
Hari cukuplah cerah tuk mengawali aktivitas. Namun, udara yang berembus begitulah sejuk menerpa, mengusir pergi burung-burung kecil yang bertengger bernyanyi. Pun orang-orang, lebih tepatnya para tim kompetisi dekorasi telah rapi berbaris. Kian pula suasana menegang tepat di mana tiga juri dan satu pria panitia penyelenggara hadir.
Tak banyak pula kata-kata dikeluarkan, barangkali orang-orang penting dalam istana memang demikian. Kurangi bicara, perbanyak bertindak. Setidaknya itulah yang ditanggapi Zhen Xian, menemani sang kakak selaku tim pertama dalam mempersembahkan hasil dekorasi ruangannya.
Masa bodoh sebenarnya dengan persembahan tim dua dan tiga, karena perlakuan mereka terhadap tim satu saja taklah begitu baik, tapi tetap saja semua tim diharuskan ikut dan mendengarkan penjelasan masing-masing pemimpin tim. Tak heran, Zhen Xian dibuat menguap berkali-kali yang mendapat teguran seketika dari sang kakak.
Pun Meng Jun dan Mo Zhu hanya bisa menahan kekehan, takut-takut juri akan melihat dan menjadikan ketidakseriusan mereka sebagai bahan penilaian. Akan seberapa banyak pula poin yang dikurangi? Dan yang terpenting, hal itu bukanlah hal baik. Terutama bagi Zhen Chen yang kini menoleh, mendiamkan seketika Mo Zhu yang masih belum bisa menghentikan kekehannya.
“Aku tidak tahu apa yang para juri pikirkan. Mereka sungguh hebat menyembunyikan perasaan,” bisik Zhen Xian yang mana sang kakak hanya membalas dengan memberikan kode tuk tak bicara.
Pasalnya, waktu mempersembahkan hasil telah usai. Ketiga juri dan seorang panitia penyelenggara pun membawa diri kembali ke Departemen Dekorasi, saling mengobrol mengemukakan pendapat yang berakhir meninggalkan ketiga tim di luar.
Menunggu, lagi dan lagi menunggu. Menjadikan ketegangan kian membekukan suasana yang entah kenapa mulai berangin. Sukses pula membuat semua orang mengembuskan napas dengan sepasang kaki tak lagi mampu berdiam ditempat, terkecuali Zhen Chen yang bagai tak merasakan apa pun. Benarkah dirinya tak memiliki sedikit saja ketegangan?
“Menurutmu berapa besar kemungkinan kita akan menang, Meng Jun?” tanya Mo Zhu yang memulai pembicaraan. “Kenapa diam?”
“Cukup yakin bahwa tim kita pantas menang. Bagaimana denganmu, Zhen Chen? Kau begitulah tenang, lihatlah ... cuma kau seorang yang terlihat santai.”
“Tim satu pasti akan menang, aku sangat yakin itu.”
“Menang atau kalah tidak penting. Yang penting kita sudah berusaha semampunya, karena itu meskipun kalah kita tidak akan merasa kecewa.” Zhen Chen menimpali, tersenyum pada sang adik yang menyela riang penuh keyakinan tadi.
Alhasil, kini tiba pada saatnya penentuan. Tiga juri keluar dengan wajah datar, sedangkan pria panitia penyelenggara memajukan diri lebih lagi pada para tim. Satu demi satu memerhatikan setiap peserta, sebelum akhirnya tersenyum. Pun angin seketika tenang, mendatangkan burung-burung kecil kembali bertengger pada cabang pepohonan bagai penasaran pula akan hasilnya.
“Kalian semua sudah bekerja keras. Dari tiga tim, kami tahu bahwa kalian mengerjakan dengan penuh pemikiran, tapi balik lagi ini adalah kompetisi. Selain itu, tim siapa pun yang menang secara otomatis akan bekerja di Departemen Dekorasi. Sementara pemimpin tim, secara resmi akan diangkat menjadi Ketua Departemen Dekorasi, hal ini adalah perintah dari Taizi langsung.”
Diam. Hening. Bahkan burung-burung kecil tak mengeluarkan suara decitan khasnya.
Apakah yang didengarkan benar? Bekerja di istana tentu menjadi idaman banyak orang, dan sekarang peluang besar ada di depan. Bagaimana mungkin para peserta tak dibuat ribut akhirnya? Pun senyuman menghiasi setiap wajah, tapi kian pula menambah kegugupan.
“Jika tim kita menang. Kita akan menjadi bagian dari kerajaan dan tidak perlu mengikuti ujian yang sulit. Sungguh luar biasa!” seru Mo Zhu, merangkul Zhen Chen dan juga Meng Jun, menepuk-nepuk pundak mereka dengan begitu antusias. Tak terkecuali Zhen Xian, memandang sang kakak yang balik memandangnya.
Meskipun Zhen Xian yakin tim Zhen Chen-lah pemenangnya. Namun, tetap saja itu semua belum pasti. Di mana Zhen Chen yang mengetahui kegugupan sang adik, pada akhirnya meraih dan menggenggam sebelah tangan bergerak tak tenang itu, mulut tak berucap apa pun dan pandangan diarahkan lurus pada pria panitia penyelenggara.
“Kecerdasan dalam seni, itu sangatlah penting, tapi pengetahuan terkait bunga juga sangatlah penting. Oleh karenanya, para juri menjadikan hal itu sebagai poin penting dalam babak akhir ini, dan tim yang memenuhi syarat ini ... tak lain adalah tim satu, tim yang dipimpin oleh Zhen Chen.”
__ADS_1
Namun, apa ini? Bukannya sambutan atau sedikit saja ucapan selamat yang didengar, malah semua orang terdiam memandang Zhen Chen yang sukses pula mematung. Hanya burung-burung bertengger-lah yang bersorak, pun disertai embusan angin yang menari-narikan dedaunan pohon. Apa ini namanya alam menyambut? Sedangkan manusia terlalu terkejut, dan barangkali sisanya yang tak merasa senang hanya mengutuk dalam hati?
Entahlah, Zhen Chen pun tak ingin memikirkan lebih dan memilih menerima sambutan hangat dari adiknya yang barangkali baru saja tersadar dari keterpakuannya, tak ketinggalan pula Meng Jun dan Mo Zhu yang begitu kegirangan. Akan tetapi, kegirangan dan perayaan kemenangan singkat ini tampaknya harus dihentikan segera. Karena seruan yang cukup nyaring terdengar ini serta merta menundukkan wajah setiap orang.
“Berhentilah menyembunyikan wajah, kalian semua tidaklah sedang berbuat salah padaku.”
“Taizi, apa yang membawamu kemari?”
“Kau panitia yang bertanggung jawab akan acara ini?”
“Benar.”
“Maka minta mereka semua berhenti bersikap seperti ini, tampaknya mereka lebih mendengarkanmu daripada aku.”
“Ti-tidak, tidak, Taizi.” Tergagap, si pria panitia pun serta merta meminta semua peserta mengangkat wajah. Mendapati sosok Putra Mahkota, pangeran agung yang merupakan raja berikutnya dari Kerajaan Yunnan-Fu. Didampingi pula dengan seorang kasim juga seorang pria tanpa ekspresi, tegas dan memiliki aura layaknya seorang petarung. Barangkali pengawal pribadi Putra Mahkota yang diperjelas dengan pedang yang dibawanya.
Tak heran jika semua orang dibuat begitulah terkagum-kagum. Kapan lagi memiliki kesempatan emas seperti ini tuk bertemu langsung dengan Putra Mahkota, tentu tak boleh sampai dilewatkan. Namun, berbeda dengan dua saudara Zhen yang malah terpaku terkejut, berada di antara yakin dan tak yakin akan apa yang dilihat.
“Jin Kai?!”
Lagian, bagaimana Zhen Xian bisa menyangka bahwa teman baru kakaknya dan juga teman minumnya ini adalah seorang penerus raja. Zhen Xian pun tahu, suatu larangan keras memanggil nama dari bagian anggota kerajaan.
“Lin Feng!” seru Jin Kai, tajam memandang pengawal pribadinya yang bernama Lin Feng ini. Serta merta, pedang diturunkan.
Sedangkan Zhen Chen segera menarik sang adik, bersujud bersama. “Mohon ampuni kelancangannya, Taizi. Gadis ini masihlah sangat muda, kuyakin tidak ada sama sekali niatan baginya untuk bersikap lancang.”
“Bangunlah, apa yang kalian lakukan? Aku datang kemari bukanlah untuk menghukum, melainkan mengucapkan selamat atas kemenangan tim-mu, Zhen Chen.” Membantu si pemenang kompetisi ini bangun, pun menepuk pundak yang bahkan melemparkan senyuman.
Tak heran jika semua orang dibuat saling melirik, bertanya-tanya hubungan seperti apa yang Putra Mahkota ini miliki dengan Zhen Chen. Belum lagi hal mengejutkan lainnya tiba, saat ketika Putra Mahkota mengajak kedua saudara Zhen ini tuk minum bersama di kediamannya, sebagai bentuk perayaan.
“Taizi ... kurasa tidak pantas untuk itu.”
“Ayolah, jangan begini. Apa perlu kukatakan bahwa ini titah?”
Titah? Hukuman mati adalah jenis hukuman bagi penentang titah keluarga kerajaan. Lantas bagaimana bisa Zhen Chen menolak? Tentu menerima ajakan menjadi pilihan, meskipun nyatanya Zhen Chen tahu bahwa Jin Kai taklah serius dengan ucapan ‘titah’ yang dimaksud tadi.
__ADS_1
Berakhirlah, kedua saudara Zhen ini kini di sini. Dalam ruangan yang nan besar, pun Jin Kai memerintah pelayan untuk membawakan camilan, dan arak yang tak boleh sampai ketinggalan jika akan merayakan suatu perayaan membahagiakan seperti saat ini.
“Kalian semua pergilah. Kau juga Kasim Ma, dan tentunya kau juga, Lin Feng,” pintanya, segera pula dituruti meninggalkan mereka bertiga saja dalam ruangan mewah seorang Putra Mahkota Jin Kai. Namun, Zhen Chen dan Zhen Xian masih saja terdiam tanpa tahu harus bersikap seperti apa.
“Duduklah dan mari mengobrol.”
“Taizi ....”
“Apanya Taizi? Aku adalah Jin Kai temanmu, Zhen Chen. Saat kita sedang sendiri bersikaplah seperti biasanya, seperti kalian belum tahu siapa aku,” potong Jin Kai, mendudukkan diri pada bantalan lantai dari sebuah meja kayu yang cukup lebar dan pastinya sangatlah kokoh.
“Tapi ....”
“Tidak ada tapi, ini adalah permintaanku sebagai Jin Kai teman kalian bukan Taizi,” potongnya lagi, di mana pembicaraan mereka berakhir terhenti berkat dua pelayan wanita masuk membawakan dan menyajikan banyaknya piring camilan serta dua botol arak, memenuhi meja pun berakhir kembali meninggalkan mereka bertiga, membiarkan waktu pribadi bagi Putra Mahkota.
“Baiklah ... aku akan memperlakukan kau seperti biasa dan memanggil Jin Kai.”
“Xian’er jaga bicaramu.”
“Ge, dia sendiri yang meminta. Bukankah kita melanggar jika tidak mengikuti permintaan Taizi?”
“Baiklah, sudah diputuskan begitu,” sela Jin Kai, menghentikan. “Kemarilah, kita harus minum bersama merayakan kemenanganmu,” ajak Jin Kai, sibuk menuangkan arak pada cangkir yang diakhiri dengan dentingan bersulang.
“Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini dalam kediamanku. Bahkan Lin Feng tidak akan bersedia minum bersamaku saat dalam istana.”
“Lin Feng? Pengawal pribadimu?” tanya Zhen Chen.
“Hmm ... orang dengan muka datar. Selain itu, dia sangat kaku dan taat peraturan. Namun, di balik dari kekurangan itu dia sangatlah setia dan bela dirinya sangatlah mumpuni.”
Zhen Chen mengangguk-angguk paham, sedangkan sang adik malah menyentuh lehernya sendiri. Barangkali ingatan tadi, saat pedang tajam nan berujung runcing itu hampir saja mengubahnya menjadi mayat, terus terngiang-ngiang. Itu, sangatlah menyeramkan.
“Lin Feng tidak akan sembarangan membunuh orang, dia hanya menggertakmu saja tadi.”
Dengan cepat pula Zhen Xian menurunkan tangan dari lehernya, tampak tak sadar kapan tangan itu malah melekat di sana. Pun Zhen Chen dan Jin Kai dibuat tertawa kecil akan reaksi gadis polos nan muda ini.
Namun, apakah gadis ini marah? Terus melekatkan pandangan tanpa reaksi pada Jin Kai. Pun memicingkan pula sepasang netra, mengabaikan pula ucapan sang kakak yang memintanya berhenti karena terasa taklah sopan. Atau barangkali Zhen Chen tahu, hal apa yang akan dilakukan sang adik? Zhen Xian yang akhirnya membuka mulut.
__ADS_1
“Aku hanya ingin tahu ... berapa usiamu?”