Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 53


__ADS_3

Perlahan, sangat pelan ditariknya pintu yang tertutup ini. Menyisakan sedikit saja celah, cukup baginya mengedarkan pandangan ke luar sana. Mendapati tak satu pun akan keberadaan seseorang. Semilir angin-lah yang justru menerpa wajah pengintaian yang ia lakukan seraya ditutupnya kembali pintu.


“Huff.” Helanya, dan berkat helaan kelegaan itu pula ia membawa sepasang tungkai masuk lebih dalam lagi. Namun, yang tertangkap pandangan kini justru pantas untuk dipertanyakan olehnya. Hanya saja, bagaimana cara menanyakannya agar pertanyaan itu taklah terdengar aneh?


Ingin menarik diri, tapi detik berikutnya diurungkan. Malam telah larut, bukankah sudah seharusnya meminta Zhen Chen kembali? Pun Dayang Yun atau pelayan lainnya di luar sana telah dipastikan sendiri tak lagi ada.


Ini, waktu yang aman.


Que Mo akhirnya berdeham, menyudahi seketika tindakan Zhen Chen yang mengoleskan obat dengan lembutnya pada luka tusukan jarum di kedua telapak tangan adiknya. Yang mana bagian merisaukan Que Mo sendiri bukanlah hal itu, melainkan ketika dua saudara ini saling bertukar pandang seraya tersenyum. Dan hal itu, berulang-ulang kali dilakukan yang barangkali mereka saja tak sadar saking senang dan bahagianya.


Salahkah jika aku berpikir yang tidak-tidak? Zhen Chen ... mungkinkah kau ... sungguh-sungguh ... terhadap adikmu sendiri?


Sejak dulu pun Que Mo telah berpikir akan keanehan di antara mereka, tapi sejadinya berpikir positif dan percaya jikalau itu semua hanya kedekatan di antara saudara kandung saja. Namun kali ini, rasanya hal itu tak lagi benar dan tak lagi mampu disangkal. Apalagi Zhen Chen, ketika pandangannya bertemu dengan sang adik, semacam ada sesuatu yang menjadikan ahli bunga ini berani mencurahkan perasaan tak semestinya.


Zhen Chen, pria ini ... adakah kemungkinan ia sengaja melakukan hal ini agar Zhen Xian sadar ataukah sengaja untuk diperlihatkan pada Que Mo?


Jika benar Zhen Chen melakukannya dengan sengaja, maka bukan salah Que Mo jikalau kini yang tengah mengantar kepergian Zhen Chen keluar dari kediaman justru berakhir ke taman belakang. Waswas mengedarkan pandangan ke sekitaran, memastikan seyakin mungkin kalau-kalau tidak ada apa pun yang menguping, memerhatikan atau memata-matai mereka.


Biar begini-begini, Que Mo adalah bagian dari pelayan istana. Harus seperti apa, dan bagaimana caranya agar setiap tindakan yang dilakukan tidak akan diketahui orang lain, jelas Que Mo telah tahu dan paham betul itu. Katakan saja, Que Mo telah beradaptasi dengan cukup baik.


“Aku tahu pertanyaanku ini mungkin akan terdengar konyol, tapi aku tidak bisa jika tidak menanyakannya,” ucapnya serius, mengikis jarak lebih lagi pada Zhen Chen yang tenang. “Kau ... benarkah kau menyukai Zhen Xian? Bukan sebagai saudara, melainkan wanita. Apa aku benar?”


Di mana Zhen Chen sendiri yang mendapat pertanyaan ini malah masih bersikap santai dan tenang, tak sama sekali terkejut seakan tahu pertanyaan Que Mo akan seperti ini akhirnya. Pun embusan angin sukses memudarkan keheningan, menggerakkan dedaunan dari chahua-chahua di sekitar dalam suatu tarian. Meskipun benar mulut tak berucap, tapi pandangan yang dilemparkan ahli bunga ini cukup menjawab setidaknya bagi Que Mo yang memundurkan langkahnya.


“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kalian ...? Zhen Chen, ini tidak benar. Perasaanmu terhadap Zhen Xian tidaklah seharusnya seperti ini. Kalian adalah saudara ... saudara ....”


“Kami bukan,” potong Zhen Chen. “Kami bukan, Que Mo. Tidak ada darah yang sama mengalir dalam nadi kami,” lanjutnya.


“Apa maksudmu?”


“Aku juga baru tahu belum lama ini. Terkait diriku, dari mana berasal dan siapa orang tua serta keluargaku sesungguhnya.”


Untuk seukuran seseorang yang sedang bercanda, bukankah hal ini terlalu serius? Tak terlihat pula tanda-tanda akan adanya suatu kebercandaan di sepasang netra Zhen Chen. Pun Que Mo yang sempat terkekeh merasa telah dibohongi ini pun menyudahi segera kekehannya sembari memasangkan wajah serius. “Kau ... benarkah?”


“Jika kau tahu identitas asliku ....” Dan ucapan yang sengaja digantungkan ini sukses menjadikan Que Mo bergeming tanpa berkedip. “Kau pasti akan lebih terkejut lagi.”

__ADS_1


Mengetahui Zhen Chen bukanlah putra kandung keluarga Zhen saja sudah cukup mengejutkan, lantas hal apa lagi yang jauh lebih mengejutkan? Apa hal ini ada kaitannya dengan keselamatan nyawa atau bagaimana? Tidak, dengan kenyataan bahwa Zhen Chen menyukai Zhen Xian saja sudah cukup membahayakan. Jin Kai pria itu, entah hal gila apa yang siap dimainkan untuk menjauhkan atau memisahkan dua saudara Zhen ini.


Membayangkan saja sudah cukup gila. Lantas harus bagaimana menanggapi ucapan Zhen Chen ini? Yang tampak yakin akan memberitahukan kenyataan identitasnya.


Padahal baru sekitar sebulan ia tak berjumpa dengan Zhen Chen, tapi sudah banyak hal yang terjadi pada pria ini selama periode waktu itu. Apa mungkin ini alasan kenapa dia tidak datang ke istana dan menghindari Zhen Xian? Dan jikalau memang benar, haruskah mendengar lebih lanjut ucapannya?


“Katakan.”


Yang mana kini malah Zhen Chen dibuat mendesah, meskipun halus terdengar, tapi gemetar yang ikut keluar bersama uap putih dari balik mulutnya justru terdengar cukuplah jelas. “Jika kau membawaku menemui Huangdi, mungkin kau akan segera mendapatkan jabatan tinggi dalam istana ini.”


“Zhen Chen ... ini bukan waktunya bercanda dan cukup katakan ....” Terhenti, jika diingat-ingat kembali, Zhen Chen memang bukan tipikal orang yang bercanda akan ucapan. Karena dari sejak hari pertama bertemu dan mengenal dirinya, kapan pria ini pernah bercanda? Kecuali pada Zhen Xian seorang.


Lantas, apa maksud dari ucapan Zhen Chen? Kenapa seorang Raja bersedia memberikan suatu jabatan tinggi pada seorang pelayan rendahan sepertinya? Tapi kenapa Raja menginginkan Zhen Chen? Kecuali .... Zhen Chen sendiri sangat dan begitulah diinginkan Raja. Jikalau demikian, siapa Zhen Chen hingga Raja mampu bersikap demikian? Yang mana satu-satunya yang paling diinginkan Raja saat ini adalah penangkapan anak Jenderal Wei.


DEG!


Mengarahkan pandangan terturunnya lurus pada Zhen Chen. Mungkinkah ... kau ...! Tidak mungkin, katakan padaku tidak mungkin, Zhen Chen.


Pun Zhen Chen malah mengangguk. “Benar, akulah anak itu. Anak yang membuat gempar kota ini, dicari dan ingin dibunuh oleh Huangdi. Anak Jenderal Wei, Wei Lang.”


Tak mengherankan kalau pria menyedihkan ini malah tersenyum pahit kini, di mana Que Mo sendiri keluh lidahnya dan mulai percaya jikalau langit memang tidak pernah memudahkan jalan hidup seorang Zhen Chen.


“Semua orang akan dalam bahaya, Que Mo. Itulah yang menggangguku dan itulah pula kenapa aku memutuskan untuk mengubur identitas ini, tetap ingin menjadi Zhen Chen. Hanya saja, bagaimana dengan perasaanku pada Xian’er? Tidak sanggup diriku jika harus membuangnya pula,” ungkapnya putus asa, sepasang tungkai tak lagi mampu menopang tubuh hingga ia pun terduduk tak berdaya pada ayunan favorit Zhen Xian di taman belakang Kediaman Chahua ini. “Aku ingin bersikap egois, Que Mo. Sekali saja dan ini yang terakhir, tidak bolehkah?”


“Boleh, tentu boleh.” Yakin Que Mo, menengadah pada langit berbintang. “Bahkan jika takdir tidak mengizinkan, jangan menyerah dan lakukan apa yang ingin kau lakukan.” Sembari tengadahan diturunkan, mendapati Zhen Chen sedikit tersenyum puas dan lega. “Lalu, kapan kau berencana memberitahukan Zhen Xian?”


“Tidak tahu ... paling tidak untuk saat ini aku tidak akan memberitahunya. Terlalu bahaya jika dia tahu sekarang. Mungkin nanti ... saat menurutku waktunya tepat.”


“Tidakkah itu kejam untuknya? Aku bisa melihat kalau dia menyukaimu. Hanya saja mungkin dirinya belum tahu dan masih menganggap perasaannya padamu hanya perasaan peduli terhadap saudara.”


“Aku hanya tidak punya cara lain. Apa kau pikir aku ingin merahasiakan hal ini padanya? Aku juga ingin dia tahu dan kami bisa memulai hubungan dengan terbuka, tanpa harus pula memikirkan batasan demi batasan.”


“Jangan lupa masih ada Jin Kai musuh berat yang harus kau hadapi. Jika Jin Kai tahu identitasmu, maka saat itu pula tamat sudah hidupmu, keluarga Zhen ... dan juga Zhen Xian yang kehilangan segalanya.”


“Aku tahu, tentu aku tahu risiko besar itu ... dan juga khawatir serta ketakutan. Oleh karenanya, untuk saat ini biarkan saja aku dan Xian’er menikmati waktu bersama. Paling tidak untuk saat ini saja dulu.”

__ADS_1


Yang mana Que Mo tak lagi mampu mengatakan apa-apa, biarkan saja Zhen Chen menganggap waktu sekarang ini sebagai waktu santai sehabis waktu buruk yang sempat ia alami sebelumnya. Karena jelas tidaklah mudah baginya untuk keluar dari kesulitan kenyataan memberatkan ini, bukan?


“Kau memberitahuku segala rahasia ini tanpa sedikit saja keraguan, Zhen Chen. Tidakkah kau takut aku mungkin saja akan mengkhianatimu suatu saat nanti?”


Tidak ada jaminan pula jika Que Mo akan menjaga kerahasiaan ini, bukan? Selain itu tidak ada yang tahu ke depan sana hal apa yang telah menanti, bisa saja sekarang Que Mo setia, tapi belum tentu ke depan nanti masih sama, bukan?


Namun, Zhen Chen malah tampak tak terusik sama sekali dengan ucapan Que Mo barusan. Apakah ini wajar baginya bersikap demikian? Meskipun memang benar, jikalau Que Mo senang akan sikap Zhen Chen yang demikian padanya. Menunjukkan bahwa Zhen Chen memanglah sangat memercayai juga sungguh-sungguh menganggap dirinya sebagai seorang saudara, kapan pun itu dan berapa lama pun waktu berlalu. Hal itu, tidak akan pernah berubah.


“Semangatlah, semua akan membaik pada waktunya.” Mengulurkan sebelah tangan, dan dengan yakin diterima Zhen Chen sembari membangunkan diri dari ayunan yang menjadi tempat menopang bobot tubuhnya tadi. “Kau benar ... semua akan membaik,” timpal Zhen Chen kemudian.


Namun, sampai kapan kata membaik itu akan terus berpihak pada mereka?


Pasalnya, Lin Feng yang diperintahkan Jin Kai untuk mengintai gerbang istana akhirnya menemukan jikalau Zhen Chen memanglah keluar dari istana kini. Meskipun tak terlihat Que Mo menemani, tapi tetap saja Zhen Chen ada di jam malam seperti ini.


Jika bukan menemani Zhen Xian, lantas bekerja lembur,’kah? Di saat Lin Feng kini mulai percaya akan kecurigaan Jin Kai terkait sosok tak asing yang dilihatnya di kota memang benar adanya Zhen Chen dan Zhen Xian.


Alhasil, Lin Feng mengunjungi Departemen Dekorasi, memastikan lebih lanjut lagi jikalau ada kemungkinan bahwa Zhen Chen memanglah lembur. Akan tetapi, nihil. Yang didapatkan malah sebaliknya, mengharuskan Lin Feng pada akhirnya melaporkan apa yang ditemuinya pada Jin Kai.


“Mulai sekarang, aku ingin kau mengikuti mereka, Lin Feng.” Dengan santai pula Jin Kai menuang dan meminum tehnya, memerhatikan cangkir kosong di tangannya ini dengan sepasang netra menajam. Pun Lin Feng sukses menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengikuti perintah saja.


PRAKKK!


“Taizi, tanganmu ....”


Tetesan demi tetesan cairan merah menodai meja kayu tempat di mana ia duduk. Rahang menguat, urat leher pun menegang sembari Lin Feng mendekat, menyingkirkan pecahan beling cangkir teh yang diremasnya ini.


“Zhen Xian ... menyukaiku atau tidak sekarang tidak lagi penting. Yang terpenting, kau adalah milikku dan selalu akan berada di sisiku meskipun hatimu bukan aku pemiliknya. Jangan salahkan diriku jika melewati batas, karena itu kalian yang mengujiku untuk melakukannya.”


Air mata luruh tanpa diminta, dan kian pula Jin Kai pria ini mengepal kembali tangan terlukanya. Darah kian deras menetes, menjadikan luka tersebut sebagai pelampiasan pengurangan rasa sakit hatinya seraya dada mulai dirasanya sesak. “Apa menyukai seseorang ... harus terasa sesakit ini?”


Yang mana Lin Feng tak mampu berkata banyak, selain meminta Jin Kai untuk berhenti melukai dirinya sendiri. Karena nyatanya, Lin Feng pun tak begitu paham perasaan menyukai seseorang itu seperti apa.


Namun, satu hal yang diyakini Lin Feng. Kecemburuan yang tertanam layaknya biji tanaman dalam hati Jin Kai selama ini, kini telah kian menunas lebih tinggi lagi, dan hal itu yang mengganggu Lin Feng. Khawatir jikalau Jin Kai yang selama ini dikenalnya akan berubah sepenuhnya menjadi sosok asing, sosok yang menjauh dari kehidupan terang sampai titik di mana Jin Kai sendiri barangkali tak sadar akan perubahan itu.


Jika pada saat itu memang terjadi. Apa yang harus kulakukan padamu, Jin Kai?

__ADS_1


__ADS_2