
Kolam teratai berair hijau.
Benar, inilah tempat pilihan yang dipilih Zhen Chen. Satu-satunya tempat dalam istana yang jauh dari jangkauan ataupun penglihatan orang-orang, setidaknya hal itu tidak melanggar aturan yang ada jikalau seseorang menanyakan di mana tepatnya Zhen Xian pergi. Jelas sekali jika Zhen Chen taklah membawa gadis ini keluar dari istana.
Melainkan, ahli yang sekaligus jenius bunga ini hanya ingin menunjukkan pemandangan senja yang memerahkan air kolam, berkerlap-kerlip pula layaknya kolam ditaburi semacam serbuk sihir pemukau atau penghipnotis bagi siapa pun yang melihat.
“Bagaimana ... kau suka?”
“Sangat indah, Ge. Bagaimana mungkin aku tidak suka? Jelas sekali aku suka,” timpal Zhen Xian. Apalagi jika melihatnya bersama denganmu. Tersenyum, mata berbinar yang mana di sepasang mata itu sendiri dipenuhi gambaran sang kakak.
“Sudah lama kita tidak di sini bersama, bukan?”
Pertanyaan sang kakak itu pun sontak saja menjadikan Zhen Xian sendiri bergeming, menolehkan pandangan pada indah kolam mekaran teratai di atasnya ini. Pikiran pun berkelana, hari di mana ia memutuskan untuk menjadi selir Jin Kai.
Sungguh keputusan yang menyesakkan, dan teramat sulit baginya kala itu. Namun, sekarang ia bersama sang kakaknya kembali. Meskipun benar dalam posisi di mana ia masihlah seorang selir, tapi posisi itu hanyalah nama saja, bukan? Tidak ada yang berubah, apalagi menyangkut perasaan dalam hati yang kian bergairah dari sebelumnya.
“Terakhir kali aku kemari ... itu tanpamu, Ge. Aku banyak menangis di sini sembari harus membuat keputusan pahit. Rasanya hal itu baru saja terjadi kemarin, tak disangka ... sekarang sudah hampir setahun berlalu.” Membawa diri mendekati pinggiran kolam. “Waktu, sungguh sangatlah cepat berlalu.”
Di mana Zhen Chen dari posisinya terus saja memandangi Zhen Xian, sadar betul kejadian itu adalah salahnya. Bisa dikatakan, inilah hal yang paling disesalinya selama ini. Andai ia mampu memutar kembali waktu ke masa itu, dan mengubah segalanya. Pasti sudah dilakukan, tapi dirinya sekarang hanya seorang manusia biasa yang bahkan takdir seperti apa dan rintangan apa yang akan dialami nanti, masih begitulah kabur. Satu hal yang pasti, tekad yang dimiliki untuk mengubah masa depan Zhen Xian untuk tak berada dalam istana ini jelas adanya.
“Percayalah, aku pasti ... pasti akan membawamu meninggalkan tempat dingin ini.”
Pohon dedalu yang mengitari kolam ini pun seketika bergerak-gerak dalam setiap embusan angin yang menghampiri, menghilangkan kesunyian yang ada di antara pria dan wanita saling menyukai ini. Hanya saja, si wanita belum begitulah yakin seperti si pria yang kini mengikis jarak. Menjadikan kolam teratai berair hijau ini menjadi saksi dalamnya tatapan di antara mereka. Hati menghangat, yang mana perlahan berubah dalam suatu kenyamanan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semacam, ada musim semi yang menggelitik dalam hati, pun aroma harum musim semi itu sendiri sukses menenangkan pikiran.
“Hampir saja aku lupa.” Sembari Zhen Xian merogoh lengan pakaiannya. “Aku membuatkan sesuatu hari ini hanya untukmu.” Mengeluarkannya, pun menunjukkan pada sang kakak. “Ta-da ...! Untukmu sebagai ganti tusuk konde,” lanjutnya, tak mampu jika tidak menyunggingkan senyuman.
“Kantong wewangian.” Mengambilnya, pun Zhen Chen memandangi pemberian gadis ini dengan penuh kasih sayang, seolah kantong wewangian itu adalah benda paling berharga yang pernah dimilikinya. “Apa kau tahu artinya memberikan barang seperti ini pada seorang pria?”
“Que Mo sudah memberitahuku. Kenapa? Apa kau merasa keberatan, Ge?”
Serta merta gelengan yang didapat Zhen Xian sebagai jawabannya, tentu saja Zhen Chen tidak akan keberatan. Yang ada malah ahli bunga ini tersenyum seraya sebelah tangan dibiarkan mengelus lembut pucuk kepala pun menyentuh tusuk konde chahua pemberiannya yang melekat di kepala Zhen Xian. “Kantong wewangianmu ini, aku akan menyimpan dan membawanya setiap hari,” ucapnya lebih lanjut. “Karena ini adalah bentuk cinta darimu, juga jimat pelindung bagiku.”
Sempat dibuat bergeming Zhen Xian mendengarnya, bentuk cinta ... cinta seperti apa yang dimaksudkan sang kakak ini? Dan kebingungan gadis ini mampu dilihat jelas oleh Zhen Chen sendiri, yang akhirnya meminta untuk memasangkan kantong wewangian pemberian Zhen Xian ini pada tubuhnya.
__ADS_1
Dengan senang hati pastinya gadis ini menyetujui, mengikat kantong wewangian keemasan bercorak chahua merah muda buatan tangan ini di bagian samping depan pinggang sang kakak. Sungguh terlihat sangatlah cocok, berpadu dengan pakaian berwarna putih Ketua Departemen Dekorasi ini, semacam menyatu yang mana pula harum dari dalam kantong wewangian menguar begitu saja.
"Tak hanya membuat kantongnya, kau juga menaruh wewangian di dalamnya?"
"Hmm, aku secara khusus membuat aroma itu untukmu, Ge. Tadinya aku tidak kepikiran, tapi bagaimana bisa memberikan kantong wewangian kosong padamu, bukan? Makanya ... aku memasukkan sejumlah wewangian yang pernah kubuat di sela waktu bosanku selama ini. Bahkan Que Mo saja tidak tahu akan keberadaan wewangian di dalam kantong itu."
Jika harus menjelaskan, aroma semerbak ini layaknya perpaduan dari beberapa bunga yang dikeringkan dan diberi semacam rempah. Lembut di awal, tapi kian menguat di akhir. Menjadikan siapa pun yang mencium aroma ini akan merasa tenang, tapi juga bersemangat. Bukankah ini menandakan Zhen Chen? Lebih tepatnya keberadaan Zhen Chen dalam hidup seorang gadis bernama Zhen Xian? Karena itulah yang Zhen Chen tangkap, tepat ketika mencium aroma ini meskipun tak bertanya lebih.
“Ada apa dengan tanganmu?”
Pun Zhen Xian yang baru saja selesai mengikat kantong wewangian, sontak saja menyembunyikan kedua tangannya tepat di belakang pinggang. “Tidak apa-apa, hanya luka kecil saat aku menjahit tadi.”
Namun, luka kecil bagi Zhen Xian, malah bagaikan luka besar bagi sang kakak. Jujur saja, melihat dirinya bereaksi seperti ini lantas apa yang harus dilakukan Zhen Xian? Belum lagi ketika sang kakak meraih dan menyentuh lembut luka-luka tusukan tersebut, ada semacam energi sengatan bertubi-tubi menggeliti hati. Menjadikan pemilik tangan itu sendiri tak nyaman jikalau terus diperlakukan seperti ini. “Kenapa bertindak seperti ini? Sungguh tidak apa-apa, Ge. Kau tidak ....”
Apa lagi ini? Kejutan atau serangan macam apalagi yang dimainkan sang kakak? Apa belum cukup membuat ia kebingungan pagi tadi dengan mengecup keningnya? Lantas kenapa sekarang sang kakak malah kembali berbuat ulah? Meskipun benar, kecupan kali ini bukan di tempat yang sama seperti sebelumnya, melainkan hanya di kedua telapak tangan. Namun, tetap saja kecupan adalah kecupan, itu adalah ketika di mana bibir bersentuhan dengan permukaan kulit Zhen Xian.
Apa mungkin sang kakak berpikir jikalau kecupan barusan semacam obat penyembuh luka tusukan jarum?
Yang benar saja, Ge. Yang ada kau malah kian menoreh pertanyaan dalam benak juga hatiku. Apa benar aku telah menyukainya ...? Aku pasti sudah gila.
Percaya atau tidak, jika gadis ini mengucapkan satu saja kata, mungkin sesegukan akan segera menyerangnya. Dan hal itu, kembali membuat Zhen Chen tersenyum, tak tahu kenapa gadis ini sangatlah mudah ditebak. Yang mana artinya, Zhen Chen sendiri telah yakin akan perasaan yang dimiliki Zhen Xian ini terhadapnya seperti apa.
Hanya saja, sekarang belum waktu yang tepat bagi gadis ini tahu kenyataan bahwa mereka bukanlah saudara sedarah. Berharap, gadis ini mampu menunggu sedikit lebih lama lagi sampai setidaknya Zhen Chen merasa segala situasi dan kondisi memanglah aman bagi Zhen Xian tahu yang sebenarnya.
Jika Jin Kai tahu, bukankah akan sangat tidak baik? Di saat gadis ini sendiri pun taklah pandai berbohong, ditambah Jin Kai adalah orang yang peka dan memahami sekali situasi hanya lewat pandangan saja. Bahkan, Putra Mahkota itu telah menyadari perasaan suka Zhen Chen pada gadis ini sejak lalu, sejak di mana Zhen Chen sendiri belumlah tahu atau sadar jikalau ia memanglah memiliki perasaan dalam pada sang adik.
Jika bukan karena diberitahukan kenyataan akan siapa dirinya oleh ayah dan ibu, tidak akan pula Zhen Chen memiliki keberanian seperti ini memperlakukan Zhen Xian, bukan? Yang mana kini keduanya tak lagi ada di kolam teratai berair hijau, tepat ketika sang surya menenggelamkan diri seutuhnya.
Namun, ke mana lagi ahli sekaligus jenius bunga ini akan pergi? Tepat setelah mengantar Zhen Xian kembali ke kediaman, tak lama justru gadis ini keluar dalam balutan pakaian yang jauh lebih sederhana. Di mana orang-orang jikalau melihat, tidak akan tahu jikalau Zhen Xian adalah bagian dari keluarga kerajaan. Pun ada pula Que Mo yang bergabung, dan ketika mereka meninggalkan Kediaman Chahua, Que Mo yang tadinya mengekori justru kini memimpin jalan seraya pandangan mengedar waswas bahkan takut-takut seraya langkahan yang diberikan terlihat mencurigakan, mengendap-ngendap.
Tidak mungkin mereka akan kabur malam ini dan saat ini juga, bukan?
“Kau harus membawa Zhen Xian kembali sebelum jam malam dibunyikan. Apa kau mengerti?”
__ADS_1
“Jangan khawatir, Que Mo.”
“Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Kalian hampir saja membuat jantungku berhenti berdetak sore tadi, dan sekarang ... sekarang aku lagi-lagi harus memikirkan cara untuk mengurangi kecurigaan Dayang Yun,” protes Que Mo. “Sudahlah, serahkan masalah Dayang Yun padaku, dan kalian tepati saja janji untuk kembali tepat pada waktunya jikalau tak ingin ketahuan.”
Yang mana Que Mo kembali mengarahkan jalannya, lagian tidak ada satu pun yang akan menginginkan hal buruk terjadi, bukan? Maka harusnya Zhen Chen pasti akan membawa Zhen Xian kembali tepat waktu.
Maka, di sinilah kini ketiganya berada. Sisi lain dari istana yang tak jauh dari Kediaman Chahua. Apa mungkin ini area belakang? Atau area samping istana? Entahlah, karena situasi tempat ini sangatlah terpencil yang bahkan sedikit pencahayaan buatan saja taklah ada, hanya langit malam yang bersedia memberikan sedikit pancaran sinar kekuningan dari sang rembulan.
“Que Mo ... apa kau ingin aku dan Chen Ge keluar istana dengan memanjat tembok tinggi ini? Tidak mungkin, bukan?” Barulah Que Mo menunjukkan pintu keluarnya, tepatnya pada tembok yang tertutupi semak-semak pun tumpukan dari berbagai jenis barang rongsokan, sedikit menyingkirkan tumpukan barang untuk memperlihatkan. “Tembok berlobang ... Que Mo, dari siapa kau tahu jalan rahasia ini?” tanya Zhen Xian lagi, terpukau akan kemampuan temannya ini pun tanpa ragu memberikan acungan dua jempol jari tangannya. “Kau sungguh penyelamat, Que Mo.”
“Apa kalian pikir selama di istana ini aku hanya mempelajari tata krama dan peraturan? Tentu tidak. Jangan lupa, dulunya aku ini pernah tinggal di jalanan dan mencari jalan alternatif atau rahasia seperti ini adalah tugas dan panggilanku,” jawab Que Mo, jelas dirinya sedang membanggakan diri, bukan? “Baiklah, tidak banyak waktu bagi kalian. Begitu melewati tembok, kalian akan segera keluar istana. Ingatlah untuk berhati-hati.”
Alhasil, untuk pertama kalinya sejak menjadi selir, Zhen Xian akhirnya keluar istana menyesakkan ini.
Tahu hal apa yang pertama kali diucapkan gadis ini?
“Udaranya sungguh berbeda, sangat menyegarkan dan nyaman sekali untuk dihirup.”
Sedangkan sang kakak, mengulurkan tangan sembari mengajak bersenang-senang. Dengan cepat pula, Zhen Xian menerima uluran tangan tersebut seakan tak akan mampu lagi dilepaskan sekalinya telah bergenggaman.
Maka, inilah kesenangan pertama mereka. Keramaian kota malam.
Kota yang telah lama tak lagi dilihat dan dinikmati Zhen Xian, dan di sini tentunya tidak ada larangan untuk tak berlarian, bukan? Kebebasan ini sungguhlah menyenangkan, dan tak sekalipun Zhen Xian merapatkan mulut terpukau nan tersenyumnya itu.
“Sungguh menyenangkan setelah sekian lama tidak kemari.”
“Nikmatilah kebebasan sekarang.”
“Hmm ... tentu saja, Ge. Juga, terima kasih.”
Dan tujuan pertama yang ingin sekali dilakukan Zhen Xian adalah ... memanjakan lidah dengan makanan yang sudah lama tak dirasakan. Belum lagi karena perut juga telah meronta-ronta untuk diberikan asupan. Zhen Xian si penyuka makanan, bukankah telah kembali? Menyaksikan keceriaan lama gadis ini, sungguh kian menguatkan tekad lebih lagi bagi Zhen Chen untuk sesegera mungkin melepaskan ikatannya dari istana pengurung itu. Bukan sementara, melainkan selama-lamanya.
Hanya, cara apa yang bisa digunakan untuk mewujudkan hal itu? Mengurangi risiko dan konsekuensi akan kegilaan Jin Kai di kala hari itu sungguh terjadi. Putra Mahkota itu, apa pula yang harus dilakukan padanya? Ditambah lagi, langit seolah terus saja membantu Jin Kai yang berkekuasaan itu. Memudahkan jalannya, tapi menyulitkan jalan Zhen Chen yang nyatanya adalah anak dari Jenderal Wei.
__ADS_1
Sekali saja, kumohon pada siapa pun abadi di surga sana untuk membantuku. Hanya satu kesempatan saja ... itu sudah cukup bagiku.