
Apakah waktu terhentikan sudah? Segala hal tidaklah mampu tertangkap pendengaran, semacam sepasang telinga telah dimasuki sejumlah air sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Buliran air mata sontak luruh, tapi kerongkongan sama sekali tidak mampu mengeluarkan suara apalagi sepatah kata. Tercekat dalam suatu sesak yang bersumber dari dada, menguar ke sekujur tubuh yang sukses melimbungkan ketahanan sepasang tungkai.
“Xian’er.” Menahan, memapah gadis ini sejadinya untuk tak rubuh sepenuhnya. Tanpa sedikit pun Zhen Chen mengalihkan pandangan lekatnya pada Que Mo, sahabat sekaligus saudaranya, pria malang yang terkena panah beracun. Yang bahkan kini kembali panah menembusi pusat dari detak hidupnya, menahan tak membiarkan panah mengenai target sasaran yang tak lain adalah Zhen Chen itu sendiri. Harus bagaimana diriku membalasmu, Que Mo?
“Ce-cepat ... PERGILAH!!!” Ambruk sudah tubuh, tertelungkup seraya mulut menyemburkan darah. Sejadinya Zhen Xian menyeru-nyerukan Que Mo dan Que Mo tanpa peduli lagi jikalau hal itu akan melukai pita suaranya. Berusaha melepaskan diri dari tahanan sang kakak, sebelah tangan terus diulurkan ingin meraih pria malang nan kesakitan itu. Namun, apalah daya, di saat jarak bukannya terkikis malah kian menjauh. Terus saja sang kakak menarik paksa untuk pergi, seraya Zhen Chen sendiri hanya bisa menahan kesedihan serta tangisan yang siap meledak kapan saja itu jauh ke dalam terdasar dari hatinya.
Yang mana kepergian Zhen Xian yang dipaksa oleh Zhen Chen tersebut malah sukses mendatangkan senyuman bagi Que Mo. Semacam inilah jawaban dari pertanyaan hati Zhen Chen, jikalau ingin membalas budi maka cukup selamatkan Zhen Xian untuk menjauh dan jangan biarkan kembali hidup dalam istana. Terlebih jangan biarkan kembali pada Jin Kai. Merebahkan wajah berlinangkan air mata nan memucat itu ke dinginnya tanah, berseliweran pula kenangan akan sepanjang hidupnya yang berubah menghangat dan penuh kebahagiaan bahkan mengenal apa itu sebuah keluarga.
Terima kasih atas hidup baru yang kau berikan padaku. Mungkin ini adalah akhir dan perpisahan, tapi jika ditakdirkan bertemu kembali ... maka waktu itu, saat itu ... aku pasti akan menjadi orang pertama yang mengenalmu. Membalas kebaikanmu akan hidupku yang menyedihkan ini, Zhen Xian. Sepasang netra terpejam, sebulir air mata meluruh menemani. Dan saat itu pula angin berdesau, mungkin berusaha mengirimkan ucapan hati ini pada Zhen Xian yang masihlah menangis dalam larian. Tak percaya jikalau Que Mo yang selama ini menemaninya dalam istana harus berakhir sedemikian kejamnya.
Siapa pula yang akan memedulikan tubuh pria malang itu, bukan? Setidaknya Que Mo pantas mendapatkan suatu jenis pemakaman layak, setidaknya itu haruslah dilakukan, bukan? Namun, apa ini? Selain lari dan lari dari pengejaran para pasukan pengejar nan gigih itu, tidak ada hal lainnya yang bisa dilakukan.
Napas begitulah memburu, Zhen Chen bahkan dengan eratnya terus menggenggam tangan gadis yang termenung dalam kesedihan kehilangan ini untuk tak menyerah. Meskipun benar, orang yang paling merasakan keputusasaan kini tak lain adalah ia sendiri, Zhen Chen yang mulai meluruhkan sejumlah air mata tertahankan. Membayangkan dalam hidupnya ini telah berapa banyak nyawa yang hilang dikarenakan identitas asli yang dimiliki.
Berawal dari keluarga Zhen serta para pekerja, kemudian Azheng dan pasukan Wei lainnya, lalu Que Mo dan kini ... bagaimana dengan Zhen Xian, gadis pemilik hatinya ini? Apakah masih bisa kabur? Di kala gerbang belakang kota, tempat yang tadinya menjadi tujuan kabur mereka kini tidak akan lagi bisa dilalui berkat tertangkap dan musnahnya sudah seluruh pasukan Azheng dalam pemberontakan gagal tersebut.
Lantas siapa yang bisa membantu? Siapa yang bisa menyalakan kembali cahaya harapan? Meskipun cahaya itu hanya berupa cahaya kecil layaknya kunang-kunang, sama sekali tidak jadi masalah. Selama bisa membantu, membawa Zhen Xian hidup bebas di luar Kota Yunnan-Fu ini .... Itu sudah cukup bagiku.
Benar, sudah menjadi suatu kebahagiaan tersendiri dengan mengetahui orang terkasih kita hidup baik-baik saja, bukan? Dan Zhen Chen, mulai menghentikan larian. Jikalau ditanyakan alasannya, maka Zhen Xian pun ingin tahu. Tak heran jikalau gadis ini memposisikan diri, berhadapan dengan sang kakak yang entah kenapa pula terlihat begitulah tak sehat, memucat seraya sekali-kali memejamkan sepasang netra seakan sedang berusaha menjernihkan pandangan.
“Ge, ada apa denganmu? Kumohon beritahu aku, jangan menakutiku seperti ini,” panik Zhen Xian, memapah sang kakak yang tak diketahuinya kenapa bisa tiba-tiba selemah ini. Apa mungkin luka lamanya kambuh? Di mana Zhen Chen menunjuk ke satu arah, pun serta merta Zhen Xian menuruti. Mendekati area dari tanah curam yang tertutup rerimbunan semak-semak, bersembunyi di bawah sana. Bahkan rembulan ikut membantu, berhenti menyebarkan sinarnya.
“Putra Jenderal Wei itu telah terkena tembakan panah! Mereka tidak akan bergerak jauh!”
DEG!
Di antara percaya tidak percaya, pandangan diturunkan serta pada sang kakak. Bagaimana bisa masih memedulikan akan para pasukan pengejar di atas sana, bukan? Memastikan seyakin mungkin jikalau seruan Komando Zhu barusan tidaklah benar, jelas itu satu-satunya hal terpenting saat ini. Namun, kenapa sang kakak bahkan tak bersedia mengucapkan apa pun? Jikalau khawatir mengeluarkan suara, maka ia bisa menggeleng sebagai gantinya, bukan? Tapi kenapa sama sekali tidak ada reaksi, bahkan pandangan saja dibuangnya ke lain arah.
Oleh karena itu, tanpa izin atau apa pun. Zhen Xian, gadis ini mulai memeriksa sekujur tubuh pria yang dicintainya ini. Menahan air mata untuk berhenti meluruh, di kala Zhen Chen sendiri terus saja menahan untuk menghentikan pemeriksaan. Kian meningkatkan kecurigaan Zhen Xian yang pada akhirnya sungguhlah menemukan pun menyaksikan secara lebih jelas lagi akan keberadaan goresan panah tepat di lengan kiri sang kakak.
__ADS_1
Tidak dalam, tidak pula banyak mengeluarkan darah. Akan tetapi, luka tersebut menghitam. Sama persis dengan apa yang dialami Que Mo, termasuk gejala yang dialami oleh sang kakak kini yang kian kehilangan rona ataupun sejumlah energi.
Lantas apa yang bisa dilakukan Zhen Xian? Di kala sepasang netra sang kakak menyiratkan sesuatu yang sontak membuat Zhen Xian menolak, mengeleng-geleng penuh ketidaksetujuan dan ketidakterimaan. Bahkan menepis jatuh benda yang diserahkan, token Jenderal Wei.
“Kau ingin aku pergi?” Tersenyum kecut, tak percaya akan permintaan sang kakaknya ini akan sedemikian egoisnya. “Ke mana ... ke mana kau menginginkanku pergi seorang diri?” tanyanya lagi, memalingkan wajah berlinangkan air mata itu sembari mengembuskan napas menyesakkan dari dadanya yang membuncah. “Tidak ada siapa pun di dunia ini yang kunanti, yang kumiliki hanyalah dirimu seorang kini, Ge ... aku bertahan hingga sekarang itu juga karena dirimu.”
Tidak mungkin Zhen Chen tak tahu. Jelas ia tahu dari sekadar tahu akan hal itu, tapi sekarang situasi dan kondisi benar-benar telah jauh dari apa yang direncanakan. Jin Kai, pria itu benar-benar telah mematahkan semua sayap pengharapan yang ada. Menghentikan segalanya, pun membuktikan jikalau semua hal sungguhlah ada dalam genggaman dan kekuasannya sebagai seorang Putra Mahkota. Inilah ... inilah kenyataan yang tak terbantahkan.
Namun, siapa Zhen Xian bagi Putra Mahkota itu? Kelemahan, bukan? Yang mana inilah yang ingin sekali Zhen Chen tegaskan, meminta dengan sangat agar Zhen Xian memanfaatkan kelemahan tersebut untuk kabur dari kota terkutuk ini. Mengancam sejumlah pasukan penjaga gerbang dengan nyawa, maka sekiranya apa yang akan dilakukan Jin Kai? Akankah tetap tak mengizinkan ... ataukah justru mengizinkan?
Berisiko memang, tapi patut dicoba di kala memang tidak ada lagi cara lain selain ini. Dan Zhen Xian masihlah menggeleng tak setuju, atau tepatnya tidak mau. “Bahkan jika risikonya kecil sekalipun ... aku tidak mau melakukan hal itu,” tekannya. Karena kau tidak akan lagi ada di sisiku, tidak ada Que Mo ... tidak ada pula Die dan Niang. Yang mana kala sang kakak ingin berucap kembali, saat itulah tanpa ragu ataupun segan. Sebuah ciuman mendarat tepat pada bibir Zhen Chen yang sontak saja terdiam, bahkan setelah ciuman sesaat itu berakhir sekalipun.
“Tidak ada kesempatan bagiku untuk kabur, Ge. Siapa itu Jin Kai masihkah kau tidak mengenalnya? Pria itu akan selalu mengejarku seumur hidup, di mana dan sejauh apa pun aku berada. Selagi ambisinya belum hilang, pada akhirnya aku pun akan tertangkap dan kembali ke istana.” Meraih, menggenggam kedua tangan hangat sang kakak yang masihlah sama seperti diingatannya sembari pandangan terus dilekatkan. “Aku tidak ingin hidup seperti itu. Aku tidak ingin ... itu jauh lebih menyakitkan dan menyiksaku.”
“Niang memintaku untuk menjagamu, memastikan kau hidup adalah misiku pula ... aku ....”
“Ini keputusanku karena ini hidupku,” potong Zhen Xian. “Penjagaan serta misimu bahkan janjimu sendiri padaku telah terpenuhi dari sejak kau kembali, Ge. Jadi ... biarkan aku kali ini yang membuat keputusan.” Membantu sang kakak bangun, kembali memapah untuk kemudian menuruni dataran curam ini hingga sepasang tungkai mereka menapak selangkah demi selangkah pada jalanan setapak yang entah kenapa terasa tak asing bagi Zhen Chen pribadi.
Yang mana para pasukan pengejar di hutan sana, sepenuhnya telah kehilangan jejak. Pun Komando Zhu berakhir kembali ke istana, melaporkan ketidakbecusannya dalam bekerja pada Jin Kai. Menjelaskan pula dengan rinci segala hal yang terjadi, termasuk memberitahukan jikalau putra dari Jenderal Wei tersebut telah terkena racun dari panah. Dan beruntungnya, Putra Mahkota tidaklah menunjukkan kemarahan, melainkan keterkejutan-lah yang justru menguasai Pangeran Agung ini. Tepat ketika mendengar lokasi dari menghilangnya target ada di mana.
Gawat! Bergegas meninggalkan kediaman, diikuti Komando Zhu pula. Berakhir sudah, Jin Kai mengambil alih kepemimpinan sejumlah pasukan untuk meninggalkan istana menuju tempat yang dicurigainya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, TIDAK AKAN! Mencambuk kuda berlari lebih kencang lagi, suara derapan yang dihasilkan di bawah langit rembulan pun memenuhi kesunyian malam Kota Yunnan-Fu.
Namun, kesunyian itu sendiri sangatlah kental di lain tempat. Tempat yang dulunya dipenuhi hamparan warna-warni bunga, kehangatan menyelimuti sembari sapaan serta senyuman kegembiraan memenuhi seluruh wajah para pekerja. Masih teringat jelas sekali dalam benak, biar kata semua itu telah hilang kini. Apalagi ketika kini pandangan dihadapkan dengan sebuah rumah, masuk pula ke dalamnya untuk melihat lebih jelas jikalau rumah ini masihlah sama pun terawat seperti saat terakhir kali ia berkunjung dua tahun lalu.
Meskipun benar, tak banyak kata dikeluarkan sepasang kekasih ini, dikarenakan sang kakak memanglah tak lagi mampu berucap. Mulut telah dikuasai sejumlah bercak muntahan darah, pun bibir menggelap jelas tertampilkan di bawah pendar cahaya dari sebuah lilin yang dinyalakan Zhen Xian untuk kemudian secara tertatih-tatih, memapah, membawa masuk sang kakak yang hampir sepenuhnya kehilangan energi ini ke dalam kamar, mendudukkan pria yang dulunya diberi julukan ahli sekaligus jenius bunga ini pada pinggiran ranjang. Tepatnya ranjang dari kamar pribadi Zhen Xian sendiri.
Pun lilin yang dibawakan, ditempatkannya pada nakas. Barulah Zhen Xian kembali berfokus pada sang kakak yang di sebelahnya, bersenderkan kepala di bahunya ini. “Masih ingatkah ... dulu kau memberikanku tusuk konde ini?” Melepaskan dari mahkota kepalanya, menunjukkan pada sang kakak yang hanya bisa mengangguk sembari meluruhkan air mata. “Ini sungguh hadiah terbaik dalam hidupku, dan kenangan yang tidak akan pernah kulupakan, Ge.” Yang mana sang kakak, mungkin dengan sisa-sisa energi yang dikumpulkan sepenuhnya, ia menyentuh kantong wewangian yang tergantung mantap di bagian lingkar pinggangnya.
Senyuman, benar. Itulah yang disaksikan Zhen Xian, tahu jikalau pria ini sedang bermaksud menyampaikan apa. Dan hal itu sontak pula menghadirkan senyuman bagi Zhen Xian sendiri, apalagi saat melihat dengan jelas jikalau di sepasang netra sang kakak telah dipenuhi akan suatu kerelaan dan juga keikhlasan atas semua perjalanan hidup tak mudah yang dialami dan jalani selama ini. Kehilangan demi kehilangan terus terjadi, dan kini segala hal itu akan berakhir, bukan? Untuk kemudian berkumpul kembali dengan semua orang yang barangkali sedang menunggu kini. Di atas sana, di dunia lain atau bahkan di alam lain dari semesta nan luas ini.
__ADS_1
Dan kebahagiaan tidak bisa pula dikecualikan, di saat gadis yang dicintainya menemani, bersama, bahkan gadis ini kembali memberikan ciuman. Ciuman yang tak bisa dikatakan seperti ciuman pertama mereka tadi, melainkan sebuah ciuman hangat nan lembut serta memiliki banyak arti mendalam yang hanya dipahami mereka. Pun saat angin kencang berembus, mendobrak jendela untuk terbuka lebar. Tak pula mereka berhenti, tak pula sedikit pun keterkejutan menghampiri. Yang ada justru hal lain-lah yang terkejut, tumbang bersama dengan cairan hangatnya untuk kemudian menyalakan sejumlah penerangan yang kian besar dan membesar hingga menyebar ke seluruh bagian rumah dengan begitulah cepat oleh bantuan embusan angin. Seakan hujan saja tidak akan mampu memadamkan.
Lantas, bagaimana bisa Jin Kai yang baru saja tiba bersama rombongan pasukannya ini mampu, bukan? Yang bahkan Jin Kai sendiri tak lagi mampu berpikir jernih, apalagi berpikir panjang. Yang dipikirkan saat ini hanyalah Zhen Xian dan Zhen Xian, istrinya, gadis pemilik hatinya haruslah selamat dan bersama dengannya di istana dan pastinya di dunia ini pula.
“Zhen Xian ... ZHEN XIAN!” serunya, berjuang bahkan tak segan menyerang Komando Zhu yang berusaha menahan untuk tak mendekati kobaran api tersebut. “Lepaskan ... LEPASKAN AKU INI PERINTAH!”
Namun, bagaimana bisa melepaskan? Jelas perintah saat ini bukanlah perintah yang patut dituruti, bahkan jikalau Putra Mahkota akan membunuh sekalipun, Komando Zhu akan menerimanya alih-alih melepaskan untuk kemudian terbunuh di tangan Raja.
“ZHEN XIAN, ZHEN XIAN!!!” Berderai air mata, kobaran api yang melahap itu seakan membakar bagian terdalam dirinya. Terus saja meronta-ronta, bahkan bela diri tinggi yang dimiliki seakan hilang begitu saja. Yang ada hanyalah berupa kehilangan dan terus kehilangan sejumlah energi, menyemburkan darah untuk setelahnya tenggelam dalam ketidaksadaran diri. Tanpa siapa pun yang tahu, jikalau kediaman Zhen Xian dalam istana, yaitu Kediaman Chahua. Kini, seluruh mekaran chahua baik di taman depan atau belakang layu pun terjatuh ke dinginnya tanah untuk kemudian mengering layaknya terbakar.
Kepergian seperti ini membuatku jauh lebih bahagia, sekaligus memberikan hukuman padanya yang telah merenggut segala kebebasan dan kebahagiaanku. Tidak ingin pula diriku membiarkan ia melihat mayatku, mungkin ... ini semacam sikap egoisku akan kebencian padanya. Dan aku tidak merasa menyesal, sedikit pun tidak.
Pun purnama menjadi saksi kisah cinta dan benci di antara tiga manusia ini berakhir. Tak mengherankan jika setelah kejadian itu, hujan terus saja mengguyur Kota Yunnan-Fu selama tiga hari dan tiga malam. Namun, bukan berarti cerahnya langit kemudian hadir, melainkan mendung terus saja dialami semacam pelangi indah tidak akan pernah hadir lagi dalam dunia ini. Semacam mewakili perasaan seseorang yang kini terus saja mengurung diri dalam kediaman pribadinya.
“Kau akan pergi?”
Menoleh, mendapati Putri Mahkota yang bertanya barusan mendekat bersama dengan Kasim Ma. Bahkan sendu dan bengkak di sepasang netra wanita ini tak bisa disembunyikan oleh bedak semahal apa pun itu, dan seseorang yang ditanyakan tak pula mengalami kondisi yang lebih baik, kesenduan hadir luka lecet pun menghiasi wajah yang biasanya kaku pun penuh ketegasan itu. Yang mana ia mengangguk, membenarkan pertanyaan sang Putri Mahkota.
“Aku tidak akan pernah bertemu kembali dengannya, terlebih tidak akan pernah lagi menginjakkan kakiku ke istana ini. Dosaku terlalu besar.”
“Lin Feng, kau tidaklah melakukan dosa apa pun.”
Tersenyum hampa, sebulir air mata meluruh tanpa diminta sembari pandangan dilemparkan pada kediaman yang selama ini menjadi tempat penjagaannya. “Ia akan mengalami banyak kesulitan. Aku sadar permohonanku ini egois, tapi aku dengan tanpa tahu malu ini masihlah ingin memohon padamu, Taizifei.” Berlutut, Lin Feng menundukkan sedikit wajahnya. “Mohon ... jaga dan temani selalu ia dalam istana yang dingin ini. Jangan biarkan ia merasa ditinggalkan dan tak dipedulikan siapa pun. Biarkan ia menyadari, jikalau dalam hidup ini masih ada orang yang peduli dan mencintainya.”
“Kau jangan khawatir, tanpa dirimu minta sekalipun aku akan tetap melakukan hal itu, Lin Feng. Lagian ada Kasim Ma pula di sisinya. Bukankah begitu, Kasim Ma?”
“Benar, tidak akan terjadi apa pun pada Taizi. Kau cukup percayakan pada kami.”
Ketenangan barulah memenuhi pria berwajah kaku nan tegas ini, memposisikan tubuh berlututnya berhadapan lurus pada kediaman Jin Kai untuk kemudian bersujud memberikan penghormatan terakhir. Baik sebagai pengawal pribadi ataupun perpisahan sebagai seorang sahabat, dan dengan wajah terangkat pula ia meninggalkan istana yang dilayaninya selama ini. Meninggalkan pula gelar bangsawannya pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kediaman mewah rumahnya untuk hidup berkelana.
__ADS_1
Entahlah ke mana itu, yang pasti ia akan mencoba hidup penuh kebebasan untuk melihat dunia secara lebih luas lagi, bersama sang ayah, Tuan Lin. Tepat di saat Raja mengeluarkan dekrit pengembalian gelar dan nama baik Jenderal Wei sebagai jenderal terbaik yang pernah ada dalam sejarah Kerajaan Yunnan-Fu.