
“Apa kalian dengar kejadian pagi tadi?”
Serta merta pelayan-pelayan wanita yang seharusnya sibuk menyalakan api penerangan ke seluruh bagian dari area istana ini malah berkumpul, mengangguk-angguk menandakan jikalau mereka tahu. Yang mana wajah sedikit malas yang tadi menguasai mereka perlahan menjadi begitulah semangat. Sampai di mana tidak lagi peduli jikalau mereka adalah pelayan istana yang harusnya sibuk bekerja, bukannya sibuk mengobrol. Tidak, mungkin lebih tepatnya bergosip.
Katakan saja, siapa memangnya yang tidak akan begitulah semangat jikalau bukan terkait gosip, bukan? Apalagi dalam kehidupan istana yang cukuplah tenang dari sejak kasus keluarga Zhen usai, pun dari sejak itu hampir tidak ada kejadian apa pun yang dapat dijadikan bahan gosipan, kecuali satu hal. Kediaman Chahua.
“Tentu saja seseorang akan berubah setelah mengalami hal mengerikan itu.”
Pun Selir Zhen dan Selir Zhen terus saja keluar dari masing-masing mulut pelayan-pelayan ini, tampak begitulah tenggelam sampai sang surya yang kian merendah siap menghilangkan diri saja barangkali tak lagi mereka sadari.
“Jika aku Selir Zhen, mungkin aku sudah lama bunuh diri.”
“Itu benar, Selir Zhen sungguh kasihan, tapi juga menakutkan dengan perubahan totalnya itu.” Dan pelayan lainnya membenarkan, lagian siapa juga yang tidak akan berubah jika berada dalam posisi Zhen Xian, bukan? Hal itu jelas manusiawi.
Namun, tidak sedikit pula dari mereka yang merupakan kalangan pelayan akan menolak jikalau dipindahtugaskan ke Kediaman Chahua sana. Setidaknya akan lebih baik jikalau bekerja sebagai pelayan pencuci pakaian saja ketimbang harus mendapat tekanan batin juga siksaan dari selir Putra Mahkota itu. Karena memang benar jikalau baik atau tidaknya hidup dari seorang bawahan, sejahtera atau tidaknya itu semua tergantung oleh atasan seperti apa yang dimiliki.
Akan tetapi, pelayan-pelayan bergosip ini akan seberapa lama lagi terus seperti ini? Semacam tak sama sekali takut ataupun khawatir jika akan dilihat ataupun diperhatikan oleh orang lain, seperti seseorang yang satu ini misalnya. Yang mana tak tahu pula telah seberapa lama memerhatikan, sampai titik ia tak lagi tahan berdiam diri dan memilih mendekat sedekat mungkin.
Parahnya lagi, pelayan-pelayan bergosip ini tak kunjung pula berhenti, atau parahnya lagi malah taklah sadar jikalau ada seseorang yang baru saja bergabung. Ia-lah, Kasim Ma.
“Tidak boleh bergosip di istana. Apa kalian lupa?” Sontak pelayan-pelayan ini membisu, menurunkan pula pandangan dari Kasim Ma yang seakan berusah mengingat jelas masing-masing dari wajah memucat mereka. “Kudengar kalian membicarakan Selir Zhen, apa telah terjadi sesuatu?”
“Kasim Ma, tepatnya kau benar tidak tahu atau belum tahu saja?”
“Hentikan omong kosong, dan beritahukan saja apa yang kutanyakan jika tidak ingin kuhukum kalian satu persatu,” tegas Kasim Ma. Lagian siapa juga yang peduli akan gosip kalian jika bukan menyangkut Selir Zhen. Tak tahu pula hal apalagi yang akan membuat Taizi menderita.
“Semua orang di istana membicarakan Selir Zhen yang banyak berubah, bukan hanya karena kesedihan kehilangan orang tua, melainkan ....” Melihat ke sekitar, pun pelayan ini mendekat atau lebih tepatnya memajukan wajahnya lebih lagi pada Kasim Ma. “Melainkan Selir Zhen sedih karena telah kehilangan orang yang dicintainya, anak Jenderal Wei itu,” lanjutnya, melirih.
Pun Kasim Ma tak banyak bicara, karena memang itulah kenyataan. Namun, bukan berarti harus berdiam diri pula, bukan? Gosip tetaplah gosip, dan hal itu tak sepatutnya diucapkan apalagi dari seorang bawahan yang sudah menjadi kewajiban mereka untuk tidak pernah mengatakan apa pun terkait masalah dari anggota keluarga kerajaan.
“Semua orang tahu betapa dekatnya Selir Zhen dengan Tuan Zhen Chen dulu. Bahkan, dikatakan kalau hubungan dingin antara Taizi dan Selir Zhen semua karena ....”
“Hentikan!” bentak Kasim Ma, bukankah ucapan barusan benar telah berada di luar batasan? Bagaimana bisa pula pelayan seperti mereka begitu lancang? Apa mereka anak yang baru bekerja di sini? Dan Kasim Ma sontak saja menarik diri, tak lagi tahan akan perkumpulan tak masuk akal ini. Namun, Kasim Ma menghentikan lagi langkahnya sembari membalikkan diri menghadap mereka dengan pandangan ditajamkan. “Apa kalian ingin kehilangan nyawa? Jika tidak ingin maka jangan pernah lagi membicarakan hal ini, bahkan berpikir saja jangan!”
__ADS_1
“Baik,” timpal pelayan-pelayan tersebut serempak, barulah kemudian membubarkan diri dan sibuk kembali dengan pekerjaan yang seharusnya sedari tadi sudah diselesaikan.
Sedangkan Kasim Ma sendiri, kembali sudah ke Kediaman Putra Mahkota. Membantu Putra Mahkota-nya ini berpakaian seraya berusaha menyingkirkan sejadinya pikiran kecamuk yang ada.
Akan lebih baik jika Taizi tidak tahu apa-apa mengenai rumor. Benar, kurasa itu pilihan terbaik.
“Ada apa denganmu?”
“Tidak apa-apa, Taizi,” bohong Kasim Ma, tapi jika tidak mengatakan apa-apa untuk dijadikan alasan, bukankah itu akan memancing kecurigaan? Apalagi di saat Putra Mahkota masih saja memerhatikan. Lantas .... “Aku hanya berpikir, jika pakaian hari ini terlihat sangatlah cocok untuk kau kenakan, Taizi,” ucapnya beralasan dan berharap penuh jikalau ucapannya ini dapat diterima tanpa mengundang kecurigaan lebih.
Yang mana berkemungkinan besar Kasim Ma sedang merutuki diri sendiri sekarang, tak percaya beraninya ia membohong Putra Mahkota seperti ini, belum lagi menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya dan seharusnya memang patut diketahui oleh Putra Mahkota-nya. Lagian jika dipikirkan lebih lagi, berapa lama memangnya hal-hal terkait rumor yang tersebar di kalangan pelayan ini mampu ditutupi? Bukankah Kasim Ma bertindak layaknya sedang menggali kuburan sendiri?
Jika berkata jujur saat ini juga, harusnya belumlah begitu terlambat, bukan? Dan jikalau Putra Mahkota marah, harusnya tak pula semarah yang dibayangkan, bukan?
Alhasil, Kasim Ma yang baru saja selesai membantu pun merapikan pakaian dari Putra Mahkota-nya ini, memberanikan diri berhadap-hadapan dengan Jin Kai yang menanti. Mungkin bertanya-tanya, apa dan kenapa kasim pribadi yang telah lama bersamanya ini bersikap begitu mencurigakan?
Namun, belum sempat Jin Kai menanyakan, dan belum sempat pula Kasim Ma mengatakan sepatah kata pun. Gema dari suara gong telah dibunyikan lebih dahulu, menandakan sang surya telah benar-benar menenggelamkan diri. Yang berarti pula, Jin Kai harus segera berangkat meninggalkan kediamannya untuk menghadiri suatu acara. Dan dengan ditemani Lin Feng pula, ketiganya pun akhirnya tiba di Aula Merak.
Jujur saja, Aula Merak malam ini terlihat taklah biasa. Bukan hanya telah dihadiri Ibu Suri, Raja, Permaisuri dan Putri Mahkota saja. Melainkan ada sosok yang baru, tak lain adalah Zhen Xian yang kini berdiri di tengah aula bersama Putri Mahkota. Pun Jin Kai bergabung, berada di antara kedua istrinya ini sembari memberikan hormat selayaknya pada mereka yang menempati kursi agung dari aula saat ini.
Serta merta, Zhen Xian menjadi orang pertama yang bergerak, mendekati kursi yang barangkali memang disediakan untuknya. Sedangkan Jin Kai dan Putri Mahkota Bai Hua, sesuai dengan aturan istana yang ada, sudah sepatutnya mereka harus duduk bersama tepat di seberang dari meja Zhen Xian berada.
Yang mana Zhen Xian sendiri tidak sama sekali melihat atau bahkan melirik sedikit pun pada Jin Kai. Sangatlah berbeda dengan Jin Kai sendiri yang justru tak bisa melepaskan arah pandangan pada gadis tercintanya itu, dan Putri Mahkota yang menyaksikan dinginnya hubungan mereka hanya bisa bergeming bertindak seakan tak melihat apa-apa.
Bukankah akan sangat aneh jika hubungan keduanya malah membaik? Setidaknya itu yang dipikirkan Putri Mahkota, seraya pandangan dialihkan pada Ibu Suri yang tampak siap mengatakan sesuatu dengan menampilkan wajah penuh senyuman itu.
“Sungguh menyenangkan dapat melihat seluruh keluarga berkumpul seperti ini. Bukankah begitu, Huangdi?”
“Benar, jika Ibunda menyukainya maka kita akan sering-sering mengadakan makan malam keluarga seperti ini.”
Pun Ibu Suri mengangguk-angguk, dan dimulailah sudah acara makan malam ini.
Terlihat beberapa pelayan masuk membawakan piring-piring makanan, menyajikan kemudian di atas meja semua orang yang hadir dengan sopan, bahkan suara dentingan sedikit saja taklah terdengar. Menunjukkan betapa terlatih dan terdidiknya para pelayan ini, atau barangkali pelayan-pelayan ini adalah pelayan senior.
__ADS_1
Entahlah apa itu, karena yang terpenting saat ini bukanlah memerhatikan betapa bagus dan baiknya cara kerja mereka, melainkan bagaimana dan apa pula yang sedang dilakukan satu pelayan wanita ini? Terlihat cukuplah mencurigakan, di mana terus saja melirik Zhen Xian biar kata tangan sibuk memindahkan makanan dari baki ke meja, seakan berharap Zhen Xian sendiri akan melirik balik dirinya.
“Selamat menikmati, Selir Zhen,” ucapnya kemudian, dan hal itu sukses membuat pandangan Zhen Xian berserobok dengannya.
Namun, Zhen Xian tak mengatakan apa-apa selain kian melekatkan pandangan lebih dalam lagi. Apa mungkin tahu dan sadar jikalau pelayan ini hendak menyampaikan sesuatu? Hanya saja, situasi aula barangkali tidak memungkinkan pelayan wanita ini untuk memberitahukan langsung lewat mulutnya.
Oleh karena itu, tepat ketika pelayan tersebut keluar dari aula. Dengan yakin Zhen Xian meminta Que Mo untuk menemui pelayan tadi. Dan bersamaan dengan perginya Que Mo, Ibu Suri yang merupakan tuan rumah dari acara makan malam ini berakhir mengangkat gelasnya sembari meminta yang lain untuk bersulang. Pun dentingan cangkir yang pecah menjadi awalan dari hadirnya alunan musik, menemani makan malam pribadi keluarga kerajaan dengan ragam jenis masakan yang ada.
“Lihatlah Taizi dan Taizifei, terlihat sungguhlah serasi duduk bersama seperti ini, bukan?” ucap Ibu Suri, seolah sedang mengingat masa lalu dirinya dengan mendiang suami. “Pasangan yang dulunya masih kecil, tapi sekarang lihatlah ... sudah menjadi pria dan wanita dewasa. Waktu sungguhlah berlalu dengan cepat, bahkan Selir Zhen hadir di sini sebagai anggota baru,” lanjutnya, mengarahkan pandangan pada Zhen Xian yang taklah merespons.
Mungkin karena itu pula, kecanggungan mulai dirasakan. Yang mana pada akhirnya, Permaisuri menjadi pemecah dari kecanggungan ini. Setidaknya tidak akan membiarkan suasana ini terus bergerak ke arah di mana Raja akhirnya merasakan. “Kalian berdua.” Mengarahkan pandangan pada Putri Mahkota juga Zhen Xian secara bergantian. “Ingatlah untuk selalu menjaga Taizi. Sebagai istri jelas itu menjadi tugas kalian untuk mengurangi beban, dan juga menyelesaikan persoalan bersama. Bukannya menambah masalah bagi Taizi.” Yang entah kenapa, kalimat terakhir menekan itu dirasa kuat ditujukan pada Zhen Xian.
Namun, Zhen Xian lagi dan lagi taklah merespons, dan barulah menjawab mengiyakan ucapan Permaisuri tepat ketika Putri Mahkota berucap. Yang mana Putri Mahkota sendiri berakhir memandangi Zhen Xian, dan lewat pandangan itu Zhen Xian pun sadar apa yang diinginkan sang Putri Agung ini.
Apalagi jikalau bukan ... menahan diri dan jangan melakukan hal-hal yang akan dibenci oleh tiga petinggi keluarga kerajaan saat ini.
Akan tetapi, sulit bagi Zhen Xian untuk melakukan hal-hal demikian. Di kala hatinya masihlah dilanda duka teramat besar, dan sekarang bisa-bisanya keluarga kerajaan ini mengadakan makan malam mewah seperti ini. Sama sekali tidak merasa bersalah dan bertingkah seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
“Kau juga, Taizi. Sebagai suami jangan bersikap tidak adil pada kedua istrimu. Jangan pula hanya memikirkan masalah pekerjaan,” tambah Permaisuri lebih lagi, dan tak tahu pula apa yang menjadi balasan Jin Kai, karena Zhen Xian tak sudi mendengarnya. Palingan pria itu akan mengiyakan, tapi tetap akan bersikap kejam pada Putri Mahkota.
Keluarga kerajaan ini, sangatlah memuakkan dan penuh kepalsuan, bukan? Jelas mereka tahu bagaimana buruknya hubungan Putra dan Putri Mahkota. Namun tetap saja, mengatakan hal-hal demikian seolah tak peduli akan perasaan Putri Mahkota Bai Hua akan seperti apa.
Memuakkan, sungguh memuakkan suasana dan perkumpulan ini. Sampai titik di mana Zhen Xian bernapas pun terbilang berat, dan malah kian saja mengembuskan napasnya. Hingga tiba pada saat di mana Que Mo kembali, menghampiri. Saat itulah, Zhen Xian merasa mampu menormalkan kembali napas memberatnya. Pun Que Mo yang sadar akan hal itu, seketika menuangkan teh, menyerahkan kemudian pada Zhen Xian dengan sopan layaknya pelayan pribadi terhadap majikan.
Namun, apa ini? Bukan hanya secangkir teh saja yang diserahkan, melainkan juga sebuah gulungan kecil kertas ikut hadir ataupun terselipkan. Pun serta merta, Zhen Xian membuka dan membaca isi yang barangkali pesan di dalamnya. Di mana Que Mo menjadi sosok pengawas, tepatnya mengawasi Jin Kai. Sosok yang sampai saat ini terus saja mengarahkan pandangan pada Zhen Xian.
Lantas, apa sekiranya isi yang tertera pada gulungan kertas tersebut? Sampai membuat seorang Zhen Xian bersikap sedemikian rupanya gemetar. Bahkan Que Mo yang ikut melihat akhirnya bersikap serupa, netra membulat pun berkaca-kaca tipis. Namun, sejadinya pula reaksi tersebut disembunyikan. Yang mana Zhen Xian sendiri memilih menenangkan diri dengan meneguk isian dari cangkir tehnya.
“Tuangkan lagi,” pinta Zhen Xian akhirnya, menyodorkan cangkir yang telah kosong tersebut seraya mengangguk sekali. Akan tetapi, benarkah yang diinginkan Zhen Xian adalah teh? Dan apa pula maksud anggukan yang diberikan? Yang mana Que Mo mengambil cangkir kosong tersebut dengan kedua tangannya, tampak paham akan maksud Zhen Xian. Apalagi ketika gulungan kertas kini berpindah tangan kembali padanya, pun Que Mo sungguh menuangkan teh sesuai permintaan Zhen Xian.
Sekiranya, sungguhkah Jin Kai tak melihat keanehan dari dua orang ini? Atau justru tahu, tapi tidak ada niatan untuk menghentikan karena memang sedang berada di aula? Karena Jin Kai tahu dan yakin pula, jikalau Zhen Xian tidak akan pernah bisa lepas dari hidupnya juga istana ini.
Alhasil, untuk pertama kalinya dari sejak menghadiri Aula Merak ini. Zhen Xian, gadis itu bertukar pandang padanya, dan hal itu malah mengundang keresahan tersendiri bagi Jin Kai. Kenapa dan apa yang menjadi alasan gadis ini bertingkah setiba-tiba ini? Bahkan, Que Mo, pelayan pribadi itu pun ikut melakukan hal serupa.
__ADS_1
Apa tepatnya yang kalian rencanakan?