Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 16


__ADS_3

Bagaimana bisa kau menanyakan hal itu sesantai ini, Xian’er? Menunduk, Zhen Chen benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi Jin Kai selaku yang ditanya, begitulah diam. Pun parahnya lagi sang adik malah kembali mempertanyakan hal yang sama.


Oleh sebabnya, jangan salahkan Zhen Chen yang malah menyumpal mulut sang adik dengan sepotong kue, menggeleng-geleng penuh penuntutan tuk tak bertingkah lagi. Sementara waktu terasa telah berhenti, memampukan Zhen Chen seorang-lah yang hanya bisa bergerak ataupun memahami situasi mengagetkan ini.


“Kurasa, gadis ini linglung dan barangkali lupa sedang berada di mana, jadi ....” Tak mampu melanjutkan, justru kali ini Zhen Chen yang dibuat terdiam menyaksikan betapa lepasnya tawa sang Putra Mahkota. Terlebih di hadapan orang yang belum begitu lama dikenal, apa sebegitunya Jin Kai merasa nyaman? Sampai dirinya mempertunjukkan sifat yang diyakini Zhen Chen, tak akan Jin Kai tunjukkan pada anggota keluarganya sendiri.


Bukankah memang begitu keluarga kerajaan? Penuh aturan, tak boleh bersikap seperti ini ataupun seperti itu, dan hal ini memanglah bukan rahasia lagi. Apalagi raja yang memimpin saat ini terbilang sangatlah tegas. Yang mana aturan-aturan itu perlahan-lahan akan mendewasakan paksa seseorang.


“Aku benar-benar tidak pernah mendapat pertanyaan selangsung ini sebelumnya,” ucap Jin Kai, berkali-kali berdeham tuk menghentikan tawanya yang kian mereda. Sementara Zhen Xian sendiri, malah berteriak protes pada sang kakak dengan mulut penuh. Tega sekali menyumpal mulutnya, pun Zhen Xian berusaha mengunyah dan menelan pelan.


“Makanya berhentilah menanyakan pertanyaan semacam itu.”


“Tidak apa-apa. Malah aku merasa senang karena itu berarti Zhen Xian benar-benar menganggapku sebagai teman, dan bukannya Taizi,” henti Jin Kai, memandang Zhen Xian kemudian. “Jadi ... menurutmu berapa usiaku?” tanyanya balik.


“Jin Kai, kau tidak perlu menjawab pertanyaan itu.”


“Kurasa kau di usia yang sama dengan Chen Ge. Bukankah begitu?”


“Benar. Karena itu kau perlu memikirkan kembali bagaimana akan memanggilku mulai sekarang.”


“Aku hanya akan memanggilmu Jin Kai atau Taizi. Chen Ge sangat berharga dan penting, karena itu aku hanya akan memanggil Gege untuk satu orang saja, yaitu Chen Ge,” jelas Zhen Xian, tersenyum.


Tanpa segan pula, Zhen Xian mengajak bersulang, menyudahi pertanyaan yang sukses menghibur sang Putra Mahkota dan mengejutkan sang kakak. Menikmati camilan unik, dalam artian camilan yang hanya terdapat dalam kerajaan saja.


“Kau tidak merekayasa hasil kemenanganku, bukan?”


“Aku sangat yakin kau akan menang atas usahamu sendiri, jadi bagaimana bisa aku melakukan hal itu?” Tersenyum, tapi Zhen Chen tampak belumlah yakin. “Perintah yang kuberikan pada juri hanyalah posisi Ketua Departemen Dekorasi. Untuk hal lainnya, aku sama sekali tidak ikut campur.”


“Aku bisa merasa tenang kalau begitu,” Mengajak bersulang, tentu Jin Kai menerimanya dengan senang hati. Bahkan tak cukup dengan sekali saja, melainkan beberapa kali.


“Apa aku boleh sering-sering datang ke istana menemani Chen Ge?”


“Tentu saja. Jika aku senggang, kau bahkan boleh menemuiku untuk membunuh waktu bosanku di istana. Sama halnya denganmu, Zhen Chen.”

__ADS_1


“Syukurlah. Ge, aku akan datang bersamamu setiap hari ke sini.”


Barangkali saking riangnya, atau memang gadis ini tak lagi mampu menahan keinginan tuk melihat-lihat lebih dekat perabotan mewah kediaman Jin Kai. Entahlah, yang pasti pemilik kediaman pun tak mencegah dan membiarkan saja Zhen Xian menyentuh bahkan berkeliling. Di mana terdapat pula ruang baca, tempat dengan berbagai jenis buku yang tidak dipahami oleh Zhen Xian pastinya.


“Kalian benar-benar tidak pernah berpisah sehari pun, bukan?”


Mengangguk membenarkan, Zhen Chen melihat ke arah Zhen Xian dengan senyuman yang sulit diartikan. “Bagiku dan Xian’er, kebersamaan sudah melekat. Akan aneh dan kurang rasanya jika kami tidak bersama. Selain itu, dia adik yang sangat kucintai.” Mengembalikan pandangannya pada Jin Kai, akhirnya.


Apa biasanya saudara akan bersikap dan menatap penuh perasaan seperti ini? Atau mereka ....


Tersenyum dalam gelengan, Jin Kai jelas saja membuang pikiran konyol yang tak masuk akal. Berakhir mengajak Zhen Chen bersulang kembali sambil mengobrol ringan layaknya teman pada umumnya.


Sebagai Putra Mahkota, bagaimana bisa Jin Kai memahami arti sesungguhnya dari persaudaraan. Dalam tempat tinggalnya, istana ini, saudara adalah hal yang harus selalu diwaspadai. Tak hanya itu, bahkan teman saja tak dimiliki karena memang demikian harusnya seorang Putra Mahkota. Tak boleh ada kelemahan, tak boleh membuka peluang bagi orang lain tuk mendekat yang berakhir menusuk di kemudian hari.


Kesepian, jelas itu harga yang harus dibayarnya.


Sedangkan pertemuan dengan dua saudara Zhen ini, harus dikatakan apa? Suatu kebetulan ataukah bukan? Namun, kedekatan yang kian tumbuh di antara mereka menjadikan Jin Kai paham, apa arti dari suatu kehangatan di antara saudara yang dipercayainya selama ini taklah ada, ternyata memanglah ada.


Tentu Jin Kai sangatlah senang akan pelajaran baru yang tak mungkin didapatnya dari dalam istana. Mungkin sebab itu pula, ketika malam mengambil alih, Putra Mahkota ini tanpa segan meminta Lin Feng, pengawal pribadinya tuk menyiapkan tandu. Yang mana seekor kuda hitam nan gagah begitulah patuh menanti.


Zhen Xian membenarkan ucapan sang kakak, tapi Jin Kai sama sekali tidak peduli dan malah memaksa mereka untuk masuk segera dalam tandu. Bahkan, meminta Lin Feng yang mengantar kepulangan mereka.


“Mereka tamu juga temanku. Ingat untuk menjaga baik-baik,” titahnya.


Pun Zhen Chen menyingkap tirai tandu. “Ini kali terakhir aku menerima perlakuanmu. Setelahnya, aku pasti akan menolak tegas.”


“Aku tahu, sampai jumpa lagi. Zhen Xian, kau juga,” ucapnya santai, bagai tak begitu menanggapi serius ucapan Zhen Chen. “Lin Feng, berangkatlah.”


Serta merta Zhen Xian dibuat melambaikan tangan, membuat Jin Kai kembali membalas lambaian dengan senyuman yang begitu hangat, dan mungkin karena alasan itu pula Kasim Ma ikut terbawa akan perasaan senang Putra Mahkota-nya ini.


“Taizi, kau terlihat sangat bahagia bahkan sering tersenyum. Apa mereka teman yang kau bicarakan sebelumnya?”


“Benar, itu mereka. Saat bersama, aku merasa diriku bukanlah Taizi, melainkan hanya seorang pria bernama Jin Kai dan hal itu membuat bebanku berkurang.”

__ADS_1


“Taizi,” lirih Kasim Ma, ikut mengalihkan pandangan pada apa yang Jin Kai masih belum bisa lepaskan. Padahal tandu, hampir tak lagi bisa tertangkap pandangan. Entah apa yang ada dalam pikiran Putra Mahkota-nya ini. Kasim Ma, sukses dibuat mendesah.


Sedangkan dua saudara Zhen, malah dibuat mendesah penuh kelegaan. Kenyataan siapa Jin Kai memang masihlah belum dapat dipercayai rasanya. Bagaimana bisa ini terjadi? Pun Zhen Xian dibuat mengelus dada.


“Sungguh menegangkan. Jin Kai adalah Taizi?! Tidak heran dia terlihat begitu berbeda saat pertama kali bertemu.”


“Kupikir kau sama sekali tidak gugup.”


“Ge, aku hanya gadis 15 tahun. Bagaimana mungkin tidak gugup? Apalagi saat pertama tahu tadi, jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat dan mulai memikirkan kembali apa ada perkataanku sebelumnya yang menyinggung dirinya.”


“Meskipun dia menganggap kita temannya, tapi dia tetap Taizi. Jadi jika bertemu di istana, jagalah sikapmu dan sebisa mungkin jangan terlalu sering bertemu atau gosip akan mulai beredar. Apa kau mengerti?”


“Bagaimana denganmu? Apa ini juga berlaku untukmu, Ge?”


“Tentu saja. Perbedaan status kita sangat jauh dan tempat itu adalah istana, tempat yang sangat berbahaya untuk orang biasa seperti kita.”


Zhen Xian mengangguk paham, mulai menggantikan topik pembicaraan alih-alih terus membicarakan Jin Kai. Tepatnya mengenai posisi resmi yang akan Zhen Chen jalani di istana mulai besok. Hal itu tentu membuat Zhen Xian semangat dan terus memuji sang kakak di sepanjang perjalanan.


Tak tahu pula apakah Lin Feng selaku yang menjadi kusir di luar sana mendengar, yang pasti Zhen Xian tak mampu menyembunyikan kesenangannya. Menjadikan perjalanan mereka pun dipenuhi keceriaan demi keceriaan.


Tak heran, lamanya perjalanan tak terasa sama sekali. Pun tandu akhirnya berhenti, tepat di depan rumah. Yang mana ayah dan ibu, termasuk pula Que Mo yang menanti kepulangan mereka di teras terheran-heran akan kehadiran tandu tak biasa ini. Pun ayah serta merta memanggil kedua anaknya, di mana ibu malah tak mampu menyelesaikan perkataannya yang ingin menanyakan lebih terkait situasi saat ini.


“Terima kasih banyak sudah mengantar kami, Pengawal Lin.”


“Panggil saja Lin Feng. Selain itu, kalian adalah teman Taizi, jadi tidak perlu sungkan padaku.”


“Kurasa kita seusia, jadi panggil saja aku Zhen Chen dan dia adikku, Zhen Xian.”


“Aku juga akan memanggilmu Lin Feng mulai sekarang,” tambah Zhen Xian, masih sedikit takut sebenarnya jika mengingat kejadian penghunusan pedang pagi tadi. Namun, lupakan saja. Bukankah Jin Kai sudah mengatakan, bahwa itu hanya tindakan gertakan saja.


“Baiklah... aku permisi dulu,” pamit Lin Feng, pergi membawa tandu yang mengeluarkan suara khas rodanya.


Que Mo-lah yang kemudian menjadi orang pertama mendekati dua saudara Zhen ini, menuntut penjelasan lebih.

__ADS_1


Maka menjelaskan menjadi pilihan Zhen Chen, lagian keluarganya juga harus tahu terkait dirinya yang akan bekerja di istana mulai besok. Tanpa tahu, ayah dan ibu tampak tak suka dan malah khawatir setelah mendengar cerita lengkap putra mereka ini. Apalagi, saat ketika Zhen Chen memberitahukan terkait Jin Kai, tak lain adalah seorang Putra Mahkota.


Kabar ini pun sukses menjadikan malam dalam rumah yang biasanya hangat, kini terbagi. Anak-anak muda merasa hangat, tapi sebaliknya dengan orang tua yang memilih diam dan saling bertukar pandang saja.


__ADS_2