
“Di sana! Zhen Chen di sana!”
Menengok, dan benar saja apa yang menjadi seruan. Yang mana Jin Kai sendiri siap mengejar, tapi dihentikan seketika oleh Lin Feng. “Apa yang kau lakukan? Minggir!”
“Taizi, serahkan padaku.”
Namun, Jin Kai masih berkukuh menolak. Pandangan terus saja diarahkan pada Zhen Chen yang kian menjauh, hampir mencapai area hutan. Jikalau masuk ke sana, bukankah akan lebih sulit lagi melakukan pencarian? Oleh sebab itu, Jin Kai mulai menurunkan keteguhan hati dengan memandangi Lin Feng sebagai gantinya, menanyakan lebih jelas alasan kenapa pengawal pribadinya ini menghalangi.
“Aku pasti akan membawanya padamu, percayalah ... aku tidak akan lemah hati.”
“Baik, kau sendiri yang mengatakannya. Jadi, bawakan mayat Zhen Chen padaku, bisakah?” Dan dengan cepat, tanpa protes atau apa pun yang menunjukkan ketidaksetujuan, Lin Feng mengangguk.
Jika benar pengawal pribadi ini berbohong, ia tak mungkin mampu bersikap begitu tenang. Bahkan pandangan yang dilemparkan sama sekali tak bergetar atau diarahkan ke lain tempat, terus saja lekat seakan memberitahukan jikalau ia sangatlah serius akan perkataan barusan.
Seseorang jika memang benar berbohong, tidak akan pula memiliki sikap demikian, bukan? Kecuali seseorang tersebut telah sering ataupun handal. Namun, Lin Feng jelaslah bukan sosok yang handal dalam hal tersebut, dimana ia terbilang sangatlah patuh apalagi jika itu menyangkut titah dari atasan.
“Bawalah semua prajurit Zhu bersamamu, aku akan menanti di sini.”
“Tidak, aku hanya akan membawa sebagian saja.” Mengedarkan pandangan ke sekitar, melihat cukup banyak mayat bergelimpangan pun pekerja keluarga Zhen yang masih hidup sebagiannya lagi terluka, dan sebagiannya meringkuk ketakutan. “Bukankah mereka semua harus dibereskan pula?”
Lagi dan lagi, Jin Kai setuju akan permintaan tersebut. Karena memang benar, para pekerja hidup ini masihlah harus dihabiskan, mayat pun haruslah dikumpulkan. Akan tetapi, apa yang menjadi permintaan terakhir Lin Feng ini tidaklah bisa disetujui dengan begitulah mudah.
Bukan karena tidak memercayai, tapi apa alasan yang mendasari Lin Feng untuk tak menginginkan Komando Zhu ikut serta dalam penangkapan Zhen Chen? Di saat Lin Feng sendiri bukanlah seseorang yang begitu memerhatikan prestasi apalagi berharap mendapatkan banyak pujian. Lantas ... kenapa ...?
“Aku punya cara tersendiri dalam menangkap Zhen Chen, dan hal itu tidak bisa dilakukan oleh siapa pun yang belum dikenalnya ataupun mengenalnya.”
Apa mungkin ...? Cara yang kau maksudkan itu ...? Dan Lin Feng seketika pula mengangguk, seolah tahu isi pikiran Putra Mahkota-nya ini hanya lewat sepasang sorot netra saja. Di mana Komando Zhu sendiri, tampak kurang setuju dengan terus menentang. Entah karena takut Lin Feng-lah yang akan menuai prestasi ataupun segala pujian dalam misi perburuan ini, atau memang karena curiga dan tak bisa sepenuhnya percaya akan ide Lin Feng. Entahlah apa itu, karena yang pasti Jin Kai akhirnya menyetujui permintaan Lin Feng.
Lantas, apa yang bisa dikatakan oleh Komando Zhu, bukan? Selain terdiam, menelan sisa ucapan yang belum sempat dikeluarkan. Mana berani seorang komando melawan jikalau atasan saja sudah mengatakan dengan jelas persetujuannya.
Alhasil, inilah yang terjadi. Jin Kai yang menyaksikan kepergian Lin Feng bersama sebagian pasukan atau prajurit Zhu lainnya, jauh dan kian jauh sampai tak lagi mampu tertangkap pandangan, bergabung sudah dalam rerimbunan hutan nan jauh di sana. Tempat yang akan menjadi medan perburuan Zhen Chen, ahli muda bunga menyedihkan itu.
Bagaimana tidak menyedihkan, baru saja kehilangan keluarga barunya, dan sekarang masihlah harus berusaha menyelamatkan diri dari kejaran demi kejaran prajurit terlatih. Biar kata hutan cukuplah rimbun, dan gelap pula efek rembulan yang kembali bersembunyi pada awan mendung. Tetap saja, gemuruh langit yang memancarkan kilatan demi kilatan cukuplah terang memancarkan cahaya. Mengharuskan ahli muda bunga ini akhirnya bersembunyi seraya netra mengedar ke sana-sini, berusaha mencari atau barangkali memutuskan harus pergi ke arah mana.
Namun, ke mana harus dirinya pergi? Tempat apa pula yang akan berani didatanginya? Dan bagaimana jikalau orang-orang yang menyembunyikannya malah kehilangan nyawa pula? Tidak, tentu Zhen Chen tak lagi bisa menyaksikan hal-hal demikian. Yang mana kini bahkan ia tak bisa menangis lagi, dilema yang dirasa sangatlah membingungakan pun bohong jika dibilang tak takut sama sekali.
Apalagi seruan prajurit kian terdengar jelas, obor-obor api yang dibawakan pun mulai terlihat jelas. Akan tetapi, rencana seperti apa yang harus dilakukan masihlah tak bisa terpikirkan. Apa mungkin kesedihan dan ketakutan membuat otaknya tak mampu berpikir jernih? Sampai titik di mana ia pun berakhir melakukan suatu kesalahan.
KRAK!
Pantas memang ia merutuki diri, memindahkan sebelah kakinya yang baru saja mematahkan ranting. Dan benar saja, prajurit sukses menemukan persembunyiannya. Lantas, tidak mungkin berdiam diri dan menanti penangkapan, bukan? Berlari dan berlari, napas memburu begitulah cepat seakan napas saja taklah begitu didapatkan Zhen Chen nan panik ini.
__ADS_1
“Kejar dia! Jangan sampai lolos!”
Anak panah mulai ditembakkan, tapi Zhen Chen tak peduli dan hanya tahu lari dan lari. Setidaknya berkat kegigihan itu, lesatan dari runcingnya pisau panah berhasil dihindari. Akan tetapi, seberapa lama memangnya ia mampu bertahan seperti ini terus? Di kala energi mulai terkuras, sementara prajurit kian banyak meluncurkan panahan. Namun, satu hal yang tak akan berubah, tekad yang dimiliki untuk tetap hidup.
Bukankah nyawanya sangatlah mahal? Tidak bisa dibayarkan atau dihargai dengan jumlah berapa pun, karena jelas harta benda duniawi tidak ada yang pantas untuk itu. Yang mana peluh bercucuran, bahkan tak tahu lagi apakah itu buliran keringat atau justru buliran air mata. Dan ... alasan apa pula yang membuat langkah lariannya terhenti, mematung sembari menurunkan pandangan ke bagian bawah dari kaki.
DEG!
Panah telah menancap tepat pada betis kanannya, melumpuhkan seketika Zhen Chen. Meringis menahan rasa nyeri teramat sembari mencabut panah tersebut lepas. Darah mengalir deras, terasa hangat pula. Pun dengan segera ia merobek bagian dari kain pakaian, mengikat luka tersebut sekencang dan sekuatnya. Di mana bibir gemetar, terus saja mengerang. Namun, pandangan sibuk melihat ke arah prajurit yang barangkali tahu jikalau target mereka telah dilumpuhkan.
“Keluarlah! Kau tidak akan bisa selamat!”
“Berhentilah menghabiskan waktu dan mari selesaikan semuanya dengan cepat!”
“Kau sungguh keras kepala! Kenapa tidak menyerah saja seperti orang tua angkatmu?!”
Tawa, benar. Tawalah yang kini terdengar. Bagaimana bisa sebagai manusia mereka mampu tertawa demikian senangnya? Itu nyawa yang hilang yang diserukan, bukanlah nyawa binatang. Lantas bagaimana bisa Zhen Chen tak meluap amarahnya mendengar hal-hal demikian? Perlahan membangunkan kembali sepasang tungkai, menjadikan amarah sebagai penghilang sakit dari luka tembakan yang didapatkan barusan. Tepatnya didapatkan dari prajurit yang bahkan tak pantas disebut manusia, bahkan tak pantas pula disebut binatang.
Namun, hal yang lebih mengesalkannya lagi. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk melampiaskan kemarahan tersebut, tidak ada pula yang bisa dilakukan untuk melawan apalagi melukai prajurit penghina orang tuanya. Karena yang ia bisa lakukan, hanyalah kabur dan melanjutkan pelarian. Dan hal itu, kian menyakitkan hati ketimbang rasa sakit dari luka tembakan panah yang didapatkan tadi.
Terseok-seok melangkah, pandangan kabur oleh semacam embun siap pula meluruh. Sesekali ia akan menyeka netra tersebut dengan tangan berlumuran darahnya, meninggalkan noda pada sisi wajah memucatnya itu.
Die, Niang, beritahu aku, apa yang harus kulakukan agar bebas dari pengejaran ini? Apa kiranya aku bisa memenuhi janjiku pada Xian’er?
“Ikut aku jika tidak ingin mati,” bisiknya.
Lin Feng!
Benar, itu Lin Feng. Yang mana dengan sigap dan mudahnya membawa Zhen Chen ke sisi lain hutan, menjauhi prajurit pengejar yang ada.
Maka, di sinilah kini dua pria ini berada. Tepatnya di atas dari jurang tinggi, di mana rembulan di sini begitulah terang dan dekat rasanya untuk digapai. Pun angin cukuplah kencang, menusuk dingin begitulah dalam ke tulang-tulang.
“Lukamu ....”
“Kau akan membunuhku?” potong Zhen Chen. “Lihatlah ... jadi orang seperti apa Taizi. Apa ini yang kau inginkan? Membunuh semua orang yang tidak bersalah, menjadikan dirinya hidup dalam kegelapan bahkan menyakiti Xian’er berkali-kali!”
“Aku tahu, sekarang aku tahu. Tidak menghentikannya melakukan hal licik saat itu padamu dan Zhen Xian, itu salahku, Zhen Chen. Kuakui.”
“Banyak nyawa yang hilang karenaku, dan aku tidak akan menyerahkan nyawaku dengan mudahnya.” Sebulir air mata meluncur menapaki sebelah pipi, dan Zhen Chen tak ingin Lin Feng di hadapannya menyaksikan betapa terpuruknya ia. Memalingkan sedikit wajah ke samping sembari menyekanya. “Ada janji ... yang harus kutepati pada Xian’er, terlebih untuk kedua orang tuaku, Lin Feng.” Kembali lekat memandangi pengawal pribadi Jin Kai ini. “Bisakah kau memejamkan matamu, dan melepaskan diriku?”
“Apa kau percaya padaku?”
__ADS_1
Menggeleng-geleng, meskipun memang benar netra Lin Feng begitulah dipenuhi perasaan manusiawi. Namun, bagaimana bisa percaya. Biar bagaimanapun, pria ini tetaplah pengikut setia Jin Kai. Rencana seperti apa, dan permainan seperti apa lagi yang dimainkan, bagaimana bisa Zhen Chen menebaknya dengan pasti?
Akan tetapi, jika bukan pada Lin Feng, pada siapa lagi harus meminta tolong?
Menyebalkan, begitu mengesalkan pula situasi dan kondisi saat ini. Tak heran apabila Zhen Chen akhirnya mengangguk pasrah seperti ini. “Aku bertaruh untuk percaya,” ucapnya.
Yang mana Lin Feng, dengan wajah kaku nan tegas itu mendekat. Entah kata seperti apa yang akan dikeluarkan, mari coba saja percaya kali ini padanya. Namun, apa begini caranya seseorang jikalau bermaksud akan menolong? Bukannya memberikan rasa aman, malahan rasa takutlah yang menyerang.
JLEB!
“K-kau ....”
BRUKK!
Tubuh ambruk begitu saja, tangan ditempatkan tepat pada dada yang selama ini menaungi detakan demi detakan kehidupan. Hanya saja, kali ini darahlah yang menemani, kian mengalir deras hingga Zhen Chen sendiri tergeletak begitu saja pada dinginnya tanah, pandangan di antara hidup dan mati pun lurus memandangi langit berkelebat kilatan bersahut-sahutan. Layaknya sedang mempertanyakan, apakah langit akan menurunkan hujan untuk memperingati kematiannya? Ataukah ... hujanlah wujud yang akan datang menjemput nyawanya untuk bertemu keluarganya? Baik itu keluarga kandung ataupun keluarga Zhen.
Namun, belum sempat mengetahui jawabannya, jendela kehidupan telah lebih dahulu tertutup rapat. Yang mana Lin Feng, si pelaku yang menghunjam keji ini pun akhirnya menghelakan napas penuh kelegaan. “Ini lebih baik untukmu, Zhen Chen.”
Tak berselang lama setelahnya, beberapa prajurit datang menghampiri. Mendapati tubuh Zhen Chen telah tergeletak, dan hal itu serta merta pula melegakan mereka.
“Tuan, apa mungkin ...?”
“Benar,” timpal Lin Feng, tak lagi ingin mengatakan panjang lebar dan memilih untuk berlalu pergi sembari menitahkan prajurit tersebut untuk membawa tubuh Zhen Chen kembali ke kediaman keluarga Zhen.
Tepatnya membawa pada Jin Kai, untuk diperlihatkan pada Putra Mahkota tersebut jikalau tugasnya untuk membawa mayat Zhen Chen telah dipenuhi. Yang mana Jin Kai sudah sepatutnya menyingkirkan segala bentuk dan jenis kecurigaan padanya, karena di mata Pangeran Agung tersebut ia tetaplah akan menjadi pengawal pribadi nan setia. Dan hal itu penting, sangatlah penting bagi Lin Feng yang kini tiba pun memberikan hormat pada Jin Kai.
Tepatnya Jin Kai yang kini sendu memandangi tubuh tak berdaya Zhen Chen, segala kebencian, amarah, dan kecemburuan yang pernah dirasakan seakan menghilang sepenuhnya termakan oleh dinginnya udara malam penuh amis darah ini.
“Kau sudah bekerja keras,” ungkapnya sembari memeriksa nadi leher Zhen Chen. Serta merta pula, Jin Kai memundurkan langkah dengan kesedihan jelas menguasai keseluruhan wajah. “Di kehidupan berikutnya ... mari kita menjadi teman sesungguhnya, Zhen Chen,” lirihnya, menitikkan setetes air mata. Setidaknya itu memang nyata jikalau Zhen Chen pernah menjadi teman terbaiknya, biar kata hanya sebentar. Tetap saja, hal itu pernah dirasakan olehnya.
Kau boleh membenciku selama yang kau mau, karena aku pantas mendapatkannya. Maafkan aku, Zhen Chen. Maafkan aku ... dan beristirahatlah dengan tenang. Dan melalui helaan lantang, Jin Kai membuang pergi kesedihan. “Bawa mayat ini ke dalam rumah pekerja keluarga Zhen, tempatkan pula Zhen Chen didekat dua orang tuanya.”
Alhasil, inilah kini yang terjadi. Jin Kai yang memegang obor api, melemparkan kemudian pada rumah pekerja. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana cepatnya api menjalar dan melalap rumah tersebut.
“Semua sudah bekerja keras, mari kita kembali dan melaporkan pada Huangdi.”
Namun, kenapa dengan Lin Feng yang tampak tidak mendengarkan ucapan? Dirinya malah mematung seraya pandangan tak hentinya diarahkan pada rumah kobaran api tersebut, apa mungkin karena rasa bersalah?
“Taizi, kalian kembalilah dulu. Aku akan pergi setelah memastikan semua terbakar dengan baik.”
Pun Jin Kai tak menghentikan, mengangguk menyetujui. “Jangan terlalu lama di sini, hujan akan segera turun.” Dan Lin Feng membalas dengan anggukan saja, anggukan yang mengantarkan pula Jin Kai dan lainnya pergi. Meninggalkan Lin Feng seorang dalam sunyinya malam, merasakan pula rintikan air langit memanglah turun akhirnya.
__ADS_1
Dapat dikatakan, langit menangis. Akan tetapi, buat apa menangis jikalau selama ini terus saja tak pernah membantu Zhen Chen, pria baik nan menyedihkan itu. Di mana Lin Feng sendiri terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya, memperlihatkan benda tersebut tak lain dan tak bukan adalah kantong wewangian keemasan bercorak chahua merah muda. Sedangkan pandangan, ia arahkan kembali pada rumah yang terbakar seraya rintikan tangisan langit kian deras.
Apa semua benar akan membaik setelah ini ...? Ataukah justru akan kian memperburuk keadaan?