Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 3


__ADS_3

15 Tahun Kemudian.


Sibuk menggelar dagangan di sisi kiri dan kanan jalanan, para pedagang keliling pun ikut meramaikan. Tak terkecuali pula dengan toko-toko yang ada di Kota Yunnan-Fu ini, bagai menyapa atau menyambut hari.


Sebagian menjual makanan, layaknya camilan termasuk pula permen atau manisan buah bahkan kue-kue kering atau basah termasuk bakpau dan sejenis lainnya yang menguarkan aroma menggiurkan pastinya. Sedangkan sebagiannya lagi menjual apa yang bisa dilihat langsung menarik perhatian pembeli, katakan saja pernak-pernik hiasan, pajangan ataupun aksesoris, kain atau pakaian hingga sepatu dan lain sebagainya yang tak mampu tertangkap satu demi satu pandangan.


Pada jalanan sibuk dipenuhi lalu-lalang aktivitas inilah, seorang pria muda dalam balutan pakaian berwarna selaras dengan langit pagi berawan nan cerah di atas sana, bersurai hitam memanjang yang diikat setengah bagian dengan tali pita putih terjuntai memanjang. Pun tungkai secara bergantian membawanya menelusuri kota, sementara kedua tangan sibuk membawa keranjang bunga dan tepat di belakangnya diekori gerobak yang berisi bunga-bunga pula.


“Zhen Chen, menurutmu akankah bunga-bunga ini laku terjual hari ini?”


”Mungkin akan ... aku juga tidak tahu,” balas Zhen Chen yang tersenyum melirik si pria penarik gerobak, barangkali pelayan atau mungkin bawahannya jika melihat dari penampilan. Namun, yang paling kentara terlihat jelas dari kulit terbakar atau kasarnya tangan yang dimiliki.


“Jual! Jual! Ikan segar!”


“Pangsit! Pangsit! Mie!”


“Tuan dan Nona silahkan mampir!”


“Bakpaunya, Tuan.”


“Ayo! Ayoo mampir!”


Pengantar perjalanan, anggap saja demikian menyangkut seruan-seruan yang terus saja dilakukan para penjual. Tiap seruan tentunya akan menarik pasang mata mereka yang berlalu-lalang, mengenai keputusan akan singgah atau membeli bukanlah yang utama. Yang pasti, keramaian saat ini mengharuskan Zhen Chen harus lebih berhati-hati agar bunga segar yang dibawa tidak rusak hingga tiba pada tujuan akhirnya.


Toko Bunga, benar. Entah karena masih terlalu awal atau memang ada beberapa masalah di dalam sana, yang jelas toko tampak belumlah siap beroperasi. Tak heran, Zhen Chen berseru memanggil-manggil pemilik toko, menanti pembalasan yang tak kunjung datang.


“Lao Ban*! Aku sudah membawa bunga pesananmu!” serunya lagi, siap akan mengetuk apabila belum juga mendapat respons. Pun Zhen Chen menoleh ke arah terbitnya sang surya, barangkali memperkirakan jam berapa saat ini.


Entahlah apa itu, yang pasti seruan Zhen Chen saat ini membuahkan hasil. Toko mengeluarkan tanda-tanda akan kehadiran seseorang yang siap keluar, mendapati seorang pria paruh baya yang mungkin pemilik toko memeriksa kondisi bunga yang dibawa dengan begitu hati-hati.


“Bunga hari ini sungguh sangat segar,” ucapnya. “Ehhh! Kalian bawalah bunga-bunga ini ke dalam,” serunya kemudian pada bawahannya yang sontak menuruti. “Hati-hati! Hati-hati!”


“Lao Ban, bagaimana jika aku membantumu dalam menata bunga hari ini. Mungkin penjualan tokomu akan lebih baik,” tawar Zhen Chen, serta merta pemilik toko menerima tawaran tersebut dengan merekahkan senyum semringah. “Kau kembalilah dulu,” ucapnya lagi pada pria yang datang bersama, si penarik gerobak.


Kesibukan dalam mengurus apalagi menata bunga-bunga, bisa dikatakan bagi seorang Zhen Chen bukanlah suatu kesibukan melainkan kesenangan tersendiri. Itulah kelebihan yang dimiliki, entah hobi ataupun bakat, yang pasti Zhen Chen memiliki keduanya. Karena itu kebanyakan toko jika akan mengadakan perayaan atau pembukaan toko baru, tak segan-segan mereka akan meminta bantuan Zhen Chen untuk mendekorasi. Kadang ada pula yang bertanya-tanya, apa barangkali bakat Zhen Chen diturunkan dari keluarganya?


Di Kota Yunnan-Fu ini, untuk saat ini hanya sekitar 3 atau 4 keluarga saja yang berbisnis di bidang bunga, dan keluarga Zhen berada di peringkat teratas. Bukan hanya karena bunga yang dihasilkan oleh keluarga Zhen mampu bertahan lebih lama dibandingkan bunga dari keluarga lain, tapi juga karena bunga yang dihasilkan lebih beragam jenisnya. Tentu, hal ini mengundang banyak masalah dalam keluarga Zhen berkat persaingan yang ketat.

__ADS_1


Namun, semua masalah itu dapat teratasi dengan baik, belum lagi kepercayaan yang teramat dalam dari orang-orang kepada keluarga Zhen itu sendiri yang paling banyak membantu.


“Whoahh ....” Terpukau, untung saja pemilik toko tak lupa caranya menutup kembali mulut ternganga-nganganya. “Zhen Chen, kau memang luar biasa,” pujinya.


“Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena sudah menjadi pelanggan tetap keluarga Zhen.” Tanpa lupa Zhen Chen menyunggingkan senyuman ramahnya. Pun pemilik toko terkekeh puas, menepuk-nepuk bahu Zhen Chen. “Baiklah, aku tidak akan menyita lebih banyak lagi waktu bisnismu hari ini, Lao Ban.”


Mendapat bayaran, seketika Zhen Chen meninggalkan toko bunga. Namun, langkahnya terhenti oleh suatu hal yang entah apa menarik perhatian sepasang netranya. Mendekat, telah menjadi keputusan yang dibuat tanpa meragu dan malah begitu yakin, bahkan sedikit senyuman kembali menghiasi wajah ramah nan sulit memancing pertengkaran dengan siapa pun itu.


Aksesoris wanita yang beragam jenis. Benar, inilah pilihan Zhen Chen. Mulai dari jepit dan pita rambut hingga tusuk konde. Zhen Chen tak ragu lagi dalam memilih, karena memang dirinya telah menargetkan yang mana yang menjadi pilihan sedari awal. Tusuk konde putih keemasan yang berhiaskan chahua** merah muda.


“Lao Ban aku ambil ini.”


“Lao Ban aku ambil ini.”


Kebingungan, si penjual seketika dibuat menawarkan tusuk konde lainnya. Namun, dua pelanggannya ini malah tampak tak tertarik. Padahal jelas, motif lain dari tusuk konde masihlah banyak, tapi kenapa harus yang bermotifkan chahua yang diperebutkan? Pun motif chahua itu sendiri hanya ada satu. “Tuan sekalian, jadi siapa yang akan mengambilnya?”


“Aku!”


“Aku!”


Jika seperti ini, tusuk konde chahua benar-benar tak akan didapat. Zhen Chen pun dibuat heran, alasan di balik pria muda yang barangkali seumuran dengannya ini kenapa bisa menyukai barang murah pinggiran jalan?


“Tuan, aku dulu yang melihat jadi ....”


“Kata siapa kau yang melihat duluan, Tuan? Apa Anda memiliki bukti?” potong pria itu.


“Tidak bisakah, Tuan merelakan satu ini saja untukku? Aku akan menemani Tuan mencari barang bagus lainnya sebagai gantinya.”


“Contohnya?”


“Aku tidak tahu wanita seperti apa yang Tuan ingin berikan hadiah, tapi jelas Tuan berasal dari keluarga terhormat,” ucap Zhen Chen. “Aku bisa merekomendasi barang apa saja yang memiliki kualitas bagus di kota ini.”


“Aku tidak tahu kenapa ... tapi kurasa aku harus menerima tawaranmu,” balasnya. Baiklah! Tusuk konde itu milikmu,” ucapnya lebih lagi, pun Zhen Chen seketika mengucapkan banyak terima kasih dan sukses membeli tusuk konde yang sangat diinginkannya itu.


Lantas, berakhirlah Zhen Chen mengajak pria yang baru dikenalnya berkeliling, atau lebih tepatnya berburu hadiah. Barulah dirinya mengetahui bahwa pria ini bernama Yi Jin Kai.


Meskipun tak tahu dari keluarga mana Jin Kai ini berasal, dan tak mungkin pula Zhen Chen menanyakan, tapi seiring dengan berjalannya waktu di mana sang surya pun kian meninggi. Dapat dilihat pula keakraban di antara kedua pria muda ini, barangkali pertemuan mereka memang telah ditakdirkan seperti apa yang dirasakan Jin Kai sewaktu menyerahkan tusuk konde pada Zhen Chen. Takdir, bukankah memiliki jalannya sendiri?

__ADS_1


“Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku, Zhen Chen.” Jin Kai mengangkat cangkir tehnya.


“Terima kasih sudah merelakan tusuk konde padaku, Jin Kai,” balas Zhen Chen, pun keduanya tertawa lepas sebagai pembukaan acara bersulang pertama hingga ke sekian kalinya.


TINGG!


“Kulihat kau cukup mengenal orang-orang di kota ini. Tunggu ...! Zhen ...?” Berpikir dalam, Jin Kai terus memerhatikan Zhen Chen yang diam menanti. “Ahhhh, aku mengerti, apa kau keluarga Zhen dari keluarga Zhen Bunga? Maksudku ....”


“Benar, aku putra pertama dari keluarga Zhen.”


“Bunga keluarga kalian sungguh luar biasa. Tidak aneh kalian menjadi nomor satu di kota ini,” ungkap Jin Kai, karena memang betul itu kenyataannya. “Tempat tinggalku juga menggunakan bunga kalian sebagai hiasan dekorasi.”


Tak lagi heran Zhen Chen mendengar hal itu, tapi secara bersamaan pula, Zhen Chen yang sibuk menikmati sajian makanan tampak enggan menerima pujian terkait menjadi nomor satu di kota. Bukannya apa, tapi memang itulah Zhen Chen yang lebih menyukai kesederhanaan ketimbang kehidupan penuh kemewahan. Tentu, Jin Kai menyadari hal itu yang serta merta pula mengubah topik pembicaraan ke lain hal yang kembali mengundang tawa Zhen Chen, mengudara pun mengalihkan ke tempat lain dari sisi kota.


Namun, satu yang menarik perhatian sang surya, seorang gadis muda berpakaian merah muda dengan rambut hitam terkuncir setengah bagian lengkap akan hiasan bunga sederhana menghiasi rambutnya. Terlihat sedikit, tidak, melainkan begitu terburu-buru menerobos jalanan yang begitu ramai pun raut wajah sedikit kesal.


Jangan jadikan jalanan umum sebagai jalanan milik pribadi, jika tidak bersiaplah menerima risikonya. Alhasil, itulah yang didapat gadis muda ini, jatuh terduduk dengan kedua tangan menopang pun mendapat makian dari orang yang ditabraknya.


“Maaf ... maaf, Tuan.”


“Zhen Xian, apa kau baik-baik saja?”


Alih-alih menjawab, gadis muda yang dipanggil Zhen Xian ini malah memberikan kode bahwa dirinya baik-baik saja. Pun membangunkan tubuh terduduknya dengan wajah tersenyum, membersihkan sisa debu yang menempel pada pakaian ataupun tangannya.


“Bibi, aku ingin sekali makan pangsitmu, tapi aku harus mencari kakakku dulu.”


“Zhen Chen? Tadi kulihat dia sedang bersama dengan seorang teman.”


“Teman?” ucapnya terkejut. “Ohhh ... baiklah. Kalau begitu, Bibi aku pergi dulu,” pamitnya membawa kedua tungkai berlarian. “Nanti aku akan mampir makan pangsitmu! Jangan lupa meninggalkannya untukku!” teriaknya penuh keceriaan.


Namun, bukannya menemukan apa yang ingin dicari. Zhen Xian malah dipertemukan akan hal terkait bukan urusannya.


Akankah ikut campur atau mengabaikan? Karena kebanyakan orang akan memilih mengabaikan, kecuali orang tersebut adalah penjaga keamanan. Akan tetapi, tak ada siapa-siapa yang bisa dimintai pertolongan, apalagi kejadian yang tak seharusnya dilakukan sebagai sesama manusia ini terjadi jauh di dalam gang kecil.


Lantas, haruskah aku?


Notes:

__ADS_1


* Lao Ban berarti pemilik dari suatu usaha/ bos yang mengarah pada seorang pria.


** Chahua itu bunga Camellia.


__ADS_2