Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 79


__ADS_3

Waktu telah tiba.


Itulah yang dikatakan Zhen Chen sebelumnya. Meskipun Zhen Xian tidak tahu apa maksud dari waktu telah tiba tersebut, tapi bukan berarti tidak paham sepenuhnya. Bukankah itu artinya sang kakak sedang mengimbangi sesuatu dalam rencana kaburnya mereka ini? Sedikit terlambat, kesempatan yang ada pun berlalu.


Maka dari itu, tidak mungkin mereka harus terus-terusan bersembunyi dalam gang kumuh, bukan? Risiko tentu harus diambil agar tidak membuang-buang waktu yang telah diperhitungkan. Lagian jikalau harus menunggu prajurit patroli berkurang, rasanya hal itu mustahil. Kecuali, target yang dititahkan sukses tertangkap.


Tentu saja Zhen Chen tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Yang mana keluarnya mereka dari gang kumuh kini terbilang cukuplah mendebarkan. Bagaimana tidak? Di kala mereka dengan wajah tertunduk terus saja berpapasan dengan beberapa prajurit patroli. Meskipun begitu, mereka termasuk beruntung. Di kala malam kian larut ini masihlah ada beberapa pedagang jalanan menggelar barang dagangan. Setidaknya dengan begitu mereka mampu menyamarkan diri sebagai pembeli.


Dan dengan cara sederhana demikian pula, sampailah mereka pada tujuan. Kediaman Jenderal Wei.


Tidak bisa dipungkiri pula bagaimana pilunya Zhen Chen melihat kondisi rumah ini kini. Biar kata memang sudah menjadi suatu kediaman terbengkalai, debu sana-sini tak lagi mampu dijelaskan dengan kata-kata, bahkan sebagian kecil bangunan telah rusak. Namun, tetap saja kekokohan bangunan utama dengan aura kemewahan masihlah melekat. Seakan tempat ini masihlah menjadi tempat yang dihormati dan berjaya seperti di masanya dulu.


Memang benar jikalau Zhen Chen tidaklah memiliki ingatan apa-apa terkait tempat ini, tapi apa yang dirasakan oleh hatinya memampukan sebulir air mata menjejaki wajah dari ia yang sudah seharusnya menjadi tuan muda kediaman terbengkalai ini, mengingat akan bagaimana kejamnya semua anggota keluarga dan orang yang tinggal di sini dulunya harus meregangkan nyawa. Bukankah hal itu tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada keluarga Zhen malam itu? Atau barangkali kediaman jenderal ini jauh lebih kacau akan dentingan demi dentingan pedang pun seruan perlawanan.


Jikalau sudah seperti ini, lantas apa yang bisa dilakukan Zhen Xian dan Que Mo, bukan? Saling bertukar pandang, semacam dorong-dorongan untuk siapa di antara mereka berdua yang harus bertindak menyadarkan Zhen Chen. Namun, belum sempat aksi tersebut dilakukan, Zhen Chen telah lebih dahulu bergerak dari posisi terpakunya untuk kemudian mendekati suatu area dari kediaman bangunan utama ini.


Tepatnya pada taman yang tidak bisa dikatakan taman lagi. Berkat segala jenis rerumputan bahkan ilalang setinggi sepaha tumbuh liar di sana. Lantas, apa sekiranya yang dicari-cari sang kakak? Di mana Que Mo pun pada akhirnya ikut membantu.


“Tidak banyak waktu yang kita miliki, kau yakin benda itu ada di sini?” Dan Zhen Chen mengangguk, yakin. “Benar, tidak mungkin pula kau dibohongi, bukan? Mengingat dia tangan kanan dan sangat setia terhadap Jenderal Wei, pasti akan sangat memihakmu.”


Pun Zhen Xian merasa situasi saat ini cukuplah memusingkan, ketidaktahuan apa-apa begitulah menyiksa. Maka dari itu, jangan salahkan Zhen Xian untuk mulai berpikir jauh ketimbang harus menunggu penjelasan sang kakak yang entah kapan itu. Setidaknya dari obrolan dua pria sibuk mencari-cari sesuatu ini dapat ditangkap sebuah nama, yaitu Azheng.


Hanya saja siapa itu Azheng? Yang dipanggil sang kakak sebagai paman, dan apa pula token? Token sang Jenderal Wei semasa berkuasa? Sungguh benda itukah yang saat ini mereka sedang cari-cari? Namun, buat apa benda itu dicarikan saat ini? Apa bisa digunakan untuk melewati gerbang kota ini? Bukankah yang ada justru mereka akan tertangkap seketika karena telah mengenakan benda dari pengkhianat besar Kerajaan Yunnan-Fu ini?


Akan tetapi, berbeda halnya jikalau yang menjaga gerbang adalah orang yang memihak mendiang jenderal. Hanya saja, apa itu mungkin? Di kala semua pengikut setia mendiang Jenderal Wei telah musnah. Kecuali .... Kecuali kematian mereka palsu!


DEG!


Menggeleng-geleng tak percaya, tapi hanya itu satu-satunya hal yang paling masuk akal melintas di kepala Zhen Xian. Belum lagi terkait bagaimana bisa sang kakak semudah itu kembali memasuki kota ini, bahkan mampu berkomunikasi dengan Meng Jun dan Mo Zhu yang pada dasarnya sering berada di istana. Tidak mungkin sang kakak melakukan segala hal itu seorang diri, bukan? Pasti ada pihak tertentu yang membantu dan itu memudahkan segalanya.


Baik, katakan saja Zhen Xian tidak perlu tahu saat ini juga siapa pihak berkuasa tersebut, tapi untuk pertanyaan mengenai benarkah pengikut setia mendiang Jenderal Wei masih hidup atau tidak, Zhen Xian jelas tidak bisa lagi menahan untuk tidak bertanya. Dan alangkah terkejutnya ia begitu mendapat reaksi sang kakak, terdiam bahkan terpaku. Berbeda dengan Que Mo yang seketika bergerak mendekat, menghampiri dan meminta Zhen Xian untuk mengecilkan suaranya.


Bukankah reaksi Que Mo sudah menjawab semua pertanyaan? Jikalau apa yang menjadi tebakannya adalah benar.


“Lalu ... apa mungkin istana saat ini ...?” Dan sang kakak barulah merespons, mengangguk membenarkan seraya sepasang tungkai dibawakannya mendekati Zhen Xian yang terpaku. Tepatnya terpaku pada apa yang ada di tangan sang kakak, jikalau benda yang dicari-cari memanglah benar token sang mendiang jenderal. Pun kini Zhen Xian sedikit kurang mulai paham akan rencana kabur yang dimainkan sang kakak. “Bukankah ini waktunya kita meninggalkan kota?”


Yang mana terbit sudah seulas senyuman di masing-masing wajah ketiganya, dan tanpa membuang-buang waktu lagi. Mereka pun mulai bergerak ke area halaman belakang kediaman ini. Karena hanya itu jalan teraman, menerobos hutan untuk menuju gerbang belakang dari kota Yunnan-Fu yang dipercayai Zhen Chen sendiri jikalau di sana harusnya beberapa pasukan Azheng telah mengambil alih.

__ADS_1


Belum lagi segala gambaran indah setelah meninggalkan kota ini sedikit demi sedikit mulai terlukiskan di benak masing-masing. Tak heran pula jikalau tiap langkah mereka kini begitulah dipenuhi kepositifan. Namun, sampai berapa lama sekiranya hal itu akan mampu bertahan? Di kala deruan langkah pun ringkikan kuda cukuplah jelas tertangkap pendengaran. Kemudian, gebrakan dari pintu gerbang kediaman pun terjadi. Menampilkan pasukan pembawa senjata serta obor api masuk dengan liar layaknya anjing pemburu, dan yang memimpin tak lain sosok yang sangat dikenal oleh Zhen Chen sendiri. Komando Zhu.


“Tangkap dan bunuh tikus-tikus pencuri itu, bawakan Selir Zhen kembali ke istana!”


Kepanikan mulai dirasakan, Zhen Chen meraih pun menggenggam sebelah tangan Zhen Xian. Sedangkan pandangan diarahkan pada Que Mo. “Kita harus pergi dari sini sebelum tertangkap.” Kembali memerhatikan sejumlah pasukan yang bergerak ke sana kemari seakan siap memorak-porandakan kediaman ini, dan begitu menemukan kesempatan, bergegas ketiganya bergerak meninggalkan persembunyian. Meninggalkan kediaman Jenderal Wei yang barangkali tidak akan pernah lagi mampu dilihat. Tanpa mereka ketahui, jikalau kini Komando Zhu telah menemukan jejak pelarian mereka.


“Geledah dan periksa area hutan belakang!” Menajamkan pandangan, tekad untuk menuntaskan misi ini pun kian menguat sembari senyuman sinis tertampilkan. “Siapkan panah dan pedang kalian, dan mari kita berburu!”


Semua pasukan bergerak, bergabung ke dalam hutan pun berpencar semacam telah mengetahui tata letak hutan ini secara menyeluruh. Lantas bagaimana dengan mereka yang kabur? Apakah sekiranya satu di antara mereka ada yang paham atau familiar akan area hutan ini? Setidaknya Zhen Chen harus, bukan? Setidaknya ia sudah mempelajarinya, bukan? Dan hanya dengan berbekal cahaya rembulan, larian yang dikeluarkan pun tidaklah secepat para pasukan yang kian mendekat.


“Kita harus bergerak lebih cepat,” pinta Zhen Chen, napas memburu tangan pun kian mengeratkan genggaman pada Zhen Xian yang telah berpeluh. Tak terkecuali pula dengan Que Mo yang memimpin pelarian, biar bagaimanapun hanya ia seorang yang berpengalaman dalam aksi kejar-kejaran seperti ini, bukan? Setidaknya itulah kehidupan yang dijalaninya sebelum bertemu dengan Zhen Xian dan Zhen Chen. Akan tetapi, apa yang dilihat kini sontak saja membuat Que Mo menghentikan larian sembari menunjuk ke depan sana.


Ingin rasanya merutuk, tapi bagaimana harus merutuk di kala mereka hanya bertiga sedangkan pasukan pengejar berjumlah cukuplah banyak telah mengelilingi area hutan. Jikalau tidak bersembunyi segera, lantas apa lagi yang bisa dilakukan, bukan? Menjadikan semak-semak sebagai area pengintaian, mencari kapan waktu yang tepat untuk kembali melanjutkan pelarian.


Hanya saja selama bersembunyi ini, Zhen Chen begitulah tak habis pikir. Bukankah Azheng sedang membawa pasukannya menyerang istana? Tapi kenapa, Jin Kai malah mengirim sejumlah pasukan keluar dan bukannya tetap di dalam istana? Apa ini pertanda buruk? Ataukah Jin Kai sama sekali tidak menganggap pasukan Azheng itu akan menjadi ancaman? Lagian memang benar, Raja tidak akan pula kalah jumlah jikalau pasukan Jin Kai tidak ada sekalipun.


Namun, kali ini berbeda. Pasukan yang baru saja bergabung ini, jelas saja bukanlah pasukan yang dipimpin Komando Zhu. Mereka tampak seperti pasukan berkelas dengan segudang pengalaman. Lihat saja kini, bahkan tanpa obor api sebagai penerangan, mereka mampu bergerak cukuplah leluasa seakan sepasang netra mampu melihat dalam gelap. Belum lagi pergerakan mereka jauh lebih teratur, tidak terkesan grasah-grusuh semacam bergerak menyatu dengan hutan ini.


Itulah kenapa, Zhen Xian menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara apa pun di kala tangan mulai gemetar. Belum lagi, jarak persembunyian mereka dengan pasukan yang dipercayai sebagai pasukan pribadi Raja ini kian saja terkikis. Dan Zhen Chen dengan segudang pertanyaan akan kenapa pasukan Raja juga ikut serta dalam pengejaran ini, sontak menghentikan dulu pemikirannya untuk menenangkan Zhen Xian terlebih dahulu. Meminta gadis ini untuk berhenti memandangi pasukan pengejar, dan cukup memandanginya seorang. Biar kata mulut tidak mengatakan apa-apa, tapi sorot sepasang netra cukuplah berhasil menenangkan Zhen Xian. Semacam menangkap maksud tersirat yang memberitahukan jikalau semua akan baik-baik saja.


“Cari lagi! Mereka tidak akan jauh dari sini!”


Berbeda dengan Zhen Chen, yang barangkali mencoba memikirkan kembali apa yang sempat tertunda dari balik netra yang diusahakannya tenang itu, sampai titik di mana pemikirannya menyimpulkan suatu kabar tidak baik. Terkait pemberontakan yang dilakukan Azheng berkemungkinan besar telah gagal.


Lihat saja situasi saat ini. Yang mana pasukan Raja malah membantu pasukan Jin Kai, dan bukannya tetap setia bersama Raja di istana. Belum lagi, kenapa bisa pasukan Zhu mendatangi kediaman Jenderal Wei seakan tahu jikalau target yang dicari ada di sana? Tidak mungkin Azheng yang memberitahukan, bukan?


“Pasukan pemberontak telah berhasil dimusnahkan! Lantas kalian pikir bisa kabur ke mana lagi! HA?!” seru Komando Zhu, mulai kesal akan pencarian ini. “Keluarlah, tidak ada gunanya terus-terusan bersembunyi!”


Sekarang semuanya jelas dan teryakini, ingin menyangkal pun tidak bisa lagi. Meskipun memang benar jikalau Zhen Chen dari sebelum-sebelumnya telah menguatkan hati untuk tak bersedih di kala pemberontakan gagal. Namun tetap saja, tidak bisa bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa, bukan? Yang mana bersamaan dengan datangnya kesedihan, rasa pesimis pun mulai memenuhi. Tidak mengherankan jikalau Que Mo pun ikutan memejamkan sepasang netra, menelan pula kenyataan pahit ini. Sementara Zhen Xian sendiri hanya bisa meluruhkan sejumlah air mata seraya berusaha untuk tidak mengeluarkan isak tangis atau apa pun sedikit saja.


“Ketua pemberontakan itu, orang yang kau percayai itu. Apa kau tahu telah mengkhianatimu hanya demi nyawanya sendiri?! Jikalau bukan karena dia, lantas menurutmu bagaimana bisa kami tahu keberadaanmu saat ini di mana!”


Menggeleng-geleng, Zhen Chen bergantian memandangi Que Mo dan Zhen Xian. Meminta jangan percaya akan seruan Komando Zhu, karena Azheng yang dikenalnya tidak akan pernah melakukan hal-hal demikian. Kecuali, entah itu Raja ataupun Jin Kai telah menawarkan sesuatu untuk ditukarkan. Meskipun benar tidak tahu apa itu, tapi Zhen Chen yakin jikalau hal yang ditukarkan itu pastilah hal besar.


“Kita harus pergi sekarang,” lirih Que Mo, membuyarkan seketika pemikiran pun kedukaan Zhen Chen karena saat ini memang bukanlah waktu yang tepat untuk hal-hal demikian. Mendapati jikalau memang ada kesempatan bagi mereka untuk menjauhkan diri dari pencarian. “Ayo.” Bantu Que Mo, membangunkan Zhen Xian.


Akan tetapi, apa ini? Baru saja keluar dari persembunyian, lesatan demi lesatan panah telah diluncurkan. Apa pasukan pengejar ini sudah gila? Tidakkah takut jikalau panah yang ditembakan secara sembarangan ini akan mengenai Zhen Xian? Apa sebegitu inginnya mereka menyudahi misi pengejaran ini? Ke mana pula perginya rasa kemanusiaan mereka sebenarnya? Terus dan terus dititahkan untuk membunuh nyawa tak bersalah, tidakkah mereka memiliki sedikit saja rasa prihatin?

__ADS_1


Dan sialnya, Que Mo, pria ini malah terkena tembakan panah tepat pada lengan kanannya. Menancap dalam pun mengundang sejumlah darah mengalir keluar. Lantas bagaimana bisa Zhen Xian tak panik? Tidak khawatir dan ketakutan, bukan? Di kala yang terkena bukanlah orang lain melainkan teman terbaik yang selalu ada di sisinya selama tinggal dalam istana terkutuk itu.


“Mereka di sana! Kejar!”


Alhasil, aksi kejar mengejar kembali dialami. Membantu Que Mo untuk terus melangkah bersama, tanpa lagi memedulikan akan apa yang menjadi pijakan. Setidaknya berharap saja tidak akan tersandung atau apa pun yang mampu menghentikan larian, tanpa mereka ketahui jikalau tetesan demi tetesan dari luka panah Que Mo tersebut malah meninggalkan jejak pelarian, memudahkan para pasukan untuk mengikuti.


Pun Que Mo melambatkan langkah, mungkin sadar jikalau terus begini tidak akan berhasil bagi mereka untuk lepas dari pengejaran. Belum lagi, kenapa langkahan Que Mo kian dan kian melemah? Sesekali akan pula menggeleng-gelengkan kepalanya seakan merasa tak nyaman, entah dikarenakan pusing ataukah karena pandangannya yang mulai mengabur. Entahlah, yang mana napasnya mulai memberat pun kemudian langkahan melambat dihentikan sepenuhnya.


“Kalian pergilah ... aku benar-benar tidak bisa meneruskannya lagi,” ucapnya seraya melepaskan diri dari papahan Zhen Chen yang bertanya-tanya apa maksud dari ucapan sahabatnya ini. “Pergilah ... pergilah ....”


BRUK!


Que Mo dan Que Mo, terus saja Zhen Xian memanggil nama itu. Benar-benar tidak paham kenapa Que Mo kian melemah seperti ini, apa benar luka tembakan panah akan membuat efek separah ini? “Ge, apa yang terjadi dengan Que Mo sebenarnya?”


Serta merta Zhen Chen merobek kain pakaian di mana pisau panahan bertengger, menarik lepas pula yang sontak saja darah kian mengalir. Namun, bukan itu yang mengejutkan Zhen Chen, melainkan luka yang menganga tersebut telah menghitam. “Racun ... panah itu beracun.”


“Tidak mungkin ... tidak mungkin ... Que Mo, tidak mungkin.” Menggeleng-geleng tak percaya, bahkan air mata tak lagi mampu keluar saking terkejut dan syoknya akan kenyataan ini. Pun Zhen Xian bertingkah seolah tidak peduli akan apa pun, ia hanya ingin Que Mo bangun, berdiri dan kembali ikut berlari kabur bersama.


“Pergilah ... sebelum terlambat ...!”


“Bagaimana mungkin kami meninggalkanmu sendiri? Bukankah kita sudah berjanji akan pergi bersama ...? Bangunlah, bangunlah dan jangan menyerah seperti ini. Que Mo ... kumohon bangunlah!” Kembali menarik bangun, tapi benar saja sekujur tubuh Que Mo bagai kehilangan sejumlah besar energi. Bahkan bernapas saja sudah tersengal-sengal, menyenderkan punggung pada sebatang pohon. Hanya air mata, hanya itu yang bisa dikeluarkan pria ini seraya memandangi Zhen Chen, memohon untuk membawa Zhen Xian pergi sekarang juga.


Lantas harus bagaimana pula Zhen Chen menghadapi ini? Di kala Zhen Xian sendiri telah tenggelam dalam tangisan. Haruskah benar mengucapkan perpisahan? Setega itukah Zhen Chen? Menyaksikan lagi dan lagi nyawa tidak bersalah melayang. Bukankah ini semacam kegilaan dalam hidup? Pun Zhen Chen juga ingin rasanya berhenti, lelah dengan semua permainan takdir yang tak berkesudahan ini.


Namun, bagaimana dengan Zhen Xian? Jikalau berhenti, bukankah gadis ini akan kembali ke istana dan menjadi selir Jin Kai? Kembali terkurung, bahkan tidak ada lagi Que Mo yang menemani. Lantas, tak terbayangkan akan seperti apa hari demi hari gadis ini harus lalui. Yang bahkan neraka terdalam sekalipun mungkin akan lebih baik untuk ditempati.


Oleh karenanya, dan dengan pemikiran tersebut. Dengan berat hati pula Zhen Chen akhirnya menyeka pergi air matanya. Menarik atau mungkin lebih tepatnya membangun paksa Zhen Xian untuk meninggalkan Que Mo. Menyadarkan kembali pada gadis yang meronta tidak ingin ini jikalau mereka harus pergi sekarang juga.


“Tidak, tidak, Ge! Kumohon jangan paksa aku seperti ini!”


“Jika dia bergerak sedikit saja maka racun akan semakin cepat menyebar! Tidak ada cara menyelamatkannya, Xian’er, tidak di saat kita sedang dikejar-kejar begini!” teriak Zhen Chen, pun memaksa gadis ini untuk menatapnya. “Apa kau pikir aku mau ...? Xian’er, tidak ada yang berharap akan akhir seperti ini. Bukan hanya dirimu, melainkan aku pun sangatlah terluka sekarang. Lihatlah Que Mo, lihatlah apakah dia masih sanggup melanjutkan?”


Sulit memang, tapi Zhen Xian mengikuti apa yang dimintai sang kakak. Mendapati dengan jelas pula Que Mo untuk bicara saja sudahlah begitu kesulitan. Namun, apa yang disampaikan olehnya masih bisa terdengar. Lantas, permintaan Que Mo ini benarkah harus diabaikan? Akan tetapi, bagaimana bisa meninggalkan Que Mo seorang diri untuk akhirnya terbunuh begitu saja, bukan?


“Pergilah ...!” seru Que Mo, darah dimuntahkan. Serta merta Zhen Chen mengeraskan hati, membawa Zhen Xian yang termenung dalam luruhan air mata ini untuk kembali berlari. Zhen Xian yang bahkan tidak lagi ingin menoleh ke belakang, tidak sanggup karena ia tidaklah sekuat sang kakak.


Tanpa ada yang tahu, jikalau Zhen Chen sendiri telah menjadi target sasaran panahan. Hanya saja, begitu panah meluncur, target berhasil lolos dan kian menjauh. Saat itulah, Komando Zhu nyalang memandangi bawahan bodohnya ini untuk kemudian ikutan membidik Zhen Chen kembali. Perlahan-lahan, tidak perlu terburu-buru. Komando Zhu menajamkan pandangan sebelumnya akhirnya dilepaskan sudah panahan tersebut bersama-sama dengan panahan anah buahnya, memecahkan udara untuk kian dan kian mendekati sasaran.

__ADS_1


JLEB!


Seringaian pun Komando Zhu hadirkan.


__ADS_2