Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 11


__ADS_3

Netra masihlah enggan menyapa hari, tapi tubuh dibangunkan setengah bagian menduduki pinggiran ranjang sambil melakukan sedikit peregangan memutar-mutar leher. Pun tungkai dibawa mendekati jendela yang masih setia menolak masuk udara segar, dan begitu dibukakan, sepasang netra gadis muda bertusuk konde chahua ini seketika berbinar yang bergegas pula membawa kedua tungkainya berlarian penuh semangat keluar kamar pun rumah.


Semangat pagi, semangat baru yang diawali pula dengan kecerahan sang surya. Senyuman menjadi salah satu bentuk balasan Zhen Xian dalam mengawali harinya ini. Namun, siapa yang membuatnya penuh semangat seperti ini? Tak terlihat pula siapa pun di sekitaran yang barangkali menyapanya, cuma para pekerja yang berlalu-lalang sibuk menjalani rutinitas harian.


“Kau sudah mekar,” gumamnya, mendekatkan penghidu pada apa yang dikatakan mekar. Chahua, bunga merah muda kesukaannya. Tak heran, Zhen Xian sukses dibuat begitulah sesenang ini sampai titik di mana senyuman itu sendiri sulit tuk dihilangkan.


Meskipun benar hanya satu bunga saja, tapi satu bunga berhasil mengalahkan mekarnya bunga di lahan luas membentang sana. Ayah yang menyaksikan, bagaimana bisa tak ikut senang dibuatnya?


“Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu? Pergilah sarapan sebelum makanannya dingin, setelahnya kau bebas memerhatikan chahua itu sampai layu.”


“Die, berhentilah menggodaku,” balas Zhen Xian yang mana sang ayah terkekeh dibuatnya, tapi ... apa lagi yang dicari putrinya ini? Yang ternyata masihlah ingat betul apa yang terpenting jauh melebihi bunga kesukaannya. “Chen Ge ... ke mana dia, Die? Aku tidak melihatnya.”


Pun begitu sang ayah memberi tahu, kesenangan yang tadinya tak mampu diusik apa pun runtuh seketika. Pagi yang tadinya dirasakan cerah, kini telah berganti mendung bersamaan semilir angin yang kian terasa dingin alih-alih menghangat.


Bagaimana bisa sang kakak pergi tanpa memberitahunya? Bagaimana bisa bahkan tak pamit sama sekali? Dan bagaimana bisa lainnya yang membawa pertanyaan demi pertanyaan terus terngiang-ngiang dalam kepala pun ketika diri sibuk menyantap sarapan.


Sementara Zhen Chen, yang menjadi pusat pertanyaan tersebut hanya tahu menyibukkan diri bersama tim. Tentunya dalam istana, Departemen Dekorasi tuk melanjutkan kembali pembahasan yang tertunda kemarin atau barangkali memutuskan akan bagaimana menyelesaikan babak akhir dalam kompetisi yang diadakan kerajaan.


Pasalnya, sana-sini berserakan lembaran demi lembaran kertas bernodakan tinta. Bukankah ini artinya ide telah ada? Semakin diperkuat lagi berkat Zhen Chen yang memegang dua lembar kertas lengkap dengan warna yang tergambar di dalamnya. Apa di antara dua desain ini?


“Aku ingin kita menghias dengan sederhana, tapi terlihat berkelas dengan warna khas kerajaan serta warna kesukaan Taizi. Tidak terlihat berlebihan, tapi tidak murahan. Bagaimana?” tanyanya, melempar pandangan pada setiap anggota tim yang tampak kurang setuju atau bahkan kurang puas akan usulannya.


Katakan saja, Mo Zhu salah satu yang bagai mewakili jawaban lainnya. Mengungkapkan bahwa pesta kerajaan, bukankah harusnya mengutamakan kemewahan? Pun lainnya mengangguk-angguk, tapi tidak pula ada yang diam, bingung mana yang terbaik. Meng Jun misalnya.


“Mewah tidak selalu berarti terbaik, dan kurasa hal itu sudah biasa di istana. Karena itu, aku ingin mengutamakan kesederhanaan. Suatu kesederhanaan yang dapat memukau mata dan mengubah pikiran banyak orang, bahwa sederhana taklah kalah levelnya dari kemewahan.”


“Aku mengerti maksud rencanamu. Kurasa hal itu pantas untuk dicoba,” dukung Meng Jun, pandangan memancarkan kepuasan akan ucapan Zhen Chen, dan hal itu bagai suatu wabah yang menulari anggota tim lainnya.

__ADS_1


“Baiklah! Mari kita coba,” seru antusias Mo Zhu, heboh sendiri akan tepuk tangan yang berakhir diam berkat kecanggungan. “Zhen Chen, kau lanjutkan ... lanjutkan penjelasanmu,” pintanya kemudian, menggaruk-ngaruk bagian belakang leher yang kemungkinan besar taklah gatal.


“Untuk saat ini, hal utama yang harus kita lakukan tak lain menentukan tempat yang akan digunakan. Barulah kemudian memilih jenis bunga dan mulai merancang dekorasi yang telah kita desain.”


“Apa mungkin ada ruang kosong yang bisa digunakan?” tanya Meng Jun, tepatnya bertanya pada anggota tim yang memang berasal dari Departemen Dekorasi Kerajaan. Pun jawaban yang didengar, sukses membubarkan rapat tim.


Berlokasi tak jauh dari Departemen Dekorasi, hanya di sisi samping tepatnya ujung dari bangunan utama. Jika diperhatikan dari luar, bangunan ini harusnya berukuran cukup besar. Namun, pertanyaannya, kenapa bangunan yang terlihat masihlah bagus ini malah dibiarkan kosong? Sementara ruangan sebelah dan sebelahnya lagi ditempati.


Alhasil, semua menjadi jelas ketika pintu dibuka dan udara pengap dari dalam menguar. Anggap saja sebagai bentuk penyambutan bagi mereka, terutama Zhen Chen selaku yang masuk duluan. Mendapati sisa-sisa dedaunan ataupun mahkota bunga yang telah mengering. Tak yakin, Zhen Chen menekuk kedua lutut pun memastikan sendiri dengan tangan bahwa apa yang terlihat memanglah benar adanya.


“Apa ini dulu tempat penyimpanan bunga?” tanya Mo Zhu, mengendus-ngendus yang kemudian berakhir bersin pun terbatuk-batuk kecil. “Tampaknya benar, aku masih bisa mencium aroma khasnya.”


“Tapi kenapa tidak digunakan lagi?” tambah Meng Jun, sibuk memeriksa dinding termasuk pula memerhatikan ventilasi dan lainnya yang mampu memberikan jawaban setidaknya.


“Tempat ini kurang bagus untuk menyimpan bunga. Jika siang akan sangat kering dan malam akan sangat lembap,” jawab Zhen Chen. “Mari kita pilih tempat ini,” lanjutnya, pun Meng Jun dan Mo Zhu sontak bertukar pandang. Di mana keduanya saling melempar kode tuk bicara dengan Zhen Chen yang tampak telah bulat keputusannya.


“Mo Zhu benar, kurasa lebih baik kita mencari ruangan lain saja,” tambah Meng Jun.


Namun, reaksi yang didapat malah gelengan. “Semakin besar risiko ... maka akan semakin besar peluang kita menang,” jawabnya tersenyum, juga dipenuhi keyakinan. Mungkin barangkali Zhen Chen telah menata ruangan ini sesuai dengan desain yang telah dibuat tepat dalam pikirannya itu. Lagian, siapa yang bisa menebak isi pikiran seorang jenius bunga ini? Tak heran, saat Mo Zhu masih berusaha menentang, Meng Jun malah menghentikan. “Ikuti saja rencananya. Dia seorang jenius bunga, apa kau lupa?”


“Benar ... aku sampai lupa akan hal itu.” Membenarkan, Mo Zhu berakhir tersenyum memerhatikan Zhen Chen yang memandang balik kedua teman barunya ini. “Jadi, haruskah kita mulai membersihkan tempat ini?” tanyanya, dan Zhen Chen mengangguk menyetujui.


Ruangan sukses didapat, desain seperti apa sebelumnya pun telah diputuskan. Sekarang, bersih membersih menjadi kegiatan utama tim satu ini. Belum lagi, tim dua dan tiga yang menyaksikan hanya bisa menggeleng, meremehkan bahkan mulut tak hentinya mengatakan betapa tak masuk akalnya menjadikan ruangan itu sebagai bagian dari babak akhir kompetisi. Entah karena terlalu jenius hingga menjadi bodoh, atau memang karena sombong.


Namun, Zhen Chen mana mau memedulikan orang-orang yang merendahkannya itu. Jangan mencari masalah, lagian dalam dunia ini akan selalu ada orang yang suka dan tidak suka pada diri kita, bukan? Tak lupa pula Zhen Chen memberi tahu Meng Jun dan Mo Zhu yang siap menerkam, tuk berhenti.


Pekerjaan menanti, lebih baik menyelesaikannya, bukan? Alhasil, siang akhirnya tiba. Ruangan telah selesai dibersihkan dengan sangat baik, sementara makan siang tentu tidak boleh dilewatkan. Hanya itu waktu di mana bisa bersantai, karena setelahnya mereka harus mulai memilih bunga serta mencocokkan rangkaian pun belajar merangkai sesuai dengan desain yang telah dibuatkan Zhen Chen.

__ADS_1


Sungguh berbeda jauh dengan seseorang yang kini menghabiskan siang seorang diri, duduk di teras memerhatikan chahua. Tak tahu pula ke mana pikirannya berkelana, jelas melamun berkat seruan demi seruan Que Mo yang tak ditanggapi.


Oleh karenanya, jangan salahkan Que Mo yang melempar kerikil. “Apa yang kau lamunkan? Kau sudah makan siang?”


“Tidak ada selera,” lirihnya. Namun, sesaat kemudian rasa semangat entah dari mana datang merasuki pun membawa tubuh duduknya bangun. “Ehhh ... apa kau sibuk?”


“Lumayan. Kenapa?”


“Aku ingin pergi ke kota. Benarkah kau tidak bisa ikut?”


“Jika bisa pasti akan ikut denganmu, tapi sekarang ....” Menggeleng, sementara para pekerja berseru memanggil-manggil. “Lihatlah, aku bahkan tak bisa berlama-lama mengobrol denganmu.”


“Baiklah, aku pergi sendiri saja kalau begitu,” ucapnya yang sontak saja pergi. Dengan cepat pula Que Mo menghalangi, tak mengizinkan. Namun, Zhen Xian rupanya keras kepala juga, sampai titik di mana barangkali telah melupakan janjinya pada sang kakak. “Die! Niang! Aku pergi dulu!” pamitnya yang serta merta memancing ibu di dalam rumah sana keluar menanyakan hendak pergi ke mana.


“Ke kota, mencari makan.” Mengeluarkan kantong dari lengan bajunya yang diyakini kantong uang berkat suara gemerincing koin. “Aku tidak akan berbuat masalah, dan akan berhemat pula.”


Berlalu pergi begitu saja tepat ketika ibu memberikan izin, sementara Que Mo menyusul. Masih mencoba menghentikan Zhen Xian, tapi diabaikan begitu saja hingga Que Mo hanya bisa melihat punggung Zhen Xian yang kian menjauh. Tak sedikit pula gadis itu sangatlah senang seolah ini pertama kalinya dibebaskan dari kungkungan, dan semakin menjadi-jadi ketika Zhen Xian sampai ke kota. Gerak-geriknya benar-benar layaknya tak pernah mencium aroma kebebasan.


“Akhirnya aku bisa merasa hidup lagi,” ucapnya, dan pilihan pertama yang dituju memanglah rumah makan. Tepatnya rumah makan tempat di mana sang kakak dulu makan bersama teman barunya yang terlihat berwibawa nan berkelas, hari di mana dirinya dan Que Mo dikejar-kejar yang berakhir berteman pula kini. “Whoaahhh ...! Ramai sekali.”


Tak cukup terpukau saja, pandangan mengedar ke seluruh bagian mencari-cari meja kosong, tapi tempat ini sangatlah ramai. Pun seorang pelayan pada akhirnya mengantar naik ke lantai dua. Benar saja, satu meja kosong tepat di bagian balkon siap menyambut kedatangannya.


“Aku pesan 2 ekor bebek panggang utuh, juga sebotol arak.”


Selain itu perlu diketahui, tak hanya menikmati makanan, tapi bisa pula menyaksikan pemandangan akan kesibukan orang-orang di bawah sana. Namun, yang paling memukau adalah ... gerbang utama istana yang menjulang jauh lurus di depan sana terlihat sangatlah jelas. Tak heran, Zhen Xian dibuat kembali melamun. Barangkali merindukan sang kakak jauh di dalam sana.


“Zhen Xian ... kaukah itu?”

__ADS_1


__ADS_2