
Kediaman Putri Mahkota.
Benar, di sinilah Zhen Xian kini berada. Memohon pada Dayang Feng yang barangkali meminta untuk diizinkan bertemu langsung Putri Mahkota Bai Hua. Yang mana Dayang Feng pun tampak kebingungan, mendapati Zhen Xian begitulah kacau dari terakhir kali dirinya bertemu lalu.
Namun, jika diizinkan bertemu dengan sang Putri, akankah ke depannya baik-baik saja? Mengingat terakhir kali Putri Mahkota Bai Hua menemui Zhen Xian, Putra Mahkota Jin Kai cukuplah marah.
“Dayang Feng, kumohon padamu.”
Pun Dayang Feng segera menghentikan Zhen Xian, bagaimana bisa membiarkan gadis menyedihkan yang mengkhawatirkan kakaknya ini berakhir bersujud? Jika harus bersujud, bukankah itu seharusnya pihak terkait dengan Putra Mahkota-lah yang seharusnya bersujud?
“Baik, baik. Aku bawa bertemu Taizifei sekarang,” ucap Dayang Feng, pasrah. “Izinkan Nona Zhen masuk,” titahnya yang serta merta pelayan membukakan pintu, bahkan Dayang Feng meminta seluruh pelayan yang tugas jaga segera menjauh dari kediaman. “Silahkan masuk, Nona.”
Tidak seperti kali pertama dulu mendatangi kediaman ini. Tanpa ragu Zhen Xian melesat masuk begitu saja, mengekori Dayang Feng di mana kedua tangan saling terpaut tak tenang seraya netra bergetar ingin menangis. Hanya saja, ini bukan saatnya kembali melanjutkan tangisan, bukan?
Yakin, dan terus meyakini diri. Itulah yang Zhen Xian lakukan hingga dirinya benar-benar berhadapan dengan Putri Mahkota kini, dan Dayang Feng pun mengambil posisi tepat berdampingan dengan sang Putri yang sedang duduk, pun sebuah buku tergeletak dalam posisi terbuka di meja.
Hening. Yang mana Zhen Xian akhirnya bersujud. “Taizifei, Chen Ge tidaklah bersalah. Aku bisa menjamin dengan nyawaku kalau bukan dia pelakunya, kumohon bantu aku menyelamatkannya ... kumohon padamu, Taizifei.”
Menutup buku, pandangan diarahkan pada gadis malang ini. “Bangunlah dulu, dan mari bicara baik-baik.”
Namun, tak pula Zhen Xian menanggapi. Justru air mata-lah yang kembali meluruh, bahkan terbilang deras sampai menetes di ujung dari dagunya yang bergetar menahan isakan. Menyaksikan ini, sebagai sesama wanita bagaimana bisa Putri Mahkota tahan terus-terusan melihatnya? Belum lagi, orang yang membuat mereka begitulah tersiksa hatinya tak lain juga berasal dari orang yang sama, sang suami, Jin Kai.
Seraya membangunkan diri dari duduk, Putri Mahkota merogoh sebelah lengan pakaiannya mengeluarkan sapu tangan sutra biru muda. Dengan lembut, sang Putri Agung ini menyeka air mata Zhen Xian. “Aku tahu kakakmu tidak bersalah, jadi berhentilah menangis,” ucapnya, membantu membangunkan Zhen Xian berdiri kembali. “Tapi aku tidak bisa membantumu, Taizi dalam kondisi parah dan itu adalah fakta. Kenyataan kakakmu bersama dengan Taizi kemarin malam, itu juga merupakan bukti kuat,” lanjutnya.
__ADS_1
“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin berdiam diri, bukan?”
“Saat ini ... hanya itu yang bisa kau lakukan, menunggu Taizi bangun. Setelah itu, lakukan apa yang diminta Taizi maka kakakmu akan selamat tanpa terluka sedikit pun.”
“Taizifei aku tidak mengerti maksudmu? Kenapa aku harus mengikuti perkataan Taizi?”
“Lebih baik kau tidak tahu apa pun, dan hanya mengikuti perkataanku. Percayalah, kakakmu akan baik-baik saja.”
“Aku ingin tahu,” ucap cepat Zhen Xian, terkesan menyela. Lagian ini terkait dirinya, jadi sudah sepantasnya tahu. “Beritahu aku apa yang tidak kuketahui.” Dan Putri Mahkota-lah yang sukses dibuatnya terdiam, menimbang-nimbang seraya membawa diri beberapa langkah menjauhi Zhen Xian.
Katakanlah, Zhen Xian mampu merasa yakin seperti ini karena belum begitulah paham akan situasi. Barangkali pula gadis muda ini tak akan, atau tak terbayangkan sama sekali apa yang telah menghantam hidup bebas dirinya dan juga saudaranya. Karena semua, memanglah tak sesederhana itu, tepatnya tak ada yang sederhana jikalau sudah menyangkut kehidupan dalam istana.
“Kau yakin siap menerima semuanya?” Meskipun tahu jawaban yang akan didapat dari Zhen Xian adalah apa, tetap saja Putri Mahkota tak ingin melepaskan peluang di mana barangkali gadis muda ini akan menolak ataupun menggeleng. “Baik, sesuai dengan keinginanmu ... maka akan kuberitahukan.” Pun jarak kembali dipersempit, yang mana memanglah Zhen Xian ini telah membulatkan tekad sebegitu besar dan matangnya. Jujur saja, Putri Mahkota sempat merasa kagum akan keberanian yang didapati dari gadis ini.
“Tidak mungkin. Tidak ada alasan bagi Taizi melakukan hal-hal ini, hubungannya dengan Chen Ge terbilanglah baik, lantas kenapa harus membuat Chen Ge mendekam dalam penjara?”
“Semua hanya demi menjadikanmu selirnya.”
DEG!
Kali ini, ucapan Putri Mahkota sukses menggoyahkan sepasang tungkai Zhen Xian. Namun, Zhen Xian tak ingin disentuh siapa-siapa yang barangkali semacam bentuk pertahanan diri di kala kabar mengejutkan ini. Dirinya, hanya diri sendiri-lah yang saat ini mampu dipercayai. Sedangkan kepala, jelas saja terus memproses hal yang tertangkap sepasang indra pendengarannya.
Yang mana kian diproses dan dicerna, kian pula tungkai tak lagi mampu menahan sampai titik dirinya terduduk lemas.
__ADS_1
“Taizi sengaja menyebarkan rumor di masyarakat terkait Jenderal Wei, lalu menutup rumor tersebut dengan kejadian keracunan untuk memaksamu menerimanya. Rencana itu, selain mendapatkan dirimu juga mampu mendapatkan kepercayaan Huangdi. Hasilnya, Huangdi tidak akan protes apa pun saat kau diangkat sebagai selir Taizi.”
“Penuh dengan tipuan dan muslihat, Taizi ... apa dia selalu bersikap seperti ini?”
“Orang yang tinggal dalam istana tidak mempelajari sikap ini dari guru mereka, tapi keadaan akan membawa diri kita sendiri untuk perlahan belajar dan memahami hal-hal demikian, Zhen Xian.”
Pun Zhen Xian seketika mencengkeram erat kain pakaiannya. Entah pikiran jelek seperti apa yang baru saja terlintas di benaknya, karena jelas dari wajah yang berakhir digeleng-gelengkan itu semacam seseorang sedang mengenyahkan pikiran. Namun, jika tidak bertanya maka tidak akan tahu pula kenyataannya. Sementara situasi dan kondisi saat ini telah seburuk ini, maka sekalian saja biarkan hal-hal buruk menimpa di waktu bersamaan saja.
Zhen Xian, berakhir memberanikan diri melempar pandangan pada Putri Mahkota. “Apa mungkin ... kesibukan Chen Ge sebelumnya dalam pekerjaan, juga bagian dari rencana Taizi?” tanyanya yang melirih. Jikalau ada embusan sedikit saja angin, sudah dipastikan suara itu tak akan mampu tertangkap Putri Mahkota yang hanya terdiam kini. “Ternyata ... memang Taizi.” Terkekeh pahit, perlahan memaksakan tungkai kembali berdiri sebagaimana harusnya.
Tertatih-tatih, Zhen Xian membawa selangkah demi selangkah diri keluar dari ruangan. Meninggalkan kediaman sang Putri dengan pikiran serta hatinya tidak lagi dalam kesepakatan melainkan bertarung hebat. Sedangkan jiwa tak lagi menyatu dalam tubuh, tak heran apabila tubuhnya kini mulai begitulah kelelahan seraya napas memberat seiring dengan langkah tak tahu akan membawa ke mana terus dilajukan.
Apa ini akhir dari ceritaku? Apa benar aku harus hidup dalam tempat dan orang yang tidak kusukai? Ge, aku yakin kau memintaku untuk tidak melakukannya, bukan? Tapi ... aku juga tidak bisa melihatmu terkurung apalagi terluka dalam penjara itu.
Tahu-tahu begitu sadar, diri telah tiba pada suatu tempat yang menyajikan kolam. Tempat yang pernah ia datangi bersama sang kakak untuk menikmati makan siang tenang dalam istana, kenangan sewaktu itu pun tanpa dimintai hadir begitu saja. Memecahkan tangisan Zhen Xian yang tak lagi ingin ditahan, berbaur dengan angin yang menarikan dedaunan dari pohon dedalu sekitaran. Setidaknya pepohonan ini mampu sedikit meredam isakan tangis yang ada, di mana Zhen Xian sendiri terlihat memukul-mukul dadanya.
Bersamaan dengan itu pula, sehelai daun dedalu terlepas dari ranting pun terbawa angin melayang-layang bebas kian menjauh. Inilah kebebasan, bukan? Tak ada siapa pun yang berani menghentikan arah terbangnya seramai dan sesepi apa pun tempat yang telah dilalui. Orang-orang dalam istana nan luas ini bagai tak melihat dan hanya sibuk akan aktivitas masing-masing yang entah apa itu.
Hingga akhirnya, sehelai daun dedalu ini mendaratkan diri. Bukan karena ingin, tapi lebih kepada suatu hal menariknya untuk turun. Yang mana akhirnya menjadi injakan pun menempel pada sepatu dari seorang pria yang diketahui penjaga penjara, membawanya masuk ke dalam lorong berdinding obor api menyala. Mendapati Zhen Chen terduduk bersenderkan punggung pada dinding, termenung.
Apa pun yang terjadi, kumohon padamu untuk tidak menyetujui apa pun yang dikatakan Jin Kai. Jangan bertindak apa pun, Xian’er ... kumohon jangan.
Mendesah, jenius bunga tertuduh ini pun akhirnya menundukkan wajah seraya isak tangis mulai terdengar memenuhi ruangan kurungannya ini. Yang mana dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda, Zhen Chen dan Zhen Xian menangis saling memikirkan satu sama lain dalam hati dan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Namun, akankah keputusan yang mereka ambil sama? Akankah permohonan Zhen Chen pada sang adik sungguhlah terjadi? Atau akankah sehelai daun dedalu kembali terbang bebas ke luar sana untuk menyampaikan pesan hati Zhen Chen pada Zhen Xian? Karena jikalau tidak, bersiaplah akan permainan sesungguhnya.