
Apa ini Kediaman Putri Mahkota?
Itulah yang barangkali menjadi pertanyaan di benak Zhen Xian kini seraya mengedarkan pandangan sana-sini seiring dengan tungkai terus mengikuti Dayang Feng. Aneh, bagaimana bisa sebagai seorang Putri Kerajaan Dali sama sekali tak menanamkan chahua? Bahkan jika itu hanya satu saja.
Tidak mungkin Putri Mahkota membenci bunga tersebut, bukan? Atau memang ada alasan tertentu yang tak diketahui Zhen Xian.
“Nona Zhen.”
Tertegun pun langkah tercekat. Serta merta pula Zhen Xian menghentikan aksi penasaran nan bertanya-tanyanya sendiri, menanti hal apa yang ingin disampaikan Dayang Feng. Namun, tampaknya Dayang Feng bukanlah ingin mengatakan sesuatu, melainkan tuk sekadar menyadarkan saja.
“Silahkan masuk, Nona.”
Apa aku telah salah untuk bersedia kemari?
Mendesah, Zhen Xian berakhir mengangguk seraya menatap pintu yang masih tertutup di hadapannya. Rasa gugup pun mulai menjalar, kian pula berdegup kencang saat ketika Dayang Feng dan dayang pengikut lainnya meninggalkannya. Menyesal pun telah terlambat, bukan?
Tidak apa-apa, kau tidaklah salah, Zhen Xian. Tak sepantasnya takut.
Alhasil, di sinilah Zhen Xian berada.
Langkahan demi langkahan dipelankan, tapi tetap saja terdengar cukuplah jelas dalam ruangan sederhana yang terkesan berkelas ini, atau memang itu hanya perasaan saja? Pasalnya ruangan ini begitulah sepi nan sunyi tanpa kehadiran satu pun orang. Ke mana pula perginya mereka alih-alih melayani sang majikan?
Namun, aroma harum menyengarkan, menguar begitulah menenangkan jelas tercium. Setidaknya keberadaan aroma yang memenuhi penghidu ini mampu mengurangi kegugupan.
“Maaf jika aku memanggilmu kemari.”
Mendapati dan menyaksikan langsung rupa kecantikan Putri Mahkota, akhirnya Zhen Xian percaya bahwa rumor itu memanglah benar adanya. Bahkan sebagai sesama wanita saja, hal itu tak mampu dipungkiri. Jin Kai, sungguh sangatlah beruntung memiliki istri sepertinya, bukan? Dan hal itu sontak saja mengundang senyuman pada Zhen Xian yang memberikan hormat sesopan mungkin pada Putri Mahkota yang begitulah sibuk dengan berbagai peralatan di mejanya.
“Duduklah,” tawarnya, yang mana tentu saja diterima baik Zhen Xian, memposisikan diri duduk berhadapan dengan sang Putri Mahkota. “Ini teh kesukaanku. Cobalah.”
Bahkan teh kesukaannya saja begitulah harum menyengarkan, berwarna kuning pucat sedikit kehijauan bening. Tak tahu akan seperti apa rasanya ketika bersentuhan dengan lidah, pastinya akan sangat enak, bukan? Karena dari cara penyajian saja sudahlah begitu merepotkan, tahapan demi tahapan terus dilakukan dengan begitu anggun dan penuh kesabaran.
Menolak, tidak mungkin, bukan? Namun, Zhen Xian juga memiliki kekhawatiran terkait kesalahpahaman yang barangkali dipercayai sang Putri ini. Jika kesalahpahaman ini terus saja dibiarkan, teh senikmat dan semahal apa pun tidak akan enak rasanya. Pun Zhen Xian akhirnya memutuskan, tak mencicipi teh dan memilih memandang langsung Putri Mahkota.
“Taizifei, aku benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Taizi. Semua rumor itu tidaklah benar, aku bahkan tidak tahu ada rumor seperti itu dan tidak ada yang memberitahuku. Jika tahu, maka aku pasti sudah menghindar lebih awal, tapi ....”
“Nona Zhen,” potongnya seraya meraih cangkir teh. “Aku menemuimu bukan untuk menyalahkan atau apa pun,” lanjutnya pun menyunggingkan senyuman dari bibir berwarna persiknya itu.
Tersenyum? Apa itu artinya tidak ada kesalahpahaman? Menghela lega, Zhen Xian menurunkan sedikit kedua bahu kakunya. “Panggil saja aku Zhen Xian, Taizifei.”
__ADS_1
Yang mana sang Putri mengangguk paham, menyesap teh pun menempatkan kembali cangkir. “Kehidupan istana memang selalu seperti ini. Jika ada yang dekat atau berteman dengan anggota keluarga kerajaan, maka akan ada gosip tidak berdasar. Itu semua hanya karena mereka cemburu dan iri, apalagi jika itu menyangkut Taizi.”
“Aku tahu.”
“Karena itu, berhati-hatilah dengan semua tindakan yang kau lakukan. Istana penuh dengan muslihat begitu juga dengan orang yang tinggal di dalamnya. Jadi, jangan mudah percaya dengan siapa pun. Bahkan jika kau menganggap dirinya adalah teman dekatmu.”
Meskipun tak tahu kenapa Putri Mahkota begitulah baik, tapi terasa nyata bahwa ucapan nasihatnya ini tulus dan bukanlah suatu kepura-puraan demi pencitraan. “Aku akan mengingat nasihat ini sebaik mungkin,” jawab Zhen Xian.
“Kudengar kau adik dari Ketua Departemen Dekorasi, dan kudengar hubungan persaudaran kalian sangatlah dekat. Apa itu benar? Atau lagi-lagi hanya rumor?”
“Itu benar, tapi belakangan ini kami jarang bertemu karena kesibukannya,” jawab Zhen Xian. Sungguh pertanyaan yang membuatnya kian merindukan sang kakak, yang mana menyesap teh menjadi pilihannya tuk barangkali menyadarkan diri bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat tuk memikirkan hal tersebut.
Taizi, apa mungkin kau yang melakukan ini pada mereka?
Diam-diam pula Putri Mahkota mengembuskan napas, membuyarkan pikiran seraya mengambil botol putih kecil seukuran genggaman tangan dari sebelah lengan pakaiannya, membuka pun mengoleskan secara hati-hati pada telapak tangan Zhen Xian yang tersadar dari lamunan.
“Taizifei, aku bisa melakukannya sendiri,” tolak Zhen Xian halus, apa jadinya jikalau dilihat orang, bukan? Yang ada rumor aneh-aneh beredar lebih parah lagi. Namun, sang Putri tak menggubris dan tetap teguh dengan apa yang telah dilakukannya. Yang mana terkadang akan meniup tuk sekadar mengurangi efek perih.
“Ambillah, oleskan lagi sebelum tidur.”
Bersamaan dengan itu pula, Dayang Feng masuk menginterupsi. Ketegangan pada wajahnya begitulah jelas, terus saja mengarahkan pandangan pada Putri Mahkota yang bagai membaca maksud di balik ketegangan yang tertampil.
Istana ini, apakah benar suka berkomunikasi dengan cara seperti ini? Pun Zhen Xian yang merasa tak seharusnya berada lebih lama lagi di sini, pada akhirnya membangunkan diri dari duduknya. “Jika begitu, aku permisi dulu, dan terima kasih banyak atas sajian teh juga obat olesan ini, Taizifei,” ucapnya seraya menunjukkan botol obat yang dimaksud.
Mengangguk yakin sebagai balasan, Zhen Xian memberikan hormat barulah kemudian membawa diri pergi yang mana Putri Mahkota terus saja memerhatikan punggung menjauh itu.
“Dia gadis baik dan riang. Aku bisa jelas melihat hal itu dan tahu kalau dia tidaklah memiliki perasaan pada Taizi.”
Namun, apa yang ingin disampaikan Dayang Feng? Yang mana Putri Mahkota akhirnya sadar kembali bahwa ada hal yang harus sesegera mungkin didengarkan dari dayang pribadinya ini. Yang tentunya sudah dapat ditebak bahwa hal itu tak mungkin kabar baik.
“Taizi, telah bergerak.”
Pun Dayang Feng tak mampu mengatakan sisanya, barangkali takut apabila ada yang mendengarkan. Bukankah istana ini memiliki banyak telinga? Belum lagi pada akhirnya nanti sang Putri-lah yang akan kena imbasnya oleh kemurkaan Putra Mahkota.
Oleh karenanya, berbisik menjadi pilihan terbaik. Yang sukses menjadikan Putri Mahkota terdiam dalam lamunan seraya berpikir keras akan semua kejadian ini.
Berharap gadis itu tidak akan kehilangan keceriaan seperti diriku setelah masuk dalam istana ini. Taizi ... tipuan apa lagi yang kau mainkan sekarang? Akankah kau menyakiti gadis yang kau cintai?
Sementara sang suami sendiri, malah bersantai diri di kedimanan pribadinya bermain catur bersama Lin Feng, pengawal pribadinya. Begitulah tenggelam dalam permainan yang telah berjalan setengah permainan ini, menang atau kalah tak akan pula keduanya merelakan pada musuh masing-masing.
__ADS_1
“Apa tugas yang kuberikan lancar?”
“Taizi jangan khawatir, semua berjalan dengan baik,” jawab Lin Feng.
“Bagus.” Menempatkan biji hitamnya pada papan permainan, Jin Kai tampak yakin kemenangan akan diraihnya. Yang mana Lin Feng sendiri, akhirnya menyerah meskipun kelihatannya permainan masih belumlah usai. “Kau sungguh akan berhenti?”
“Bukankah sudah jelas akhirnya? Dan aku tidak punya cara membalikkan keadaan, Taizi.”
“Permainan ini, aku sungguh suka memainkannya.”
Bertepatan dengan itu, Kasim Ma masuk pun membisikkan sesuatu pada Putra Mahkota-nya. Bisikan yang jelas taklah baik, mudah bagi seorang Lin Feng mengetahuinya hanya dari gerak-gerik Kasim Ma yang bahkan lupa memberikan hormat pada sang majikan. Belum lagi kian meyakinkan, saat ketika Putra Mahkota ini menajamkan netranya yang mana terselimuti pula kemarahan. Semacam, apa yang menjadi barang kesayangannya telah dirusak oleh orang lain.
“Pastikan para pelayan itu mendapatkan ganjarannya,” tegas Jin Kai pada Kasim Ma yang mengangguk patuh, yang kemudian mengalihkan pandangan nyalangnya ini pada Lin Feng. “Mari kita pergi menemui Taizifei. Tampaknya, dia sedang bosan.”
Memang benar adanya, terkait istana ini dipenuhi dengan banyaknya pasang telinga di mana-mana. Tak peduli barangkali itu adalah dinding bertembok sekali pun, selagi ingin mengetahui maka akan mengetahui segera. Hal yang sulit bagi orang, tapi bagi mereka yang tinggal dalam istana penuh perseteruan ini sangatlah mudah.
Kali ini, akankah Putri Mahkota mendapat perlakuan dan ucapan menusuk lagi? Dari sang suami yang kini duduk menuangkan teh pada dirinya sendiri, teh yang sama dengan yang disajikan pada Zhen Xian tadi. Pun Putri Mahkota tahu dan sadar betul, sang suami telah tahu semuanya. Maka tak perlu lagi berbasa-basi, bukan?
“Duduklah, jangan membuatku tampak seperti menghukummu. Ingat! Kita adalah pasangan yang saling menyukai.”
Namun, Putri Mahkota tidaklah menuruti. Melainkan hanya bertukar pandang dengan sang suami.
“Untuk apa kau menemuinya?”
“Aku hanya memintanya untuk menjaga diri baik-baik.”
“Aku bisa menjaganya. Kau ... hanya perlu diam tanpa melakukan apa pun, maka hidupmu akan jauh lebih baik.”
“Kau benar-benar menyukai gadis itu?”
“Tidak perlu bagiku untuk memberitahumu dan tidak perlu bagimu untuk peduli dengan apa yang kulakukan,” tegasnya, pun Jin Kai meminum kembali teh seraya bangun dari duduknya meninggalkan ruangan. Yang mana sang istri menghentikan, menahan sebelah lengan.
“Aku hanya prihatin pada gadis itu. Jika dia tahu orang seperti apa dirimu dan jika dia tahu apa yang kau perbuat pada saudaranya ...." Terhenti, menelan kembali sisa ucapan. "Bukankah kau berteman dengan Ketua Departemen Dekorasi itu? Haruskah melakukan cara ini?”
“Tutup mulutmu!” bentak Jin Kai. Jika kau berani menghalangi rencanaku maka bersiaplah dengan konsekuensinya.”
“Mereka hanya saudara, lantas apa yang membuat dirimu begitu khawatir? Apa yang membuat dirimu begitulah cemburu?!”
“Mulai hari ini!” teriak Jin Kai, berusaha menahan amarah menggebunya. Napas memburu, kedua tangan pun terkepal kian mengerat. “Taizifei akan dihukum, tidak boleh keluar ataupun menemui orang lain tanpa izin dariku!” Menghempas lengannya yang tertahan, menjatuhkan sang istri. “Lin Feng, mari kita pergi.”
__ADS_1
Pandangan yang menangkap punggung sang suami ini mulai mengabur, pun yang menyebabkan pandangan mengabur ini luruh dalam buliran cairan bening, menetes pada lantai seraya menahan isak tangis. Yang mana Dayang Feng sontak menghampiri dan memeluk sang Putri seolah dirinya pun merasakan sakit hati serupa.
Lantas, bagaimana bisa sang Putri ini masih mampu menahan isakan tangis? Ditahan, hanya akan menjadi racun yang menyulitkan pernapasannya saja. Sesak berlebih, yang barangkali akan membuatnya kehilangan kesadaran. Karena hal itu, memang pernah dialaminya.