Kenapa juga di antara banyaknya orang, Chen’er harus bertemu dengan Taizi,” ungkap ibu melirih, masih tidak percaya akan hantaman kenyataan ini. Menatap putri satu-satunya dengan penuh kemalangan, dan putra satu-satunya yang tak diketahui bagaimana kabarnya didinginnya penjara sana. Bagaimana bisa sebagai seorang ibu bisa baik-baik saja, bukan?
Di mana ayah sendiri tenggelam dalam pikiran, membangun benteng yang tak akan mampu ditembusi siapa pun untuk menebak-nebak apa yang sedang dipikirkannya. Pun membangunkan diri dari duduk seraya membawa sang istri kembali ke kamar, mencoba bersepakat dengan masalah yang menimpa yang barangkali mereka pernah pikirkan. Hanya saja, tak menyangka akan secepat ini yang mana padahal Zhen Chen siap akan berhenti dari istana.
Jika kondisinya sudah seperti ini, Zhen Xian menjadi selir Jin Kai. Akankah Zhen Chen masih akan keluar atau berhenti dari pekerjaannya? Karena ayah sangat yakin, Zhen Chen tidak akan melanjutkan ide mengundurkan diri ini. Berharap saja langit akan membantu menjaga identitas aslimu, Chen’er.
Sejak itu, hal yang bisa dilakukan Zhen Xian hanya menunggu kabar Jin Kai yang masih belum sadarkan diri. Mencoba melakukan aktivitas seperti biasanya meskipun berat, terkadang mengunjungi Zhen Chen dengan hanya berdiri di luar penjara saja. Berkeliling kota dan makan apa pun bersama dengan Que Mo, melakukan apa pun pula yang diinginkan dan banyak meluangkan waktu bersama dengan kedua orang tuanya dalam hal apa pun itu.
__ADS_1
Jelas, di antara seluruh aktivitas menyibukkan diri yang dilakukan gadis ini, waktu bersama keluarga-lah yang paling banyak dilakukan. Semua menjadi jauh lebih berarti yang mana kadang mengundang kesedihan serta keharuan teramat sangat. Namun, entah itu Zhen Xian, ataupun kedua orang tuanya tidak ada yang bersedia menunjukkan langsung apa yang dirasakan masing-masing hati mereka.