Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 37


__ADS_3

BRAK!


Tangan yang menggerak-gerakkan kuas di atas lembaran dokumen pun terhenti, lilin yang ada di meja seketika pula mati menyisakan uap putih. Belum lagi suara deritan demi deritan begitulah mengganggu pendengaran, yang mana akhirnya dokumen ditutupnya seraya menoleh ke asal deritan yang tak lain berasal dari jendela terbuka.


“Udara malam ini cukuplah dingin dari biasanya,” ucapnya seraya membangunkan diri, membawa sepasang tungkai menjauhi meja kerja yang memanglah telah menyelesaikan pekerjaan yang ada. “Bukankah begitu, Kasim Ma?”


“Benar, Taizi.”


Menghirup udara yang berembus menembusi tubuh, netra terpejam Jin Kai yang dibukakan kembali akhirnya mendapati betapa indahnya sinar rembulan. Kediaman nan sepi ini, tak satu pun terlihat kehadiran pengawal ataupun pelayan. Yang ada hanyalah sang tamu yang kini dibawakan Lin Feng, kian mendekat pun masuk menghampirinya yang membelakangi.


“Kalian berdua.” Berbalik, wajah mengembangkan senyuman. Namun, netra yang diarahkan secara bergantian pada Lin Feng dan Kasim Ma tampaklah serius. “Tunggulah di luar,” lanjutnya, pun Jin Kai mengajak Zhen Chen duduk.


Jika sudah demikian, sebagai bawahan bagaimana bisa tidak mengikuti ucapan atasan, bukan? Tapi tetap saja, Lin Feng bagai enggan menarik diri. Mendapati pula sebelah tangan Jin Kai sibuk di bawah meja sana, telunjuk dibiarkan menyentuh isian dari botol putih kecil yang kemudian disembunyikan lagi ke dalam lengan berjubahnya.


Tak heran apabila Kasim Ma segera menyadarkan Lin Feng, yang mana Jin Kai sukses dibuat melirik dalam diam. Menyaksikan baik-baik kedua bawahannya itu benar-benar pergi meninggalkan ruangan ini.


“Kenapa tidak meminta mereka minum bersama?”


Pun Jin Kai menoleh seketika, memandang Zhen Chen yang bertanya tepat di hadapannya. “Aku hanya ingin bicara denganmu, juga ... ingin meminta pendapatmu,” jawab Jin Kai.


Mendengar itu, sedikit membuat Zhen Chen menelengkan wajah. “Aku tidak yakin bahwa jawabanku akan memuaskanmu.”


“Tentu akan, kau mampu menganggap diriku bukanlah Taizi, yang mana kau pun bisa bicara santai denganku sebagai temanku. Tidak seperti lainnya yang selalu memuji pendapatku.”


Diam. Tak tahu harus bagaimana merespons, karena Jin Kai sendiri terlihat begitulah dipenuhi emosi bercampur aduk di sepasang netra tertunduknya itu. Namun, tidak mungkin pula membiarkan suasana seperti ini terus-terusan terjadi, bukan?


Alhasil, Zhen Chen tersenyum seraya membuka botol yang dibelinya dari Rumah Minum Ming Yue. Menguarkan aroma yang terbilang cukuplah kuat nan menghangatkan suasana, dituangkannya pula isian bening tersebut pada dua cangkir kosong yang tersedia di meja santai ini. “Lalu apa rencanamu?” tanya Zhen Chen akhirnya seraya memberikan satu cangkir pada Jin Kai.


Tentu Putra Mahkota ini menerima, tapi tak segera meminum melainkan terus memandangi cangkir yang ada seiring dengan jari telunjuk dibiarkan menyentuh bibir cangkir seolah sedang menyusuri area tersebut. “Huangdi sangat marah mengenai kasus ini, dan penyebar rumor pun sudah meninggal, tapi rakyat belum saja mendiamkan mulut mereka. Jadi, aku berencana untuk menutup rumor dengan kejadian yang cukup besar.”


Mengangguk paham, Zhen Chen mengangkat cangkir seraya menghirup aroma yang ada. “Apa kau sudah memikirkan kejadian apa yang akan kau gunakan?” tanyanya, menyesap sedikit isian yang ada.

__ADS_1


“Hmm ... hanya saja hal itu akan membuat orang terdekatku merasa terkhianati atau mungkin akan sangat membenciku. Jadi Zhen Chen ....” Menggantungkan ucapan, yang mana netra tertuju pada cangkir di hadapannya. “Haruskah aku meneruskannya atau tidak?” lanjutnya seraya memejamkan sepasang netra, sedikit mendesah yang samar-samar desahan itu barangkali suatu gemetaran tertahan. “Aku sangat, butuh jawabanmu.”


Bohong jika Zhen Chen tak merasa aneh dengan sikap temannya ini. Bukankah Jin Kai terlalu banyak menunjukkan sisi rapuhnya kini?


“Aku tidak tahu pasti apa yang kau rencanakan, tapi kau harus memikirkan dari segi orang yang kau khianati. Pengkhianatan, jelas tidaklah sepele dan merupakan hal yang sangat kejam.”


Pun Jin Kai mengangkat wajahnya, tak berkedip biar kata embusan angin yang menerpa dari luar sana begitulah kencang. Yang mana jendela kembali berderit, seolah menyadarkan bahwa waktu masihlah bergerak.


“Menurutmu akankah dia memaafkanku?”


Zhen Chen sukses mengerutkan dahinya, mendapati kenapa pula Jin Kai menatapnya begitulah penuh harap, penuh penantian dan teramat sangat ingin mendengarkan jawaban yang siap dikeluarkan Zhen Chen. “Mungkin saja iya ... mungkin saja tidak. Semua kembali tergantung pada dirimu.”


“Maka aku hanya bisa bertaruh, karena aku tidak bisa melangkah mundur dalam hal ini, dan ... karena bidak catur sudah dimainkan.” Meraih cangkir, mengangkatnya. Maafkan aku, Zhen Chen ... sungguh. Pun Jin Kai menyunggingkan senyuman, tepatnya senyuman paksa seraya mengajak bersulang Zhen Chen yang seketika pula menerima ajakan.


Namun, apa benar dalam sekali tegukan cangkir saja sudahlah mampu membuat Jin Kai begitulah kepanasan? Pasalnya, buliran keringat menghiasi kening sang Pangeran Agung ini. Yang mana netra pun ikut berembun seiring dengan napas memberat yang entah kenapa pula demikian. “Kau sungguh teman terbaik ... sungguh Zhen Chen, tapi terlalu buruk bahwa aku terlahir dalam kerajaan. Me-menjadikan diriku seperti sekarang ... bahkan terhadap temanku, ma-maafkan a-aku ....” Mencengkeram erat dadanya seraya napas pun kian tercekat, wajah tertunduk dengan sebelah tangan menopang erat pada pinggiran meja.


“Kau, kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Membangunkan diri dari duduk seraya mendekat, mendapati Jin Kai bahkan tak lagi mampu mengeluarkan kata-kata. Yang mana keringat kian bercucuran, wajah pun leher begitulah menegang hingga wajah memerah. “Aku akan memanggil tabib,” ucap panik Zhen Chen, hendak pergi. Namun, secepat itu pula Jin Kai menahan.


Ingin marah pun, bagaimana harus marah? Keterkejutan sudahlah begitu membekukan segala hal yang ada. “Bidak catur sudah dimainkan? Itu berarti ... semua yang terjadi di masyarakat, rumor dan lainnya. Apa itu bagian dari rencanamu?”


Mengangguk Jin Kai dibuatnya, dengan begitu sulitnya pula mengangkat wajah seraya mengusap darah dari sudut mulut. “Zhen Chen, aku hanya menginginkan adikmu berada di sisiku, hanya itu. Karena inilah cara rendahan pun kugunakan, dan akan memohon pengampunan setelahnya. Baik untukmu ... dan juga dirinya.”


Pengampunan? Zhen Chen terkekeh pahit, menyentuh kepalanya yang barangkali merasa akan pecah dengan tangan satunya lagi dibiarkan mencengkeram kuat dadanya. Haruskah dengan cara ini? Yang pada akhirnya Zhen Chen pun meneriaki Jin Kai. “Kau sungguh gila!”


“Awalnya aku tidak ingin,” lirih Jin Kai, deru napas justru lebih kencang tertangkap pendengaran. “Namun, semuanya berubah setelah sadar bahwa aku tidak akan mendapatkannya ... ide keji itu pun muncul, Zhen Chen.”


“Tidak seharusnya aku bertemu denganmu! Tidak seharusnya aku menganggapmu sebagai teman!” bentaknya, mendidih sudah darah yang mengalir di sekujur tubuh. Yang mana pandangan nyalang bagai siap membunuh dalam sekali kedipan saja. “Kau memang pantas hidup sendiri tanpa teman, karena kau sendiri yang memilih hidup dengan cara itu!”


Dan benar saja, Jin Kai sontak memuntahkan darah lagi. Namun, kali ini darah gelap seraya tubuh terkapar pun menjatuhkan pula segala macam benda di atas meja. Pecah berkeping-keping, di mana Jin Kai sendiri tersengal-sengal menatap langit-langit dari ruangannya ini. “S-udah ter-terlam-bat. K-kau ... ti-dak b-isa per-gi.” Maafkan aku ... aku akan membayar kembali atas semua hal yang kulakukan padamu.


Memang benar ucapan Pangeran Agung ini, semua sudah terlambat sekarang. Kekhawatiran sang adik rupanya memanglah benar, yang memang tak seharusnya bersedia datang kemari hanya untuk dijadikan pelaku seperti ini. Bukankah ini lucu? Datang dengan niatan baik untuk menghibur, tapi berakhir dijadikan sebagai penjahat pembunuhan sang Putra Mahkota. Yang mana Lin Feng dan Kasim Ma, kaki dan tangan Jin Kai yang baru hadir kini terus saja berteriak dalam kepanikan.

__ADS_1


Lantas, bagaimana dengan Zhen Chen sebagai satu-satunya yang taklah bersalah? Selain diam meneteskan air mata, apa lagi yang bisa dilakukan? Pun Kasim Ma bergegas keluar seraya memanggil-manggil tabib, meninggalkan Lin Feng seorang yang memandangi Zhen Chen. “Maafkan kami, Zhen Chen, sungguh maaf.”


“Apa harus dengan cara seperti ini?” lirihnya, atau barangkali hanya bergumam untuk diri sendiri. “Sudah kukatakan padamu. Ingatkan dia agar tidak kehilangan siapa dirinya! Hentikan hal yang menurutmu tidak seharusnya dia lakukan ...! Bukankah kau seharusnya melakukan hal itu?”


“Dia hanya menginginkan adikmu. Hanya it---”


“Xian’er!” bentak Zhen Chen, menyela. Karena memang tak ingin lagi dan lagi mendengar alasan Jin Kai melakukan ide kotor ini buat apa. Alasan itu, sungguh sangatlah menggelikan untuk didengar kembali. “Tidak akan pernah memaafkan Jin Kai. Pada akhirnya, Jin Kai sungguh akan kehilangan siapa dirinya karena kesedihan dan amarah! Dan kau ...! Kau yang telah gagal melayaninya, Lin Feng.”


Pun Lin Feng menolehkan pandangan pada Jin Kai yang tak sadarkan diri dalam pangkuannya. “Tidak ... aku mengenalnya sejak kecil, aku tahu betul orang seperti apa dirinya, Zhen Chen.”


“Baik, jika itu keyakinan yang kau miliki. Kita lihat saja akan seperti apa, dan kuharap kau bersiap akan hal itu. Karena jika hal itu terjadi, itu akan menjadi hukuman-mu dariku,” kecam Zhen Chen, mendesah. Mendapati dua pengawal berlarian masuk mendekatinya, memegang kedua tangan Zhen Chen yang nyatanya memang mereka ketahui sebagai penjahat kini.


“Jangan lukai dia, sehelai rambut pun jangan jika belum mendengar perintah langsung dariku,” titah Lin Feng, dan pengawal dengan tegas mematuhi. “Pergilah.”


Alhasil, dinginnya jeruji kayu dalam penjara bawah tanah inilah yang menjadi tempat peristirahatan Zhen Chen malam ini, meringkuk dalam perasaan yang bercampur aduk hingga isakan tangis pun menggema di sepanjang lorong bergantungan obor api ini.


Angin pun bagai membawa pesan, mengudara ke bebasnya alam melewati kota yang telah sepi. Masuk ke dalam rerimbunan hutan, bertemu pula dengan sekelompok kunang-kunang yang berpejalanan menuju tempat dengan hamparan bunga-bunga. Namun, keindahan bunga bermandikan sinar rembulan telah sukses membuat kunang-kunang lupa menyampaikan pesan yang dimintai si angin.


Di mana Zhen Xian sendiri kini duduk di teras, mendesah tiap kali mendapati jalanan masihlah kosong tanpa melihat bayang-bayang sang kakak di sana. Menunggu, apakah memang sesulit ini? Jika demikian, seperti apa rasanya merindukan seseorang? Yang mana Zhen Xian sendiri tampaklah seperti seseorang yang merindukan sang pujaan hati saja.


Jika terus menanti seperti ini, masuk angin yang mungkin akan Zhen Xian alami. Pun ibu akhirnya keluar, duduk bersebelahan dengan putrinya ini. “Tunggulah di dalam. Jika Chen’er melihat, dia pasti akan marah.”


Menggeleng, Zhen Xian melemparkan senyuman hangat. “Aku menunggu di sini saja, Niang.”


Ibu pun terdiam, tahu jikalau putrinya ini tidak akan mendengarkan jikalau sudah terkait Zhen Chen. Namun, kedua tangan mungil itu tampak begitulah pucat, yang mana akhirnya ibu meraih seraya menggenggam erat. “Hangatkah?”


“Hmmm, sehangat tangan Chen Ge.”


“Bagaimana dengan Die?” sela ayah yang baru saja keluar rumah seraya menutup pintu, menolehkan pandangan pada dua wanita yang disayanginya ini. “Kenapa hanya diam?” tanyanya lagi.


“Tentu saja hangat.” Membangunkan diri, Zhen Xian mendekati sang ayah dan membawanya duduk bersama. “Tangan kalian semua adalah yang terhangat di dunia ini,” jawab Zhen Xian lebih lanjut dengan cerianya.

__ADS_1


Siapa pula yang tidak akan sebahagia ini jikalau duduk diapit oleh kedua orang tua, bukan? Saling berpegang tangan, siap menanti sang kakak pulang untuk menyempurnakan malam membahagiakan ini. Meskipun nyatanya, kebalikannya yang akan dirasakan mulai saat ini.


__ADS_2