
Satu Hari Sebelumnya.
Kuda meringkik, Zhen Chen pun membuka sepasang netranya dalam ruang yang terbilang agak sempit. Disingkaplah tirai yang berada dekatnya, memerhatikan luaran sana dipenuhi rimbunan hutan bambu. Tak terkecuali pula terdapat bangunan cukuplah besar di antaranya, yang mana hampir keseluruhan bangunan tersebut dibuatkan oleh bambu pula.
“Tuan,” panggil seseorang dari luar, menyudahi aktivitas mengedar Zhen Chen pun menoleh ke pintu yang tergeser, terbuka. “Hari akan segera malam, bagaimana jika kita menginap di sini hari ini?”
Mentari memanglah meredup, tapi hari belumlah gelap. Barangkali karena itu pula, Zhen Chen tampak enggan mengikuti ucapan dari pria 30an tahun berkumis tipis dengan balutan pakaian sederhana ini. Meskipun benar, wajah ahli bunga dari Departemen Dekorasi Istana ini terbilang cukuplah letih tuk kembali melanjutkan perjalanan yang mungkin telah dilakukan sejak pagi tadi.
“Jikalau melewati penginapan ini, maka kita tidak akan menemukan penginapan lainnya. Belum lagi, saat malam akan banyak perampok berkeliaran, Tuan”
“Rupanya begitu ... baiklah, kita menginap di sini,” ucap Zhen Chen menyetujui akhirnya, pun membawa diri keluar dari ruang yang rupanya kereta tandu dengan satu kuda. Di mana kusir seketika membawa pergi tuk barangkali menempatkan dan memberi makan kuda tersebut.
Penginapan Hutan Bambu, itulah yang tertera pada papan nama dekat pagar yang digantung.
Bersama dengan pria 30an tahun ini, Zhen Chen melangkah masuk ke dalam penginapan. Yang mana pria berpenampilan sederhana yang bersamanya ini terus saja berucap panjang lebar, diketahui pula dirinya dipanggil Tuan Chang, pemandu Zhen Chen selama perjalanan kerja ke luar kota yang diperkirakan akan menghabiskan waktu sekitar 2 hari tuk tiba. Yang artinya perjalanan ini baru setengah bagian saja dari tujuan.
Layaknya penginapan pada umumnya, apalagi di tengah hutan seperti ini. Kamar yang disediakan taklah banyak dihiasi perabotan. Hanya ranjang, kursi dan meja bambu yang di atasnya tersedia teko dan cangkir saja. Cukuplah bersih, dan pencahayaan dari api lilin lumayan menerangi yang mana Tuan Chang sendiri sibuk memesan makanan pada pelayan penginapan.
“Tuan Zhen, apa ada yang ingin kau tambahkan?”
“Kurasa sudah cukup, Tuan Chang,” balas Zhen Chen yang serta merta teringat sang adik. Pun kerinduan dan keinginan segera tuk bertemu kembali kian membesar.
Hanya saja, pekerjaan adalah pekerjaan. Dirinya tentu harus mampu memilah, bukan? Yang mana deritan dari jendela terbuka pun memenuhi kamar, barangkali embusan angin yang masuk ini mampu mengurangi sedikit saja kerinduan dalam dirinya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
__ADS_1
“Tidak, bukan apa-apa,” jawab Zhen Chen, tepatnya mengelak. “Tuan Chang, kudengar kaulah yang memilih ingin memandu perjalanan kerja ini. Namun, kenapa? Kudengar kau biasanya hanya memandu para pelancong saja, apakah benar?”
“Kabar itu memang benar, tapi kali ini aku harus mematahkan prinsipku dan menerima memandumu. Itu karena istriku akan melahirkan, jadi aku harus segera kembali dan kebetulan pula seseorang mendatangiku pun menawarkan pekerjaan. Jadi, aku terima saja. Sekalian pulang dan mendapatkan bayaran, bukankah ide bagus?”
“Seseorang?”
“Hmm, seorang pria muda seusiamu. Dirinya begitulah tegas dan tak banyak menunjukkan ekspresi, auranya juga tak biasa. Jika harus menebak ... kurasa dia seorang pengawal, ada pedang tak biasa dibawanya.”
Siapa? Kenapa dia ikut campur dalam urusan kerjaku?
“Kurasa dia bermarga Lin, beberapa orang memanggilnya begitu.”
Lin? Apakah Lin Feng? Otak berputar, pertanyaan demi pertanyaan terus ditanyakan dalam diri. Ingin menanyakan pada Tuan Chang, tapi pelayan masuk begitu saja membawakan makanan yang dipesan. Menghentikan niatan Zhen Chen yang akhirnya bergabung makan bersama, yang mana Tuan Chang ini terus saja menceritakan kota kelahirannya dan juga istrinya.
Lantas, bagaimana bisa Zhen Chen menanyakan lebih? Karena Tuan Chang sendiri begitulah antusias, dan jikalau pria ini sudah bicara maka akan sulit menyelanya. Apalagi dari segi usia, pria ini bisa dibilang seorang paman. Akan tidak sopan jika menyela, bukan?
Kurasa ada yang tidak beres dengan semua ini.
Mendesah, embusan napas itu pun membelah dinginnya udara berembun di luar sana. Pelan-pelan pula seiring dengan bergeraknya rembulan dari posisinya, embun yang mendiami tiap helaian dedaunan bambu ini meluruh seiring dengan terangnya sinar hangat kekuningan yang menerangi. Membangunkan hutan bambu ini, menyebarkan suara keriang keriut seraya tiupan angin yang kian menguat.
Terlihat pula orang-orang dalam penginapan telah beraktivitas kembali, tak terkecuali Zhen Chen yang tak tidur semalaman akhirnya meninggalkan kamar. Mendapati Tuan Chang sedang di meja depan, memerhatikan seorang pria sibuk menghitung apa yang tercatat dilembaran kertas. Yang mana Tuan Chang sendiri sibuk memegang kantong, mengeluarkan sejumlah koin yang barangkali menyamakan dengan jumlah yang tertera.
“Ada apa? Apa uang yang kuberikan tidak cukup?”
“Aku punya pengalaman yang cukup buruk di sini,” jawab Tuan Chang, mendekatkan diri lebih lagi pada Zhen Chen. “Pemiliknya ini, sungguh buruk dalam menghitung,” bisiknya yang kemudian tersenyum. “Lagian istana tidak mungkin memberikan sejumlah uang yang sedikit, bukan? Apalagi kau tampaknya tidak akan menjadi pekerja istana biasa saja, Tuan Zhen.”
__ADS_1
“Berhentilah mengatakan omong kosong, Tuan. Aku jelas hanya seorang pekerja biasa.”
“Benarkah? Kudengar, adikmu ada hubungannya dengan Taizi.” Menyerahkan kembali kantong uang pada Zhen Chen. Karena memang itu uang yang diberikan pihak istana.
“Apa maksudmu, Tuan Chang?”
Tuan Chang pun menunjuk ke satu arah. Mendapati empat orang pria duduk menikmati sarapan mereka. Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Zhen Chen kini. Melainkan obrolan mereka mengenai istana yang sedang geger akan rumor. Apalagi jika bukan terkait sang adik dan temannya, Jin Kai sang Putra Mahkota.
Bergegas, tanpa berpikir lebih lagi. Zhen Chen berlari keluar penginapan. Meminta kusir kereta tandunya tuk segera kembali ke kota, yang mana teriakan Tuan Chang tak lagi didengarkan atau barangkali tak dipedulikan. Lagian pemandu itu telah mendapatkan bayaran. Selagi itu menyangkut keselamatan sang adik, masa bodoh dengan pekerjaan. Apa pun akan dengan berani dirinya lakukan.
Bukankah jelas perundungan akan kembali dialami? Istana itu, tidak, tepatnya para pelayan istana yang iri pasti tidak akan melepaskan sang adik.
“Bisakah kita lebih cepat?! Secepat mungkin!” pinta Zhen Chen, kekhawatiran kian memenuhi dirinya yang bahkan tak mampu duduk diam. Jin Kai, apa kau dalangnya?
Rumor memanglah telah ada dari sebelum dirinya meninggalkan istana, tapi tak pernah menyangka akan sebesar ini dalam waktu yang sangatlah cepat. Terasa layaknya, ada pihak tertentu yang tak ingin meredam rumor tersebut.
Jangan heran pula apabila Zhen Chen mulai berpikir yang tidak-tidak, bukankah sangat gampang bagi seorang Jin Kai melakukan hal demikian? Belum lagi, kenapa pula Lin Feng ikut campur dalam urusan perjalanan kerjanya? Tidakkah semua ini aneh?
Namun, tetap saja itu hanya dugaan dan kecurigaan tanpa bukti.
Akan tetapi, akankah lain halnya saat ketika perjalanan terburu-buru yang memakan waktu hingga sore hari ini, akhirnya tiba? Yang mana memang benar adanya, rumor kedekatan sang adik dan Jin Kai sudah sangatlah di luar kendali. Pun serta merta pula Zhen Chen mendapati kabar terkini di mana sang adik berada.
“Kediaman Chahua,” lirihnya, berbalik menarik pergi sepasang tungkai yang tadinya akan ke Departemen Dekorasi. Namun, langkah terhenti tepat ketika melewati suatu taman yang diisi oleh beberapa wanita berpakaian tak biasa. Katakan saja, para selir raja yang sedang menikmati teh sore.
Alhasil, dugaan dan kecurigaan tanpa bukti itu pun terjawab pasti.
__ADS_1
Jin Kai, kenapa harus seperti ini? Kenapa pula harus sampai sejauh ini?