
Tamparan bagaikan senandung musik, makian seumpama lirik dari sebuah nyanyian opera yang dipertontonkan. Sedangkan dua bocah laki-laki yang begitu kurus, kusam tak terawat dipenuhi luka dan lebam jelas saja selaku pemain layaknya suatu bagian dalam cerita. Katakan saja, kedua bocah itu menginjak usia 7 atau 8 tahun, usia yang seharusnya menikmati waktu bermain-main dan bukannya diperlakukan kasar seperti ini.
“Tidak ada uang jangan harap makan!”
Serta merta Zhen Xian menghentikan sesi ibanya, mengalihkan pandangan seketika pada pria dewasa yang tak layak dikatakan manusia, tapi akan lebih tepat dianggap seorang preman jalanan yang memanfaatkan anak-anak dalam mencari sumber pendapatannya. Pun menampar anak-anak tak bersalah itu tidak membuatnya berhenti. Namun justru memungut sepotong kayu yang tergeletak, siap memukul kembali.
“SIAPA?!” murkanya, mengedar ke sekitaran, tapi kosong yang bahkan seekor tikus sekalipun taklah terlihat. “Beraninya kau, keluar! Jangan hanya berani sembunyi!” lanjutnya yang mengelus-ngelus kepala bagian belakang, mendapati batu kerikil tergeletak.
Mengabaikan, si pria preman kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda, melayangkan potongan kayu pun kedua bocah menunduk meminta ampun. Namun, lagi dan lagi kerikil menghantam kepalanya, membawa si pria preman ini berakhir keluar dari gang dengan netra garangnya.
Takut-takut, kedua bocah menyudahi sesi menunduk. Mendapati seorang gadis mendekat pun mengarahkan mereka keluar gang yang berlawanan dengan si pria preman tadi keluar. Tanpa lupa pula memberikan sejumlah uang pada masing-masing anak yang serta merta berlarian kabur.
“Besar juga nyalimu, Nona!”
Benar, jika dalam suatu cerita, setiap penolong atau katakan saja pahlawan kesiangan, tidak akan seru jika tidak berhadapan langsung dengan si penjahat, bukan? Maka anggap saja situasi saat ini begitu adanya. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh seorang gadis dari keluarga pebisnis bunga sepertinya? Berbalik, berpura-pura tegar barangkali akan menjadi pilihan pertama, bukan?
“Nona, apa kau ingin bermain-main denganku?! HA!”
“Jangan mendekat, jika tidak aku akan berteriak! Apa kau tidak tahu siapa aku?! Jika ayahku tahu, kau akan membusuk selamanya di penjara!”
“Kau duluan yang mengganggu urusanku!”
Meneguk kasar saliva, melirik sana-sini yang mungkin otak pun berputar keras. Sedangkan si pria preman kian mengikis jarak. Wajar saja, Zhen Xian merasa tersudutkan yang berakhir melempar barang-barang rongsokan lurus ke arah pria itu biar kata diri sendiri tak melihat arah lemparannya mengenai atau tidak. Bukankah yang terpenting menghentikan dahulu? Melihat adanya kelengahan barulah kemudian kabur, lari dan lari dengan sesekali melihat ke belakang.
“Awas! Minggir!”
Orang-orang memang menyingkir, tapi tak ada niatan membantu selain menyaksikan pelarian yang berlangsung cukup cepat itu. Padahal jelas-jelas Zhen Xian meneriaki permintaan tolong, pun debaran yang berdegup-degup kian kencang dan napas memburu kian memberat.
Jika diteruskan, akankah baik-baik saja? Yang ada tak mampu lagi bernapas, tak sadarkan diri mungkin akan lebih parah situasinya daripada dikejar-kejar. Alhasil, Zhen Xian berhenti, mencoba mengatur napas barangkali sejenak saja sudah cukup membantu. Sama halnya dengan si pria preman yang mengejar, tampak pula begitu kelelahan.
“Nona ... kau harusnya tidak ikut campur tadi.” Berkecak pinggang, pun menghapus sejumlah buliran keringat yang mengalir dari pelipisnya. “Kau benar-benar membuat hidupmu sendiri dalam kesulitan.”
“Aku tidak tahu ... kalau kau akan sangat gencar mengejarku, Tuan ... apa bisa kita akhiri saja sekarang. HA?!”
“Jangan harap!” Kembali mendekat, Zhen Xian yang belum sanggup melanjutkan pelarian tak lagi peduli apakah sikapnya akan merugikan penjualan orang lain atau tidak. Yang terpenting, untuk saat ini menyelamatkan diri terlebih dahulu.
Oleh karenanya, sayur-sayuran menjadi pilihan gadis muda ini. Jika pun ada pisau atau senjata tajam lainnya, mungkin jauh lebih baik. Sayang, tidak ada alat semcam itu di sekitaran yang dapat dijadikan perlindungan diri. Pun berakhirlah, Zhen Xian yang bermaksud baik membantu kedua bocah dari kekerasan tadi, tertangkap sebagai gantinya.
“Lepaskan aku! Lepaskan!”
Meronta sejadinya, tapi tidak ada hasil. Mengingat dirinya hanya seorang gadis muda yang tahu cara merawat dan menanam bunga saja. Lantas bagaimana bisa melawan? Selain hanya bisa dibawa pergi dengan kedua tangan terikat bahkan ditarik layaknya seekor kuda.
“Tuan, aku ini manusia. Bisakah kau berhenti menarikku ... ini sungguh memalukan,” protesnya. “Lihatlah! Semua orang melihat. Seorang gadis muda cantik sepertiku jika diperlakukan seperti ini siapa yang akan menikahiku?!”
Merasa bagian perut tergelitik oleh suatu tak kasatmata, tawa pun menguar dari si pria preman tak tahu adat ini. “Baru kali ini aku bertemu seseorang yang hendak dijual bukannya memohon ampun malah masih bisa merasa malu,” ucapnya yang menggeleng-geleng. “Menarik! Sungguh menarik!”
__ADS_1
“Aku tahu, Tuan tidak akan melakukan hal itu. Tuan orang yang baik, dan aku mampu melihatnya ....”
“Sungguh konyol!”
“Jika bukan, Tuan tidak mungkin merawat luka anak-anak itu. Aku bisa melihat dari bekasnya bahwa luka mereka terawat, bukankah begitu?!”
Si pria preman menghentikan langkah, mengorek kuping layaknya terganggu akan ucapan yang barangkali baginya berupa ocehan tak penting saja. Alhasil, sebuah lobak menyumpal mulut Zhen Xian. Mengundang gelak tawa akan reaksi Zhen Xian yang seolah siap menelan utuh lobak tersebut.
“Nona, maaf jika aku tertawa, tapi kau sungguh sangat lucu.” Mencoba menghentikan tawa, berdeham berkali-kali tuk memaksanya berhenti.
“Hmmm ... hmm ... hmmm hhmmm hmmmm!”
Mengabaikan dengan kembali melanjutkan perjalanan, dan kali ini memang jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Namun, benarkah akan menjual? Pun Zhen Xian sendiri hanya bisa memerhatikan sekitaran, dari yang awalnya ramai akan orang-orang kini malah sepi. Akan tetapi, kericuhan tertangkap pendengaran. Mendapati suatu panggung kayu setinggi lima anak tangga diisi oleh para wanita, pria dewasa dan juga anak-anak dalam balutan pakaian compang-camping, berdiri berjejeran. Tak terkecuali pula, sekeliling panggung dihadiri banyak orang-orang, dan merekalah yang menciptakan kericuhan oleh seruan demi seruan tak senonoh.
“Aku membawa seorang gadis muda cantik,” ucap si pria preman pada seorang pria yang barangkali penyelenggara acara? Entahlah, yang pasti dirinya memegang sejumlah uang.
“Harganya pasti tinggi. Baiklah! Ini uangmu!”
Menerima, tentu dengan senang hati dan cepat si pria preman mengambil. “Sudah waktunya kita berpisah, Nona,” ucapnya, melepas pergi lobak yang menyumpal mulut Zhen Xian, dan tanpa basa-basi lagi dirinya pergi begitu saja.
“Tuan! Tuan kau tidak sungguh-sungguh, bukan?! Tuan!”
“Jalan! Kuberitahu jalan!” Memerintahkan Zhen Xian bergabung dengan jajaran orang-orang di atas panggung.
“Nona berpakaian merah muda, aku menginginkannya. 1 tael perak*.”
“Aku juga! 2 tael perak!”
“Dia milikku! Aku akan membayar berkali-kali lipat! 5 tael perak!”
“5 tael perak! Apa masih ada yang lain? Jika tidak, Nona ini akan menjadi milik Tuan 5 tael perak ini,” seru si pria penjual. “1! 2! Sungguh tidak ada penawaran lagi?!”
Dalam hati, Zhen Xian jelas merutuki setiap pria berengsek di sini. Helaan demi helaan napas terus diembuskan tuk mengurangi kemurkaan atas penghinaan ini. Namun, langit atau barangkali takdir tak mengizinkan Zhen Xian menjadi milik seorang pria hidung belang. Karena seseorang kembali datang, berseru menghentikan.
“Nona berpakaian merah muda itu, aku tidak jadi menjualnya!”
Semringah, ketakutan bagai tertelan habis. Tak ragu pula Zhen Xian lurus memandangi si pria preman yang mendekat, melepaskan ikatan dari kedua tangan Zhen Xian yang berkaca-kaca.
“Aku tahu kau pasti akan kembali.”
“Jika tahu kenapa kau tampak akan menangis seperti itu? Seka air matamu, kita harus pergi dari sini.” Mengeluarkan sejumlah uang yang didapat, serta merta pula melemparnya pada si penjual.
Kesempatan dari kelengahan itu pula yang dimanfaatkan si pria preman menarik pergi Zhen Xian. Termasuk pula memukul bahkan menggigit orang-orang yang menghentikan jalan pergi keduanya.
“Jangan bergerak! Lepaskan Nona itu jika tidak ingin ada pertumpahan darah!” Mengarahkan belati, situasi pun jauh lebih memanas. Tak heran, Zhen Xian mendekatkan diri lebih lagi pada si pria preman, selangkah demi selangkah meninggalkan lokasi sebelum akhirnya berlarian dengan tiga orang pria penjual mengejar.
__ADS_1
“Que Mo, kau harusnya tidak menjualku tadi jika tahu akan separah ini kondisinya!”
“Que Mo? Siapa yang kau panggil Que Mo?” tanyanya yang dilanda kebingungan. Namun, situasi saat ini bukanlah waktu yang tepat membahas hal itu, bukan? “Jika aku tidak bertemu denganmu maka semua ini tidak akan terjadi.”
“Apa kau tidak tahu caranya bertarung?”
“Jika tahu akankah kita berlari seperti ini?”
Zhen Xian tak menjawab, karena memang ada benarnya penuturan si pria preman yang baru saja diberi nama Que Mo ini. Lagian mulut terlalu sibuk menyerukan kata ‘minggir” dan “awas” yang berakhir keduanya jatuh tersandung oleh kepanikan dan keterburu-buruan masing-masing.
Alhasil, terkelilingi sudah mereka oleh tiga pria penjual yang lurus mengarahkan belati.
“Mari kita bicara baik-baik dan serahkan Nona itu. Tuan tentu akan mendapat keuntungan juga. Bagaimana?” tawar salah satu pria penjual.
“Kau tidak akan menerima tawaran itu, bukan? Que Mo?”
“Itu bukan urusanmu. Selain itu, berhenti memanggilku Que Mo. Sejak kapan aku memiliki nama Que Mo?”
“Sejak kau menyelamatkanku namamu adalah Que Mo.”
“Kenapa harus Que Mo? Nama itu sungguh jelek! Aku tidak mau! Ganti!”
“Que Mo tetap Que Mo. Bagaimana mungkin mengganti?! Aku sudah terbiasa memanggil Que Mo.”
“Ehhh! Ehhh! Bisa-bisanya kalian berdebat? Lihat posisi dan kondisi kalian, tidak takutkah? Apa kami ini lelucon?!”
“Benar, kalian adalah lelucon! Jelas saja aku berdebat dengannya. Bagaimana jika ada yang memanggil kalian dengan nama yang kalian tidak sukai? Apa kalian akan diam?!” geram Que Mo. “Karena itu biarkan aku menyelesaikan masalah dengannya dulu, bisakah?”
Jika memang segala jenis tawar-menawar bisa diselesaikan dengan cepat, jelas saja ketiga pria penjual ini akan memberikan waktu. Lagian, kedua orang ini taklah mampu bertarung, jika pun kabur tidak akan sulit menangkapnya. Maka, ketiga pria penjual memberikan waktu tanpa lupa memerhatikan dari jarak tertentu.
Sedangkan Que Mo dan Zhen Xian, benar saja masih berdebat mengenai pemberian nama. Namun, tampaknya bukan perdebatan itu yang menjadi rencana. Pasalnya, Que Mo memberikan suatu kode dari kerjapan sebelah mata yang dipahami Zhen Xian sebagai tanda pelarian.
“Sekarang!”
Entah berlari dengan kedua tungkai atau mulut, yang pasti keributan dari mereka begitulah memicu pandangan orang-orang. Namun, kedua lutut Zhen Xian yang melaju cepat itu meninggalkan bercak kemerahan pada kain pakaian merah mudanya. Barangkali hal itu pula yang membuat pelariannya melambat, pun Que Mo yang menyadari membantu dengan menarik sebelah pergelangan tangan Zhen Xian. Akan tetapi, tidak bisa lagi menahan, Zhen Xian kembali terjatuh.
“Sudah cukup main-mainya? Bawa mereka!”
Namun, Que Mo tak pasrah begitu saja. Mungkin pahitnya kehidupan telah mengajarkannya tuk tak dengan mudah pasrah, terus melawan adalah yang utama. Siapa yang tahu, pada akhirnya secercah harapan barangkali sekecil butiran pasir saja akan berhasil menyelamatkan dan melindungi. Meskipun nyatanya hal itu mustahil terjadi, tapi kemustahilan itu terbantahkan segera begitu mendapati ketiga pria penjual terkapar dalam raungan kesakitan.
Apa dan siapa yang menyelamatkan? Pun Que Mo merasa keberuntungan terjadi berkat gadis berpakaian merah muda bersamanya ini.
Note:
1 tael perak itu sejumlah 1000 wen (koin perunggu).
__ADS_1