
“Ge! Apa kau sudah bangun?”
Tok tok tok!
Menempelkan sebelah telinga, tapi tak kunjung juga mendapat balasan. Sementara isi baki yang dibawa, terus saja menguarkan uap putih dari mangkuk yang kini menjadi pusat perhatian Zhen Xian. Pun berakhir, gadis ini masuk yang mana pula menempatkan baki ke meja, mendapati sang kakak masihlah terlelap dalam dunia mimpinya.
Tak heran memang, pengaruh mabuk semalam.
Namun, sup yang dibawakan tak seharusnya dibiarkan dingin, bukan? Belum lagi, sang kakak haruslah berangkat ke istana. Memaksakan bangun, tapi terasa enggan pula. Lantas, haruskah menggunakan cara ini? Alami, setidaknya mampu membangunkan tanpa harus merasa bersalah.
Berderit, dan hal itu sukses mengerjapkan sepasang netra terpejam sang kakak. Yang mana pula cahaya menyeruak masuk seiring dengan embusan dingin dari udara bersih. Tak lupa pula nyanyian burung-burung kecil bersahutan-sahutan dengan kokokan ayam kian nyaring meramaikan, yang pada akhirnya benar saja membangunkan sang kakak duduk seraya menyentuh kepalanya memerhatikan Zhen Xian yang mendekat.
“Makanlah sup itu selagi hangat.”
“Die dan Niang ke mana?” tanyanya, memijat-mijat pelipis tak nyamannya yang jelas sekali menguasai dirinya.
“Mereka pergi ke pasar belanja bahan makanan. Mereka juga tidak tahu kau mabuk semalam,” jawab Zhen Xian, meniup mangkuk sup pun menyodorkannya kemudian. Namun, ada apa dengan kakaknya ini? Kenapa malah memerhatikannya dengan begitulah lekat? “Ge, apa ada sesuatu di wajahku?”
Akan tetapi, sang kakak menggeleng. Tak juga melepaskan pandangan yang sulit diartikan itu. “Ge, tepatnya apa yang terjadi padamu?”
“Bisakah ... kau berhenti datang ke istana?”
Terdiam, Zhen Xian bahkan tanpa sadar meletakkan kembali mangkuk sup yang disodorkan. Tak habis pikir kenapa sang kakak meminta demikian. Bukankah ada hal yang telah disepakati dengan Jin Kai? Tidak mungkin pula kakaknya ini lupa, bukan?
“Tapi, mengenai permintaan Jin Kai, bagaimana?”
“Akan aku tangani, jadi berhentilah datang ke sana, bisakah?”
“Ge, aku sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Aku tidak mungkin selalu merepotkanmu ... biarkan aku kali ini menyelesaikan apa yang menjadi tugasku dan janji tidak akan pergi ke sana lagi setelah chahua kembali berbunga.”
Dewasa? Zhen Chen sontak kehilangan kata-kata, tersadarkan secara utuh akan apa ucapan Jin Kai semalam. Benar, sang adik memang telah dewasa. Punya pemikiran tersendiri yang tak bisa terus-terusan ikut campur di dalamnya. “Sudah waktunya juga kau memikirkan masa depan,” gumam Zhen Chen akhirnya.
“Apa yang kau katakan, Ge? Masa depan?”
Namun, Zhen Chen tak berniat menjawab dan menyibukkan mulutnya meminum sup yang tak lagi banyak menguarkan uap putih. Seraya pula mengarahkan pandangan ke jendela yang terbuka lebar.
Biarkan waktu dan takdir membawa ke mana semua akan berakhir. Biarkan semua mengalir sesuai dengan jalan cerita yang sudah tercipta, maka semua mungkin akan lebih baik. Aku hanya berharap ... takdir tidak bermain-main pada kami.
Serta merta angin mengencang, tiap embusan atau tiupan ini bagai mengambil dan mengirim ucapan hati seorang ahli bunga muda ini ke cerahnya langit. Langit yang entah bagaimana pula malah mengundang sejumlah awan tebal, mengganggu pandangan mentari yang barangkali sangat ingin mengetahui apa yang melatarbelakangi suasana menegangkan ini terjadi.
Tepatnya dalam istana, sehabis Jin Kai dan sang istri baru saja menyelesaikan penghormatan pagi mereka. Raja meminta sang penerus takhtanya ini tuk tak meninggalkan Aula Merak. Yang mana Putri Mahkota berakhir meninggalkan aula seorang diri.
”Taizi, melihat pembicaraanmu kemarin. Apa mungkin kau memiliki seseorang untuk dijadikan selir?” tanya Raja.
__ADS_1
“Benar,” jawabnya, penuh kemantapan dan keyakinan hingga sukses membuat Ibu Suri dan Permaisuri saling bertukar pandang. Bukankah ini sungguh mengejutkan? Sosok yang selama ini selalu menolak bahkan sensitif tiap kali mengangkat topik pengambilan selir, pada akhirnya kini membenarkan bahwa dirinya memiliki selir yang diharapkan.
“Berasal dari keluarga mana wanita itu?”
“Untuk saat ini tidak ada yang ingin kukatakan, mohon Huangdi jangan bertanya lagi.”
“Kau adalah Taizi! Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kau bersama dengan wanita rendahan?”
“Dia bukan wanita rendahan karena aku memilihnya.” Mendesah, seraya sepasang tungkai dibawanya melangkah pergi. Tak menutup kemungkinan pula jika Pangeran Agung ini marah juga kesal. Semua jelas tertampil dari punggung yang kian menjauh ini.
Namun, langkah yang bagai tak ingin lebih lama lagi dalam aula ini terhenti. Tepat ketika Raja membawa-bawa Putri Mahkota Bai Hua dalam percakapan keluarga ini. Yang mana Jin Kai sendiri mengepal kedua tangannya.
“Apa kau pikir kami tidak tahu bagaimana sikapmu pada Taizifei selama ini?”
“Itu karena kalian yang memaksaku.”
“Taizi!” seru Permaisuri. Merasa ucapan sang putra kian ke sini kian seperti anak pembangkang. Tepatnya, tak ingin sang suami, Raja yang tampak terpancing amarahnya ini akan kian meledak.
Ibu Suri sendiri, hanya mampu memejamkan sepasang netra akan situasi dan suasana memanas ini.
“Lantas bukankah?! Jangan salahkan aku memperlakukan Taizifei dengan dingin. Bahkan, aku tidak pernah menginginkan posisi Taizi!” teriaknya seraya membalikkan tubuh, menghadap pun lurus lekat memandang sang ayah. “Aku hanya ingin kebebasan ... hidup bersama orang pilihanku, memiliki teman dan tidak perlu waspada dengan semua hal. Lantas sekarang, tidak bisakah kalian mengizinkanku melakukan hal yang kuinginkan?! Hanya kali ini.”
Pun dirinya sadar, bahwa ucapan barusan tidak akan begitu memengaruhi Raja. Yang ada hanyalah akan menambah kemarahan saja. Karena berkali-kali sejak kecil Raja selalu menanamkan bahwa kehidupan Putra Mahkota tidaklah boleh ada kelemahan, dan perasaan adalah salah satunya.
Oleh karenanya, menarik diri meninggalkan aula adalah pilihan terbaik. Jika pertengkaran terjadi, akan sangat tidak baik pengaruhnya bagi Ibu Suri. Selain itu, dirinya butuh yang namanya penenangan diri. Di mana Raja yang menyaksikan sang putra pergi dengan begitu terselimuti amarah itu sontak memanggil kasim.
Pun kasim yang tak lain adalah kasim pribadi Raja ini, mengangguk patuh.
Lantas, ke manakah Putra Mahkota yang diikuti Kasim Ma dan Lin Feng ini akan pergi? Dalam istana, sungguh adakah tempat tuk melampiaskan kekesalan? Apa barangkali menuju tempat memanah saja?
Bukankah itu memang cara terbaik? Entah memanah, berkuda atau barangkali mengasah keahlian berpedang. Tentu, Lin Feng akan menjadi lawan bertarungnya. Karena hanya pria ini yang tak akan mengalah apalagi berpura-pura, bahkan beberapa kali pernah secara tak sengaja melukai Jin Kai. Mungkin sebab itu pula, Kasim Ma tak hentinya memperingati tuk berhati-hati kali ini. Yang mana ditanggapi Lin Feng seadanya saja.
Alhasil, di sinilah mereka tiba.
Entah karena memang tempat inilah yang ingin didatangi, atau sepasang tungkai Putra Mahkota yang pikirannya sedang kacau inilah yang tanpa sadar menariknya kemari? Entahlah, bahkan Dayang Yun yang menyapa diabaikan begitu saja. Yang mana Jin Kai sibuk memerhatikan chahua pada taman depan kediaman ibunya ini.
“Jin Kai!” panggil seseorang, seseorang yang serta merta menolehkan Jin Kai ke arahnya. “Kenapa datang kemari? Apa kau sedang tidak sibuk?”
Pun Jin Kai tersenyum, meskipun hanya sebuah senyuman paksaan. Akan tetapi, tak menutup kebenaran bahwa amarah dan segala jenis kekesalan perlahan sirna dari dirinya. “Aku sedang menenangkan diri, jadi kemari sebentar.”
Apa dia sedang dalam perasaan tak baik?
Ingin bertanya pun enggan rasanya. Lagian, sebagai Putra Mahkota jelas saja jika punya permasalahan, bukan? Hanya saja, bagaimana bisa mengabaikan jika sudah tahu pria ini sedang tak baik-baik saja? Biar bagaimanapun, Jin Kai adalah temannya.
__ADS_1
“Bantu aku membersihkan ranting kering,” ucap Zhen Xian akhirnya, mengajak ke halaman belakang yang sekaligus memberikan alat pemotong. Yang mana Kasim Ma dan Lin Feng seketika dicegat Dayang Yun, menggeleng sebagai tanda tuk tak mengikuti.
Sebagai seorang Putra Mahkota, harusnya tidaklah tahu cara merawat bunga, bukan? Namun, jika dia tahu sekalipun, Zhen Xian tetap akan menjelaskan seraya mempraktekkan langsung tuk berjaga-jaga agar pria ini taklah terluka.
Akan gawat jikalau sampai melukai Putra Mahkota, bukan? Tentu Zhen Xian tak ingin hal itu terjadi, apalagi jika sampai membawa-bawa sang kakak pada akhirnya. Mimpi buruk, jelas itu mimpi buruk.
“Apa kau mengerti sekarang? Kemari dan cobalah.”
Tanpa segan, seolah hal ini bukanlah apa-apa, Jin Kai melakukannya sesuai yang diajarkan. Memang benar, Putra Mahkota adalah Putra Mahkota. Sekali melihat dan diajarkan saja, dirinya telah menguasai dengan cukuplah baik. Bahkan terbenam sepenuhnya melupakan masalah yang tak diketahui Zhen Xian apa itu.
“Apa aku boleh sering-sering kemari menemuimu?”
“Aku?” tanya balik Zhen Xian. “Ahhh ... kau khawatir aku tidak akan menjaga taman ini dengan baik?”
“Bukan itu maksudku, tentu aku percaya akan perawatanmu terhadap taman ini,” balas Jin Kai. “Aku hanya terkadang merasa kesepian, dan hanya merasa nyaman saat denganmu,” lanjutnya lagi setelah sempat meragu tadi.
“Maka kau bisa bertemu dengan Taizifei.”
Jawaban cepat tanpa berpikir dari gadis yang sibuk membersihkan ranting kering chahua ini, sukses menghentikan aktivitas Jin Kai. Memilih mendudukkan diri pada ayunan, tapi pandangan tak bisa jauh-jauh dari Zhen Xian. Sadar, jikalau gadis ini akan sedikit sulit tuk didekati.
“Apa kau pernah berpikir pria seperti apa yang ingin kau nikahi?”
“Tentu saja seperti Chen Ge, hangat dan sangat peduli.” Zhen Xian menghentikan aktivitasnya kemudian. “Sebenarnya aku tidak pernah benar-benar memikirkan pernikahan. Aku hanya ingin selalu bersama dengan keluargaku. Tidak pernah berpisah, bukankah hal itu sungguh indah?”
“Bagaimana jika ada seorang pria berpangkat menginginkanmu menjadi istrinya?”
Sontak, Zhen Xian mengarahkan pandangannya pun mendekati Jin Kai, curiga bahkan memicingkan sepasang netranya. Seolah tak cukup menjawab kecurigaan, gadis ini pun mengelilingi Jin Kai.
“Ada yang aneh ... apa kau dan Chen Ge merencanakan sesuatu di belakangku?”
“Aku hanya ingin tahu. Lantas tidak bolehkah?”
“Aku hanya merasa aneh dengan arah pembicaraanmu, kenapa kau seperti begitulah penasaran akan kehidupan pernikahanku?”
“Benarkah?” tanya balik Jin Kai, segera bangun dari duduknya. Yang mana barangkali tak ingin terus dicurigai gadis ini. Meskipun benar hatinya milik gadis ini, tapi sekarang bukanlah saat yang tepat bagi gadis ini tahu. “Lakukan saja pekerjaanmu, aku pergi dulu.”
“Tadi, kulihat emosimu sedikit tak baik. Aku memang tidak tahu pasti apa masalahmu itu sampai membuatmu bersikap demikian, tapi jangan terlalu membawa masalah ke dalam hati dan coba bicarakan dengan orang terdekatmu. Aku yakin hatimu akan membaik setelahnya, jauh lebih ringan dan pastinya nyaman.”
“Jika itu kau orangnya ... apa kau bersedia?”
Pun Zhen Xian tersenyum, bagaimana bisa menolak jikalau yang menanyakan adalah teman sendiri, bukan? Alhasil, gadis ini mengangguk. “Akan menjadi suatu berkah untukku.”
Wajar saja apabila Jin Kai tersenyum puas, bukan? Meskipun benar perasaannya belumlah terucap secara gamblang, tapi gadis seperti Zhen Xian ini taklah bisa dikejar secara terburu-buru.
__ADS_1
Pelan-pelan saja, waktu masih banyak. Yang terpenting dekati dan dekati terus hingga yakin gadis ini memanglah memiliki perasaan serupa terhadapnya.
Harusnya tidaklah sulit, bukan? Karena menemukan pilihan hati itu jauh lebih sulit.