Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 33


__ADS_3

Memasuki Aula Istana, satu demi satu mereka yang merupakan para menteri ini mengambil posisi. Mengisi area yang memanglah menjadi area mereka, seperti hari-hari biasa. Tak terkecuali pula dengan sang Putra Mahkota yang sempat bertegur sapa sejenak dengan Perdana Menteri. Namun, singgasana naga yang mampang masihlah kosong.


Tak heran apabila aula yang seharusnya tenang malah diisi dengan bisikan demi bisikan, yang mana perlahan menjadi ramai layaknya sedang berada di tengah pusat keramaian kota.


Yang menjadi pertanyaan, apa yang membuat Raja begitulah tak sabaran dalam mengadakan rapat hari ini? Di mana mentari saja baru memunculkan diri, belum sepenuhnya menyinari apalagi menghilangkan kabut sepenuhnya. Akan tetapi, udara dingin yang ada seketika sirna tepat ketika seruan akan pemilik singgasana naga tiba. Aula pun kembali sunyi tanpa ada satu pun yang berani meluruskan pandangan.


“Hormat pada Huangdi,” hormat mereka semua yang hadir, yang mana mendapati sang Raja bagai siap menerkam siapa saja. Netra nyalang, napas memburu yang berat itu bagai begitulah jelas terdengar. Wajar saja jikalau para menteri menurunkan pandangan, bertukar pandang dengan sesama menteri lainnya yang barangkali menebak-nebak alasan dibalik sikap murka sang Raja ini.


Namun, tidak dengan sang Putra Mahkota. Begitu pula dengan Perdana Menteri. Apa mungkin mereka telah tahu alasan dibalik kenapa Raja bersikap demikian?


“Selesaikan segera masalah ini! Tutup mulut mereka yang menyebar rumor jika perlu kalian boleh membunuh!”


Pun Jin Kai bergerak dari posisinya, menempatkan diri di tengah dari aula tanpa berani memandang lurus Raja. “Huangdi, mohon pikirkan kembali. Jika membunuh, rakyat akan membenarkan rumor tersebut. Bukankah lebih baik mencari akar permasalahan terlebih dulu?” ucapnya menyarankan, yang mana Raja tampak pula menurunkan tingkah kemarahan.


Mendapati hal itu, Jin Kai kian pula memberanikan diri. Mengangkat wajahnya, lurus memandang Raja. “Selain itu, semua hanya rumor tanpa adanya bukti pasti. Ingatlah ... Jenderal Wei beserta seluruh keluarganya sudah dimusnahkan.”


“Apa kau punya rencana, Taizi?”


“Yang terpenting saat ini adalah menutup rumor. Untuk itu, kita membutuhkan suatu kejadian yang lebih besar untuk menutupi rumor yang beredar.”


“Jadi maksudmu, menutupi rumor dengan kabar lain? Mengalihkan perhatian rakyat?” tanya Raja yang seketika mendapat anggukan yakin dari sang putra. “Baik, ide bagus. Maka kupercayakan tugas ini padamu, Taizi.”


“Aku akan menerima dan menyelesaikannya sebaik mungkin, Huangdi. Jangan khawatir dan tunggulah kabar baik.” Menarik diri kembali ke posisi awal, diam-diam pula Putra Mahkota ini menyeringai seraya mengantar kepergian Raja. Yang mana sepasang netra menajam itu dipenuh keyakinan, bahwa semua memang akan berjalan sesuai rencananya.


Sontak, aula kembali diramaikan. Menjadikan Perdana Menteri sebagai pusat dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan menteri lainnya. Tak menyangka pula akan ada rumor seperti ini, dan bagaimana bisa tak tahu jika ada rumor terkait Jenderal Wei yang telah tiada 15 tahun lalu. Namun, kenapa rumor itu bisa ada? Tak mungkin ada asap jikalau tidak ada api, bukan?


Bergegas pula Perdana Menteri meninggalkan aula, tepatnya menyusul sang Putra Mahkota yang telah terlebih dahulu pergi. “Taizi!” panggilnya, harus memastikan sendiri apakah rumor terkait kasus kematian Jenderal Wei 15 tahun lalu sungguh murni muncul begitu saja, atau ada semacam konspirasi di dalamnya.


Yang terpanggil pun sontak menghentikan langkah seraya menoleh ke belakang. “Ada perlu apa, Perdana Menteri?”


“Berkatmu amarah Huangdi bisa terkendalikan, tapi tidak tahu rencana seperti apa yang akan kau gunakan, Taizi. Apa mungkin bersedia memberitahuku kejadian seperti apa yang dimaksudkan itu?”


“Jangan khawatir, hal itu tidak ada kaitannya denganmu.” Menampilkan senyuman. “Lin Feng, mari kita kembali ke kediamanku tuk bersiap memberi penghormatan di Aula Merak,” ucapnya seraya pamit diri, bersama Lin Feng yang selalu menemani.


Berbeda dengan Perdana Menteri yang justru tak hentinya mengarahkan pandangan dari Putra Mahkota Kerajaan Yunnan-Fu ini. “Permainan apa lagi yang kau mainkan kali ini, Taizi?” lirihnya, pun mendapati sang mentari kian meninggi menyebarkan cahaya hangatnya.


Di bawah langit cerah inilah, embun meluruh yang mana decitan burung-burung kecil mulai memenuhi pendengaran. Entah untuk sekadar memberitahukan hari telah tiba untuk beraktivitas kembali, atau memang burung-burung ini kelaparan. Yang mana dari luasnya area dalam istana ini, ada satu yang menarik cukup banyak burung-burung. Kediaman Putra Mahkota, di mana terlihat Kasim Ma sibuk melemparkan biji-bijian di halaman depan ini.


“Taizi, kalian kembali,” sapanya, tak lupa pula memberitahukan sang Putra Mahkota-nya ini bahwa pakaian yang akan dikenakan tuk menghadiri Aula Merak telah siap.


Namun, Jin Kai malah tidak ingin buru-buru pergi biar kata waktu untuk bersiap tak lagi banyak. Masuk ke dalam kediaman bersama Lin Feng yang memang dimintai tuk masuk bersama. Tak terkecuali Kasim Ma, sibuk menyajikan teh hangat yang biasanya diminum Putra Mahkota-nya ini setiap pagi hari.


“Apa kau yakin semua berjalan dengan baik? Tidak ada celah atau kesalahan apa pun?”


“Taizi jangan khawatir. Mereka semua sudah terbunuh dan aku pribadi yang melakukannya,” jawab Lin Feng.

__ADS_1


“Bagus, maka waktunya kita bermain.” Meminta pengawal pribadinya mendekat, Jin Kai berakhir berbisik yang mana sukses membulatkan sepasang netra pria berwajah kaku penuh ketegasan ini. “Pastikan kau mendapatkan barang itu tanpa ada satu orang pun curiga.”


Namun, Lin Feng malah bergeming. Barangkali bergulat dengan pikirannya sendiri, yang mana tanpa sadar dirinya pun tak lagi memandang atau berposisi layaknya seorang bawahan pada atasan. Melainkan lebih seperti seorang yang kenal dekat dengan Jin Kai, merebut teko teh dari Kasim Ma pun menuangkan ke cangkir kosong untuk kemudian menegaknya pelan.


“Kau keberatan akan tugas ini?”


Dengan mudahnya pula Jin Kai bertanya demikian. Lantas harus bagaimana menjawabnya? Haruskah dengan cara ini? Yang mana Lin Feng sendiri menempatkan pedang yang selalu dibawanya ke meja. “Karena tugas yang diberikan bersifat pribadi, maka aku akan menanyakan padamu sebagai Lin Feng sahabatmu bukan seorang pengawal,” ucapnya kemudian, dan Jin Kai mengangguk mengizinkan. “Kau yakin akan memainkan permainan ini?”


Yang mana pertanyaan Lin Feng sukses pula menolehkan pandangan Kasim Ma, menanti dengan sangat akan jawaban Putra Mahkota-nya ini. Namun, tak juga Putra Mahkota mengucapkan sepatah kata atau gerakan apa pun yang bisa dijadikan sebagai jawaban. Yang ada hanya satu, tatapan lekat yang balik memandang Lin Feng. Pandangan yang dipahami Lin Feng sebagai jawabannya, pun kemudian Lin Feng menarik diri tanpa lupa membawa pedang. Barangkali siap menjalankan apa yang dimintai Jin Kai.


Sedangkan di sisi lain, terlihat Dayang Feng masuk ke dalam kediaman yang diketahui Kediaman Putri Mahkota dengan begitulah terburu-buru. Menghampiri sang putri yang baru saja selesai mempersiapkan diri untuk menghadiri Aula Merak. Namun, bisikan yang didapat dari Dayang Feng sukses membuat dirinya mengkerutkan dahi.


“Tampaknya Taizi kian bergerak lebih dan lebih kejam dari yang kukira.”


“Haruskah kita menasihati Nona Zhen, Taizifei?”


Menggeleng, Putri Mahkota pun bangun dari duduknya di kursi meja rias. “Itu akan lebih membahayakan dia, juga diri kita sendiri.”


“Lalu haruskah kita diam saja?”


“Mungkin itu lebih baik untuk kita semua.” Mendesah, tungkai dibawanya mendekati jendela yang terbuka. Taizi, kau bahkan merencanakan sampai sejauh ini untuk mendorong gadis itu. Merasakan embusan angin menerpa, mendatangkan pula embun di sepasang netranya. Sendu, begitu sendu pandangannya yang diakhiri dengan desahan. “Biarkan semua berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya. Mungkin sudah jalannya untuk bertemu dengan Taizi dan mengalami semua hal ini.”


Pun Putri Mahkota membawa diri keluar dari kediaman, bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Bukankah itu memang telah menjadi keahliannya? Bersandiwara, berpura-pura segala hal baik-baik saja. Padahal hati sudah begitulah terluka, sedangkan pikiran begitulah menekan berat.


Namun, begitu saja sang Putri ini menjalankan aktivitas setiap harinya. Berharap waktu akan memperbaiki segala masalah, yang mana waktu sendiri sebenarnya tak begitulah peduli dengan permasalahan yang ada. Terus bergerak maju hingga sang mentari bertengger dengan begitulah nyalang pada singgasana tertingginya. Bahkan pelangi terlihat mengelilingi, menemani.


“Tidakkah aneh menurut kalian? Selama 15 tahun ini tidak ada yang berani membicarakan kejadian itu, tapi tiba-tiba dalam semalam rumor beredar begitu saja. Bukan di istana, melainkan langsung di masyarakat,” ucap Meng Jun, dan hanya Mo Zhu saja yang menanggapi dengan anggukan. Sedangkan Zhen Chen bergeming.


Bukan karena tidak ingin merespons, melainkan dirinya mendapati sesuatu yang ditinggalkan seseorang tepat di meja kerjanya. Tepatnya sebuah surat, meminta bertemu di restoran biasa malam ini.


“Mungkinkah salah satu anggota keluarga Jenderal Wei masih hidup?”


Meng Jun serta merta menutup mulut Mo Zhu. “Kau sungguh ingin kehilangan kepalamu?” tegasnya seraya menjauhi Mo Zhu, kembali menempati meja kerjanya.


“Atau mungkin, seseorang sengaja menyebarkan rumor untuk suatu tujuan lain,” tambah Zhen Chen, tapi ucapannya ini terlalu kecil untuk tertangkap pendengaran. Layaknya sedang bergumam. Namun, alih-alih bergumam, Zhen Chen jelas sedang termenung.


“Tapi siapa? Dan untuk apa?” tanya Mo Zhu.


“Itu bukan urusan kita, tidak perlu terus dibicarakan,” ucap Zhen Chen menghentikan, tak mau ambil pusing pula. Karena memang permasalahan dirinya dan pekerjaan saja sudah cukup memusingkan. Masalah politik, maka biarkan saja para pejabat istana yang memikirkan.


Pun Mo Zhu membenarkan, dan seketika pula ide bagai terpikirkan olehnya. “Bagaimana jika malam ini kita makan bersama? Dan minum-minum untuk menghilangkan tekanan,” ajaknya, bergantian memandang kedua temannya yang telah sibuk dengan pekerjaan.


“Aku sudah ada janji. Kalian bersenang-senanglah,” balas Zhen Chen, untung pula tidak ada yang menanyakan lebih terkait janji yang dimaksudkan. Setidaknya, Zhen Chen tak perlu repot-repot memikirkan alasan tuk membohongi mereka.


Jujur saja, Zhen Chen sedikit merasa rumor terkait Jenderal Wei ini menguntungkannya. Karena dengan begitu, rumor terkait sang adik dan Jin Kai mampu teredam, dan orang-orang dalam istana tak lagi melihat atau memperlakukannya seasing kemarin. Bukankah ini hal baik? Meskipun benar, Zhen Chen juga merasa bersalah akan sikapnya ini terhadap keluarga jenderal yang telah musnah itu.

__ADS_1


Tak heran, apabila pekerjaan yang biasanya mampu diselesaikan dengan cepat. Kini justru banyak yang tak terselesaikan. Yang mana mentari telah menurunkan diri serendah mungkin sampai titik di mana tak lagi terlihat. Yang berarti pula, waktunya tuk mendatangi restoran sesuai dengan yang dimintai surat. Tanpa lupa pula, surat tersebut dibawanya. Barangkali khawatir jikalau ada yang melihat dan menemukan. Meskipun memang benar, tak ada nama pengirim yang tertera.


Namun, kewaspadaan itu perlu, bukan? Yang pada akhirnya, kewaspadaan itu pula yang menjadi pengantar perjalanan Zhen Chen ke restoran. Mendapati si pengirim surat telah menempati meja yang sama seperti dulu-dulu mereka di sini. Pun meja telah diisi dengan beberapa piring makanan dan juga beberapa botol arak dari tanah liat.


“Kau datang.”


“Tidak ada alasan aku harus menghindarimu,” balasnya, mendudukkan diri seraya memerhatikan Jin Kai yang sibuk menuangkan arak ke cangkir mereka. “Kau baik-baik saja?”


Sontak, Jin Kai menghentikan aktivitasnya, dan detik berikutnya kembali melanjutkan. “Apa maksudmu?”


“Kau terlihat banyak pikiran. Apa karena Huangdi marah di rapat aula hari ini?”


“Istana sungguh luar biasa, bukan? Bahkan mengenai apa dan bagaimana reaksi Huangdi saja, bisa bocor keluar dengan begitu mudahnya.”


“Kau pasti bisa mengatasinya dan aku percaya itu.”


“Bukankah sudah sewajarnya jikalau kau tidak bersikap seperti ini padaku? Bersikap baik, kadang harus tahu pada tempatnya, Zhen Chen. Tidakkah kau masih marah padaku?”


“Awalnya aku juga tidak ingin bersikap seperti ini, tapi setelah melihat kondisimu ... bagaimana bisa aku masih bersikap marah?”


“Kau harus mengubah sikapmu ini. Jangan terlalu baik pada semua orang, termasuk pula diriku.”


Pun ucapan Jin Kai barusan kian membuat Zhen Chen prihatin. Jin Kai, pria ini. Begitulah menyedihkan, hidup dalam istana memang tidak mudah. Namun, tentu Zhen Chen sejadinya tidak ingin Jin Kai tahu apa yang dipikirkan. Yang mana Zhen Chen menyunggingkan senyuman, seraya mengangkat cangkir araknya. “Kenapa? Kau ingin melakukan hal buruk padaku lalu berpikir ulang setelah melihat sikap baikku sekarang?” candanya kemudian.


“Hmmm ... benar,” lirih Jin Kai, serius. Namun, detik berikutnya dia juga ikut tersenyum dan menerima ajakan bersulang Zhen Chen. Tentu tidak akan cukup sekali, melainkan berkali-kali seolah melupakan semua konflik yang terjadi pada mereka dan kembali seperti dulu.


Apa yang akan dihadapi ke depan memang tidak ada yang tahu. Akan tetapi, akan berbeda jikalau jalan itu dibuat oleh manusia sendiri. Lantas, jalan seperti apa yang akan dilalui kedua pria ini? Yang mana Jin Kai, sesekali akan memandang temannya ini dengan pandangan meragu. “Zhen Chen ....”


Yang dipanggil pun menanti, akan apa yang ingin disampaikan. Namun, kenapa diam? Bagai sesuatu yang akan diucapkan itu begitulah berat hingga lidah keluh. "Kenapa?"


“Aku hanya ingin bilang ... malam ini aku yang akan mentraktir, lain kali akan menjadi giliranmu, bagaimana?”


“Baiklah, cukup beritahu aku kapan waktunya.”


“Baik, itu adalah perjanjiannya.” Seraya Jin Kai kembali mengajak bersulang, yang kemudian terus-terusan meminum seluruh botol arak yang dipesan. Bahkan, beberapa kali akan memesan kembali. Yang mana berakhirlah meja dipenuhi botol-botol kosong, entah itu Jin Kai ataupun Zhen Chen tak lagi mampu meluruskan posisi duduk mereka.


Tak jarang pula, Jin Kai bergumam layaknya meracau. Baik itu penyesalan atau meminta maaf, entahlah. Yang pasti, Jin Kai tak mampu memberitahukan kenyataan, dan itu menjadi semacam rasa bersalah teramat baginya. Barangkali itu pula yang membuatnya ingin mabuk-mabukkan seperti ini, setidaknya mabuk akan mengurangi sedikit rasa penyesalan, bukan?


Pun Lin Feng, berakhir masuk kemudian. Membawa Jin Kai keluar, sedangkan Zhen Chen si pelayan restoran-lah yang memapahnya. Memasukkan kedua pria tak sadarkan diri ini ke dalam tandu, membawa pergi kemudian yang barangkali menuju tempat tinggal Zhen Chen terlebih dahulu.


Alhasil, benar saja. Yang mana Zhen Xian tak hentinya mengucapkan terima kasih pada Lin Feng, dan pengawal pribadi Jin Kai ini tak ingin berlama-lama pula karena sang Putra Mahkota juga ada dalam tandu. Sementara jam malam akan segera tiba, yang berarti gerbang masuk istana akan segera tutup.


Seperginya Lin Feng, Zhen Xian yang seraya masuk kembali ke rumah sukses berpikir apa yang telah membuat sang kakaknya ini sampai dalam kondisi semabuk ini. Apa ini kabar baik atau justru sebaliknya? Yang mana ayah dan ibu tak kalah prihatin dan khawatirnya, saling bertukar pandang sebelum akhirnya meminta Zhen Xian keluar tuk beristirahat.


“Baik, kalian juga,” ucap Zhen Xian, meninggalkan kamar sang kakak kemudian.

__ADS_1


Tanpa tahu, ayah dan ibu mengkhawatirkan hal lain. Tepatnya khawatir akan rumor yang beredar di masyarakat, yang jelas sekali ada kaitannya dengan putra tunggal mabuk mereka ini. Zhen Chen yang nyatanya Wei Lang, anak dari Jenderal Wei.


“Semua akan baik-baik saja, pasti akan baik-baik saja,” ucap Tn. Zhen pada sang istri yang diam-diam meluruhkan air mata, seraya terus memandang sang putra yang begitulah terlelap. Dia putraku, dan akan selalu begitu.


__ADS_2