Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 61


__ADS_3

Cerahnya surya taklah cukup menghangatkan, mungkin itulah penyebab burung-burung kecil yang suka berdecit-decit ria mengawali hari tak pula terlihat satu pun. Baik itu bertengger di pohon ataupun sibuk mematuk-matuk tanah. Hanya kesiur angin, itulah yang secara hilir mudik dirasakan. Namun, tetap saja kabut tipis yang menyelimuti betah seakan menjadi bagian dari tempat ini.


Katakan saja salah satu tempat tersebut adalah Departemen Dekorasi. Tempat yang tak jauh berbeda dengan yang dialami Kediaman Chahua. Di kelilingi pengawal, pun bagi pelayan istana yang hendak mengantarkan makanan ke dalam sana saja perlu diperiksa dengan baik pun teliti.


Jikalau demikian, bagaimana bisa mereka yang terkurung di dalam sana mampu bersikap tenang seakan tak terjadi apa-apa? Terutama bagi dua pria, Meng Jun dan Mo Zhu yang berada di sudut ruangan menjauhi lainnya, mendengarkan obrolan orang-orang terkait seluruh istana kini tak dizinkan keluar ataupun dimasuki oleh siapa pun.


Akan tetapi, tak ada kabar jikalau itu Putra Mahkota yang memerintahkan, melainkan Raja-lah pelakunya. Hanya saja, kenapa dan apa alasannya hingga harus seperti ini? Dan sampai berapa lama pula akan tetap diberlakukan penahanan ini? Karena jika diteruskan, bagaimana bisa memberitahukan Zhen Chen terkait Zhen Xian yang kini terkurung di kediamannya sana? Di kala Zhen Chen barangkali telah menanti kabar terkini.


“Bagaimana ini, Meng Jun? Apa menurutmu ini sungguh bukan ulah Taizi?”


Menggeleng, mendesah seraya Meng Jun mendudukkan diri pun menyilakan kedua tangan pada dada. “Kita tidak bisa berbuat banyak, itulah yang membuatku frustrasi.”


Jangankan mereka yang hanya berupa pekerja biasa dari sekian banyaknya pekerja istana yang ada, bahkan Putri Mahkota Bai Hua pun yang memiliki posisi cukup tinggi taklah bisa berbuat banyak. Terkurung juga dalam kediamannya bersama Dayang Feng, yang entah bagaimana masih mampu mendapatkan beberapa informasi terkait hal di luaran sana. Terkait kegilaan sang suami yang siap melancarkan aksi, tepatnya malam ini.


“Dayang Feng, kirim orangmu untuk memberitahukan Zhen Xian mengenai keluarganya. Apa pun dan bagaimanapun caranya, Zhen Xian harus tahu kabar ini. Cepatlah.”


“Baik, Taizifei.”


Akan tetapi, belumlah beberapa langkah Dayang Feng menjauh, pintu kediaman telah lebih dahulu digebrak dengan kasarnya seakan tak tahu jikalau pemilik tempat ini adalah salah satu sosok penting dalam kerajaan.


Siapa pula pengawal yang tak tahu aturan ini? Aura begitulah tegas dan mengintimidasi, perangai ini sungguh mengingatkan pada seseorang, siapa lagi jika bukan Putra Mahkota Jin Kai. Tak mengherankan jikalau Dayang Feng begitulah marah akan sikap seorang pengawal biasa sepertinya ini, begitulah tak hormat dan juga lancang yang mana pula malah menghunuskan pedang siap menggorok leher Dayang Feng yang mematung. Mendapati pula di balik dari pintu yang terbuka sana, seluruh pengawal yang berjaga sejak semalam telah digantikan pun beberapa dari mereka telah tergeletak tak bernyawa.


“Ini perintah! Siapa pun yang berani bekerja sama dengan Taizifei, maka bersiaplah menjadi seperti mayat-mayat itu!”


“Kau, ketahui tingkatanmu.”


“Dayang Feng, tentu aku tahu tingkatanku seperti apa, tapi ini titah Taizi langsung. Yang mana diriku adalah bagian dari pasukan Zhu, yang hanya akan mematuhi dan memenuhi titah Taizi seorang.”


“KAU!”


Pun pengawal lancang ini menarik diri, menutup pun menggembok pintu kediaman yang ada. Di mana Dayang Feng yang terus saja menggedor-gedor akhirnya dimintai Putri Mahkota untuk berhenti, tidak ada gunanya diteruskan.


Lagian jika harus berpikir menggunakan logika, Putri Mahkota jelas tak lagi ada cara lain untuk membantu Zhen Xian. Namun, haruskah diam dan menunggu hasil terburuk siap terjadi? Dan itulah yang membuat Putri Mahkota begitu tenggelam dalam kesedihan kini, merasa jikalau penderitaan Zhen Xian akan jauh melebihi dirinya yang hanya diabaikan dan tak dicintai sang suami, dan segala pemikiran itu pun sukses menjadikan tungkai yang tadinya berdiri kokoh seketika kehilangan sejumlah energi, terduduk dalam keterdiaman seraya luruhan air mata terlihat menjejaki kedua pipi yang telah kehilangan rona.

__ADS_1


Taizi, haruskah kau hidup sedemikian rendahnya?


Kerajaan ini, akan seperti apa kiranya jikalau sampai jatuh di tangan seorang pria tak berhati? Meskipun memang benar seorang Raja tak boleh berhati lemah apalagi memiliki empati tinggi, tapi tetap saja ... perasaan yang demikian tak seharusnya dihilangkan sepenuhnya, bukan? Bahkan terhadap gadis yang dicintainya sekalipun, tetaplah ia bersikap sedemikian kejamnya.


Akankah pula Zhen Xian merasakan kekhawatiran yang dirasakan Putri Mahkota ini? Di kala Kediaman Chahua sendiri kini juga mengalami pergantian jaga di setiap titik area yang ada. Hanya saja, tidak ada adegan berdarah-darah atau saling menyakiti seperti yang ada di kediaman sang Putri Mahkota.


Namun, ada adegan yang jauh lebih menarik, terutama bagi Zhen Xian sendiri yang kini tampak bersemangat. Lebih tepatnya sibuk menguping pembicaraan yang samar-samar tertangkap di balik pintu terkunci ini.


Kian didengar, kian pula topik ini membuat dongkol. “Bisa-bisanya kalian berbicara terkait perburuan di saat mengurungku layaknya penjahat, pun Que Mo sendiri tidak tahu bagaimana kabarnya.” Mendesah, membawa diri menjauh beberapa langkah dari aksi mengupingnya.


“Sungguh sangat kejam membunuh seluruh keluarga. Kurasa anak itu mungkin saja tidak tahu siapa dirinya.”


Yang mana serta merta Zhen Xian kembali ke posisi awal, kembali menempelkan sebelah telinganya. Bukankah ini topik panas? Dan sejak kapan pula istana mengizinkan perburuan suatu keluarga, kecuali keluarga itu telah melakukan kesalahan teramat fatal. Seperti misalnya pengkhianatan terhadap kerajaan. Namun, masih adakah keluarga yang berani melakukan hal demikian sejak kasus mendiang Jenderal Wei? Siapa pula di antara pejabat kerajaan yang berani?


“Jika Jenderal Wei melihat, mungkin dia akan bangkit dari kuburnya.”


“Jenderal Wei ...? Bagaimana bisa ...?” lirihnya sembari membawa diri menjauh, kali ini benar-benar menjauh karena pembicaraan dari pengawal berjaga sana tak lagi berani mengatakan lebih berkat topik yang teramat sensitif, atau tepatnya tabu diperbincangkan. Bukankah memang begitu jikalau menyangkut kasus Jenderal Wei? Oleh karenanya, Zhen Xian yang kembali masuk ke dalam kamar kini dipenuhi segudang pertanyaan, menyusun maksud dari pembicaraan yang didengar tadi sampai tiba pada suatu titik kesimpulan. “Apa Huangdi telah menemukan anak Jenderal Wei?”


Bukankah itu masuk akal? Hanya keluarga yang membesarkan anak Jenderal Wei saja yang mampu menerima jenis hukuman sebesar pemusnahan, bukan? Dan tak peduli bagaimana memikirkan, hanya itu jawaban yang paling masuk akal.


BRAKK!


Terperanjat, sontak pula pandangan diarahkan ke asal suara gebrakan yang ada. Menyaksikan jendela terbuka cukuplah lebar, memasukkan sejumlah tiupan angin yang sukses meremangkan sekujur tubuh oleh rasa dingin menusuk yang dibawakan.


Ketemu ... aku tahu caranya. Tersenyum-senyum licik, gadis ini pun membawa diri mendekat ke jendela yang siap ditutup kembali oleh pengawal yang berjaga. “Tunggu,” hentinya, dan dua pengawal ini pun menuruti. “Bantu aku bawakan sesuatu.”


Mengesalkannya, pengawal ini malah mengabaikan, apa benar Jin Kai menyebalkan itu bahkan tak mengizinkan mereka untuk bicara sepatah kata saja dengannya? Jikalau memang benar begitu, maka ada satu cara untuk membuat dua pengawal tak hormat ini akan mematahkan kepatuhan mereka.


“Hatsyi!” Tak hanya sekali, melainkan berkali-kali bersin ini menyerang. Apa keberuntungan sedang memihakku sekarang? Padahal niatannya tadi hanya ingin bersandiwara, tapi bersin ini sungguh membuat gatal hidungnya, tak heran apabila kini memerah. “Baiklah, jika kalian menolak. Hanya saja, bersiaplah mendapat hukuman jika sampai aku mati kedinginan di sini! Kita lihat, akan pada siapa Taizi berpihak ... benarkah pada kalian, atau justru padaku.”


“Selir Zhen, tenanglah. Baiklah ... akan kami bawakan benda-benda itu.”


Pun dua pengawal menutup kembali jendela, tersenyum penuh kemenangan pula Zhen Xian dibuatnya. Bersenandung, memerhatikan bayangan dirinya dalam cermin. Perlahan-lahan pula, senyuman itu memudar. Mendesah kemudian tepat ketika netra melihat tusuk konde pemberian sang kakak. Barangkali kerinduanlah yang melanda, karena detik berikutnya Zhen Xian meraih tusuk konde tersebut, melepaskan dari rambutnya hanya untuk kemudian mendekap erat layaknya harta benda paling berharga di dunia ini.

__ADS_1


Sekiranya, akan seperti apa reaksi Zhen Chen jika tahu kini Zhen Xian telah dikurung? Pasalnya pria itu taklah tahu, karena memang tak ada kabar atau bocoran yang didapatkan.


Wajar saja jika di hari ulang tahun yang seharusnya penuh sukacita ini malah diisi dengan penuh kecemberutan, bahkan Meng Jun dan Mo Zhu saja taklah datang mengunjunginya dari sejak kemarin. Dan ahli bunga muda ini, berusaha mencoba memasukkan pikiran demi pikiran positif, karena hanya dengan begitu maka kejadian positif pula yang akan terjadi, bukan?


Namun, tetap saja hal itu sulit. Yang akhirnya Zhen Chen sendiri memilih untuk mencari kesibukan saja, mengunjungi rumah para pekerja yang libur dari pekerjaan mengurus bunga. Akan tetapi, bukan berarti mereka bersantai-santai dengan tak melakukan apa pun.


“Hari ini ulang tahunmu, pergilah bersenang-senanglah alih-alih kemari,” ucap salah satu bibi pekerja. “Atau pergilah mencari wanita. Lihatlah! Adikmu bahkan sekarang sudah menikah jadi kau juga harus,” tambah yang lainnya, sembari sibuk mengurus bahan-bahan makanan mentah yang mampang. Di mana para wanita sibuk membersihkan berbagai jenis sayur-sayuran, sedangkan para pekerja pria sibuk membersihkan bulu-bulu hewan seperti ayam dan bebek pastinya.


“Paman dan Bibi tidak perlu khawatir. Jika sudah waktunya, aku pasti akan membawa wanita pilihanku untuk kalian lihat,” timpal Zhen Chen, tersenyum seraya pandangan diedarkan ke sekitaran. “Tapi ... kenapa aku tidak melihat Bibi Liang?”


“Sudah dari kemarin kami tidak melihatnya. Katanya dia ingin pergi sebentar melakukan sesuatu, tapi entahlah kenapa sampai sekarang masih belum kembali,” jelas salah satu bibi pekerja.


“Ahhh ... baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jika ada sesuatu silahkan beritahu aku, pasti akan segera kupenuhi.”


“Sesibuk apa pun kami, tidak akan pula kami akan memanggilmu yang sedang berulang tahun ikut campur.” Dan pekerja lainnya ikut menyetujui, karena mereka memiliki semacam prinsip, tidak akan membiarkan seseorang yang sedang berulang tahun bekerja. Apalagi mempersiapkan dan memasak makanan ulang tahunnya sendiri.


Oleh sebab itu pula, Zhen Chen tak banyak memprotes dan memilih meninggalkan rumah para pekerja yang mengusirnya ini. Pasalnya, sejak ia tahu ketidakhadiran Bibi Liang, kekhawatiran yang dirasakan kian membesar.


Kenapa pula harus hari ini? Bukankah dari sejak kemarin, segala hal terasa ganjil? Benarkah ini hanya kebetulan, atau justru memang telah diatur oleh seseorang? Dan Zhen Chen yang kian mempercepat langkah, malah kini berpapasan dengan kedua orang tuanya.


“Die, Niang, apa mungkin kalian tahu ke mana Bibi Liang pergi?”


“Kemarin pagi sehabis belanja dari kota, dia pamit keluar karena urusan,” timpal Ibu, dan Zhen Chen seketika menanyakan urusan apa itu, seperti apakah Bibi Liang memberitahukan? Dan Ibu menggeleng, menebak barangkali ada urusan keluarga di desa. “Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu pucat?”


“Bibi Liang belum juga kembali, Niang.”


Sontak saja Ayah dan Ibu bertukar pandang, barangkali sadar akan alasan kenapa putra mereka ini begitulah terlihat kalut. Karena itu pula yang dirasakan Tuan Zhen, tapi sejadinya ditutupi dengan senyuman yang didatangkan paksa. Namun, terlihat cukup tulus. “Mungkin saja ada hal lain yang belum diselesaikannya, kau tahu sendiri Bibi Liang itu orang yang seperti apa, bukan? Jika urusannya belum selesai, pasti tidak akan kembali dulu.”


“Die ... bagaimana jika itu ... Taizi ....”


“Tidak akan,” potong cepat Tuan Zhen, terselip ketegasan. Tak tahu pula diarahkan untuk putranya atau justru untuk dirinya sendiri. “Jangan berpikir yang tidak-tidak di hari ulang tahunmu.”


Zhen Chen menggeleng-geleng, tak terima akan ucapan sang ayah barusan. Hal-hal terkait Jin Kai bukanlah hal yang patut dianggap sepele. Jika merasa ada yang janggal, sudah sepatutnya untuk mencari tahu, bukan? Apalagi pembicaraan terakhir dengan Jin Kai terbilang cukuplah menguras rasa ketakutan dan kekhawatiran, dan sekarang Bibi Liang, satu-satunya orang yang mengetahui jikalau dirinya bukanlah putra kandung keluarga Zhen telah menghilang. Lantas bagaimana bisa Zhen Chen tak berpikir yang aneh-aneh? Apa benar dirinya terlalu berpikir jauh? Dan apakah ada kemungkinan jika permainan yang hendak dimainkan Jin Kai sebenarnya tak jauh-jauh hanya ingin meresahkan hidupnya saja?

__ADS_1


Jika memang demikian, maka semuanya mungkin akan lebih menenangkan jikalau Meng Jun dan Mo Zhu mampu kemari dan memberitahukan apa yang telah terjadi dalam istana. Namun, dua temannya itu pun sama saja bersikap aneh. Jika memang sibuk akan pekerjaan, tidak mungkin sampai tidak memiliki waktu sebentar saja keluar, bukan? Di saat mereka sendiri yang mengatakan akan mencari tahu kabar terkait Zhen Xian.


Apa mungkin istana sedang tak mengizinkan siapa pun masuk ataupun keluar ...? Mengurung semua orang di dalam sana?


__ADS_2