
Berada di pusat ketinggian, sukses membuat sang mentari begitulah dipenuhi semangat. Cahaya menyengatnya begitulah kuat memantul di permukaan kolam yang cukuplah besar. Kolam berair tak jernih, tapi begitulah bersih nan indah yang dihadiri pula teratai-teratai di atasnya. Belum lagi, di sekeliling dari luasnya kolam ini diramaikan oleh para penari. Tepatnya pohon dedalu yang tertiup embusan angin.
Kolam teratai berair hijau, satu-satunya kolam yang ada dalam istana. Katakan saja, tempat ini adalah tempat favorit mendiang Raja terdahulu dengan abdi setianya. Sebelum akhirnya kudeta terjadi.
Oleh karena itu, kolam ini tak lagi begitu dikenang, dan hanya menjadi kolam biasa yang mana tak banyak orang akan hadir. Karena mereka percaya, jikalau kolam ini akan membawa kesialan pada akhirnya.
Namun, di balik sejarahnya yang memilukan itu. Taklah mampu menutupi keindahan istana bertembok kokoh berbangunan unik dan megah. Yang mana pemandangan ini menjadi suatu kenikmatan dari sepasang netra berbinar seraya mulut terus saja mengucapkan keterpukauan, dia-lah Zhen Xian. Mendapati sang kakak malah memilih diam menatap bangunan istana yang mampang tak jauh di sana, berakhir pula mendudukkan diri di bawah rindangnya pohon di mana tangan sibuk menempatkan bekal yang dibawa.
“Apa Jin Kai menemuimu hari ini?”
“Hmm, kami sempat mengobrol sebentar,” jawab Zhen Xian. “Kenapa?”
“Apa dia bersikap aneh?”
“Kurasa begitu, tampaknya dia sedang mengalami masalah.”
“Apa dia sempat mengatakan sesuatu yang lainnya?”
Zhen Xian mencoba memikirkan kembali, tapi aroma bekal yang dibawa sungguh tak mampu ditahan lagi. Begitulah menggoda, belum lagi isiannya berupa makanan kesukaan, daging bebek panggang. Wajar saja jika gadis ini tak mampu berpikir jernih. Di mana Zhen Chen sendiri tak lagi berniat tuk mendengar jawaban, dan sesekali akan memberikan lauk pada sang adik pun menghapus noda dari sudut mulut gadis ini.
“Aku ingat,” ucap Zhen Xian tiba-tiba. “Jin Kai memang sedikit berbeda. Dia menanyakan mengenai pria seperti apa yang ingin kunikahi dan sejenis pertanyaan seperti itu,” lanjutnya. “Ge, kalian tidak sedang berusaha menjodohkan aku dengan seseorang, bukan?”
“Tidak akan. Jika kau akan menikah maka menikahlah dengan orang yang kau cintai, bukan karena paksaan atau perjodohan. Karena itu, aku tidak akan melakukan hal seperti itu.”
Kemantapan akan ucapan sang kakak, bagaimana bisa Zhen Xian tak percaya, bukan? Berakhir mengundang hadirnya senyuman pun kelegaan yang kian menambah kenikmatan santapan siang ini. Yang mana sang kakak kini mengulurkan sebelah tangannya, menyingkirkan rambut-rambut halus yang mengganggu pandangan adiknya ini.
“Ge, apa kau sibuk dengan pekerjaanmu?”
“Hmm ... lumayan.” Angguk Zhen Chen, kembali dirinya teringat akan ucapan Jin Kai waktu lalu. Terkait kesibukan yang akan jauh dirasakan setelah hari ulang tahunnya, dan benar saja hal itu mulai dirasakan. “Aku pasti akan mengunjungimu selagi ada waktu.”
Kembali melanjutkan makan, keduanya sama-sama begitulah menikmati. Lebih tepatnya, kebersamaan itulah yang jauh dinikmati. Karena setelahnya, hari demi hari yang mereka lalui akan disibukkan selalu dengan tugas masing-masing, tapi tetap saja selalu mengusahakan untuk pergi dan pulang bersama seperti biasanya.
Namun, Zhen Xian tidak pernah tahu atau barangkali sadar jikalau dirinya selama di istana selalu diawasi oleh seorang pelayan. Pelayan yang dikirim oleh kasim pribadi Raja pun melaporkan semua yang diketahui pada sang Raja.
Selama periode itu pula, Jin Kai dan Zhen Xian sering bersama di Kediaman Chahua. Entah untuk sekadar mengobrol, makan dan minum bersama, ataupun tuk menghabiskan waktu luang. Bahkan tanpa segan pula Jin Kai bersedia memindahkan semua dokumen atau laporan pekerjaan yang biasanya dikerjakan di kediaman pribadinya, kini ke kediaman ibunya.
Tak heran apabila rumor beredar, bukan? Berkeliaran, menyebar dengan begitulah cepat ke seluruh bagian dari istana, terutama kalangan pelayan dan dayang. Yang mana berakhir melemparkan pandangan tak mengenakkan langsung pada Zhen Xian yang belumlah mengetahui apa-apa.
Pasalnya, Zhen Xian sendiri sudah dibuat begitulah tertekan akan masalah pribadinya, yaitu terkait sang kakak yang belakangan ini sangatlah sibuk sampai titik di mana tak bisa berjumpa. Parahnya lagi sang kakak juga tak bisa pulang dan memilih tinggal di istana selama berhari-hari sampai berminggu-minggu.
“Meng Jun! Mo Zhu!”
Yang terpanggil sontak menoleh, mendapati Zhen Xian mendekat dengan sedikit terburu-burunya. Tak perlu ditanyakan lagi, baik itu Meng Jun dan Mo Zhu sangatlah jelas kedatangan gadis ini seperti biasanya, menanyakan keberadaan sang kakak. Hanya saja, selalu dalam waktu yang tak tepat.
“Zhen Chen sedang tidak ada di istana, dia pergi keluar mencari bunga yang diinginkan para selir,” beritahu Meng Jun.
__ADS_1
“Aku tak habis pikir. Kenapa hampir semua orang dalam istana meminta dirinya pribadi yang menyelesaikan dekorasi ruangan? Benar, katakan saja Zhen Chen ahlinya, tapi masih banyak orang dari Departemen Dekorasi yang mumpuni, bukankah begitu, Zhen Xian?” protes Mo Zhu. “Zhen Chen pasti sangatlah lelah,” lirihnya kemudian.
“Aku sudah sangat lama tidak bertemu dengannya dan khawatir. Orang tua kami juga tak kalah khawatirnya.”
“Kami pasti akan segera memberitahumu jika dia sudah kembali, juga jangan berkeliaran ke mana-mana dulu dalan istana ini. Apa kau mengerti?”
“Ada apa, Meng Jun? Kenapa kau berbicara demikian? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?”
“Lakukan saja, ini juga pesan dari Zhen Chen,” ucap Mo Zhu.
Mendengar nama sang kakak disebut, bagaimana bisa pula Zhen Xian mengatakan tidak, bukan? Anggukan pun akhirnya dilakukan gadis ini. “Kabari aku segera jika Chen Ge sudah kembali, kumohon.”
“Tentu saja, jangan khawatir dan jangan terlalu tertekan akan hal ini. Zhen Chen akan baik-baik saja, beritahu pula orang tuamu.” Meng Jun menasihati, merasa jikalau dirinya adalah Zhen Chen, pasti pria itu akan mengatakan hal serupa. Karenanya, sebagai teman sudah sepatutnya mewakili hal ini, dan tentunya Mo Zhu setuju.
Lantas, bagaimana pula jika Zhen Chen menyaksikan sang adik melangkah pergi dengan begitulah tak bertenaga? Bahkan sebagai teman saja, menyaksikan hal itu taklah menyenangkan. Karena tahu betul, pribadi gadis muda ini seperti apa. Akan tetapi kini, semangat itu bagai telah padam, merindukan hal yang biasanya tiap hari bertemu. Namun, sudah hampir sebulan tidak pernah berjumpa barangkali sekejap saja. Tak heran apabila gadis ini bertingkah demikian.
BRUKKK!
“Maaf, kami tidak sengaja.”
Tidak sengaja? Bagaimana bisa tidak sengaja? Pun dari suara saja sudah dapat Zhen Xian tangkap akan suatu kesengajaan. Mendapati empat pelayan wanita berdiri berjejeran menghadap, dan hal ini kembali mengingatkan pada kejadian perundungan dulu. Saat ketika tiga pelayan istana lainnya pernah salah paham terkait hubungan dirinya dengan sang kakak. Lantas, kali ini akan terkait hal apa? Kenapa begitu banyak pekerja istana yang tak menyukai dirinya?
“Jangan membuat masalah.”
Ucapan sang kakak ini terus saja memenuhi kepala, seraya Zhen Xian membangunkan diri dari jatuh tersungkurnya yang mana kedua telapak tangan halusnya lecet. Perih, begitulah perih. Namun, tidak seperih hatinya yang merindukan dan mengkhawatirkan sang kakak. Pun hal itu sukses mengundang embun di sepasang netra, berjanji dalam hati atau barangkali memantapkan diri tuk tak akan terlibat masalah.
“Apa masalah kalian? Kenapa melakukan ini padaku?” tanyanya yang tak lagi mampu menahan akan sikap ketidakadilan ini.
“Tanyakan sendiri pada dirimu, kenapa kami melakukan hal ini. Kenapa semua orang dalam istana memandang dirimu dengan tidak suka dan berbicara jelek tentangmu.”
“Apa maksud kalian?”
“Jadi begini caramu merayu Taizi? Dengan berpura-pura polos dan merasa tidak bersalah sama sekali.”
“Kenali batasmu, kau hanya wanita rendahan yang tidak pantas dengan Taizi! Berani sekali kau mengganggu hubungan harmonis Taizi dan Taizifei. Kau pikir siapa dirimu?! Ha?!” sambung pelayan lainnya, tak kalah marah dan bagai siap menelan hidup-hidup Zhen Xian yang tertegun.
“Aku tidak pernah merayu atau mengganggu hubungan siapa pun! Jadi berhenti mengatakan sesuatu seperti itu padaku!” bela Zhen Xian tidak mau kalah. Lagian memang kenyataannya demikian. Namun balik lagi, ini istana. Sang kakak telah sering mengatakan bahwa orang-orang tak peduli kenyataan, mereka akan lebih percaya dengan apa yang telah tersebar.
Sekarang, Zhen Xian paham baik akan hal itu. Pembelaan apa pun tidak akan mempan, yang ada hanya akan memancing lebih amarah mereka saja. Alhasil, para pelayan pun menyerangnya. Menahan kedua tangan dengan erat, tungkai yang berdiri ini dipaksakan berlutut pun wajah ditampar berkali-kali.
Empat lawan satu, bagaimana bisa Zhen Xian melawan balik?
“Apa yang kalian lakukan?!” sergah seseorang, menghentikan seketika aksi perundungan. Mendapati Meng Jun si pria yang menghentikan mendekat bersama Mo Zhu.
“Lepaskan dia, lepaskan! Apa kalian sudah gila?!” teriak Mo Zhu seraya membantu Zhen Xian melepaskan diri dari para pelayan. “Kau baik-baik saja?” Memastikan wajah adik dari temannya ini. Syukurlah, tak sampai memar, hanya memerah saja.
__ADS_1
“Beraninya kalian melakukan hal seperti ini, tidak malukah akan sikap kekanak-kanakkan ini?” ucap Meng Jun, melirik Mo Zhu yang mana Mo Zhu sendiri mengangguk menandakan Zhen Xian baik-baik saja.
Sementara Zhen Xian yang merasa tidak adil dengan perlakuan yang didapat barusan, sama sekali tidak menangis. Yang dia pikirkan hanyalah menjaga nama baiknya agar tidak mencoreng nama baik sang kakak dikemudian hari, keadilan tentu harus didapatkan kembali tuk menjaga nama baik itu.
“Kalian melakukan ini hanya karena cemburu aku dekat dengan Taizi, bukankah begitu?”
“Kau merayunya itu yang membuat kami marah dan ....”
“Apa kalian melihat sendiri aku merayu Taizi? Apa kalian yakin memperlakukanku seperti tadi demi kebaikan Taizifei bukan karena kecemburuan kalian sendiri?!”
“Semua orang mengatakan begitu dan itu sudah cukup menjadi bukti bagi kami.”
“Minta maaf padaku, dan tarik kembali perkataan buruk kalian padaku,” tegas Zhen Xian, menekan pun menahan geraman akan kemarahan yang tertahan.
Namun, apa lagi ini? Seolah keempat pelayan saja taklah cukup, tiga dayang pun ikut bergabung. Hanya saja, dayang yang berjalan paling depan ini memiliki aura cukup kuat. Yang mana penampilannya sudah cukup menunjukkan posisi tingginya dibandingkan kedua dayang pengikut di belakangnya.
Apa mungkin, dayang yang melayani salah satu anggota kerajaan?
“Keributan apa yang terjadi?” tanyanya, mengarahkan pandangan penuh ketegasan dan juga intimidasi pada pelayan yang melakukan aksi perundungan secara bergantian.
“Dayang Feng! Kami ... ha-hanya ...!”
PLAK!
Termangu Zhen Xian dibuatnya, menyaksikan sekali tamparan kuat tadi sukses melukai sudut bibir salah satu pelayan.
“Beraninya kalian!” teriaknya yang dipanggil Dayang Feng ini.
Keempat pelayan serta merta mensujudkan diri, tak lupa memohon ampun berupa permohonan maaf demi maaf dengan tubuh gemetaran. Berjanji pula tidak akan mengulangi lagi.
“Minta maaflah pada Nona Zhen, bukan padaku.”
“Maaf ... maafkan kami, Nona,” mohon keempatnya, yang mana Zhen Xian pun tak ingin memperpanjang dan menyuruh mereka pergi. Bukankah tamparan tadi sudah cukup mewakili perbuatan perundungan mereka tadi? Setidaknya Zhen Xian berpikir demikian, apalagi ketika menyaksikan keempat pelayan wanita itu pergi dengan terburu-burunya.
“Nona Zhen, kau tidak apa-apa?” tanya Dayang Feng.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantuku.”
“Syukurlah jika begitu. Nona, sekarang ikutlah dengan kami. Taizifei ingin bertemu denganmu.”
Taizifei? Tapi kenapa? Apa dia ingin menghukumku juga karena rumor tidak berdasar itu?
“Nona jangan khawatir, Taizifei hanya ingin bertemu dan mengobrol sebentar.”
Tak tahu harus menjawab apa, Zhen Xian menyempatkan diri memandang Meng Jun dan Mo Zhu. Keputusan apa yang harus diambil? Jika pun menolak, alasan seperti apa pula yang harus dipergunakan tanpa harus terlihat bersikap tak sopan?
__ADS_1
Ge, jika kau di sini sekarang ... apa kiranya tindakamu?