
Ketika pikiran tak sedang bersama dengan tubuh, barangkali inilah yang terjadi. Yang mana Que Mo terus saja memerhatikan, menjaga gadis ini tak tertabrak atau menabrakkan diri dalam lalu-lalang keramaian yang ada. Tak sedikit pula dari mereka yang sibuk akan berteriak.
Namun, tetap saja gadis ini bergeming seraya melajukan sepasang tungkai yang bahkan Que Mo sendiri tak yakin jikalau Zhen Xian sadar akan hal itu.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya, terus saja Que Mo menarik gerobak kosong dengan sesekali menoleh ke belakang. “Kau mau ke mana? Ini bukan arah pulang.”
“Mari ke istana!” jawabnya yang serta merta pula dicegat Que Mo. “Aku harus pergi ke sana. Minggirlah, Que Mo.”
“Buat apa lagi ke sana? Kau hanya akan memancing kemarahan Zhen Chen.”
Kebingungan akan bagaimana mengatakannya, tentu sang kakak akan marah. Hanya saja, ada sesuatu yang mengganjal dan ingin segera disingkirkan. Jika tidak, seharian ini akan dihabiskan dengan penuh ketidaktenangan. Belum lagi sang kakak, akankah memberitahukan kenyataannya jika ditanya sepulang kerjanya nanti?
Pun Zhen Xian berani menggeleng, mengartikan tidak. Yang mana cara terbaik dalam menyingkirkan keganjalan jelas adalah mendatangi langsung sumber dari keganjalan itu sendiri. Oleh karenanya, Zhen Xian melesat pergi begitu saja setelah memberikan pilihan bagi Que Mo. Ikut atau tidak.
Jika demikian, bagaimana bisa Que Mo memilih tidak, bukan? Menyusul tanpa lupa pula menarik gerobak kosong. Kembali berjalan berdampingan dengan Zhen Xian yang tersenyum, semacam memberikan rasa terima kasih yang telah ingin menemaninya. Menemaninya yang kian mendekati gerbang masuk dari istana. Di mana Que Mo sendiri membalas senyuman itu dengan arti lain, berupa tindakan yang diambil ini adalah suatu keharusan.
Alhasil, di sinilah keduanya tiba.
Yang mana Que Mo menepikan gerobak, mendapati penjaga dengan mudahnya mengizinkan mereka masuk. Bahkan tanpa perlu repot-repot menunjukkan tanda pengenal atau apa pun itu. Termasuk pula, tak ada yang menanyakan siapa dan buat apa mendatangi istana. Hanya satu hal yang dilakukan penjaga, memerhatikan tusuk konde chahua yang terus melekat di kepala Zhen Xian.
Pun Que Mo kembali menahan Zhen Xian, meminta untuk tidak masuk saja. Namun, Zhen Xian terus saja membawa diri masuk. Yang mana di dalam sini, hampir semua pelayan yang bertemu Zhen Xian akan bersikap aneh tak biasanya. Bukan hanya tak berani melihat atau memandang saja, melainkan pula menghindar bagai Zhen Xian adalah suatu benda mahal yang mudah pecah jika didekati. Bahkan parahnya lagi, beberapa dari pelayan memberikan hormat.
“Apa telah terjadi sesuatu yang tidak kuketahui? Zhen Xian, kau dan Zhen Chen sungguh menyembunyikan sesuatu, bukan?"
“Pertama, mari kita menemui Chen Ge dulu.”
Ucapan itu pun menjawab pertanyaan Que Mo, dan aroma kecurigaan ini kian tercium jelas ketika tiba di Departemen Dekorasi. Yang mana kondisi di sini tidaklah berbeda jauh dengan apa yang terjadi sebelumnya. Pun Zhen Xian kian merasa terganggu akan perlakuan yang didapat ini. Terkecuali satu orang yang tanpa segan mendekat, Zhen Chen yang memandang dengan netra membulat tak menyangkanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Ge, aku tadi di pasar bertemu dengan pelayan yang diusir, wajah mereka ... mereka ....”
“Kau tidak boleh datang ke istana lagi,” potongnya cepat, tak peduli apa pun alasan yang ada dan tak mau pula mendengar. “Que Mo! Cepat bawa dia kembali,” tegasnya.
Pun Zhen Xian tak mau, tak bisa atau tepatnya tak mau mengalihkan pandangan dari sang kakak. “Apa ini semua terjadi gara-gara kasus pelayan yang diusir? Apa semua orang kian percaya dengan rumor yang beredar itu?” tanyanya, seraya sang kakak kembali menegaskan pada Que Mo untuk membawa gadis ini kembali.
Namun, Zhen Xian malah mengatakan sesuatu yang sukses meningkatkan kemarahan sang kakak. Yang mana barangkali Zhen Chen sendiri taklah sadar telah menarik sebelah pergelangan tangan sang adiknya ini tuk tak bertindak gila.
“Ini semua bermula dariku, maka aku pula yang harus menyelesaikannya, Ge. Aku pastinya harus menemui Jin Kai.”
“Apa yang akan kau lakukan? Memohon? Dia adalah Taizi! Semua sudah direncanakan dan satu-satunya cara bagimu saat ini hanya dengan menghindarinya sebisa mungkin!”
__ADS_1
Tak lagi bisa membiarkan pertengkaran dua saudara ini, Que Mo yang berdiam sedari tadi pada akhirnya menyela. Menenangkan dahulu Zhen Chen. “Bisakah kalian menjelaskan padaku permasalahannya apa?” Karena seorang pria sabar seperti Zhen Chen bisa begitulah semarah ini, apalagi kepada sang adiknya. Bukankah hal ini sangatlah tak mungkin? Yang menandakan pula permasalahan tidaklah kecil. “Jin Kai ... apa ini ada kaitannya dengan dia?”
Alhasil, Zhen Chen mengangguk. Namun, tak ada niatan tuk menjelaskan lebih karena memang belum tepat waktunya. Mengubah keputusan sang adik, tentu menjadi fokus utama saat ini. Tak bisa terbayangkan jikalau bertemu dengan Jin Kai, bukan? Kejadian kemarin saja, sudah cukup membuat Zhen Chen begitulah khawatir. Lantas bagaimana bisa, sang adiknya ini masih ada niatan tuk bertemu dengan Putra Mahkota yang hampir saja akan menodai tubuhnya ini?
“Dengarkan aku, Xian’er ... jangan lagi datang kemari. Kau sudah berjanji padaku, apakah kau juga akan terus-terusan mengingkarinya?”
Tertunduk sang adik dibuatnya. Barangkali telah sadar bahwa keputusan tuk menemui Jin Kai memanglah tidak tepat kini. Namun, kehadiran Meng Jun juga Mo Zhu yang terbilang terburu-buru menghampiri ini. Serta merta membuat Zhen Chen paham dan mengerti maksud di balik keterburu-buruan itu, yang mana seketika menempatkan sang adik tepat di belakangnya.
Apa ini yang namanya menyembunyikan? Tapi kenapa harus disembunyikan seperti ini? Di mana Zhen Xian sendiri terus saja berusaha melepaskan diri dari sang kakak, tak paham akan situasi hingga mendapati sosok Lin Feng-lah yang menghadap kini. Barulah, Zhen Xian sadar akan alasan kenapa sang kakak bersikap seperti ini.
“Ada apa kau kemari?”
“Taizi meminta bertemu dengan Zhen Xian di kediamannya.”
“Beritahu Taizi, tugas Xian’er merawat chahua di taman sudah selesai dan mulai sekarang dia bebas. Tidak perlu baginya bertemu dengan Xian’er lagi.”
“Jangan ikut campur jika tidak ingin terluka,” ucap Lin Feng, tapi bukankah ini semacam ancaman?
“Xian’er tidak akan pergi,” tekan Zhen Chen, yang mana sontak pula mendapat hunusan pedang tepat di lehernya. Yang mana pula, Ketua Departemen Dekorasi ini tak juga mengedipkan sedikit pun netranya.
Namun, situasi menegangkan seketika mencair saat ketika Zhen Xian berucap. Pun pula melepaskan diri dari pegangan sang kakak yang menyembunyikannya. Menjadikan Lin Feng pun seketika menarik dan menyarungkan kembali pedang. “Tidak apa-apa, Ge. Biarkan aku pergi.”
“Biarkan aku bertemu dengannya sekali ini. Jangan khawatir dan tunggu saja aku.”
Lin Feng pun segera mengarahkan jalan, yang mana Zhen Xian begitu saja berlalu, meninggalkan Que Mo yang kian pula bertanya-tanya pada Zhen Chen. Zhen Chen yang bergeming, terus memerhatikan sang adik yang kian menjauh dengan sangat dan begitulah khawatir. Mengharuskan pula Meng Jun serta Mo Zhu tuk menghentikan Que Mo jikalau tidak ingin membuat pria sabar ini meledak akan kekesalan.
Yang mana kedua pria inilah yang pada akhirnya dimintai menjelaskan. Menghindar? Tentu Que Mo tak akan membiarkan hal itu terjadi kembali. Saat ini, dan sekarang juga dirinya harus tahu permasalahan selengkapnya.
Sementara dalam kasus Zhen Xian yang masih saja mengekori Lin Feng, justru tak sama sekali terlihat menyesali keputusan. Yang berakhir tiba tanpa disadari, mendapati Jin Kai telah menanti pun memandangnya dengan serius di kediaman yang tak lagi ada satu pun pelayan. Bahkan Kasim Ma yang biasanya selalu ada, kini entah ke mana perginya.
“Kukira kau tidak akan bersedia bertemu denganku lagi.”
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Aku hanya merindukanmu, dan ....”
“Hentikan omong kosong,” potong Zhen Xian, datar sedatar wajahnya yang enggan berhadap-hadapan. “Katakan saja, inti dari keinginanmu memanggilku.”
“Kau kira aku bercanda? Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?”
“Terima kasih sudah menyukaiku. Sungguh! Tapi ... perasaanku hanya menganggap kau teman. Baik teman Chen Ge ataupun temanku sendiri,” ucap Zhen Xian, mau tak mau akhirnya bertukar pandang. “Kau seorang Taizi, pantas mendapatkan yang lebih baik dan berharap pula sikapmu masih sama seperti dulu. Saat aku baru mengenalmu, seorang Jin Kai yang baik dan tersenyum ramah.”
__ADS_1
“Sama seperti Zhen Chen, kau juga menganggapku berubah?”
“Hmm, kau tampak bukan Jin Kai yang kukenal. Kau menyakiti orang lain bahkan diriku, merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Hal itu menjadikan dirimu penuh dengan tipu muslihat dan aku membenci hal itu.”
“Hidup dalam istana membuat diriku harus bersikap seperti itu. Jika tidak, maka aku akan diremehkan dan diinjak-injak. Lantas, tidak bisakah kau menerima diriku yang seperti ini?”
“Aku hanya ingin kehidupan bebas tanpa tipuan apa pun. Hanya sesederhana itu dan kau ... serta tempat ini tidak akan pernah menjadi bagian dari kesederhanaan itu.” Beranjak bangun, pun mendesah. Bagai berada dalam ruangan yang sama seperti ini adalah suatu keberatan yang teramat sangat, menggetarkan sepasang netra yang sejadinya pula membawa diri keluar dari kediaman ini.
Yang mana Jin Kai sendiri, bergeming tanpa mampu melepaskan pandangan dari gadis yang disukainya ini. Jauh dan kian menjauh hingga tak lagi mampu tertangkap penglihatan. “Maka aku akan menggunakan caraku. Cara yang tidak akan kau sukai,” gumamnya, netra begitulah nyalang. Kau akan menjadi milikku apa pun dan bagaimanapun caranya. Tunggu dan lihatlah, Zhen Xian.
Apa ini namanya, jangan bermain-main di area kekuasaan seorang penguasa? Apalagi saat ketika target telah ditetapkan tuk didapatkan. Jika demikian, akan bagaimana Zhen Xian kini? Permainan seperti apa lagi yang akan dimainkan sang Putra Mahkota ini? Di mana Zhen Xian yang belum begitulah jauh dari kediaman Jin Kai, mendapati sosok yang mampu membuatnya tersenyum lega. Sang kakak yang jelas saja menanti dirinya.
Dengan langkah yang sengaja diperlahankan, Zhen Xian mendekat. Yang mana sang kakak pun menoleh ke arahnya. “Apa yang kalian bicarakan? Apa dia menyakitimu atau mengancam?”
“Tidak, aku hanya menegaskan bahwa aku tidak menyukainya dan meminta untuk berhenti memikirkan hal itu.”
“Lalu, apa yang dia katakan?”
“Dia tidak mengatakan apa-apa. Sudahlah! Semua sudah berakhir sekarang jadi jangan khawatir.”
Meskipun sang adik mengatakan demikian, tapi bagaimana bisa tenang? Namun, sejadinya tak menunjukkan hal tersebut. Cukup diri seorang saja yang merasakan, sang adik tidak perlu. “Aku akan secepatnya menyelesaikan urusanku dan keluar dari istana, secepatnya.”
“Hmmm, baik.”
Karena Zhen Xian seorang gadis, seorang gadis tidak perlu begitulah menderita. Lagian, penderitaan sang adik adalah siksaan bagi seorang kakak. Apalagi orang tua mereka yang tak tahu-menahu akan keterlibatan mereka dengan sang Putra Mahkota. Sebagai putra tunggal, sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya tuk menjaga seluruh keluarga, bukan?
Oleh karenanya, sepanjang perjalanan kembali Zhen Chen ke Departemen Dekorasi, tiada hentinya Zhen Xian menoleh pada sang kakak. Mendapati kakaknya ini begitulah termenung, dan tiap kali ditanyakan, sang kakak hanya menggeleng menanggapi.
Belum pernah aku akan sediam ini saat bersama, semacam ada perasaan yang membuatku enggan pula berucap apa-apa. Suasana apa ini? Kenapa begitulah tak enak?
Belum lagi jikalau bertemu dengan Que Mo nanti, pasti dia akan menuntut penjelasan lebih panjang lagi. Dari mana pula harus menjelaskan? Apa dari saat ketika Jin Kai bertindak tak senonoh kemarin?
Tidak, tidak, Que Mo bisa-bisa mendatangi Jin Kai dan membuat masalah lebih kacau lagi. Pun Zhen Xian mendesah, desahan yang tanpa sadar pula telah membawa dirinya dan sang kakak tiba, mendapati Que Mo begitulah bersikap aneh. Semacam, seseorang yang telah tahu segala permasalahan yang ada. Yang mana, hal itu diyakini memang adanya berkat Meng Jun dan Mo Zhu yang mengangguk, mengharuskan pula Zhen Xian meminta maaf telah merahasiakan hal ini.
“Sudahlah ... tapi apa kalian akan baik-baik saja? Dia adalah Taizi bukan orang biasa,” ucap Que Mo.
“Benar, apa kalian tidak takut? Bagaimana jika Taizi menggunakan posisinya untuk ....”
“Mo Zhu, berhentilah mengatakan sesuatu seperti itu,” potong Meng Jun, bahkan menutup paksa mulut Mo Zhu, memberi kode untuk diam yang kemudian mengarahkan pandangan pada Zhen Chen.
Alhasil, tidak lagi ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Alih-alih Putra Makhota yang tak di sini, Zhen Chen jauh lebih menakutkan kini. Bahkan Zhen Xian sendiri, tak tahu harus bertindak bagaimana.
__ADS_1