Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 21


__ADS_3

Satu buku di tangan kiri, dan tangan satunya lagi sibuk menyingkap tiap lembaran. Akan tetapi, benarkah ada yang mampu membaca sebegitu cepatnya? Kecuali dirinya telah hafal betul isi dari setiap kata dan halaman yang ada, membuka hanya untuk memastikan kembali apa yang diingat taklah salah.


Namun, tampak tidaklah demikian adanya. Berakhir pula menutup buku, menoleh pada sisi ruangan lain yang mana beberapa pelayan wanita sibuk membawa pun menempatkan piring-piring makanan dari baki ke meja.


”Taizi, semua sudah siap.”


Pun Jin Kai membangunkan diri dari sesi duduk santainya, mendekati meja yang memang telah dipenuhi berbagai jenis masakan. “Kalian bisa pergi sekarang,” ucapnya yang mana para pelayan seketika saja membawa diri meninggalkan ruangan. “Kasim Ma, kau juga.”


“Benarkah tidak membutuhkan bantuanku?”


“Kenapa ucapanmu terdengar seperti aku selalu bergantung padamu? Aku bukan anak kecil lagi. Lagian, aku hanya ingin menikmati waktu pribadi bersama kedua teman ... itu saja.”


Senyum yang tertampil dan disaksikan ini, bagaimana bisa membuat Kasim Ma tak menghangat hatinya? Dari semalam bahkan pagi tadi sehabis memberikan penghormatan di Aula Merak, Putra Mahkota-nya ini telah dalam suasana hati tak baik. Maka .... “Baik, baik. Taizi, nikmati waktumu sebebas mungkin. Aku akan menanti di luar, panggil saja kapan pun dirimu butuh.”


“Semakin tua semakin saja kau banyak bicara, Kasim Ma.” Terkekeh, pun Jin Kai membalikkan tubuh kasim pribadinya ini, menunjuk arah pintu yang terbuka lebar kalau-kalau saja Kasim Ma lupa arah keluar.


Melihatmu sebahagia ini, hatiku sungguh damai, Taizi.


Bertepatan dengan itu pula, tamu yang diundang tiba. Bukankah berkat mereka sungguhlah besar? Selain berteman baik, lagi dan lagi mendapat undangan langsung bahkan sajian istana menanti kini. Semacam sedang memenangkan tiket emas dalam kehidupan, yang mana berarti pula hidup akan terberkahi.


“Kau menyiapkan semua ini untuk kami?” tanya Zhen Xian, sepasang netra tak mampu ditutupi lagi binarnya. Namun, taklah bertahan lama. Keterpukauan itu tertampar sudah akan kenyataan, kenyataan di mana kedatangannya dengan sang kakak ada maksud tertentu pula.


Sedangkan Jin Kai yang tak tahu apa-apa, malah mengangguk mengiyakan pertanyaan Zhen Xian pun kemudian mengajak duduk. Tetap saja, dua saudara Zhen ini masih berdiam diri.


“Kenapa kalian terlihat begitulah sungkan? Bukankah kita berteman?”


“Kau tidak seharusnya bertindak berlebihan seperti ini, kurang enak jika dilihat dan didengar oleh orang-orang nantinya,” ucap Zhen Chen.


“Jangan khawatir, aku sudah memastikan hal itu tidak akan terjadi. Kemarilah, jangan sampai aku sendiri yang membawa kalian duduk. Kurasa, hal itu akan menjadi topik hangat di istana, bukan?”

__ADS_1


“Tidak, tidak perlu,” ucap cepat Zhen Xian, serta merta pula membawa sang kakak duduk berdampingan dengan dirinya yang berhadapan pula dengan Jin Kai. “Bercandamu tidaklah lucu efeknya bagi kami,” lanjut Zhen Xian.


“Siapa suruh kalian sendiri yang begitulah sungkan, karena itu jangan salahkan aku,” timpalnya santai, yang mana sebelah tangan disibukkan meraih teko tuk dituangkan pada cangkir kedua tamu sekaligus temannya ini. Bukankah ini adalah hal yang harus dilakukan tuan rumah?


Namun, Zhen Chen malah menghentikan, mengambil alih apa yang hendak dilakukan Jin Kai. Yang mana pula mengangkat cangkir yang telah penuh cairan beruap itu, layaknya sedang mengajak bersulang. “Kujadikan teh ini sebagai pengganti arak tuk meminta maaf atas sikap kasarku kemarin padamu, Jin Kai.”


Zhen Xian sukses mematung.


“Harusnya aku yang minta maaf duluan, kenapa jadi kau duluan yang melakukan? Zhen Chen, kau sungguh pandai merebut kesempatan orang,” candanya yang tersenyum kemudian, dengan senang hati pula menerima ajakan sulang temannya ini. Yang berarti pula, makan siang dimulai.


Tentu, Zhen Xian menjadi satu-satunya yang lahap. Entah karena makanannya yang terlalu menggugah selera, atau karena dirinya yang terlalu lapar berkat kegugupan demi kegugupan dan ketegangan yang ada. Entahlah, yang pasti Zhen Xian butuh pengisian kembali energi biar kata kedua pria yang memerhatikannya ini sesekali akan mentertawainya.


“Taizi menjadi pribadi yang berbeda saat bersama dengan mereka. Bukankah begitu, Lin Feng?”


“Itu benar, Taizi lebih banyak tertawa dan tersenyum.”


“Benar ... Taizi tampak taklah seperti Taizi,” gumam Kasim Ma yang serta merta menoleh ke dalam kediaman. Pandangan begitulah sulit diartikan, semacam pengharapan bagi Putra Mahkota-nya itu tuk selalu hidup seperti saat ini. Tak ada beban, tak ada tuntutan banyak hal.


Tak heran, kian dewasa kian pula Putra Mahkota ini merasa hidupnya bukan lagi miliknya, melainkan milik orang lain yaitu ayahnya, sang Raja. Namun, hanya satu yang masih dipertahankannya, yaitu perasaan. Tak akan menjadikan satu-satunya bagian termurni miliknya ini berakhir pula dikendalikan orang lain, dan akan memberikan perasaannya kepada orang yang ditemuinya sendiri bukan orang yang datang kepadanya karena perjodohan.


“Bagaimana persiapan ulang tahunku? Apa berjalan dengan baik?”


“Semua berjalan dengan baik. Hanya ... ada satu kendala yang akan teratasi jika kau membantu,” jawab Zhen Chen.


“Aku?”


“Mungkin akan terdengar lancang untukmu, tapi aku sungguh butuh bantuanmu tuk mengatasi masalahnya.”


“Aku pasti akan membantu selama aku bisa. Katakanlah.”

__ADS_1


Zhen Chen malah menoleh pada sang adik, yang mana membuat Jin Kai sendiri ikut mengarahkan pandangan pada gadis yang serta merta menghentikan sesi makannya. Pun melepaskan sumpit, sebelum akhirnya memberikan anggukan pada sang kakak.


“Aku berencana menggunakan bunga segar yang baru dipetik untuk mendekorasi, bukan bunga yang terdapat dalam ruang penyimpanan, tapi ada satu bunga yang sulit didapatkan,” mulai Zhen Chen, sementara Jin Kai masih menanti perkataan temannya ini yang jelas saja belum selesai. “Itu chahua,” lanjutnya. Di mana Zhen Xian selaku pemberi informasi terpaku pada Jin Kai yang tak memberikan reaksi apa pun. “Kudengar di belakang kediaman ibumu terdapat sebuah taman yang dipenuhi chahua. Apa boleh aku menggunakan bunga itu untuk mendekorasi?”


Situasi ini sungguh taklah mengenakkan, jika diteruskan lebih lama barangkali perut penuh Zhen Xian akan mulas dibuatnya. Namun, tepatnya apa yang dipikirkan Putra Mahkota ini? Kenapa begitulah sulit membaca pikiran pria ini? Apa biasanya seorang anggota keluarga kerajaan juga diajarkan tuk mampu menyembunyikan pikiran?


Alhasil, berdeham-deham-lah Zhen Xian.


“I-itu adalah ideku, jadi jangan marah pada Chen Ge ... maafkan aku, Jin Kai.”


“Jika kau keberatan maka tidak apa-apa. Aku dan tim akan memikirkan cara lainnya, maaf sudah lancang,” tambah Zhen Chen, rasa tak enak hati bagai menjalar ke setiap gerak-gerik kecil yang dilakukannya.


“Baiklah!” balas Jin Kai, tapi baiklah yang seperti apa maksudnya ini? Tak heran apabila dua saudara Zhen ini saling bersipandang, ingin menanyakan pun enggan rasanya. Bukankah kelancangan akan kian terasa lancang? “Kalian bisa menggunakan chahua sebanyak kalian mau, tapi ... ingatlah hanya chahua yang berada di taman belakang,” lanjutnya. “Selain itu, bunga itu akan digunakan untuk ulang tahunku jadi tak ada alasan bagiku menolak. Dengan kehadiran chahua, aku pun bisa merasakan Mufei hadir di sana.”


“Aku akan ingat hanya mengambil bunga di taman belakang. Jangan khawatir, aku dan Xian’er pribadi yang akan memetiknya tanpa adanya kehadiran orang lain.”


“Baik, itu kesepakatannya,” ucap Jin Kai yang juga mengajak bersulang, mengangkat cangkir teh yang mana tentunya segera diterima Zhen Chen.


Dentingan pun terdengar cukup kuat, penuh semangat menyebar bagai dentingan tak lain berupa mantra tak kasatmata tuk mencairkan suasana tegang nan sepi tadi. Karena setelahnya, Zhen Xian sukses mengembuskan napas kelegaan. Serupa sekali dengan seseorang yang baru saja tahu caranya bernapas kembali.


“Tapi, aku punya permintaan lain,” lanjut Jin Kai.


“Katakanlah, aku pasti akan menurutinya.” Zhen Chen menjawabnya dengan penuh keyakinan pun kemantapan.


“Aku ingin Zhen Xian merawat taman hingga chahua kembali berbunga seperti sebelumnya. Tentu, Zhen Chen boleh membantu, tapi aku tidak yakin kau akan ada waktu mengurus taman dengan posisimu sebagai Ketua Departemen Dekorasi. Mungkin sekarang kau belum merasakannya. Namun, setelah ulang tahunku, kau akan tahu seberapa sibuknya posisimu dalam istana ini.”


“Baiklah, aku setuju,” jawab Zhen Xian, tak lagi dirinya memikirkan ataupun akan menimbang permintaan itu. Tahu pula, jika sang kakak pasti tak akan senang. Namun, apa yang bisa dilakukan? Karena itu syarat dari Jin Kai sendiri. “Hutang harus dibayar, bukankah begitu, Ge?”


“Tentu itu harus, tapi ....” Ragu, lidah bagai keluh tuk mengeluarkan sisa ucapannya. Yang mana berakhir tertelan kembali. Lagian, sesibuk apa memang Departemen Dekorasi? Tidak mungkin akan sampai tak punya waktu kosong sama sekali, bukan? Oleh karenanya, Zhen Chen tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Selain menyetujui.

__ADS_1


Berawal dari sini pula, Zhen Chen dan tim sibuk berfokus dengan semua persiapan ulang tahun. Termasuk pula mengunjungi lahan bunga keluarga Zhen sehabis pulang dari istana, atau terkadang rapat lagi untuk membahas sesuatu yang dianggap Zhen Chen kurang.


Intinya, Zhen Chen tidak ingin ada sedikit pun kekurangan atau cacat dalam perayaan ulang tahun ini. Kesempurnaan itu harus, bukan karena semata ingin mendapat pujian atau mengangkat namanya. Melainkan inilah tugas, yang telah dipercayai yang tentunya tak boleh sampai mengecewakan hasilnya. Setidaknya bagi diri sendiri, dan Departemen Dekorasi Istana tentunya.


__ADS_2