
“Katakan. Taizi, apa dia curiga pada kalian?”
Tak serta merta Zhen Chen menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang ayah, setidaknya duduk di teras memandangi pemandangan malam dari rumah ini mampu menenangkan pikiran yang barangkali sedang menata kata-kata.
Mari jangan membuat orang tua lebih khawatir lagi.
Itulah kalimat yang mampu dipahami dari balik wajah Zhen Chen saat ini. Pun Tuan Zhen yang mengerti, tak lagi banyak bertanya atau memaksa putranya ini untuk berucap jika memang tak ingin menjawab.
Lagian, curiga seperti apa yang dimaksudkan sang ayah, Zhen Chen sendiri taklah begitu paham. Apakah terkait Jin Kai yang curiga akan perasaan cintanya pada Zhen Xian? Ataukah curiga akan terkait dirinya yang bukan saudara kandung Zhen Xian? Dan Zhen Chen sendiri tak ada niatan untuk bertanya lebih jauh.
“Aku tidak tahu, tapi yang jelas Jin Kai merasa terganggu tiap kali aku dekat dengan Xian’er.”
Bukankah jawaban Zhen Chen sama saja mengartikan Putra Mahkota Jin Kai memiliki semacam jenis kepekaan cukup tajam? Juga, jenis orang seperti Jin Kai ini telah dididik oleh kehidupan istana dan politik kerajaan untuk selalu memiliki tingkat kecurigaan tinggi pun kemudian mengusut lebih jauh lagi hingga kecurigaan itu sendiri sirna. Apalagi di kala hati yang dimiliki pada Zhen Xian terbilanglah jelas dan nyata. Namun, perasaan sepihak yang dimiliki akankah terus mampu ditahankan untuk tidak mengarah ke jalan yang lebih salah?
Oleh karena itu, Tuan Zhen meminta putra yang dibesarkannya ini untuk selalu berhati-hati. Mengingatkan kembali jikalau Putra Mahkota Jin Kai adalah putra dari Raja, yang mana bukan saja takhta melainkan sisi kekejaman pun berkemungkinan akan diwariskan pula. Semua, tentu hanya untuk mencapai apa yang dinginkan.
“Aku tahu ... dari sejak Jin Kai menjebak diriku. Sejak itu aku sadar betapa licik dan penuh pemikiran dirinya itu.” Serta merta pula Zhen Chen merenung, barangkali mengingat betapa banyak dan kecewanya ia pada Jin Kai, sosok yang setidaknya pernah hadir dalam hidupnya sebagai seorang teman. Bahkan tak tanggung-tanggung menganggapnya sebagai teman baik pula. Namun, semua kenangan baik itu telah memudar.
Akan tetapi, ucapan sang ayah berikutnya kenapa terdengar cukup meresahkan? Menyadarkan seketika Zhen Chen sembari menoleh pada sang ayah yang duduk tepat di sampingnya. “Die, kenapa bicara seserius ini? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” Meskipun memang benar, ucapan sang ayah tadi hanya meminta dan memercayakan Zhen Xian dalam penjagaannya. Tetap saja, terdapat semacam pesan tersirat dari ucapan ayahnya ini.
“Kau berpikir terlalu jauh,” timpal sang ayah, dan belum sempat Zhen Chen menanyakan lebih, sang ibu malah menyela meminta putranya ini mengantarkan Zhen Xian segera kembali ke istana. “Kembalilah, jangan menunda waktu lagi,” ucap ayah lebih lanjut.
Pun senyuman yang disunggingkan sembari membangunkan duduk dari waktu singkat obrolan empat mata di antara ayah dan anak ini pun berakhir. Di mana Zhen Chen sendiri, tak lagi tampak ingin menanyakan kecurigaan yang dirasakan tadi. Karena memang betul, waktunya untuk mengembalikan Zhen Xian tak lagi bisa ditunda lebih lama lagi.
“Die, waktu berikutnya mari kita minum arak bersama,” ajak Zhen Xian sembari membawa diri mendekati pun memeluk sang ayah. Yang mana Tuan Zhen membalas pelukan tersebut, mengelus kepala dari putri kecilnya ini yang telah tumbuh menjadi wanita dewasa sekarang. “Tentu, mari kita semua minum sampai mabuk,” timpal sang ayah, menyudahi pelukan pun memandangi wajah putrinya yang tersenyum lebar. “Benar, kau sudah dewasa sekarang. Sudah bisa memilih untuk siapa kau ingin bersama.”
Mengejutkan, atau memang harusnya taklah begitu mengejutkan bagi ibu dan Zhen Chen, tapi tetap saja bagi Zhen Xian hal ini sedikit ... mendebarkan. Pasalnya, ayah memanggil sang kakak untuk mendekat, di mana sebelah tangan putrinya ini diserahkan langsung dalam genggaman Zhen Chen. “Berharap kalian selalu hidup bahagia,” ucapnya.
Tak heran jikalau Zhen Xian bergeming, bukan? Bagaimana bisa sang ayah tahu topik obrolan dirinya dengan ibu di dalam tadi mengenai pria yang mengisi hatinya? Berpikir dalam pula apakah mungkin ayah dan juga ibunya ini tahu jika pria yang ada dalam hatinya benar adalah sang kakak?
“Sekarang kembalilah, sampai jumpa lusa,” ucap ibu, mengingatkan jikalau hari sudah larut dan tempat tujuan pengantaran Zhen Xian adalah tempat yang tak bisa bebas dimasuki ataupun keluar sesuka hati mereka. Tanpa lupa pula, Zhen Xian kembali memeluk kedua orang tuanya secara bergantian sembari mulut berucap akan bertemu kembali lusa nanti.
Jujur saja, sangat sulit harus mengucapkan perpisahan secara langsung begini. Harusnya dengan istana itulah dirinya mengucapkan perpisahan, bukan pada rumah dan orang tuanya seperti ini. Namun, jikalau mengingat lusa akan kembali lagi kemari merayakan ulang tahun sang kakak, cukup sudah meredam kesedihan yang dirasakan. Malahan, gadis ini dengan riang tak berkesudahan mengekspresikan kesenangan tersebut langsung pada sang kakak, ditambah pula sang kakak dimintai untuk menggendong layaknya dulu mereka lakukan, merasakan kembali hangatnya punggung nyaman sang kakak.
Alhasil, sang kakak menerima permintaan tersebut sembari selangkah demi selangkah berpejalanan kembali menuju istana.
Lusa, mari tunggu sampai lusa. Setelahnya ... Xian’er, aku akan memikirkan cara terbaik untuk membawamu kabur dari tempat mengekang itu.
Tanpa mereka ketahui, Que Mo di depan dari Kediaman Chahua bahkan tak mampu mendiamkan sepasang tungkai yang dibiarkan mondar-mandir. Mulut terus saja bergumam tak jelas seakan sedang mengoceh atau apa pun sejenisnya sembari netra diedarkan, berharap akan menangkap sosok yang ditunggu-tunggu.
“Namun, apa yang harus kulakukan jika yang datang malah Jin Kai?” Memikirkan segala ide yang mampu dipikirkan, tapi tetap saja tak ada ide bagus yang mampu dipergunakan jikalau memanglah Jin Kai yang kemari nanti. Ide menghalangi, atau mengatakan kalau Zhen Xian sudah tidur jelas bukan ide yang baik, bukan? Mengingat ide itu pernah dipergunakan, hasilnya apa? Tetap saja dengan mudah Jin Kai menerobos masuk. “Bagaimana ini, kenapa mereka begitu terlambat?”
Keterlambatan ini jelas saja akan membunuh jikalau dialami lebih lama lagi, rasanya seperti sedang bergelantungan di atas tingginya jurang dan berharap sosok yang akan muncul adalah sosok yang akan membantu, bukannya musuh yang siap menjatuhkan dirinya. Mana angin malam ini kenapa pula bertiup lumayan kencang? Apa akan segera terjadi perubahan musim?
__ADS_1
Apa pun itu, dan tak tahu pula berapa lama waktu telah berlalu. Terasa tak begitu lama, tapi bagi Que Mo pastinya lama, bukan? Akhirnya, pelayan pribadi Zhen Xian ini menangkap sosok yang datang adalah sosok yang membantunya. Mendapati pula, Zhen Xian yang berada dalam gendongan Zhen Chen telah terlelap.
“Maaf sudah membuatmu khawatir, Que Mo.”
Pun Que Mo tak begitu menanggapi, meminta Zhen Chen segera membawa masuk Zhen Xian ke dalam kediaman. Menurunkan pun membaringkan gadis ini secara perlahan-lahan pada ranjang.
“Kenapa begitu malam baru kembali? Aku merasa sangat khawatir, takut pula kalau Jin Kai atau Lin Feng kemari mencari keberadaan Zhen Xian.”
Namun, Zhen Chen tak mengatakan apa-apa, malah mengecup kening Zhen Xian yang kemudian menarik selimut memastikan gadis ini tak akan kedinginan. Bahkan Que Mo sendiri telah meninggalkan mereka sedari awal, dan menanti tepat di luar dari kediaman. Menanti ucapan balasan Zhen Chen yang di dalam tadi tak ingin berucap, barangkali khawatir jikalau akan membangunkan Zhen Xian.
Alhasil, Zhen Chen menjelaskan segalanya kini. Jikalau lusa nanti hari ulang tahunnya, Zhen Xian ingin kembali menyelinap keluar. Awalnya, tentu Que Mo sangat tidak setuju akan ide ceroboh tersebut, panjang lebar pula menjelaskan segala risiko jikalau sampai diketahui Jin Kai. Belum lagi, akan ada banyak pasang mata memerhatikan lebih ketat lagi Zhen Xian sejak kejadian Dayang Yun dan seluruh pelayan Kediaman Chahua ini mengalami sakit-sakit perut.
Lantas, bagaimana caranya menyelinap?
“Orang tuaku telah setuju.”
Hening, desauan anginlah yang mengisi. Pun desauan angin pula yang menjadi pengantar kepergian Zhen Chen dari istana, bersama dengan segala kekhawatiran yang ditanamkan Que Mo. Jelas saja, Zhen Chen tahu dengan pasti risiko yang ada. Namun, sejadinya tak ingin memikirkan hal tersebut, setidaknya sampai hari di mana ulang tahun belumlah terjadi. Tidakkah boleh? Egoiskah Zhen Chen melakukan hal ini?
Akan tetapi, tampaknya langit merasa jika kekhawatiran Zhen Chen ini belumlah cukup. Yang mana malah didatangkan seseorang yang sangat tidak ingin ditemui, menghadang jalan keluarnya dari istana dan mengajak ke kediaman pribadinya bahkan di saat Zhen Chen tak menginginkan sekalipun, Zhen Chen tetap tak bisa menolak dan berakhir mengikuti saja.
Namun anehnya, ke mana perginya Lin Feng? Biasanya pria itu akan selalu ada didekat tuannya ini, dan meskipun Zhen Chen tak menunjukkan keheranan yang dirasakan, tapi bukan berarti tidak curiga. Takut serta khawatir jikalau Putra Mahkota yang duduk berhadapan dengannya ini telah mengutus pengawal pribadinya itu untuk melakukan sesuatu.
“Kenapa memanggilku kemari? Tidakkah kau tahu berapa muak dan bencinya aku akan kediaman ini?”
Pandangan dingin macam apa ini? Apa mungkin dia tahu akau membawa pergi Xian'er? Dan meskipun berusaha mencari tahu dari balik netra dingin itu pun, Zhen Chen masih tak mampu menangkap jawaban pastinya. “Aku tidak tahu maksudmu. Sudah malam, aku harus kembali.”
“Berani sekali kau membawa istriku keluar bersamamu. Berani sekali kau mengabaikan perkataanku, dan berani sekali kau menyukai istriku.” Pun Zhen Chen yang telah membangunkan diri dari duduk, hendak pergi tadinya sontak mematung. Mengarahkan pandangan lurus pada Jin Kai yang memanglah suami dari Zhen Xian. Meskipun caranya mendapatkan Zhen Xian tidak bisa dibilang baik. “Jika aku ingin menyingkirkanmu ... itu sangatlah mudah, Zhen Chen. Oleh karenanya, jangan membuat ataupun memancing amarahku lebih jauh lagi. Jangan pula membuat kesabaranku habis!”
Yang mana semakin ke sini, ucapan Jin Kai ini bukankah terdengar layaknya ia-lah sang korban? Dan bagaimana bisa Zhen Chen menahan diri jika sudah sampai ke tahap ini? Melawan balik ucapan dengan kenyataan, akankah sekiranya membangunkan Jin Kai untuk tak perlu berlagak layaknya seorang korban?
“Kau sendiri yang memaksa hidup bersama dengan orang yang tidak menyukaimu. Harusnya kau tahu akan ada hasil seperti ini, tapi kenapa ... kenapa kini menyalahkan semuanya padaku?! Di saat dirimulah yang salah, di saat dirimulah yang memilih cara kejam ...! Kau pantas mendapatkan itu, ini adalah hukuman untukmu, Jin Kai.”
“Betul, aku memang menggunakan cara kejam untuk mendapatkannya, tapi kau juga tidak berhak menyukainya, dia adalah istriku sekarang terlebih dia adalah adikmu!”
“Berhak atau tidak adalah keputusan kami.”
“Baik ... baiklah, jika demikian aku pun tidak ada cara lain.” Menyesap teh, mendesah Jin Kai pun lakukan. Namun, desahan itu jelas bukannya desahan melapangkan dada sesaknya, melainkan desahan akan keputusan yang entah apa itu telah ditekadkan olehnya. “Jika cara baik-baik tidak berhasil, maka hanya cara kejam yang akan berhasil. Hari ini, aku mendapat pelajaran dari seseorang. Dia memberitahuku bahwa untuk menundukkan seseorang aku harus merampas kelemahannya.”
“JIN KAI!”
“Jangan salahkan aku. Sudah kuberi peringatan berkali-kali dan kau mengabaikan perkataanku. Sekarang, aku tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan padamu ... karena hatiku sudah sangat sakit, karena kesabaranku sudah habis.” Membangunkan diri dari duduknya, netra menajam terus dilemparkan pada Zhen Chen yang geram menahan amarah. “Maka nantikan permainan selanjutnya dariku, teman lamaku, Zhen Chen,” lanjutnya sembari menyeringai penuh kemenangan.
“Kau ... apa lagi yang kau rencanakan sekarang?”
__ADS_1
Yang mana Jin Kai mengikis lebih lagi jarak pemisah mereka, dengan lancang pula menepuk-nepuk bahu Zhen Chen yang menanti dengan sangat akan ucapan pangeran ini.
“Tidak akan seru jika kuberitahu. Pengawal! Antar tamuku keluar istana.”
“Kau memang sudah gila. Sungguh takdir kejam bagiku bertemu denganmu hari itu.”
“Takdir? Maka salahkan takdirmu yang buruk.” Pun dua pengawal yang dipanggilnya masuk, serta merta membawa pergi Zhen Chen yang sadar betul jikalau setiap permainan Jin Kai tidak ada yang berakhir baik.
Sekiranya, permainan jenis apa lagi yang akan dimainkan kali ini? Dan itu sungguh membuat Zhen Chen hampir kehilangan akal. Berbeda dengan Jin Kai yang justru tenang seorang diri dalam kediamannya, dihampiri pula seseorang yang tak lain adalah pengawal pribadinya, Lin Feng.
“Bagaimana? Apa kau mendapatkan sesuatu?” Namun, Lin Feng bergeming. Keterdiaman itu pun dipahami Jin Kai sebagai ketidakadanya apa pun yang bisa dilaporkan. Akan tetapi, benarkah demikian? Karena Jin Kai sendiri taklah percaya. “Kau hanya perlu mencari tahu bahwa Zhen Chen bukanlah putra kandung Tuan Zhen dan Nyonya Zhen. Hanya dengan begitu, maka semuanya akan berjalan sesuai rencana.”
“Apa maksud ucapanmu ini, Taizi?”
“Tidak penting siapa orang tua kandungnya. Aku sendiri yang akan membuat siapa orang tua kandung Zhen Chen.”
“Bagaimana jika dugaanmu salah? Bagaimana jika Zhen Chen memanglah putra kandung dari keluarga Zhen?”
“Tidak akan, aku tidak akan salah.”
Tentu Lin Feng ingin tahu dari mana keyakinan teramat ini didapatkan Jin Kai, tapi Jin Kai sendiri tampak bungkam tak ingin menjelaskan. Namun, Kasim Ma dimintai untuk mengambilkan sesuatu dari meja kerjanya, dan sesuatu itu tak lain berupa gulungan layaknya suatu lukisan. Serta merta, Lin Feng mampu menebak apa isi di dalamnya biar kata gulungan tersebut belumlah terbuka sepenuhnya.
“Bukankah potret yang terlukis ini mirip dengan seseorang?”
“Taizi ... mungkinkah kau?!”
Tidak, hal ini tidaklah benar, bukan? Gambaran kejadian di dalam kepala Lin Feng saat ini terlalu kejam. Rencana Jin Kai kali ini sungguh telah di luar batasan yang ada, tidak bisa dilakukan dan dilancarkan dengan semudah ini. “Taizi, mohon pikirkan kembali idemu ini.” Bersujud, memohon dengan sangat untuk menghentikan rencana kejam itu, dan Jin Kai mengabaikan begitu saja tanpa sedikit pun ada niatan untuk menarik kembali rencananya.
Jin Kai, Putra Mahkota ini, jujur saja tak lagi seperti Jin Kai yang dikenalnya selama ini. Sungguh telah tersesat jauh, dan mungkin akan sulit disadarkan kembali hanya melalui kata-kata. Lantas, apa yang bisa dilakukan olehnya selaku pengawal pribadi sekaligus teman dekat Jin Kai ini? Di mana ingatan akan peringatan Zhen Chen dulu kembali memenuhi benaknya.
Benar, jika seperti ini terus ... Jin Kai sungguh akan lupa jati dirinya. Dan itu akulah yang gagal melayaninya. Zhen Chen, kau benar, ucapanmu benar adanya. Jika begini, maka bagaimana bisa aku melaporkan informasi apa yang telah kutemukan padamu, Jin Kai?
“Kau orang terpercayaku, Lin Feng. Diriku sudah mengenalmu dengan sangatlah baik, orang seperti apa kau bagaimana mungkin aku tak tahu. Jika diberikan tugas, dan jika belumlah mendapatkan informasi apa-apa ... kau tidak mungkin akan kembali dan melaporkan padaku ketidakberhasilanmu itu. Jelas, sikapmu saat ini bukanlah gayamu, Lin Feng.” Menekuk sepasang tungkai, mensejajarkan diri dengan Lin Feng yang bersujud seraya tangan ditempatkan pada pundak temannya ini. “Lihatlah aku, jika tidak ada yang kau sembunyikan maka tidak ada alasan bagimu untuk menghindari tatapanku, bukan?”
“A-aku ... Ta-Taizi ....”
“Besok, bawa hasil yang kau sembunyikan dariku ini tepat ke kediaman Huangdi.” Mencengkeram kuat pundak Lin Feng. Kecaman, bukankah ini jelas suatu kecaman? Merasa sungguh bodoh berpikir akan mampu membohongi Jin Kai. “Mengerti ... atau tidak, Lin Feng?” tegas Jin Kai, menekan.
Alhasil, Lin Feng yang sepasang netranya berembun tipis ini pun mengangguk. Embun tersebut barulah meluruh tepat ketika Jin Kai menjauh, kembali ke kamarnya. Dan jikalau bukan Kasim Ma yang membantu membangunkan sujud Lin Feng ini, sudah dapat dipastikan pengawal pribadi Putra Mahkota ini tak akan mampu membangunkan dirinya sendiri.
Penyesalan ... jelas Lin Feng rasakan. Di mana Kasim Ma sendiri, meminta untuk tidak melawan keinginan Putra Mahkota jikalau tidak ingin hasil yang lebih buruk lainnya terjadi. Namun, bagaimana bisa mengabaikan hal sebesar dan segila ide Jin Kai saat ini? Yang mana malam ini menjadi malam terberat dalam hidup seorang Lin Feng, dan pastinya akan menjadi saat-saat terberat bagi dia yang menempati Kediaman Chahua.
Maaf ... sungguh ... maafkan aku, Zhen Xian. Terlebih pada dirimu, Zhen Chen.
__ADS_1