
Tidak perlu takut, tidak perlu pula khawatir. Seakan kediaman dari gadis yang saat ini sedang menikmati sesuap nasi dengan sumpitnya adalah pemilik tanpa beban seraya mentari di puncak tertinggi sekalipun ikutan merayakan, meramaikan suasana yang entah sejak kapan telah demikian ramainya akan ucapan demi ucapan santai.
Tak juga terlihat satu pun pelayan ataupun Dayang Yun, yang mana topik pembicaraan selagi waktu makan siang ini menjadi hangat diperbincangkan. Seperti Mo Zhu salah satunya yang begitu melontarkan banyak pertanyaan, menanyakan pada Que Mo obat pencuci perut seperti apa dan bagaimana bisa dirinya seberani itu membuat para pelayan, terlebih orangnya Putra Mahkota dalam perawatan tabib? Bagaimana pula menghadapi Putra Mahkota begitu mengetahui hal ini? Tidakkah takut akan hukuman berat? Atau dipisahkan jauh dari Zhen Xian?
Que Mo, pria yang dulunya anak jalanan ini hanya menanggapi seakan tak peduli akan hal itu. Yakin jikalau Putra Mahkota tidak akan begitu keras dalam menghukum. Zhen Xian, gadis yang dilayani dalam istana ini tidak mungkin tidak akan menghentikan jikalau hal itu sampai terjadi, bukan? Lagian buat apa khawatir, di saat hukuman terbesar sebenarnya adalah melihat Zhen Chen dan Zhen Xian yang saling memiliki perasaan, tapi tak mampu melepaskan hubungan saudara dikarenakan situasi dan kondisi teramat berbahaya.
Zhen Chen adalah putra kandung Jenderal Wei, bukankah kenyataan ini jauh lebih memusingkan ketimbang hanya menaruh obat pencuci perut dalam makanan para pelayan? Jadi, Que Mo yang kini terus saja menegak cangkir berisikan jelas bukan teh ini pun dihentikan segera oleh Zhen Chen. Bagaimana bisa mabuk di saat hari masih siang begini, bukan?
“Zhen Chen, kau jangan khawatir. Aku ... akan melakukan apa pun untuk menyingkirkan hal yang tidak berguna.”
Mendengar ucapan serius seorang Que Mo ini, bagaimana bisa tidak tersentuh? Jangankan Zhen Chen, bahkan Meng Jun juga Mo Zhu ikutan merasakan dalamnya hubungan yang terjalin, pun diakhiri oleh Zhen Xian dengan ajakan bersulang bersama. Memecahkan keheningan yang tercipta secara tiba-tiba tersebut akan suara dentingan. Semacam dentingan itu mampu mengusir segala hal buruk untuk tak mendekati siapa pun di antara mereka berlima.
“Tapi, Que Mo, sampai kapan kiranya kau akan tinggal di istana? Tidakkah kau berpikir akan mencari pasangan atau menikah?” tanya Mo Zhu, bahkan Meng Jun mengangguk setuju akan pertanyaan ini.
Pasalnya, jika terus-terusan dalam istana, bagaimana bisa mendapatkan pasangan? Di saat ada larangan tersendiri dalam istana ini bagi pelayan untuk bersama dengan pelayan lainnya, kecuali telah mendapat persetujuan dari sang tuan, dan jikalau saja hubungan itu berhasil maka mereka harus keluar dari istana setelahnya.
Tak mengherankan apabila Que Mo terdiam, tampak keraguan memenuhi sepasang netranya yang diarahkan langsung pada Mo Zhu si penanya. “Itu ... untuk saat ini kurasa ada hal lain yang lebih penting. Hal yang menyangkut kebahagiaan dan hidup mati seseorang.”
“Kenapa terdengar begitu serius? Aku hanya sekadar menanyakan kehidupan pribadimu, tapi kenapa beralih menjadi hidup mati seseorang. Membuatku merasa bersalah saja,” ungkap Mo Zhu, berdeham canggung.
Tak terkecuali pula Zhen Xian, gadis yang sedari tadi sibuk dengan makan santainya sontak saja menyudahi pun menoleh ke Que Mo tepat di sampingnya. Meskipun mulut tak menanyakan, tapi Que Mo paham jikalau gadis ini sedang mempertanyakan alasan pastinya, adakah kaitannya dengan keinginan sang kakak yang ingin membawa dirinya kabur keluar istana?
Sementara Que Mo sendiri, menggeleng.
“Sudahlah,” sela Zhen Chen. “Tidak perlu repot-repot membicarakan hal itu. Jika waktunya tiba, Que Mo pasti akan bertemu wanita idamannya. Bukankah begitu, Que Mo?”
Namun, niatan Zhen Chen yang ingin menyudahi obrolan tadi malah mengundang topik pembicaraan lainnya. Tepatnya Meng Jun yang duduk bersebelahan dengan Zhen Chen, kian melirik kantong wewangian yang terpasang pada lingkar pinggang Zhen Chen sendiri. “Awalnya aku tidak ingin bertanya, tapi karena sudah menyinggung topik mencari pasangan, aku pun penasaran,” ucapnya, menolehkan pandangan langsung pada Zhen Chen yang jelas memiliki tanda tanya besar dihampir seluruh wajah kebingungannya. “Apa mungkin kau sudah bertemu wanita idamanmu sendiri? Lihatlah ... kau mengenakan kantong wewangian seakan bukan dirimu saja.”
Baik Zhen Xian ataupun Que Mo bergeming, menanti ucapan balasan seperti apa yang akan diutarakan sang ahli sekaligus jenius muda bunga ini. Bukankah Zhen Chen biasanya pandai berucap? Otaknya jelas lancar tidak seperti Zhen Xian dan Que Mo yang kini membeku.
Aneh, kenapa aku jadi takut jikalau mereka tahu aku-lah si pemberinya? Ingin mengatakan saja, tapi tak semudah itu. Sedangkan Mo Zhu, si pria mudah penasaran ini sudah lebih jauh menanyakan pun menyudutkan sang kakak untuk menjawab. Tidak, aku tidak bisa membuat Chen Ge tersudutkan seperti ini. Namun, kenapa pula sang kakak terdiam? Apa yang menjadi alasannya untuk enggan memberitahukan kenyataan? Apa dirinya juga khawatir jikalau dua temannya ini akan menebak yang tidak-tidak? Kenapa aku merasa seperti sedang berselingkuh saja sekarang? Zhen Xian ohh Zhen Xian, sadarlah kumohon padamu.
“Pasti akan, dan aku akan sangat mencintainya,” jawab Zhen Chen.
__ADS_1
Akan tetapi, keterkejutan apa lagi ini? Zhen Xian sukses dibuat terkesiap ketika pandangan berserobok dengan sang kakak, yang mana sang kakak juga terlihat cukuplah serius, mengharuskan Zhen Xian akhirnya melanjutkan saja makannya. Bukan untuk mengisi perut, melainkan mengurangi kegugupan akan pandangan memesona sang kakaknya itu. Terdengar cukup gila, bukan? Karena gadis ini pun sudah cukup gila rasanya terus-terusan dipandang sang kakak, bahkan Que Mo yang menyadari mengisi aktivitasnya dengan menegak demi menegak arak.
“Kau tidak terdengar seperti Zhen Chen, apa kau benar Zhen Chen?” tanya Meng Jun lebih lagi, meminta pembenaran dari lainnya jikalau ucapannya ini benar adanya. Dan Mo Zhu mengangguk, sangat setuju. “Benar, bukan? Kalian juga merasakannya.”
“Wanita itu pasti cantik sampai membuat Zhen Chen bersikap seperti ini. Apa begitu, Zhen Chen?” tambah Mo Zhu sembari tertawa kecil, mengejek pria ini seakan menjadi kesenangan teramat sangat menghibur. “Katakan, secantik apa dirinya sampai mampu menghipnotis pria sepertimu ini?”
“Hmmm ... benar, wanita itu sangat cantik dan ceria. Dirinya memiliki hati yang hangat dan kepedulian yang tinggi, juga selalu menaburkan keramaian serta kebahagiaan di mana pun dirinya berada.” Masih lekat memandangi Zhen Xian. “Juga ... ada hal yang harus kulakukan padanya sebelum memberitahukan perasaanku.”
Kenapa aku merasa seperti ini? Zhen Xian sadarlah, wanita yang dibicarakan tidak mungkin dirimu, tapi kenapa aku merasa itu adalah diriku dan kenapa Chen Ge terus saja melihatku seperti ini ...? Membuatku merasa tidak nyaman saja.
“Tidakkah ciri itu sangat mirip dengan Zhen Xian,” timpal Meng Jun, memerhatikan Zhen Xian yang serta merta terbatuk-batuk. “Apa mungkin kedekatan kalian sebagai saudara menjadikan kalian ingin pula mencari pasangan yang serupa?”
Zhen Xian yang berusaha menghentikan batuk tersedaknya malah kian terbatuk, bahkan meminum air saja tak membuat batuknya berhenti. Terlalu bingung pula harus seperti apa menanggapi perkataan Meng Jun barusan.
“Kau baik-baik saja?” tanya Zhen Chen, dan Zhen Xian mengangguk sembari batuknya mulai mereda. “Makanlah pelan-pelan, tidak ada yang rebutan denganmu.” Meskipun tahu, Zhen Xian terbatuk bukan karena terburu-buru makan melainkan karena suatu keterkejutan. Hal itu sungguh menjadi suatu kesenangan tersendiri baginya, apalagi ketika mendapati gadis ini tersenyum canggung.
“Mari kita ubah topik pembicaraan,” sela Mo Zhu, dan entah siapa lagi sasaran topik obrolannya kali ini. Bukankah Que Mo sudah? Bahkan Zhen Chen saja sudah, lantas ... haruskah? Melekatkan sasaran baru, karena tentu seseorang ini jauh lebih menarik untuk diperbincangkan. “Itu ... bagaimana denganmu sendiri, Zhen Xian. Sekarang kau adalah seorang selir dan Taizi sangat menyukaimu. Jika nanti kau melahirkan anak laki-laki, bukankah itu berarti anakmu akan jadi Taizi berikutnya?”
“Jangan lupa masih ada Taizifei. Taizi juga sangat menyukainya,” tambah Meng Jun.
Meng Jun mengangguk, jelas ikut merasakan keanehan yang dimaksud. “Selain itu, Taizi tampaknya jarang menemui Taizifei dan lebih fokus dengan pekerjaan. Bisa dikatakan ... Taizi hanya datang ke kamar Taizifei jika itu adalah waktu yang diatur oleh pihak kerajaan saja.”
“Itu benar ... benar sekali.” Pun Mo Zhu memasangkan wajah seriusnya. “Bahkan, aku pernah dengar dari gosip para pelayan kalau Taizi tidak pernah menyukai Taizifei,” lirihnya.
Yang mana Zhen Xian akhirnya menghentikan, tak lagi sanggup mendengarkan perbincangan ini dengan alasan dirinya tak suka kediamannya berubah menjadi tempat bergosip. Bahkan Zhen Xian tak mampu mengatakan lebih karena ini rahasia yang harus dijaganya, dan juga tak mampu menyalahkan Meng Jun dan Mo Zhu karena mereka memang tak tahu apa-apa terkait kenyataan rumah tangga Putra dan Putri Mahkota kerajaan ini.
Namun, Mo Zhu masih saja melanjutkan percakapan ini. Jikalau bukan Meng Jun yang meminta berhenti, mungkin Zhen Xian gadis ini akan siap menggebrak meja selaku meminta mereka keluar dari kediamannya.
Akan tetapi, apa yang sedang dilakukan Que Mo kini? Bergumam tak jelas layaknya sedang mengomel atau entah apalah itu sembari membawa diri bangun dari duduk pun mendekati Zhen Chen dengan sempoyongannya. “Kenapa topik pembicaraan kalian seperti ini? Tidakkah kalian tahu, ada orang yang akan cemburu karena tidak bisa menunjukkan cintanya secara langsung.” Menepuk-nepuk bahu Zhen Chen seolah berusaha menenangkan, di mana Zhen Chen sendiri dibuat sedikit panik jikalau yang lainnya mendengar ucapan tak jelas pria mabuk ini. “Aku tidak mabuk ... sama sekali tidak.”
Bahaya, ini sungguh bahaya jika dibiarkan lebih lama, bukan? Belum lagi Mo Zhu, si pria penasaran yang siap melontarkan pertanyaan tampak siap pula memuntahkan pertanyaan pertama. “Apa maksudmu, Que Mo? Siapa orang yang cemburu kau katakan barusan?”
“Kau bilang berteman, tapi tidak tahu apa-apa,” remeh Que Mo, bahkan berdecih. “Zhen Chen! Dia menyukai seseorang, dan seseorang itu adalah ...!” Terbekap sudah mulut, Zhen Chen serta merta membangunkan diri hendak membawa pria mabuk bermulut bahaya ini meninggalkan ruangan.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” protes Mo Zhu, tak terima dan berusaha meminta Zhen Chen melepaskan bekapan tangannya dari Que Mo. “Katakan siapa wanita yang disukai Zhen Chen itu, Que Mo?”
“Mo Zhu! ini urusan pribadiku, lebih baik jangan ikut campur. Selain itu, apa kau percaya dengan perkataan seseorang yang sedang mabuk seperti ini?”
Mendapati Que Mo memang berada dalam kondisi setengah sadar, jika bukan Zhen Chen yang memapah sudah dapat dipastikan pria ini tak akan mampu berdiri lagi. Namun, ucapan yang belum selesai yang akan diucapkan Que Mo terbilang cukuplah penting untuk diketahui.
Katakan saja, siapa dalam ruangan ini yang tak penasaran wanita seperti apa yang telah sukses memikat hati seorang Zhen Chen yang bahkan tak pernah mengucapkan nama seorang wanita selain adiknya sendiri, Zhen Xian? Bukankah wanita yang telah mengisi hati ahli bunga ini sangatlah luar biasa?
“Tentu saja, perkataan orang mabuk adalah kebenaran,” timpal Mo Zhu, pun Zhen Chen bergegas membawa Que Mo meninggalkan ruangan di mana Zhen Xian sendiri mengikuti. Tentu tanpa lupa meminta Meng Jun, terlebih Mo Zhu sendiri untuk tidak mengikuti pula.
Melihat sang kakak bersikap demikian, bukankah cukup jelas jika sang kakak tak ingin siapa pun tahu siapa wanita pengisi hatinya. Jujur saja, Zhen Xian merasa sangat konyol sempat berpikir jikalau wanita itu adalah dirinya. Di mana netra sedih terus diarahkan pada sang kakak yang sedang membaringkan Que Mo dalam kamar yang taklah begitu besar ini. Barangkali kamar pribadi Que Mo dalam lingkup area Kediaman Chahua.
“Apa benar yang dikatakan Que Mo?” Dan sang kakak dibuat bingung maksud pertanyaan yang dilemparkan. “Wanita yang mengisi hatimu.”
Namun, bukan jawaban yang didapatkan, melainkan sang kakak memberikan pelukan hangat. “Tidak ada wanita lain yang kusuka ... itu hanya dirimu, tidak ada yang lain.”
DEG!
Sudah cukup mengejutkan akan pelukan tiba-tiba ini, lantas apa pula maksud ucapan sang kakak yang mendebarkan ini? Belum lagi ... apa ini? Kecepatan detak jantung sang kakak seirama dan sama cepatnya. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Apakah benar ada orang yang detaknya akan sama seperti ini? Bahkan jika kembar sekalipun, hal ini tidak mungkin, bukan?
“Ge, aku merasa aneh belakangan ini. Aku merasa ... tidak tahu kenapa merasa aneh dengan sikapku padamu. Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku rasa aku ....”
“Tidak ada hal gila yang terjadi,” potong Zhen Chen, melepaskan pelukan pun lekat memandang sepasang netra gadis pujaan hatinya yang kebingungan. “Nanti, jika sudah waktunya ... aku akan memberitahumu semuanya. Saat ini, yang kuinginkan kau tetap menjaga perasaan yang kau rasakan padaku dan menunggu. Hanya itu, apa kau bisa?”
“Apa yang kau sembunyikan? Apa itu hal buruk? Makanya kau tidak bisa mengatakannya sekarang?”
Kecupan, lagi-lagi kecupan di kening yang dilakukan sang kakak. Namun, kali ini lebih lama bahkan Zhen Xian mampu merasakan betapa tulus dan semacam ada rasa jikalau sang kakak sangat ingin melindunginya. Sukses menghangatkan hati, tenang akan momen ini hingga sang kakak melepaskan kecupan dan kembali melekatkan pandangan. “Semua yang kulakukan demi kebaikanmu. Jangan mencari tahu atau bertanya ... hanya tunggu aku.”
“Baik, aku akan menunggu penjelasanmu.”
Akan seperti apa penjelasan sang kakak, tak lagi penting. Yang terpenting, yakin jikalau sang kakak yang kini kembali memeluknya memanglah menyukainya. Bukan sebagai saudara, melainkan wanita. Hal ini memanglah gila, bukan? Tapi Zhen Xian tak lagi memikirkan hal itu, di mana tiap degupan seirama jantung mereka seakan memberitahukan bagaimana perasaan mereka terhadap satu sama lain.
Begitu dalam, manis, murni, jujur dan tanpa adanya kesalahan atau dosa apa pun.
__ADS_1
Benar, itulah yang dirasakan Zhen Xian, gadis yang akhirnya tak lagi ragu ataupun menyangkal jikalau dirinya sendiri memanglah telah jatuh hati pada pria yang kebetulan kakaknya sendiri.