Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 30


__ADS_3

Lorong bertembok didominasi bebatuan tak rata, di mana obor yang menggantung memancarkan cahaya temaram bagai suatu pengantar bagi siapa pun tuk menuju ke suatu ruangan. Ruangan yang entah kenapa terasa begitulah mencekam, dipenuhi seruan demi seruan permohonan ampun seraya tangisan pun rintihan bagai tak mau kalah.


“Kami tidak akan melakukannya lagi, tidak akan! Tuan!”


Pria yang dipanggil Tuan ini pun, hanya bergeming. Pandangan dari sepasang netra tegasnya itu tampak menangkap sesuatu. Sesuatu yang barangkali jauh lebih menarik, yang tak lain hanya berupa cairan yang menodai permukaan lantai. Di mana si Tuan ini tak lain adalah Lin Feng, menjongkokkan diri seraya menyentuh cairan tersebut pun lekat memerhatikan kemudian. Darah.


“Tuan, tolong hentikan semua siksaan ini.”


Siksaan? Kata itu sendiri sukses menolehkan pandangan Lin Feng seiring dengan berdiri kembalinya dia, bersipandang dengan wanita yang barusan saja mengucapkan kata ‘siksaan’ itu. Mendapati pula, ketiga wanita lainnya yang bernasib sama terikat pada sebilah kayu. Yang mana pakaian pelayan mereka tak bisa dikatakan pakaian lagi, bagai telah tersiram sejumlah darah nan dipenuhi luka sabetan demi sabetan.


“Lepaskan ikatan mereka.”


“Baik, Tuan.” Pria yang barangkali ketua dari petugas penjara ini serta merta memanggil bawahannya, menuruti titah pun menempatkan keempat wanita pelayan tak asing ini satu demi satu duduk pada kursi kayu yang mana berhadapan langsung dengan Lin Feng.


Berapa pula kiranya sabetan yang tubuh para pelayan ini telah dapatkan? Sampai di mana wajah mereka sendiri begitulah memucat seiring dengan bibir yang bergemetaran, rambut yang tergerai begitulah berantakan sampai tak lagi mampu dengan jelas menangkap siapa di balik wajah dari masing-masing keempatnya ini.


“Tuan, apa salah kami hingga diperlakukan seperti ini?”


“Maka pikirkan baik-baik, apa yang sudah kalian lakukan kemarin di Departemen Dekorasi.”


Kemarin, di Departemen Dekorasi? Keempat pelayan pun serta merta saling menoleh seraya memikirkan kembali apa yang menjadi aktivitas mereka kemarin. Yang berakhir pula tercerahkan, membulatkan sepasang netra pun berakhir tertunduk.


Tak heran, apabila mereka terseret paksa ke tempat ini hingga diperlakukan layaknya penjahat besar.


“Tuan ... bi-biarkan aku bertemu dengan Taizi. Biarkan aku meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi pada Nona Zhen.”


Namun, akankah Lin Feng yang sama sekali tak peduli ini akan menuruti? Lagian bagaimana bisa seorang pelayan rendahan, apalagi dilumuri darah seperti ini bertemu Putra Mahkota. Bukankah itu hanya akan membawa kesialan saja? Yang ada, pengawal pribadi sang Pangeran Agung ini hanya ingin mengakhiri segala tugasnya di penjara bawah tanah ini secepat mungkin. Pun pandangan yang diarahkan pada Ketua Petugas, adalah suatu kode pembuktiannya.


“Tuan ... tidak. Tuan, mohon tunjukkan kemurahan hati!”

__ADS_1


“Taizi sudah cukup bermurah hati pada kalian,” balasnya seraya empat petugas penjara membawa semacam batang besi berujung pipih bulat terukir huruf, beruap-uap yang jelas bukanlah uap dingin. Yang mana huruf itu sendiri diketahui sebagai tanda dari seorang ‘penjahat’.


Jika pun sudah sejauh tahap ini, lantas buat apalagi Lin Feng di sini, bukan?


Menarik diri, berlalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan seiring dengan teriakan juga erangan penuh kesakitan dari empat pelayan. Barangkali memang inilah akhir dari hukuman empat pelayan perundung Zhen Xian.


Aku hanya seorang bawahan, jangan salahkan aku. Itu kalian sendiri yang membawa masalah.


Namun, benarkah ini akhir? Bagaimana pula mereka mampu hidup secara layak bersama tanda ‘penjahat’ yang menempel itu? Yang ada hidup hanyalah sebuah aib belaka. Bahkan Lin Feng sendiri, dari balik wajah penuh ketegasan nan tanpa perasaan itu bagai terselip rasa iba, yang mana tertempatkan jauh di sepasang netranya.


“Keluarkan mereka dari istana setelah semua selesai.”


“Akan segera dilaksanakan, Tuan,” balasnya seraya kembali masuk ke dalam penjara. Sedangkan Lin Feng, apa yang dilakukannya kini? Apa dirinya menikmati cahaya hangat mentari yang kian meninggi menyinari wajah pun sekujur tubuhnya?


Akan tetapi, tampaknya bukanlah demikian. Tengadahan yang diturunkan ini justru menunjukkan harus ke mana dirinya pergi, siapa yang harus ditemui dan apa yang harus dilakukan kemudian.


Maka, di sinilah Lin Feng kini. Bukan Kediaman Putra Mahkota, bukan pula Kediaman Chahua, atau pula Kediaman Merak karena memang waktu tuk memberikan penghormatan pada tetua telah berlalu.


Lantas, di manakah ini? Tempat berarena cukup luas, jauh di depan sana terpasang secara berjejeran orang-orangan jerami. Yang mana sesekali pendengaran akan menangkap lesatan dari suatu desingan layaknya panahan membelah angin. Menampilkan Putra Mahkota dalam balutan pakaian memanahnya, berwarna hitam pekat berukir keperakan sedang memfokuskan sasaran kini.


“Semua sudah beres, Taizi.”


“Baik, kerja bagus,” balasnya seraya panah dilepaskan. Tak perlu pula baginya melihat, hanya tuk sekadar tahu kena sasaran atau tidak. Karena dari suara tancapan yang mantap itu saja, dirinya tampak yakin panahan yang dilesatkan taklah melesat. “Mari berlatih pedang denganku,” ajaknya kemudian.


Ahli dalam memanah, dan barangkali ahli pula berpedang. Tidakkah dirinya sungguh Putra Mahkota berbakat? Namun, Putra Mahkota yang seperti apa sebenarnya dia. Yang mana seringaian penuh kemenangan, kelicikan dan kekejaman bersama-sama menguasainya.


Tidak tahu pasti, apa ini sikap dari seorang putra mahkota atau justru sikap dari seorang pria bernama Jin Kai. Karena yang pasti, dirinya taklah seperti biasa. Yang mana Lin Feng tak lagi terkejut, yang artinya sudah terbiasa atau sudah tahu wajah sesungguhnya seorang Putra Mahkota yang dilayaninya ini.


Apa pun itu ... kedamaian memenuhi suasana.

__ADS_1


Sungguh berbeda jauh dengan Departemen Dekorasi ini. Bukannya sibuk bekerja, orang-orang malah sibuk membicarakan empat pelayan yang diusir tersebut. Tak heran apabila Zhen Chen yang baru saja hadir, malah dibuat kebingungan. Karena tak satu pun dari mereka yang ingin berbagi secara jelas kabarnya seperti apa, terus saja menurunkan pandangan pada Zhen Chen.


“Kemarilah,” tarik Meng Jun. Dengan cepat masuk ke ruangan, waswas akan sekitaran sebelum akhirnya pintu ditutup serapat mungkin.


“Zhen Chen, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Mo Zhu.


“Apanya apa yang terjadi?” tanya balik Zhen Chen, kebingungan kian menguasai. “Apa ini terkait rumor lagi? Xian’er dan Taizi?”


“Apa itu sungguh benar adanya?” tanya Meng Jun.


“Itu semua hanya rumor, jadi berhentilah membicarakan hal-hal omong kosong seperti itu.”


“Lalu, kenapa Taizi mengusir para pelayan yang mengganggu Zhen Xian kemarin? Bahkan bukan hanya mengusir melainkan ...!” Mo Zhu yang meninggikan suaranya ini sontak saja mendapat teguran Meng Jun, menyadarkan dirinya sendiri bahwa ucapan ini barangkali tabu tuk dibicarakan. “Melainkan menyiksa mereka dengan cara keji,” lanjut Mo Zhu yang melirih.


“Cara keji?” tanya Zhen Chen, sungguh tak mengerti sejauh apa masalah keterlibatan sang adiknya ini telah melebar. “Cara keji yang seperti apa yang kalian maksudkan?”


“It-itu ... Zhen Chen, it-itu ....” gagap Mo Zhu, ragu tuk memberi tahu yang berakhir memandang Meng Jun. Semacam, keputusan ada pada Meng Jun. “Bagaimana? Kau ingin mengatakannya?”


“Zhen Chen pantas tahu.”


Namun, bukan berarti Meng Jun bisa bebas pula mengatakannya. Alhasil, mengikis jarak sedekat mungkin menjadi pilihan awalnya. Berbisik yang sukses membulatkan sepasang netra ahli bunga ini, tangan terkepal seiring garis rahang kian menajam.


“Terima kasih sudah memberitahuku.” Kembali ke meja kerjanya, sibuk menyusun lembaran kertas dekorasi yang memang sedikit berserakan. Ketenangan mulai menguasai, kembali bekerja akhirnya.


Akan tetapi, Meng Jun dan Mo Zhu-lah yang justru tak mampu bekerja layaknya biasa. Tidakkah ketenangan Zhen Chen ini terasa aneh?


Yang mana mereka sebenarnya taklah begitu memahami, bahwa Zhen Chen hanya sedang berusaha menahan diri sebaik dan selama mungkin. Yang pada akhirnya pertahanan diri itu sendiri hancur sudah. Zhen Chen bahkan tak menggubris seruan menghentikan dari kedua temannya, terus membawa sepasang tungkainya menjauh dan menjauh dari Departemen Dekorasi yang ingin segera dia tinggalkan jika bisa.


Kau sungguh sudah bermain jauh, Jin Kai.

__ADS_1


__ADS_2