
“Zhen Xian ... kurasa Zhen Chen sudah kembali sekarang. Apa kau tidak akan menjemputnya?”
Diam.
Apakah gadis ini masih sadarkan diri? Wajah dibiarkan menghadap meja di mana dahi yang dijadikan penyangganya. Botol-botol arak yang diyakini kosong pun akhirnya dimintai Jin Kai tuk dibersihkan, tanpa lupa pula membayar tagihan makanan pada si pelayannya. Padahal rencana awal itu Zhen Xian yang mentraktir. Namun, malah Jin Kai yang kini membayar, bagaimana bisa dirinya tak tersenyum?
“Waktunya kita kembali, atau kau benar-benar tidak akan bisa menjemput Zhen Chen.” Menghampiri, gadis ini masih pula tak memberikan reaksi apa pun. Oleh karenanya, Jin Kai menarik lengan bermaksud memisahkannya dengan meja yang barangkali menjadi tempat ternyamannya kini.
Pun Zhen Xian malah menarik lepas, bagai Jin Kai pria yang ingin mencari kesempatan. “Aku bisa sendiri,” ucapnya, berlalu pergi membawa langkah sempoyongannya itu menuruni tangga.
Menyaksikan itu, tidak mungkin Jin Kai membiarkannya seorang diri, bukan? Dan tidak peduli bagaimana Zhen Xian menolak tuk disentuh, Jin Kai pun tak peduli bagaimana orang-orang melihatnya. Yang terpenting, gadis atau adik temannya ini aman sampai tujuan tanpa ada luka oleh langkah tersandungnya sendiri.
Namun, Zhen Xian seketika melepaskan diri menjaga jarak tepat setelah keluar dari rumah makan. Meskipun benar mabuk, kesadaran gadis ini masihlah cukup baik terkait kedekatan fisik di antara pria dan wanita apalagi orang asing tidaklah boleh terjadi. Mengharuskan dirinya menerobos keramaian, pun berakhir menjatuhkan dirinya sendiri.
“Apa kau baik-baik saja?” Memerhatikan adakah luka, Jin Kai sukses dibuat mendesah lega sebelum akhirnya membantu gadis ini bangun. “Aku bahkan tidak tahu Zhen Chen akan melakukan apa padaku terkait kau yang mabuk sekarang. Jika sampai kau terluka, bagaimana aku bisa menjelaskan padanya, Zhen Xian?”
“Aku harus pergi ke istana.”
“Baik, biar aku membawamu ke sana.
“Tapi kepalaku sangatlah pusing dan mataku mengantuk,” beritahunya yang memegang kepala, runtuh sudah pertahanan dirinya dalam dekapan Jin Kai. Tak peduli bagaimana pria ini memanggil, Zhen Xian hanya meracau dalam gumaman dan terus menunjuk ujung dari jalanan ini, gerbang utama istana.
Benar, hubungan persaudaraan mereka memanglah sedekat itu. Jin Kai pun tak lagi heran, menggendong gadis ini senyaman mungkin pada punggungnya. Barangkali, setiap langkah mendekati gerbang istana itu Jin Kai harus menyusun kata-kata seperti apa yang harus disampaikan pada Zhen Chen nantinya.
Hanya saja, apa ini? Apa gadis ini sungguh ingin merusak pertemanannya dengan Zhen Chen? Sama sekali tak membiarkan dirinya berpikir tenang berkat Zhen Xian yang berpikir sedang digendong sang kakak. Merasa begitu nyaman dan barangkali pula merasa hangat dengan kedua lengan dibiarkan melingkar lebih erat.
“Ge, kau sudah kembali. Aku sangat merindukanmu.”
__ADS_1
“Aku Jin Kai, bukan Zhen Chen.”
“Mari kita jangan berpisah ... selalu bersama seperti ini dengan Die dan Niang, bisakah?” Memeluk lebih erat, wajah dibiarkan menghadap Jin Kai. Pun Zhen Xian senyum-senyum biar kata netranya terpejam.
“Aku sudah bilang, aku bukan ....” Langkah terhenti, sisa ucapan telah tertelan jauh hingga terlupakan. Yang Jin Kai tahu hanyalah terus menoleh ke sisi kiri, memerhatikan setiap inci wajah gadis mabuk yang tertidur nyaman dalam gendongannya.
Ada apa denganku? Ini pasti pengaruh minum tadi.
Menggeleng-geleng menyadarkan diri, tak lupa pula Jin Kai mengembuskan napas sebelum tungkai kembali melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya, Zhen Chen pun muncul diliputi kepanikan. Sudah untung, pria itu tak segera memukul ataupun menuduh yang tidak-tidak setelah mendapati adik perempuannya terkapar mabuk seperti ini.
“Xian’er, Xian’er bangunlah.” Menyentuh wajah sang adik, Zhen Chen pun mengarahkan pandangan pada Jin Kai yang serta merta pula menurunkan Zhen Xian, memindahkan gadis ini ke dalam gendongan sang kakak yang terus digumamkan dalam tidurnya. “Terima kasih sudah menjaganya, tapi bagaimana kalian bisa bertemu?”
“Aku kebetulan melihatnya di rumah makan hari pertama kita bertemu, dan dia mengundangku makan bersama sebagai ucapan terima kasih atas kejadian waktu itu dengan Que Mo.”
“Lain kali aku akan mentraktirmu makan sebagai balasannya. Jika bukan bersama dirimu, aku tidak tahu akan bahaya apa yang mengintainya.”
“Baik, aku akan menanti pertemuan kita berikutnya.”
Namun, lain halnya dengan orang tua, ayah dan ibu yang setia menanti di teras rumah. Entah itu putra atau putri mereka belumlah kembali, bagaimana bisa menanti di dalam, bukan? Sementara malam kian larut dalam kegelapan nan dingin. Bahkan Que Mo saja begitulah tak tenang, tapi tak menunjukkan hal tersebut dengan terus mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tanpa diketahui pula, tepatnya Que Mo mengatakan hal itu juga untuk dirinya sendiri.
Pun angin berkesiur, terbang bagai mengirimkan ucapan Que Mo yang kini menengadah bagai sedang berdoa. Berdoa untuk kedua saudara Zhen agar segera berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya yang kian termakan kecemasan.
Maka, di sinilah angin itu berhenti. Mendapati Zhen Chen menelusuri jalanan di bawah cahaya rembulan, sesekali menolehkan wajah pada sang adik yang barangkali memeriksa apakah kondisinya sudah lebih baik atau belum.
“Ge, kaukah itu?”
“Kau sudah sadar?”
__ADS_1
“Hmmm ... kepalaku sakit dan perutku terasa aneh ... Ge ...!” Menepuk-nepuk bahu sang kakak sambil menutup mulut. Dengan terburu-buru, Zhen Chen yang memahami sinyal darurat ini menurunkan sang adik yang segera mendekati semak-semak, mengeluarkan isian perutnya yang memang berteriak minta dikeluarkan.
“Kau baik-baik saja?” Menyodorkan sapu tangan, serta merta pula membantu sang adik bangun. “Tanpaku jangan minum sendiri. Apa kau mengerti?”
“Aku tidak sendiri, tapi bersama dengan temanmu, Jin Kai.”
“Tetap saja kau tidak seharusnya minum bersama orang yang baru kau kenal,” ucap Zhen Chen yang kembali menggendong, kembali pula melanjutkan jalan pulang mereka.
“Aku hanya merasa bosan hari ini. Bisakah besok aku pergi ke istana bersamamu?”
“Aku juga berpikir membawamu pergi besok, dengan begitu aku pun bisa tenang dan mampu terus mengawasimu agar tidak membuat masalah lagi.”
“Terima kasih, Ge,” jawab cepat Zhen Xian, memejamkan netranya memeluk erat sang kakak dalam posisi yang begitulah nyaman. Pun dingin yang dijatuhkan malam larut ini bukanlah apa-apa, dan semakin tak dirasakan lagi begitu mereka kembali ke rumah. Menyapa ayah dan ibu, juga Que Mo dengan senyuman.
Ketenangan, kembali melingkupi seluruh rumah dan keluarga hangat ini. Meskipun, awalnya banyak pertanyaan dan ocehan terutama dari sang ibu, tapi berkat Zhen Chen, semua hal itu berlalu singkat hingga Zhen Xian benar-benar mampu beristirahat dalam kamarnya.
“Tidurlah dan bangun lebih awal besok jika ingin ikut aku.” Menyelimuti, Zhen Xian pun hanya mengangguk. Barulah kemudian Zhen Chen meninggalkan kamar, mendapati Que Mo yang masih menanti.
“Benarkah dia baik-baik saja?”
“Hmm ... jangan khawatir.”
“Lain kali aku tidak akan pernah membiarkannya pergi sendiri seperti hari ini.”
“Jika keadaan tidak memungkinkan aku untuk menjaganya, aku akan memercayakan dia pada penjagaanmu, Que Mo. Kau bersedia, bukan?”
“Tentu saja, bukan hanya dia, tapi kau juga orang tuamu. Aku akan menjaga kalian sebisa mungkin karena kalian adalah keluargaku.”
__ADS_1
Menepuk-nepuk pundak Que Mo yang berucap penuh keyakinan, sungguh dapat dipercaya dan dipegang pula ucapannya itu. Sukses membuat Zhen Chen tersenyum, mengantar Que Mo keluar tuk segera kembali mengistirahatkan diri.
Tanpa lupa pula, Zhen Chen memerhatikan chahua pun menyentuh lembutnya mahkota bunga sebelum berakhir masuk ke rumah, meninggalkan suasana sepi di luar. Namun, apa yang terjadi? Chahua yang tadi tersentuh, tiba-tiba saja mengeluarkan sinar kerlap-kerlip yang kian menambah keindahan bunga itu sendiri. Apa mungkin, ini tandanya bunga sedang tersenyum?