
“Kalian sungguh mengganggu acara makanku!”
Ketidakterimaan, seruan itu juga dipenuhi ketegasan. Belum lagi sumpit yang tergeletak didekat masing-masing ketiga pria penjual yang mengejar. Melumpuhkan sebelah tungkai dalam raungan yang tiada hentinya. Apa sungguh sekuat itu lemparan yang diterima? Pun jika dipikirkan lagi, kecepatan lemparan memang tak begitu tertangkap mata. Namun, siapakah si penolong?
“Xian’er!”
Menoleh Zhen Xian dibuatnya, suara dan panggilan tak asing ini sontak menjadikan sepasang netra menangkap sosok seseorang yang tak pula asing baginya, berposisi pada balkon lantai dua dari suatu rumah makan. “Ge*? Chen Ge!” Akan tetapi, siapa yang berdiri di sebelah Zhen Chen? Apakah dia sosok si pelempar sumpit? Penolong sekaligus Tuan Seruan penuh ketegasan itu? Teman yang dikatakan Bibi Penjual Pangsit sebelumnya?
“Ge? Gadis itu adikmu?”
Bergumam mengiyakan, Zhen Chen tak menggubris lain hal lagi selain membawa kedua tungkainya pergi hanya tuk menghampiri sang adik pun mendapati kedua lutut terhiasi luka. Sontak, Zhen Xian membangunkan diri takut-takut akan kakaknya memarahi yang sekaligus menuntut penjelasan. “Aku akan menceritakan semuanya nanti, Ge.”
Zhen Chen menoleh ke sekitaran, benar saja orang-orang menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Belum lagi kehadiran petugas yang membawa pergi ketiga pria penjual semakin meramaikan saja, tapi melalui kepergian mereka pula orang-orang membubarkan diri.
“Terima kasih atas bantuanmu, Jin Kai. Aku pasti akan membalasmu.”
“Tidak perlu sungkan, aku pasti akan menolong siapa pun dalam kondisi seperti tadi. Selain itu kau bukanlah orang lain, Zhen Chen, kau adalah temanku.”
“Ge,” panggil Zhen Xian, menuntut penjelasan lebih terkait pria asing berwibawa nan berkelas yang baru dirinya temui ini. Pun belum sempat Zhen Chen menjawab, Jin Kai telah lebih dahulu memperkenalkan diri. Jelas saja Zhen Xian harus membalasnya, bukan? “Namaku Zhen Xian, sungguh terima kasih sudah menolongku dan juga Que Mo.”
“Que Mo?” tanya Zhen Chen, mengarahkan seketika pandangan pada pria yang dipanggil sang adik sebagai Que Mo. Tanpa segan pula, Zhen Xian menghampiri Que Mo yang tampak enggan untuk diperkenalkan.
“Teman baruku, dia yang menyebabkan semua masalah ini terjadi hingga kami dikejar-kejar ketiga pria pedagang manusia tadi, tapi berkat Que Mo pula aku bisa bebas dari mereka dan bertemu kalian di sini.”
Mendesah bahkan mungkin merutuki diri sendiri Que Mo dibuatnya, berkebalikan sekali dengan Zhen Xian yang malah tersenyum. “Aku minta maaf. Semua memang salahku, tapi bisakah kau berhenti memanggilku Que Mo?”
“Yang terpenting tidak ada luka serius, dan semuanya selamat,” sela Jin Kai, sedikit menengadah menjadikan sang surya sebagai pusat perhatiannya. “Kurasa sudah waktunya aku kembali.” Memalingkan wajah pada Zhen Chen. “Sampai jumpa lagi,” pamitnya, dibalas Zhen Chen dengan ucapan yang sama pun pertemuan diakhiri dengan senyuman di antara keduanya.
“Kalau begitu aku juga pamit,” ucap cepat Que Mo yang tanpa ragu membawa kedua tungkainya bergerak. Entah karena merasa takut akan dituntut oleh Zhen Chen, atau karena tak lagi tahan berlama-lama berada di antara orang-orang yang jauh berbeda golongan dengannya. Entahlah apa alasannya, yang pasti Que Mo ingin menghilangkan diri sesegera mungkin.
Namun, Zhen Xian justru menghadang. “Kau mau ke mana? Apa kau punya tempat tinggal?” tanyanya terang-terangan, pun Zhen Chen dibuat berdeham yang berakhir memerhatikan keterdiaman Que Mo. “Ikutlah kami, anggap saja karena sudah membantu adikku,” ajak Zhen Chen.
“Benar, ikutlah kami. Kau adalah temanku jadi tidak perlu sungkan.”
“Tapi ... aku ....”
Pun Zhen Chen mendekat, menjongkokkan diri mempertunjukkan punggung lapang yang dimiliki tepat di hadapan Zhen Xian. “Biar aku menggendongmu. Naiklah,” tawarnya, tentu dengan sangat Zhen Xian menerima, mengalungkan kedua lengannya dengan erat layaknya tidak ingin berpisah. Belum lagi punggung lapang ini akan menjadi tempat terbaik dalam menghilangkan rasa lelah berlarian sepanjang hari ini.
Pada akhirnya, kedua saudara Zhen ini tak lagi peduli dengan keengganan yang dirasakan Que Mo, mungkin memang terasa seperti mengabaikan, tapi dalam kasus saat ini akan lebih tepat terlupakan. Kenapa? Karena begitulah saudara Zhen ini apabila telah bersama, dan melalui kebersamaan itu pula mereka menjauhkan diri dari kota nan ramai bersama satu anggota baru.
Boleh dikatakan, tempat ini memang agak terpencil. Melewati rerimbunan hutan yang menyejukkan di sisi kiri dan kanan, pun jalanan yang muat dilalui tandu ataupun gerobak tertutup dedaunan kering bagai menahan segala jenis debuan tak terbangun. Di tempat ini pula, nyanyian merdu alam bercampur padu dengan burung-burung kecil pun serangga bersahutan. Menciptakan kedamaian dan kesejukan hati serta pikiran siapa pun yang melewati area ini, tak heran pula Que Mo dibuat bertanya-tanya akan adanya keberadaan tempat seperti ini.
__ADS_1
Pernah ada yang mempertanyakan, bahwa surga itu seperti apa wujudnya, dan jikalau ada surga di dunia manusia ini, maka sekiranya di mana tempat itu?
Dengan berani, kedua saudara Zhen akan menjawab. “Di sinilah tempat itu ... rumah kami.”
Belum lagi, lokasi yang bukan hanya terpencil, tapi juga tersembunyi layaknya memang tidak boleh banyak orang tahu tempat ini. Katakan saja, curamnya tanah menjulang mengelilingi bagai tembok pagar tuk melindungi apa yang ada di tengahnya. Sesuatu yang membuat Que Mo tiada henti terpukau seolah hari berkabutnya tercerahkan sudah, berwarna-warni layaknya hamparan luas bunga-bunga yang tak diketahui jenisnya ini.
Pun seruan demi seruan dari orang-orang yang barangkali pekerja, dan sedang sibuk pula bekerja mengurus bunga ini menyapa kembalinya mereka, wajah tersenyum tangan melambai-lambai. Tak terkecuali bunga-bunga yang barangkali mencapai puncak mekar tak mau ketinggalan. Namun, apa benar tempat ini tempat tinggal pribadi? Karena akan lebih tepat jika dikatakan suatu desa besar berkat luasnya area dan juga banyaknya para pekerja yang dapat disamakan sebagai penduduk desa.
“Kalian semua sudah bekerja keras hari ini!” seru Zhen Chen, tanpa lupa pula menyunggingkan senyuman balasan.
Bagaimana mungkin Que Mo tak ikut tersenyum pula dibuatnya? Dalam sepanjang hidupnya yang keras, tak pernah terlintas dalam pikiran akan mengalami hal seperti ini. Semacam, roda kehidupannya sungguh berputar cepat setelah bertemu Zhen Xian, tak lagi terhenti di bagian terendah, dan hal itu mengundang banyak-banyak terima kasih lewat pandangan Que Mo. Terima kasih sudah menerima dirinya yang orang asing tanpa melihat atau bertanya mengenai latar belakang lebih jauh lagi.
“Aku tidak pernah melihat tempat seindah dan sedamai tempat ini.”
“Tentu saja, karena itu lupakan kehidupanmu dulu dan mulailah dari awal,” balas Zhen Xian.
Sementara perjalanan mereka tampak akan segera mencapai tujuan pemberhentian. Mendapati sebuah rumah yang cukup besar nan asri tanpa terlihat sama sekali suatu jenis kemewahan berlebihan. Begitu sederhana, begitu hangat dan begitu menenangkan, serupa dengan hadirnya dua orang paruh baya yang baru saja menapaki teras.
“Die**, Niang***,” sapa Zhen Chen dan Zhen Xian bergantian, tak terkecuali Que Mo yang memberikan hormat dengan merendahkan sebagian tubuhnya.
“Apa yang terjadi? Apa adikmu terluka?”
“Jangan khawatir, itu hanya luka kecil, Niang,” jawab Zhen Chen yang dengan hati-hatinya menurunkan Zhen Xian, dibantu pula kedua orang tua mereka.
“Hari sudah sore, mari masuk dan makan malam bersama. Kau juga, Que Mo,” ajak ibu yang masuk duluan. Sementara ayah masih tetap di luar, menghampiri para pekerja yang barangkali memberitahukan mereka tuk pulang dan kembali lagi besok dengan memperlihatkan pula senyum ramahnya.
Sedangkan di dalam rumah sana, wanita sibuk di dapur menyiapkan makanan. Sedangkan pria, tepatnya Zhen Chen sendiri sibuk mencari-cari pakaian untuk dikenakan Que Mo, pun menyerahkan satu setelahnya yang seketika diterima canggung oleh Que Mo.
Kebaikan ini, bagaimana bisa membalasnya? Tertera jelas kalimat itu di wajah Que Mo yang mengikuti arahan Zhen Chen tuk mengganti pakaian. Tak tahu pula apakah Zhen Chen menyadarinya atau tidak, karena seperginya Que Mo dari kamar Zhen Chen serta merta memanggil sang adik.
“Tunggu sebentar!”
Tidak sabar menunggu, Zhen Chen pada akhirnya mendekat dan menarik tangan Zhen Xian, membawa ke kamarnya. “Duduk di sana!” tegasnya, jadi bagaimana bisa Zhen Xian tak menuruti? Pun menyaksikan sang kakak mengambil botol yang barangkali botol obat dari meja yang tak tahu pula sejak kapan telah disiapkannya.
“Apa kau benar seorang gadis? Lihatlah lukamu,” ucapnya, berjongkok di hadapan Zhen Xian pun mulai menaburkan bubuk putih tepat pada luka goresan, tanpa lupa pula meniup padahal Zhen Xian tak sama sekali merengek tuk meminta. Anehnya, gadis ini malah tersenyum. “Aku sungguh beruntung memilikimu, Ge.”
“Lain kali jangan pergi sendiri tanpaku. Apa kau mengerti?”
Mengangguk mengerti, pun keduanya berakhir bersipandang penuh arti. Tanpa ragu pula Zhen Chen mengelus lembut kepala sang adik, sebelum akhirnya menyodorkan sebuah tusuk konde yang diperebutkannya dengan Jin Kai, tusuk konde chahua yang juga merupakan jalan baginya tuk memiliki teman baru.
“Whoahhh ....” Menerimanya seketika, tentu tidak akan menolak. “Sungguh cantik ... terima kasih, Ge.” Memeluk erat sang kakak, terus saja Zhen Xian memerhatikan tusuk konde tanpa mampu mengakhiri senyuman yang mungkin saja sulit untuk dihentikan.
__ADS_1
Pun berakhirlah anggota baru yang bergabung, Que Mo, masuk menyaksikan kedekatan kedua saudara ini. Bingung harus bagaimana menyikapi, haruskah keluar dan masuk sebentar lagi? Ataukah berpura-pura seolah tak melihat apa-apa sama seperti kedua saudara Zhen yang tampak tak peduli akan kehadiran dirinya?
“Ge, aku akan menggunakannya setiap hari.” Bangun dari duduk, lagian luka di kedua lutut telah selesai diobati. Tentu, Zhen Xian tak sabar akan mengenakan hadiah indah dari sang kakak, dan tampaknya rasa sakit tak lagi mampu dirasakan apalagi setelah tusuk konde itu terpasang lekat.
Namun, kenapa malah sekarang Zhen Xian memicingkan netranya? Pun berbalik dari cermin, lekat memandang Que Mo yang justru merasa canggung, tapi bertanya-tanya pula arti dari balik pandangan Zhen Xian ini. “Kurasa usia kita tidak jauh berbeda. Apa aku benar?”
“Aku juga sependapat,” tambah Zhen Chen, karena memang kenyataannya penampilan Que Mo kini yang bersih dengan pakaian yang bersih pula bagai menunjukkan asli atau sejatinya rupa pria ini. Tak sama sekali terlihat layaknya preman jalanan, justru terlihat seperti pria muda umumnya dengan sedikit sikap nakal yang masih bisa ditoleransi atau diarahkan oleh orang dewasa.
“Aku berusia 17 tahun.”
“17 tahun ...?” Zhen Xian meyakinkan bahwa apa yang didengar taklah salah. “Itu berarti kau dua tahun lebih tua dariku, dan dua tahun lebih muda dari Chen Ge,” lanjutnya. “Bagaimana aku harus memanggilmu?”
“Harusnya aku yang bertanya terkait hal itu.”
“Tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu. Bukankah kita teman? Jadi panggil saja nama,” sela Zhen Chen yang disetujui oleh Zhen Xian, pun Que Mo juga tak keberatan akan hal tersebut.
Oleh karenanya, keputusan telah disepakati, dan seruan dari orang tua telah menguar seiring dengan menguarnya aroma nikmat pengundang perut keroncongan. Lantas, bagaimana bisa menanti lebih lama lagi, bukan? Godaan begitulah besar, belum lagi bagi Zhen Xian dan Que Mo yang serta merta duduk di meja. Pun ibu menuangkan sup di mangkuk setiap orang, barulah kemudian acara makan dimulai, tapi setelah mendapati kedua orang tua telah makan terlebih dahulu.
“Kalau boleh tahu ....” ucap Que Mo yang memulai pembicaraan. “Aku akan tinggal di mana?”
“Apa maksudmu? Tentu saja di rumah ini,” jawab Zhen Xian.
“Kami masih punya kamar kosong, jadi kau bisa menempatinya,” tambah Zhen Chen.
“Aku tidak ingin merepotkan kalian. Aku bisa tinggal di mana saja asalkan tidak seatap, kalian semua sudah cukup baik menerimaku yang yatim piatu ini. Jadi ....”
“Apanya yang yatim piatu. Sekarang kau sudah punya keluarga jadi berhentilah bicara omong kosong,” potong Zhen Xian, mendiamkan seketika Que Mo. Pun kedua orang tua tak mengatakan apa-apa, membiarkan mereka anak muda menyelesaikan akan seperti apa keputusan akhirnya. Lagian mereka sudah dewasa, sudah waktunya membuat dan menyelesaikan masalah, bukan?
Oleh karenanya, ayah dan ibu hanya menuangkan kembali sup ke dalam mangkuk kosong mereka, diam-diam bersipandang bahkan tersenyum.
“Xian’er, berhentilah,” pinta Zhen Chen, bukan bermaksud apa, tapi Zhen Chen ingin menghormati keputusan Que Mo. “Jika kau tidak ingin tinggal di sini, maka kau bisa tinggal di rumah para pekerja. Aku akan mengantarmu ke sana setelah makan. Bagaimana?”
“Hmmm, baik.”
Kembali melanjutkan makan, saling mengambil dan membagikan lauk dari piring ke piring. Tidak terkecuali dengan Que Mo yang perlahan mulai terbiasa dengan suasana baru, kehidupan baru bahkan nama barunya. Terlahir kembali tanpa merasakan kematian fisik, bukankah ini sungguh berkah berlimpah? Que Mo pun tersenyum memandang satu demi satu keluarga Zhen ini, bagaikan bersumpah akan membalas kebaikan bahkan jika itu nyawanya yang jadi bayaran, Que Mo akan menerimanya dengan tangan yang sangat terbuka.
Notes:
*Ge (Gege) berarti kakak laki-laki.
** Die berarti ayah.
__ADS_1
*** Niang berarti ibu.