Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 46


__ADS_3

Singgasana naga masihlah kosong, tapi semua yang hadir dalam barisan malah tak bersuara sedikit pun sembari pandangan lurus dilemparkan pada singgasana tersebut. Ketidakbiasaan ini, sungguh merisaukan seseorang yang biasanya tenang di posisinya, Putra Mahkota Jin Kai.


Apa mereka tahu terkait hal apa yang akan disampaikan Raja dalam rapat kali ini? Bagaimana jika Raja sungguh mengumumkan hukuman, akankah hal itu menjatuhkan citranya? Terlebih, akankah pula berdampak pada Zhen Xian?


Yang mana seruan akan pemberitahuan hadirnya pemilik singgasana naga, berakhir membuyarkan segala pertanyaan itu sembari ia memberikan penghormatan pada Raja bersama menteri lainnya. Pun suasana kesunyian berakhir, di mana pandangan Jin Kai sendiri berserobok dengan sang ayah.


Namun, apa ini? Ucapan pertama yang dikeluarkan Raja bukanlah hal terkait hukuman dirinya, melainkan hal lain yang sebenarnya tak perlu lagi dikhawatirkan. Akan tetapi, hal itu jelas mengganggu Raja yang barangkali tidak tidur semalam jika melihat dari wajah kusutnya.


“Huangdi,” panggil salah satu menteri. “Bukankah terkait masalah Jenderal Wei sudah selesai? Rakyat juga sudah terkendali, tak lagi ada mulut yang berucap akan hal sensitif itu.”


Padahal Raja beberapa hari belakangan tak lagi membicarakan topik ini, tapi kenapa hari ini justru kembali seperti ini? Apa mungkin Jenderal Wei kembali menghantui Raja? Mimpi buruk itu kembali datang mengganggu? Yang mana Jin Kai mengalihkan pandangan pada kasim pribadi ayahnya, dan kasim yang tampak tahu apa pertanyaan Jin Kai ini berakhir mengangguk kecil.


“Anak itu mungkin saja hidup, bukankah tidak ada satu pun dari kalian yang berhasil menemukan mayatnya? Jadi belum pasti anak itu meninggal!”


“Huangdi, kejadian sudah 15 tahun. Bahkan jika anak itu masih hidup tidak ada yang tahu bagaimana rupanya. Selain itu, tidak ada masalah yang terjadi ....”


“Jadi menurutmu, kita akan bertindak setelah anak itu bertindak?” potong Raja, murka. Yang mana wajah telah memerah, sukses menurunkan pandangan menteri yang berucap barusan. “Jika begitu, maka bersiaplah kehilangan jabatanmu!”


Serta merta menteri lainnya terdiam, kian menciut pula oleh Raja yang bangun dari duduknya. Belum lagi tiap kata yang dikeluarkan Raja begitu sarkas, menunjuk-nunjuk para menteri bagai mereka semua taklah pantas mengemban pekerjaan.


Siapa yang dulunya mengajak bekerja sama menyingkirkan Jenderal Wei? Siapa yang merencanakan ide gila dengan membasmi seluruh klan? Siapa pula yang menyiksa, mencabut jabatan bahkan membunuh sebagian besar prajurit setia Jenderal Wei?


Seorang Raja tentu tidak akan mampu melakukan hal itu tanpa dukungan para menteri. Dan kini apa, seolah kesalahan bersama itu dilimpahkan dan ditanggung seorang oleh Raja. Setidaknya Raja masih lebih baik, karena mimpi buruk Jenderal Wei yang menghantuinya adalah bukti rasa bersalah. Sedangkan para menteri, apa yang mereka rasakan? Atau mereka sengaja berharap anak Jenderal Wei yang dicurigai masih hidup akan datang balas dendam? Membunuh Raja?


“Huangdi, masalah ini bukanlah masalah yang mudah. Selain itu, ada kemungkinan bahwa anak itu sendiri tidak tahu mengenai dirinya dan mungkin saja sudah menjalani kehidupan baru. Jadi ... kenapa harus repot-repot mengurus hal itu sementara masih banyak hal negara yang belum terpecahkan?” ucap Perdana Menteri, satu-satunya menteri yang berani melawan balik murka sang Raja, dan hal itu sukses pula membangkitkan kembali keberanian menteri lainnya.


Di mana Raja sendiri tertawa pahit, kembali duduk pada singgasana naga sembari pandangan diarahkan pada putranya, Jin Kai. “Maka kuserahkan kasus ini pada Taizi. Apa bisa?”


Apa langit benar sedang membantu Jin Kai? Bukankah cara ini mampu mengubah keputusan Raja akan menghukum dirinya tertarik kembali? Apalagi jika tugas yang diberikan rampung dengan sangat baik. Bukankah ini sungguh kesempatan yang tak akan datang dua kali?


Maka, dengan senang hati Jin Kai menerima. Pun senyum kepuasan ditahan sejadinya. “Hanya saja, Huangdi. Aku hanya tahu sedikit mengenai anak itu, jadi aku butuh lebih banyak lagi informasi.”


Memang benar, dan Raja tersadarkan betul akan hal itu. Jikalau istana ini taklah menyajikan informasi tertulis apa pun terkait anak Jenderal Wei. Jangan anak itu, bahkan terkait Jenderal Wei saja yang telah berjasa memajukan istana dan kota Yunnan-Fu ini saja tak lagi banyak tertulis ataupun tersimpan.


“Anak itu bernama Wei Lang, seusia denganmu. Mengenai penampilan harusnya ada kemiripan dengan Jenderal Wei.”

__ADS_1


“Apa Huangdi memiliki potret Jenderal Wei?” tanya Jin Kai.


Raja terdiam, apa sebegitu sulitnya menjawab pertanyaan itu? Tak mudah bagi seorang Raja sepertinya dibuat terdiam, dan Jin Kai menyaksikan hal baru yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Inilah sang ayah ketika lidah keluh, sementara otak berkelana. Membutuhkan bantuan kasim pribadinya untuk kemudian tersadarkan kembali, yang mana Raja sendiri mendapati sang putra masihlah menanti jawaban atas pertanyaan.


“Aku akan segera memberikan padamu setelah potret itu selesai.”


Pun Jin Kai mengangguk paham, dan rapat beralih ke topik lainnya. Namun, Raja masih belum bisa melepaskan pandangan pada Jin Kai. Dan pandangan itu semacam mengatakan sesuatu, yang dipahami Jin Kai sendiri akan keinginan Raja untuk bicara empat mata saja. Akan tetapi, sepribadi apa hal itu sampai tak ingin diketahui menteri lainnya? Hal apa pula? Apa mungkin masih terkait potret Jenderal Wei?


Yang mana setiap tanda tanya itu sukses menjadikan Jin Kai tak begitu fokus dengan berlangsungnya rapat, tak menyangka pula permainan rumor yang dimainkannya dengan Lin Feng terkait Jenderal Wei akan berkembang ke tahap ini. Di mana barangkali akan mengubah segalanya, ke tahap yang tak mampu Jin Kai perbaiki ataupun kendalikan lagi.


Siapa yang tahu, jikalau terang telah tertelan sepenuhnya kegelapan pun jauh dari kata mengenal cahaya lagi, bukan? Karena permainan ini diangkat, dilakukan dan pada akhirnya dikembangkan oleh ia yang tak ingin kehilangan sosok yang dicintai. Sementara langit ... hanya bisa mengikuti arusnya, tidak lagi mengendalikan ataupun mengarahkan.


Zhen Xian, jelas gadis ini pemicunya, bukan?


Gadis muda yang saat ini dalam kediamannya, menikmati waktu santai bersama teh dan juga pastinya sang kakak. Entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka, tapi jika melihat dari wajah tersenyum dan tawa yang dimunculkan, bukankah sudah pasti hal baik nan menyenangkan?


“Apa Jin Kai memperlakukanmu dengan baik?”


Serta merta Zhen Xian kehilangan senyuman, teh yang hendak diminum pun seketika diletakkan kembali ke meja, memperlihatkan beberapa piring berisikan manisan buah-buahan juga beberapa potong kue.


“Dayang Yun dan juga lainnya ... apa kau tahu?”


“Mereka semua orang Jin Kai, selalu mematai-mataiku lalu melaporkan padanya.” Sembari menyesap teh yang sempat gagal diteguknya tadi. “Aku tahu hal itu, jelas saja dan tidak mungkin tidak tahu.”


“Bagaimana mungkin dia memperlakukanmu seperti tahanan begini? Jika Die dan Niang tahu, maka ....”


“Tidak akan terjadi apa-apa padaku,” potong Zhen Xian, tepatnya tidak ingin membuat orang-orang terkasihnya khawatir akan kehidupan terkekangnya. Namun, bagaimana mungkin Zhen Chen yang telah lama mengenal dan bersama sang adik tidak tahu apalagi tidak menyadari, bukan? Kehidupan istana jelas saja tidak cocok dengan jiwa bebas sang adik. “Aku hanya berharap kalian hidup dengan baik, itu sudah cukup untukku, Ge,” lanjut Zhen Xian.


Yang mana Zhen Chen berakhir meraih dan menggenggam sebelah tangan sang adik yang sibuk menelusuri pinggiran cangkir teh kosongnya. Keseriusan sang kakak entah kenapa pula meningkat dari yang sebelumnya ada.


“Apa kau ingin meninggalkan istana?”


DEG!


Tergagap Zhen Xian dibuatnya, mencerna kembali apa yang tertangkap oleh pendengarannya taklah salah. Tidak tahu pula harus bereaksi seperti apa sembari netra tak mampu lepas dari sang kakak. “Ge ... kau sungguh-sungguh?”

__ADS_1


“Aku tahu ini terdengar gila dan tidak masuk akal, tapi selama kau setuju aku akan mengusahakan sebisa mungkin dan mempersiapkan segalanya.”


“Lalu bagaimana dengan orang tua kita? Pekerja juga lahan bunga?”


“Kita hanya bisa membawa Die dan Niang, lalu meninggalkan semuanya. Pindah ke kota atau pulau lain yang jauh dari sini.”


“Pada akhirnya aku hanya menyulitkan hidup kalian, hidup sembunyi seperti buronan. Jin Kai tidak akan melepaskan kita dengan mudah. Ge, itu cara yang terlalu menakutkan untukku.”


“Apa kau ingin hidup dalam istana ini selamanya? Apa kau ingin selalu diawasi oleh orang lain?”


“Tentu tidak ingin,” timpal Zhen Xian yakin, sangatlah yakin malah. “Yang paling kuinginkan tentu keluar dari istana dan kembali menjadi Zhen Xian yang bebas seperti dulu.”


Berakhirlah, Zhen Chen meyakinkan lebih lagi sang adik. Tidak peduli bagaimanapun, Zhen Chen merasa bahwa ini adalah misi yang harus dilakukan dalam hidupnya. “Tidak peduli berapa lama hal itu akan terwujud. Aku, pasti akan menepatinya, Xian’er,” ucapnya penuh tekad, penuh kemantapan bagai siap melawan dunia jika perlu. Semua hanya untuk memenuhi misi yang bagi Zhen Chen sendiri mungkin telah menjadi misi hidupnya.


Lantas, bagaimana mungkin Zhen Xian selaku yang ditawarkan tak segera mengangguk setuju? Siap menanti akan datangnya hari itu, karena yang menawarkan rencana adalah sang kakak sendiri, bukanlah orang lain. Pun senyum kembali tersungging di antara keduanya, yang mana genggaman hangat sang kakak kian mengerat, menenangkan serta penuh arti.


Hanya saja, kedatangan seseorang yang tiba-tiba sukses membuat mereka segera melepaskan genggaman tangan tersebut. Bertindak canggung seakan tertangkap sedang melakukan hal-hal tak senonoh, yanga mana seseorang itu tak lain adalah Que Mo. Pun dua saudara Zhen mengembuskan napas kelegaan.


“Bagaimana denganku? Apa kalian akan membawaku?” tanyanya sembari mendekat, pun tangan sibuk membawa baki berisi mangkuk putih beruap-uap. “Bawa aku pergi jika hari itu tiba,” ucapnya, melirih.


“Tentu, kau adalah bagian dari keluarga kami, Que Mo,” timpal Zhen Chen, menepuk pundak Que Mo yang memang telah berkorban banyak dengan menjadikan diri sendiri memasuki istana menjadi pelayan pribadi sang adik, ikut terkurung dalam kekangan kehidupan.


Bukankah hal demikian, hanya keluarga saja yang mampu dan bersedia melakukannya? Dan Que Mo yang merupakan bagian dari keluarga ini akhirnya meminta dua saudara Zhen diam, menunjuk pada pintu kediaman yang tertutup, mendapati bayang-bayang seseorang tepat pada celah pintu yang ada.


“Waktunya minum obat, Selir Zhen,” ucapnya meninggi, menempatkan baki yang dibawa ke meja sembari mendudukkan diri di antara dua saudara Zhen yang paham akan situasi, bergantian memandang mereka dengan gelengan demi gelengan untuk tidak membahas hal ini di saat ini. “Minumlah selagi panas,” lanjut Que Mo, tanpa mengurangi ketinggian suara dari yang sebelumnya.


Pun Zhen Xian yang meminum ramuan serta merta memasang wajah jengkel, tak perlu pula menebak siapa orang di balik pintu tersebut, bukan? Jikalau bukan pelayan yang disuruh Dayang Yun, maka jelas Dayang Yun sendirilah orangnya. Yang mana wanita paruh baya itu memanglah menunjukkan kesetiaan teramat bagi sang majikan sesungguhnya, sementara Zhen Xian jelas bukanlah apa-apa di mata wanita itu, bukan?


Dan ketika malam tiba, terlelap dalam larutnya. Saat itulah, Zhen Chen yang seharian ini di Kediaman Chahua menemani sang adik, keluar. Tentu, Zhen Chen tak seorang diri, meskipun sudah dimintai untuk tidak perlu mengantar karena udara malam tidaklah baik bagi kesehatan sang adik. Namun, gadis ini tak akan menuruti.


Lebih baik mengantar sampai di luar kediaman saja ketimbang di gerbang istana, bukan? Setidaknya permintaan ini didengarkan baik sang adik, di mana Que Mo pastinya ikut campur pula. Tak lupa pula Zhen Xian memberitahukan untuk selalu mengoleskan obat pada luka cambukan yang ada, jangan sampai terkena air dan jangan pula lupa, sembari tangan dilambaikan pun wajah tersenyum.


“Masuklah! Jangan terkena angin malam,” seru Zhen Chen, dan diikuti pula sang adik dengan patuhnya.


Namun, tak jauh membawa diri melangkah dari kediaman. Kehadiran seseorang yang menghalangi jalan cukup menjadi alasan bagi ia berhenti. Mau tak mau pula, pandangan diangkat untuk melihat lebih siapa yang mendekat, meskipun sebenarnya Zhen Chen sudah dapat menebak siapa orangnya hanya dengan bayangan yang ada.

__ADS_1


Seorang pria pembawa pedang ... Lin Feng.


__ADS_2