
“Lin Feng!”
Yang terpanggil sontak menoleh, mendapati Ketua Departemen Dekorasi yang baru menjabat ini dengan napas memburunya mendekat. Bagai seseorang yang terlibat di antara mati dan hidup, datang terburu-buru kemari tuk meminta pertolongan atau barangkali perlindungan.
“Kau pasti mencari Zhen Xian,” tebaknya, yang mana seketika pula tebakan itu diyakini benar adanya berkat binar dari sepasang netra Zhen Chen dipenuhi pengharapan. “Jangan khawatir, dia bersama Taizi.”
“Syukurlah, aku pikir terjadi sesuatu padanya seperti terakhir kali.”
“Terakhir kali? Apa maksudmu?”
Sukses Zhen Chen dibuat terdiam, mungkin baru menyadari tak seharusnya membicarakan mengenai kejadian cambukan itu. Namun, ucapan itu telah terdengar, lantas bagaimana tuk membiarkan Lin Feng tak menanyakan lebih? Haruskah berpura-pura bodoh saja? Akan tetapi, belum sempat melancarkan aksi, keberadaan seseorang yang membawa baki kosong keluar dari kediaman ini sukses menarik kembali niatan Zhen Chen. Dialah, Dayang Yun.
“Waktu itu Nona Zhen tak sengaja kemari dan diketahui oleh Dayang Chu, kemudian malah membawa dan memberikan hukuman cambukan,” jelasnya. Yang mana pula menjadikan Zhen Chen sebagai pusat perhatian, entah itu Lin Feng ataupun Kasim Ma bagai meminta pembenaran akan hal tersebut.
Alhasil, Zhen Chen pun mengangguk membenarkan.
“Apa yang kalian bicarakan?” sergah seseorang, sukses membuat semua yang hadir menoleh kearahnya. Jin Kai yang mendekat.
“Ge! Kau sudah selesai rapat?” Berlari pada sang kakak, pun tangan seketika menggandeng pada sang kakak yang tersenyum mendapati segalanya baik-baik saja kini.
“Mari kita minum teh bersama,” ajak Jin Kai.
Berakhir sudah Zhen Chen menerima, ingin menolak pun bagaimana bisa menolak jikalau Dayang Yun terus saja meminta menyetujui, belum lagi Kasim Ma juga ikut mendukung. Tak heran jika Zhen Chen sampai berpikir apa alasan mereka hingga begitulah antusias terkait hal ini.
Namun, Zhen Chen tak mau ambil pusing pula, lagian dirinya baru saja menyelesaikan rapat, tidak ada salahnya jika merilekskan sejenak tubuh serta pikiran. Belum lagi, Kediaman Chahua ini terbilanglah sepi dan cukup terpencil lokasinya. Harusnya tidak akan menarik pasang mata banyak orang, bukan?
Berbeda lagi dengan Zhen Xian, dirinya menolak bergabung dan memilih tetap di luar bersama Dayang Yun yang mulai merawat taman kini. Mungkin ini alasan terbesarnya betah di luar ketimbang bersantai menikmati secangkir teh? Entahlah, yang pasti Kasim Ma dan Lin Feng hanya berdiri diam menyaksikan mereka.
“Kalian, kemarilah!” seru Zhen Xian yang melambaikan tangan, tapi hanya Kasim Ma yang menghampiri, sementara Lin Feng masih saja berdiam diri seolah tak begitu mendengar atau memang barangkali mengabaikan. Oleh karenanya, Zhen Xian kembali berseru memanggil namanya.
“Ada apa?” tanyanya, sama sekali tak ada reaksi selain menunjukkan wajah kaku penuh ketegasan. Pun Zhen Xian bagai tak mau kalah, memasang ekspresi sama yang mana pula menyerahkan sebuah sekop kecil. “Kau memintaku untuk menyingkirkan rumput dari taman ini?”
“Benar, apa ada masalah? Apa seorang pengawal pribadi anggota kerajaan dilarang melakukan hal ini?” Zhen Xian menjatuhkan pandangan kemudian pada Kasim Ma, sontak saja gelengan yang didapat Zhen Xian sebagai jawaban. Di mana berarti pula, Kasim Ma harus ikut serta dalam acara bersih membersih taman depan dari Kediaman Chahua ini.
Oleh karenanya pula, Dayang Yun sukses tertawa yang diikuti pula Zhen Xian. Sungguh terasa pula kediaman ini berbeda dari biasanya. Semacam aura yang telah meredup terpancar kini, menjadikan Dayang Yun sendiri tak mampu jika tak memerhatikan keseluruhan bagian dari kediaman. Atau barangkali ingatan akan masa lalu di mana pemilik dari kediaman ini masih hidup, kembali menyelusup.
“Kediaman ini terasa hidup kembali berkat Zhen Xian.”
“Dia memang selalu ceria, dan sikap itulah yang sering membawanya ke dalam masalah.”
“Mulai sekarang kau tidak perlu begitu khawatir lagi. Tidak akan ada yang berani mencari masalah dengannya dan dia bebas keluar masuk kediaman ini.”
Zhen Chen yang hendak saja akan menegak teh, seketika berhenti pun menempatkan kembali cangkir dengan wajah dipenuhi pertimbangan akan menanyakan atau tidak. Namun, jika tidak bertanya akankah Jin Kai memberitahunya? Karena terlihat tidaklah demikian, yang mana Putra Mahkota ini malah sibuk memikirkan arah permainan catur yang sedang berlangsung. “Apa maksud ucapanmu barusan?” tanya Zhen Chen akhirnya.
“Aku memberinya suatu barang. Orang istana akan segera mengetahui barang itu milikku jika melihatnya, jadi ....”
__ADS_1
“Ambillah kembali,” potong cepat Zhen Chen, wajah mulai menegang. “Aku tidak ingin dia menjadi bahan gosipan dalam istana ini,” lanjutnya.
"Aku pasti tidak akan membiarkannya terluka.”
“Kau adalah Taizi, dan kau paling mengerti kehidupan dalam istana. Aku tidak ingin Xian’er terlibat dalam bahan gosip tidak berdasar. Jadi kumohon padamu, ambil kembali barang itu.”
“Kau adalah temanku dan dia adalah adikmu yang sekaligus temanku. Apa menurutmu aku akan tinggal diam jika ada yang berbicara mengenainya? Tentu aku akan menolongnya.”
“Sebelum dia temanmu, dia adalah wanita. Itulah pandangan semua orang dalam istana. Menolong ... hanya akan menjadi bumerang baginya.”
Membangunkan diri, Zhen Chen sadar meneruskan ucapan ini tak akan membuat Jin Kai menarik kembali apa yang telah diberikan. Karena itulah yang tertulis jelas dari sepasang netranya. Jadi, menghampiri sang adik dan meminta segera benda pemberian itulah yang menjadi caranya.
Jika sudah demikian, tidak mungkin Zhen Xian tak menyerahkannya, bukan? Sang kakak terlihatlah begitu marah, menahan adalah apa yang Zhen Xian pahami. Tak heran jika gadis ini malah tak banyak mengatakan apa-apa.
“Kenapa kau menerima barang yang tidak seharusnya kau ambil?”
“Itu ... itu ....”
“Aku sudah katakan, jangan terlibat dengan masalah!”
Terperanjat Zhen Xian dibuatnya, tapi tak membuat Zhen Xian menjauhi sang kakak melainkan malah mendekat lebih. Bagai seorang anak kecil yang ketakutan, di mana tangan dibiarkan menarik-narik kecil lengan sang kakak yang barangkali berharap akan segera meredakan amarahnya.
“Kasim Ma, berikan kembali barang ini pada Taizi. Beritahu dia untuk tidak melakukan apa-apa ke depannya pada Zhen Xian,” ucapnya, pun membawa sang adik meninggalkan kediaman. Yang mana pula membawa keluar istana tuk menuju rumah.
Langit kuning kemerahan inilah yang menjadi saksi di mana dua saudara ini terlihat taklah baik. Mengharuskan Zhen Xian harus segera bertindak, atau jika tidak sepanjang perjalanan ini kakinya-lah yang akan terluka, tak mampu menyeimbangkan langkah kecepatan sang kakak.
“Apa kau tahu akibatnya jika orang istana melihat kau memiliki barang Taizi?”
“Aku tidak ada perasaan dengannya, jadi ....”
“Intinya bukan itu!” teriaknya yang serta merta menghentikan langkah, bersipandang pada sang adik yang tak mampu berkedip. Belum pernah, jelas belum pernah Zhen Xian melihat sang kakak semarah ini. “Orang-orang tidak peduli bagaimana perasaanmu, yang mereka pedulikan hanyalah apa yang dilihat dan dengar! Selain itu, mana ada wanita yang tidak menginginkan Taizi!”
“Aku! Itu aku yang tidak menginginkannya.”
“Sesering dan sebanyak apa pun kau menjelaskan, mereka tidak akan percaya, Xian’er. Karena hampir sebagian besar wanita yang tinggal dalam istana berharap bisa menjadi wanita Taizi. Jika kau mengatakan bahwa kau tidak menyukainya, apa menurutmu orang akan percaya?! Pada akhirnya kau sendiri yang akan terluka!”
“Aku tahu, sekarang aku tahu, Ge ... jadi berhentilah marah padaku, bisakah?” pintanya yang bagai memohon, air mata pun luruh begitu saja tanpa diminta. Suasana dan situasi ini sangatlah tak mengenakkan, hati sakit penuh luka yang dibuktikan oleh isakan demi isakan yang keluar. Meskipun tahu kemarahan sang kakak hanyalah bentuk marah karena khawatir, tapi tetap saja perasaannya terluka layaknya pertengkaran sepasang kekasih.
“Berhentilah membuatku khawatir,” ucap Zhen Chen, melembut. Air mata memanglah senjata ampuh untuk meluluhkan atau memadamkan emosi menggebu-gebu seorang pria. Biar kata bukan itu maksud sesungguhnya Zhen Xian menangis. “Xian’er, bisakah?”
“Hmm ... hiks ... hiks ....”
“Baiklah, jangan menangis lagi.” Menyeka pergi cairan bening dari wajah sang adik, tapi tak juga membuat Zhen Xian tenang. Alhasil, dekapan hangat nan eratlah yang diberikan Zhen Chen, menepuk-nepuk punggung bergetar tak karuan ini hingga tenang kembali. “Baiklah, mari kita pulang.”
“Hmm.”
__ADS_1
Apa aku telah bersikap berlebihan? Pun tidak tahu kenapa bisa lepas kontrol begini. Melepaskan dekapan, meraih tangan sang adik yang mana kembali melanjutkan perjalanan pulang. Tak terkecuali, Zhen Chen akan menghibur, barangkali sebagai bentuk permintaan maaf telah menakuti sang adik dengan sikapnya tadi.
Namun, berbeda dengan Jin Kai yang masih berada dalam kediaman ibunya. Kediaman Chahua yang entah bagaimana terasa begitulah kelam. Mekaran chahua di taman depan pun bagai menciut ketakutan.
“Taizi, waktunya kembali ke kediamanmu,” ucap Kasim Ma, mengingatkan jikalau Putra Makhotanya ini lupa atau tak sadar jika hari telah gelap. Lilin sana-sini pun sibuk dinyalakan Dayang Yun, yang bahkan tak berani mengeluarkan sedikit saja suara langkahan.
“Aku ingin Dayang Chu dihukum cambuk sebanyak yang diberikannya pada Zhen Xian dan Zhen Chen.” Erat menggenggam, tidak ... melainkan mengepal bagai menyalurkan segala jenis kekesalan pada giok ukiran naga yang sempat diberikan pada Zhen Xian tadi. “Secepatnya, dan separah mungkin.”
“Baiklah, Taizi. Aku akan segera mengurus hal itu,” balas Kasim Ma.
Seperginya meninggalkan Kediaman Chahua, kembali ke kediaman pribadinya. Jin Kai mendapati selembar kertas tergeletak pada meja ruang bacanya. Mendesah, wajah tidak senang kian dipenuhi ketidaksenangan.
Tak heran jika Kasim Ma dan Lin Feng saling bertukar pandang, bagai sedang berkompromi tuk siapa yang mengatakan sesuatu alih-alih diam seperti ini. Yang mana Lin Feng kemudian berpura-pura tak mau ambil pusing, karena hal-hal terkait apa yang tertera dalam kertas bukanlah urusannya.
“Malam ini adalah malam untuk mengunjungi kamar Taizifei,” ucap Kasim Ma pada akhirnya. Sedikit mendesah, meskipun tak tahu apa reaksi balasan yang akan diterima dari Putra Mahkota-nya ini.
“Aku mengerti. Kalian tunggulah di luar, aku bisa mengurus semuanya sendiri.”
Apa yang tertera pada lembaran kertas tak lain rupanya tanggal dan perkiraan waktu bagus yang diramalkan pihak Departemen Horoskop. Hal seperti ini tentu bukan lagi rahasia atau aneh, melainkan hal normal dalam kerajaan apalagi anggota kerajaan. Tentu semua demi mendapatkan penerus takhta yang mumpuni.
Oleh karenanya, saat hari kian larut dan kian menurunkan embun. Saat itulah Jin Kai dengan Kasim Ma tiba pada suatu kediaman, kediaman yang tak kalah megah dan dipenuhi berbagai jenis tanaman bunga. Pun masuk kemudian yang disapa oleh beberapa dayang dan juga pelayan, serta merta pula meninggalkan ruangan tanpa disuruh, tak terkecuali Kasim Ma yang menanti di luar.
“Hormat pada Taizi.” Menundukkan wajah, pun Jin Kai meminta dirinya tuk tak perlu bersikap demikian. Yang mana wanita dalam balutan gaun putih dengan surai hitam panjang tergerai setengah tanpa aksesoris sedikit pun ini meluruskan pandangan pada Jin Kai, sang suami.
Melayani, bukankah suatu keharusan? Dan menuangkan teh adalah pilihannya.
Seperti rumor yang beredar, memang benar Putri Mahkota Bai Hua begitulah cantik. Belum lagi anggun dan terpancar aura berkelasnya. Belum lagi kulitnya yang putih bersih serta terlihat lembut, rambut hitam berkilau dan wajah tanpa dandanan saja membuat dirinya masih terlihat cantik. Apa ini namanya, kecantikan alami?
“Aku akan menyiapkan tempat tidur terpisah denganmu.”
“Tidak perlu, aku akan pergi setelah tengah malam.”
Ucapan sang suami yang begitulah datar bagai tak berperasaan, bagaimana bisa membuatnya tak mengepal erat kedua tangan? Pun sepasang tungkai membawanya menjauh tanpa dimintai, bagai tubuh telah hafal harus bertindak menjauh apabila sang suami mengunjunginya.
Yang mana Putri Mahkota Bai Hua berakhir membaringkan diri pada ranjang yang sebenarnya telah dipersiapkan tuk dibagikan dengan sang suami. Memejamkan sepasang netra yang berakhir mengaliri cairan bening, diam-diam dan sejadinya pula menahan tangisan. Yang sebenarnya, jika pun terdengar Jin Kai, tak akan pula membuat pria dingin itu mendekat apalagi menenangkan.
Namun, Putri Mahkota Bai Hua adalah wanita tak biasa, pundaknya juga mengangkat kehormatan juga harga diri yang tak boleh direndahkan apalagi diinjak-injak. Tak mungkin dirinya akan menunjukkan kelemahan, apalagi di hadapan sang suami yang nyatanya memanglah pergi tepat setelah tengah malam.
“Bagaimana bisa kau bersikap dingin selama 7 tahun ini, Taizi?”
Malam yang dingin pun kian dingin, Putri Mahkota hanya meringkuk dalam tangisan tanpa siapa pun yang menemani atau berusaha menghibur, membuat kediaman ini bagaikan istana dingin*.
Inilah kenyataan yang tak diketahui siapa pun. Kenyataan yang orang-orang dalam istana maupun luar istana tidak ketahui. Kenyataan yang hanya diketahui oleh Putri Mahkota dan pelayan pribadinya, Jin Kai, Kasim Ma dan Lin Feng saja. Kenyataan bahwa Putra Mahkota Jin Kai tidak pernah memiliki perasaan, menjadikan dirinya sebagai alasan kuat bagi Jin Kai sendiri untuk tidak memiliki selir atas kehendak orang lain.
Note:
__ADS_1
*Istana Dingin itu tempat kurungan/hukuman bagi istri raja yang melakukan kesalahan.