
Dalam dunia para abadi, tidak semua abadi begitu dilahirkan menempati posisi abadi tinggi. Katakan saja, Mo Bian salah satunya. Sebagai seorang Dewa Musim yang baru saja menduduki jabatan resmi, dirinya tak luput dituntut meningkatkan lebih status kedewaan. Dengan begitu, abadi lain akan lebih teryakini akan kemampuan kelayakan yang dimiliki. Oleh karenanya, Mo Bian ditawari dua kesempatan.
Pertama, ujian kehidupan dalam dunia abadi itu sendiri. Kedua, ujian kehidupan di dunia fana yang memang dikenal dunia penuh ajaran terkait kehidupan. Pun Mo Bian pada akhirnya memilih kesempatan kedua. Selain tak memakan banyak waktu, peluang kelulusan pun lebih tinggi.
Maka, di sinilah semua bermula.
Terlahir sebagai putra tunggal, Mo Bian diberi nama Wei Lang. Sementara ayahnya dikenal sebagai Jenderal Wei dan merupakan jenderal terpercaya Raja Kerajaan Yunnan-Fu. Jenderal Wei sendiri diketahui sebagai jenderal berpikiran lurus yang selalu mengutamakan kedamaian rakyat hingga hari tak diinginkan terjadi.
Jenderal Wei melihat bahwa raja saat ini bukanlah raja yang baik bagi negara juga rakyat. Banyak rakyat menderita juga kelaparan karena raja yang kian melalaikan tugas. Tak heran rakyat hidup dalam huru hara, dan Jenderal Wei pun berakhir mengambil keputusan berat yakni akan menggantikan raja saat ini dengan adik raja yang dinilainya lebih baik.
Kudeta, tak lagi terhindarkan.
Pada tahun 1609, adik raja sukses dinobatkan sebagai raja baru dengan Jenderal Wei sebagai orang terpercaya. Saling memikirkan dan berkompromi untuk menyusun kembali dan mengangkat pejabat kerajaan baru, mengontrol para politikus dan mengubah cara kerja yang dapat membawa rakyat kembali hidup damai tanpa terasa setahun lamanya telah berlalu.
Kerajaan kembali berjalan dengan baik begitu juga dengan kehidupan rakyat. Tidak lagi ada kata 'menderita', yang ada hanyalah mengagung-agungkan nama Jenderal Wei sebagai pelindung mereka. Pun menjadikan Jenderal Wei sebagai panutan serta pahlawan negara hingga lambat laun membuat raja iri, merasa terduakan.
Beberapa menteri yang berkepentingan, yang juga merasa terintimidasi oleh kekuasaan Jenderal Wei pada akhirnya menjadikan kemarahan raja sebagai kesempatan tuk menyingkirkan jenderal tersebut. Alhasil, kepercayaan yang telah terjalin hilang sepenuhnya.
Raja menyatakan Jenderal Wei, yang nyatanya seorang pejabat dengan lancang dan berani meninggikan nama di atas raja itu sendiri. Pengkhianat, status baru yang diberikan pada Jenderal Wei, termasuk pula menitahkan pasukan membasmi seluruh keluarga tanpa tersisa satu pun.
Tahun 1610, tengah malam dalam kediaman Jenderal Wei dimulailah titah tersebut. Prajurit istana berpencar, mengelilingi kediaman termasuk pula para pemanah siap sedia bertengger di atap.
“SERANG!”
__ADS_1
Puluhan panah berdesing, prajurit lainnya menarik keluar pedang pun seketika mendobrak paksa, menyerbu tanpa pandang bulu dan tanpa berkedip pula. Entah itu melibas, menghunjam ataupun memenggal.
“Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian sadar dengan siapa kalian berurusan?!”
“Seorang pengkhianat beraninya berucap. Apa yang kalian tunggu? Serang dan bunuh mereka semua!”
Seruan yang datang dari pria yang diketahui Ketua Prajurit ini, taklah mungkin atau mampu diabaikan pula oleh prajurit. Pun Jenderal Wei sendiri tak mampu berkilah selain melawan balik dari yang tadinya bertangan kosong, kini bersenjata tajam.
Tentu bagi seorang jenderal pemandangan layaknya ladang pencabut nyawa ini sudah biasa. Namun, bagaimana dengan lainnya? Para pelayan dan yang terpenting anggota keluarganya sendiri, menyaksikan pembantaian secara langsung ini.
“Pergilah bersama Wei Lang!” seru Jenderal Wei pada wanita muda awal 30-an yang berpenampilan sederhana, tapi aura yang dipancarkan taklah biasa terlebih anak yang digendongnya.
"Cepatlah!"
Bocah ini masihlah sangat muda, baru saja satu tahun hadir dalam dunia penuh gejolak ini. Sangat tak adil apabila harus pergi dengan cara mengenaskan, bukan? Oleh karenanya, kaki bagaikan bukan lagi kaki yang biasanya dipakai berjalan, begitu terburu-buru diayunkan masuk ke dalam hutan. Belum lagi beberapa lesatan panah terus saja berdatangan dari arah belakang seiring dengan beberapa prajurit pengejar kian mengikis jarak.
“Kita harus berpisah. Jika tidak kita semua akan terbunuh.”
“Tapi, Nyonya ....”
“Bawalah Wei Lang pergi. Aku akan mengecoh mereka.”
“Nyonya ....”
__ADS_1
“Wei Lang, kita berpisah di sini. Hiduplah dengan baik dan tumbuh menjadi anak baik dan kuat seperti ayahmu.” Mencium kening putranya yang terlelap, setetes buliran bening luruh yang serta merta disekanya. Pun Wei Lang diserahkan pada si pelayan. “Pergilah sekarang!”
Apa memangnya yang bisa dilakukan seorang pelayan jika sudah diberikan tugas oleh sang majikan? Tentu menuruti, meneruskan perjalanan penyelamatan diri. Meninggalkan Ny. Wei yang mengelabui prajurit, lari dan lari hingga panah menancap tepat di punggung bahkan menembusi jantung.
“Cepat pergi dan cari pelayan serta anak itu!”
Prajurit kembali berpencar dalam hutan yang seharusnya sunyi ini. Sementara pelayan bersembunyi di balik pohon sambil menahan suara napas gemetarnya, memeluk semakin erat Wei Lang kecil yang menolak kenyataan, masih saja tertidur.
Aku tidak akan membiarkan Tuan Muda meninggal. Tidak akan.
Mendapati adanya kesempatan, si pelayan segera melanjutkan kembali pelarian. Melupakan apa itu yang namanya ketakutan, berlari dan berlari adalah fokus utamanya. Namun, langit tampaknya tak ingin mempermudah pelarian ini. Pun si pelayan tersandung oleh akar-akar yang menyembul seolah sengaja dimintai tuk menjatuhkan dirinya.
“DI SANA! KEJAR MEREKA!”
Mengerang, menahan sejadinya rasa sakit yang menjalar dari kedua lutut tertahan memerah tersebut. Perlahan-lahan meluruskan kembali kedua tungkai, erat memeluk Wei Lang yang untungnya tak terluka ataupun menangis bahkan ketika telah terbangun.
“Tidak apa-apa, jangan takut ... aku akan membawamu ke tempat yang aman.”
Tersenyum, tidak ingin menakuti Wei Lang kecil. Pun si pelayan ingin menangis begitu mendapati balasan senyuman polos nan murni dari anak yang belum memiliki banyak dosa ini.
Namun, lesatan beberapa panah yang datang dari malam yang kian menurunkan hawa dingin ini berhasil menembus sebelah kaki si pelayan, tepatnya kaki kiri yang kembali membawanya bersujud. Dengan cepat pula si pelayan mematahkan kayu panah tuk kembali bangkit berlari. Buliran keringat luruh pun napas memburu, sementara anak panah tiada hentinya berdatangan. Apa sebegitu jelasnya di mata para prajurit keberadaan pelariannya ini?
Pasalnya, untuk kedua kalinya panah kembali melukai. Kali ini di bagian lengan kanan. Pun si pelayan memilih menyembunyikan diri di balik pohon sambil menahan sakit yang begitu menguar, apalagi ketika mematahkan kayu panah tersebut. Darah segar berbau anyir itu pun dengan deras membasahi kain pakaian, wajah mulai memucat bibir pun bergemetaran.
__ADS_1
Aku tidak boleh mati di sini ... aku harus memastikan Tuan Muda selamat, dengan begitu aku bisa mati dengan tenang.