Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 7


__ADS_3

Selangkah demi selangkah barisan orang-orang dalam berbagai jenis kasta, pria atau wanita, muda atau tua terus mendekati suatu gerbang tersusun bebatuan menjulang pun dijaga ketat oleh beberapa pria berzirah membawa tombak, tampak meminta para pengantri tuk menunjukkan sesuatu berupa potongan kayu seukuran genggaman tangan yang di atasnya tertera suatu tulisan.


“Tanda pengenal,” pintanya yang mengambil, barulah si pengantri diizinkan memasuki gerbang yang rupanya gerbang dari memasuki Istana Yi dari Kerajaan Yunnan-Fu.


Namun balik lagi, tempat ini adalah istana. Gerbang yang dimaksud bukanlah gerbang yang seketika akan membawa para pengantri mampu melihat keseluruhan kemewahan yang ada. Seperti misalnya, mampu mendapati bangunan aula atau bangunan penting istana lainnya. Melainkan yang mampu dilihat, hanyalah suatu tempat tak lain berupa halaman belakang saja yang tak banyak dipenuhi kemewahan.


“Silahkan mengikuti langkahku apabila ingin mendaftar dan tidak tersesat.”


Mengikuti, tak banyak pula dari para pendaftar yang diam enggan mengeluarkan suara. Pasalnya, si wanita pengantar arah yang meminta demikian. Barangkali memang begitulah peraturan istana, tak heran pula suasana begitu sepi bahkan langkah kaki saja taklah terdengar kecuali langkah para pendaftar yang mengikuti, dan di antara kerumunan para pendaftar ini pula dihadiri oleh dua saudara Zhen. Pun berakhirlah mereka semua tiba ke tempat pendaftaran.


“Lagi dan lagi harus mengantri sepanjang ini,” desah Zhen Xian. ”Aku tidak tahu akan begitu banyak orang mendaftar. Apa mereka dari luar kota? Apa mereka sungguh berbakat?”


“Jangan bicara seperti itu, tak enak didengar orang.” Menggeleng, Zhen Xian seketika dibuat menutup rapat mulutnya. Mendapati beberapa orang yang mengantri didekat mereka memanglah telah memusatkan pandangan ke keduanya, terutama Zhen Xian.


“Aku akan pergi sebentar,” pamit Zhen Xian yang begitu saja membawa kedua tungkai menjauh. Barangkali kabur, tak ingin terus-terusan menjadi bahan perhatian orang-orang yang semakin terasa layaknya pelototan.


“Xian’er mau ke mana kau?!”


“Aku akan membeli makanan! Aku akan segera kembali!” serunya, kian tak lagi menampakkan diri dari pandangan Zhen Chen yang dimintai melangkah lebih maju, pun tubuh terdorong mengharuskan Zhen Chen menghadapkan pandangan kembali ke depan, menunggu giliran antrian.


Akan tetapi, gerak-gerik pria muda ini terlihat layaknya ingin mengangkat kaki saja, menyusul sang adik yang barangkali telah menapakkan kaki di luar dari istana. Namun, pendaftaran ini hanya dibuka untuk hari ini dengan batas waktu sampai tengah hari, dan jikalau nanti Zhen Xian tahu alasan dari pembatalan pendaftaran dilakukan karena dirinya, akan seperti apa kecewanya Zhen Xian bagaimana mungkin Zhen Chen tak tahu, bukan?


Oleh karenanya, lakukan hal pasti dahulu, abaikan apa yang saat ini hanya berupa kekhawatiran. Bukankah Zhen Xian sudah dewasa? Kejadian dengan Que Mo waktu itu harusnya telah menjadi pelajaran untuk tidak lagi mendekatkan diri dengan masalah.


Dengan begitu, sang surya semakin meninggikan posisinya pada singgasana. Menyoroti Zhen Xian yang membawa beberapa kantong makanan kembali memasuki area istana. Hanya saja, kenapa langkah yang jelas saja taklah tersesat apalagi sampai lupa arah ini terhenti? Tidak mungkin ... Zhen Xian kembali menemukan semacam kekerasan dalam istana, bukan? Jika pun benar demikian, maka harusnya Zhen Xian tahu untuk tidak melibatkan diri.


Namun, apa ini? Zhen Xian malah tersenyum, arah jalan yang diambil tak lagi sama menuju ke lokasi pendaftaran. Pun sepasang netra yang berbinar-binar itu bagaikan terhipnotis, tapi apa dan siapa yang akan melakukan hal semacam ini pada gadis muda apalagi dalam istana?


“Whoaaahh ....” Terpukau, mulut tiada henti mengeluarkan keterpukauan itu selain semakin melebarkan senyuman. Mendapati suatu taman dipenuhi bunga kesukaannya, chahua yang bermekaran indah pun tumbuh subur setinggi setengah bagian tubuhnya yang mulai mengulurkan sebelah tangan.


“Siapa di sana?”


Tersentak, bagai barulah tersadar dari mantra hipnotis. Zhen Xian menyadari bahwa dirinya barangkali telah jauh dari posisi sang kakak yang tak tahu pula apakah sudah selesai mendaftar. Di mana tempat ini? Dan tempat apa pula ini? Pertanyaan itu jelas saja tertera di wajah yang mulai menegang, menangkap pula sosok yang bertanya kini mendekat. Seorang wanita sekitar 30an akhir, tanpa ekspresi dengan aura tegas dan tak biasa berhadap-hadapan dengannya.

__ADS_1


“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.


“Aku ... aku hanya tersesat ....”


“Kau bukan dayang atau pelayan istana?” potongnya, meraih cepat sebelah pergelangan tangan Zhen Xian. “Kau tidak boleh datang kemari, cepatlah pergi sebelum orang lain melihat.” Tariknya membawa pergi, tapi diurungkan segera niatan itu tepat ketika mendapati gerombolan wanita berseragam ditemani atau mungkin lebih tepatnya dipimpin oleh seorang wanita agresif berbeda sendiri pakaiannya, aura mendominasi pun terpancar darinya yang kian mengikis jarak.


Serta merta, Zhen Xian bersembunyi di balik wanita yang masih memegang pergelangan tangannya ini.


“Dayang Yun, siapa gadis muda ini?”


“Bukan siapa-siapa. Dia hanya pelayan baru dan tersesat.” Hendak melangkah menarik pergi Zhen Xian, tapi wanita agresif ini malah menahan sebelah tangan Zhen Xian yang membawa kantong makanan, mencengkeram kuat pun melonggarkan pegangan Zhen Xian yang sontak saja menjatuhkan makanan tuk menjadi lahapan tanah.


“Beraninya kau masuk istana! Siapa kau?!”


“Dayang Chu, dia hanya tersesat dan tidak melakukan apa-apa jadi berhentilah membuat dia seolah-olah melakukan kesalahan.”


“Ohhh ... aku hampir lupa kalau Dayang Yun sudah lama tidak memiliki majikan. Apa karena itu kau juga lupa peraturan istana?” ejek Dayang Chu, menoleh pada gerombolan wanita pengikutnya. “Kalian bawa gadis ini.”


Menuruti titah, melepaskan Zhen Xian dari perlindungan Dayang Yun yang berakhir menjadi sandera, kedua pergelangan tangan tertahan begitulah kuat hingga titik Zhen Xian tak lagi mampu melepaskan diri selain meronta-ronta dengan mulutnya tuk dilepaskan. Alhasil, tamparan keraslah yang diperoleh Zhen Xian.


“Aku hanya tersesat dan tidak melakukan apa-apa.”


PLAK!


“Hentikan Dayang Chu!” teriak Dayang Yun, tentu tak digubris dan malah dirinya ikut dijadikan sandera tak mengizinkan membantu barang sedikit pun Zhen Xian yang menahan kekesalan.


“Apa kau mata-mata? Katakan!” tuduh Dayang Chu, mendesak Zhen Xian tuk menjawab. Namun, Zhen Xian justru hanya memandang balik penuh ketidaksukaan alih-alih menjawab ‘bukan’. “Kau tidak akan mengatakannya ... baiklah, bawa dia!”


Terseret-seret, Zhen Xian tentu saja semakin meronta-ronta. Apakah itu berguna? Pun jika Zhen Xian berlutut sekalipun, kemungkinan untuk dilepaskan barangkali sangatlah kecil. Bukti, di mana bukti yang membenarkan perkataan itulah yang harus dimunculkan, bukan?


“Tidak bisakah kau melepaskannya kali ini?”


“Salah tetaplah salah ... Dayang Yun, kau jangan ikut campur.”

__ADS_1


Lantas, ke mana Zhen Xian akan dibawa? Benarkah dirinya akan dicap sebagai mata-mata istana dan dipenjarakan dalam istana kerajaan? Membayangkannya saja sudah begitu menakutkan, tak tahu bagaimana jika sampai benar terjadi. Belum lagi, akan semarah apa Zhen Chen jika sampai tahu masalah ini?


Namun, tampaknya tempat yang baru didatangi ini bukanlah suatu penjara, melainkan tempat yang dipenuhi wanita berpakaian sama dengan pengikut Dayang Chu, dan mereka semua memberi hormat pada wanita agresif yang telah menamparnya dua kali ini. Apa ini pula yang namanya tempat para dayang? Dan Zhen Xian menghentikan segera edaran yang dilemparkan, kembali ke wanita yang menuduhnya ini.


“Apa kau tahu tempat yang kau datangi tadi?” tanyanya, kian mengikis jarak. “Itu adalah tempat dari mendiang selir tertinggi raja, tidak ada satu pun orang kecuali diriku dan Dayang Yun yang boleh masuk, tapi kau dengan lancangnya malah masuk.”


“Lalu jawaban seperti apa yang ingin kau dengar? Bahwa aku mata-mata?” tanya balik Zhen Xian. “Ini kali pertama aku berkunjung ke istana dan aku tidak mengenal siapa pun dalam istana ini, jadi bagaimana mungkin aku bisa menjadi mata-mata. Pikirkanlah, Dayang Chu.”


“Aku akan segera tahu setelah menggunakan caraku.” Meminta diambilkan cambuk, pun berakhir menajamkan pandangan bersamaan dengan cambuk yang dilayangkan, diakhiri pula akan suatu jeritan.


Sontak, Zhen Chen yang baru saja selesai mendaftarkan diri tercekat langkahnya. Kegelisahan mulai memenuhi, dengan cepat pula membawa kedua tungkai meninggalkan lokasi pendaftaran yang terbilang masihlah ramai ini.


Sana-sini, taklah terlihat siapa pun yang dapat dimintai pertanyaan. Apakah ini sungguh area istana? Barangkali itulah yang dipikirkan Zhen Chen, sementara kekhawatiran kian menggerogoti. Tak heran, penjaga gerbanglah yang menjadi pilihan di kala terdesak ini.


“Apa kalian melihat seorang gadis muda dengan tusuk konde chahua di kepalanya? Dia juga berpakaian merah muda.”


“Gadis muda itu sudah beberapa waktu lalu kembali.”


“Baiklah, terima kasih.” Kembali masuk, bahkan penjaga yang tampak ingin mengatakan sesuatu diabaikan begitu saja, terus memerhatikan Zhen Chen yang mengambil arah ke area pendaftaraan.


Namun, buat apa Zhen Chen ke sana? Bukankah jelas belum lama ini dirinya dari sana? Dan mendapati pula keberadaan Zhen Xian taklah di sana. Oleh karenanya, Zhen Chen diam-diam mengambil arah berbeda pun tungkai dengan cepat diayunkannya bagai telah menemukan sang adik. Akan tetapi, bukan Zhen Xian yang ditemui melainkan tempat bertaman chahua yang didatangi. Menemukan jejak dari keberadaan sang adik, berupa makanan yang dijatuhkan.


Apa yang terjadi denganmu?


“Tuan tidak boleh berada di sini. Cepat pergilah atau ....”


“Apa kau seorang dayang? Aku minta maaf jika telah masuk ke tempat terlarang ini, tapi bolehkah aku bertanya ke mana gadis muda yang menjatuhkan makanan ini pergi?”


“Nona itu ... dia ....” Pun Dayang Yun memandang serius Zhen Chen, keseriusan yang tertular sampai titik di mana Zhen Chen tak lagi mampu mendengar keseluruhan ucapan selain membawa kedua tungkai pergi dengan terburu-burunya.


Zhen Xian, sungguh telah masuk dalam masalah lebih besar lagi dari kasus Que Mo yang hampir menjual dirinya.


Kegelisahan, kekhawatiran, serta merta berubah menjadi ketakutan teramat, tapi tak akan pula membiarkan rasa takut itu menghentikan dirinya sendiri dalam menelusuri arahan yang diberitahukan Dayang Yun. Apa pun yang terjadi dan apa pun yang menanti di sana, Zhen Chen hanya berharap ....

__ADS_1


Tunggu aku ... aku akan segera tiba.


__ADS_2