Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 60


__ADS_3

“Pergilah, dan jelaskan pada prajuritmu.”


Zhu Qiang, atau lebih tepat dikenal sebagai Komando Zhu, pemimpin dari pasukan yang dibentuk langsung oleh Jin Kai beberapa tahun lalu ini pun memberikan hormat sebagaimana mestinya seorang bawahan pada atasan, berlalu pergi kemudian siap memenuhi titah yang diberikan. Meskipun benar, pasukan Zhu belumlah sekuat dan setenar pasukan atau prajurit yang dimiliki Raja. Namun, belum tentu ke depannya akan tetap demikian, bukan?


Kesempatan, itulah yang selama ini pasukan Zhu nantikan, dan sekarang kesempatan telah terbuka. Di mana Jin Kai yang memang telah diberikan kepercayaan langsung oleh Raja untuk memimpin seluruh prajurit atau pasukan istana, tidak memanfaatkan hal tersebut. Ia percaya, bahwa pasukan Zhu yang dibentuknya ini cukup mampu menyelesaikan misi. Apalagi misi kali ini tak lain adalah misi pembantaian yang berkaitan dengan Zhen Chen, atau tepatnya Wei Lang, satu-satunya keturunan langsung mendiang Jenderal Wei. Yang mana selain pasukan Zhu, tidak ada lagi pasukan istana lainnya yang bebas dan bersih dari sejarah pasukan Jenderal Wei terdahulu.


“Masih ada waktu untuk menghentikan semuanya, Taizi.”


Pun Jin Kai menyudahi tengadahan pada langit berbintang, menyudahi sesi memerhatikan terangnya rembulan yang menggantung. Mengarahkan seketika pandangan yang tak lagi diliputi kemarahan ataupun ambisi seperti sebelumnya lurus pada Lin Feng. “Kau juga tidak suka dengan caraku, begitu,’kah?”


Mengangguk, membenarkan pertanyaan yang ditanyakan barusan tanpa perlu berpikir-pikir lagi. “Ini demi kebaikanmu, juga Selir Zhen.”


Namun, Pangeran Agung ini menggeleng. “Tidak peduli apa yang kulakukan, aku tidak akan pernah mendapatkan hatinya, Lin Feng.” Mengembuskan desahan, dihadiri pula uap putih. Seakan uap putih tersebut adalah kumpulan asap dari kemarahan ulah pertengkaran dengan Zhen Xian pagi tadi, yang mana baru mampu dikeluarkan dari dadanya saat ini tepat ketika tubuh bermandikan cahaya rembulan yang dipercayai mampu menenangkan pikiran dan hati. “Karena itu, aku akan menjadikan dirinya tetap di sisiku meskipun dia sangat membenciku. Paling tidak itu akan lebih baik daripada tidak melihatnya sama sekali,” lanjutnya, melirih.


“Apa pernah kau menyesali perbuatanmu dulu? Maksudku ... memaksanya menjadi selirmu.” Yang tanpa sadar, pertanyaan ini adalah pertanyaan dari seorang Lin Feng yang hanya seorang teman dan bukannya seorang bawahan dari Putra Mahkota. “Bagaimana dengan Zhen Chen ... sungguh kau tidak akan melepaskan nyawanya?”


Serta merta Jin Kai membuang pandangan ke lain arah seraya sepasang tungkai dibawanya melaju. “Jika mengingat masa lalu kami bertiga yang cukuplah dekat, dan tertawa bersama ... tentu aku merasa menyesal, tapi aku akan lebih menyesal lagi jika harus melepaskan Zhen Xian dengan orang lain.”


“Akan ada banyak nyawa yang hilang. Tidakkah kau merasa bersalah terhadap nyawa-nyawa itu? Di saat mereka tak tahu apa-apa, seperti Bibi Liang yang kau bunuh tadi.”


“Kenyataan bahwa Zhen Chen adalah anak Jenderal Wei adalah nyata, dan fakta itu tidak bisa dipungkiri.” Meskipun awalnya benar, Jin Kai berencana akan memalsukan identitas Zhen Chen sebagai anak Jenderal Wei. Namun, semua rencana itu batal seakan langit benar-benar membantu. Akan tetapi, benarkah membantu ataukah justru sedang ingin menghukumnya saja? “Akan lebih baik jika aku yang menangani masalah ini, bukan? Jika Huangdi pribadi yang melakukan, maka Zhen Xian akan lebih menderita melihat kepala kedua orang tuanya tergantung di depan gerbang istana.”


Pun Lin Feng tak lagi menanggapi, karena memang itulah tabiat dari seorang Raja jikalau tahu ada yang berkhianat padanya. Setidaknya, Jin Kai taklah menuruti sifat buruk Raja yang satu itu, dan setidaknya pula Jin Kai masih memiliki sedikit hati nurani yang awalnya dikhawatirkan tak lagi dimiliki.


Di mana keterdiaman dua pria dewasa yang berjalan beriringan ini pada akhirnya tiba pada suatu tempat, di mana Kasim Ma seketika menghampiri seraya melaporkan jikalau pemilik Kediaman Chahua ini dari sejak dikurungkan pagi tadi terus saja menolak menelan jenis makanan apa pun.

__ADS_1


“Ini baki makanan yang ke sekian kalinya aku bawakan. Taizi, bagaimana jika ....”


“Kurasa akan lebih parah jika itu aku yang menangani,” potong Jin Kai. “Lin Feng, kau saja yang coba.” Berlalu pergi begitu saja, mendekati taman belakang dari kediaman tanpa lupa meminta Kasim Ma untuk tak perlu mengikutinya.


Berikan waktu pribadi, itulah yang diucapkan Lin Feng yang kini mengambil alih baki dari tangan Kasim Ma. Biar kata pandangannya sendiri tak bisa lepas dari punggung Jin Kai yang kian menjauh, belum lagi punggung itu menunjukkan kesedihan. Yang barangkali taman belakang adalah pilihannya untuk meluapkan segala kegundahan hati, ditemani mekaran chahua yang pernah menjadi bunga favorit mendiang ibunya.


Namun, Lin Feng harus mengabaikan perasaan hati Jin Kai setidaknya untuk saat ini. Karena tugas mengantarkan makanan pada Zhen Xian jauh lebih menegangkan ketimbang bertarung ataupun berperang. Selangkah demi selangkah pula dilajukan, pun akhirnya masuk sudah Lin Feng dalam kediaman. Mencari-cari keberadaan gadis itu, mendapati pula betapa kacaunya penampilan gadis berpangkat selir ini.


“Apa kalian tidak dengar aku tidak ingin makan? Kalian pikir aku ini lelucon?!” murkanya yang bahkan tak mampu bernapas dengan normal. “Panggil Que Mo ... aku ingin Que Mo sekarang!”


“Makanlah dahulu, atau setidaknya minumlah air, Selir Zhen.”


“Jika itu kau dalam posisiku, apa kau bisa menelan sebutir saja nasi?” Air mata kembali luruh dari netra memerah nan membengkaknya itu. Namun, sejadinya gadis ini menyeka seraya membawa diri mengikis jarak dari Lin Feng yang mematung. “Apa yang terjadi? Tepatnya apa yang terjadi bisakah kau memberitahuku?!”


Tak mengherankan pula apabila Zhen Xian, gadis ini kembali meluapkan kemurkaan. Jikalau ia mampu bela diri, mungkin saja sudah akan bertarung dengan pengawal pribadi Jin Kai ini. Namun sayangnya, ia tak bisa dan tak mampu. Alhasil, Zhen Xian kembali menghempaskan baki makanan yang dibawakan Lin Feng, yang bahkan pria ini tak sedikit saja mengedipkan netranya.


“Aku tahu kau tidak bisa melawan perintah Taizi, tapi kau memiliki hutang padaku begitu juga pada Chen Ge!” Mencengkeram erat kedua lengan Lin Feng, setidaknya tindakan itu mampu mengarahkan pandangan pria ini kembali padanya. “Aku memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi firasatku tidaklah enak tiap kali Jin Kai bergerak. Karena itu, aku ingin kau melunasi hutang kesalahanmu itu sekarang, Lin Feng. Kumohon jangan sakiti Chen Ge ... kumohon lindungi dia. Maka aku akan menganggap hutangmu dalam kehidupan ini lunas,” pintanya putus asa.


“Hutang kesalahan,” lirih Lin Feng. Benar, hal itu tak bisa dipungkiri jikalau dirinya memanglah memiliki jenis hutang demikian pada dua saudara Zhen. Dan hutang itu ada sejak hari di mana ia tak memberitahukan ide licik saat ketika Jin Kai meracuni diri sendiri demi menjebak Zhen Chen agar mampu memaksa gadis berlinangkan air mata di hadapannya ini menjadi selir. Bagaimana bisa Lin Feng melupakan, hal itu sungguh telah menjadi penyesalan kini. Yang mana Lin Feng melepaskan cengkeraman Zhen Xian dari lengannya, menepuk dua kali punggung tangan Zhen Xian sembari melekatkan pandangan bersipandang mereka seakan memberitahukan sesuatu dari balik pandangan tersebut.


“Apa yang sedang kalian lakukan?”


DEG!


Menoleh ke asal suara, mendapati Jin Kai begitulah nyalang mendekat. Dengan cepat pula Lin Feng melepaskan tangan Zhen Xian darinya, berharap saja Jin Kai tak berpikir yang aneh-aneh terkait kedekatan fisik ini.

__ADS_1


“Taizi, Selir Zhen hanya meminta untuk bertemu dengan Que Mo,” timpal Lin Feng, setidaknya ucapan yang dilontarkan tak sepenuhnya bohong, bukan?


“Kau keluarlah.” Dan Lin Feng memberikan penghormatan layaknya bawahan pada Jin Kai, juga Zhen Xian. Dalam seperkian detik itu pula, Lin Feng memanfaatkan kesempatan untuk bertukar pandang sekali lagi pada Zhen Xian, pun gadis ini mulai melunakkan pandangan padanya. “Aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan,” beritahu Jin Kai, dan seketika pula ditolak mentah-mentah oleh Zhen Xian yang balik memunggungi membawa diri kembali ke kamar.


“Bisakah kau pergi? Aku ingin istirahat akan hari gila buatanmu ini.”


“Hari gila kau bilang ...?” Jin Kai bahkan memijat-mijat ringan pelipisnya. “Zhen Xian, apa selama ini menjadi selirku adalah kegilaan bagimu?”


“Aku tidak habis pikir denganmu ... sebenarnya kau itu cerdas ataukah justru bodoh?”


“Apa?”


“Sudahlah, aku sungguh malas bicara denganmu. Pergilah, jangan kian menambah kekesalanku.”


Namun, akankah Jin Kai pergi setelah mendengar ucapan demikian tak hormatnya dari gadis pujaan hatinya ini? Tentu dapat dibayangkan, jikalau Putra Mahkota ini tak akan menuruti dengan mudahnya. Bukankah Zhen Xian terlalu berani bermain-main dengan pria yang sewaktu-waktu ini bisa saja mengesahkan atau menyempurnakan hubungan suami-istri mereka? Yang mana kini Jin Kai benar saja mendorong Zhen Xian hingga terbaring di ranjang, menindih tubuh pun menahan kedua tangan gadis meronta-ronta ini.


“Ingat, aku bisa saja melakukan apa pun padamu,” ucapnya, atau lebih tepatnya mengecam seraya wajah kian direndahkan sampai titik di mana Zhen Xian memalingkan wajahnya ke samping. “Istirahatlah ... aku tidak akan memaksamu malam ini.” Menarik diri menjauhi Zhen Xian yang terlihat sedikit gemetar, dipahami Jin Kai sebagai gemetaran akan ketakutan.


Maafkan aku, Zhen Chen, atas semua hal buruk yang telah terjadi dan akan segera terjadi nanti. Setelahnya, aku akan menjalani hidupku dalam hukuman. Menjadikan Zhen Xian satu-satunya orang yang menghukumku, karena itu ... anggap saja kebencian dan kemarahanmu padaku setelah ini biarkan Zhen Xian yang membalasnya. Bisakah?


Serta merta, Jin Kai yang menitikkan air mata memalingkan pandangan seraya membawa diri keluar dari kamar istrinya ini. Anehnya, seluruh chahua di kediaman ini seketika layu, pun sedikit semilir angin yang datang sukses menjatuhkan pada dinginnya tanah. Yang mana di luar dari Kediaman Chahua, tepatnya di luar dari lingkup istana nan besar ini pula. Malam sepi, damai serta berudara dingin ini pun kian dirasakan. Terutama pada seorang pria yang duduk di tengah hamparan bunga-bunga, menengadahkan wajah yang tampak sedang melamun itu pada rembulan. Sebelah tangan dibiarkan terangkat, seakan siap menyentuh dan meraih sang rembulan.


Meskipun tak tahu apa yang sedang dipikirkan, tapi ahli muda bunga ini sudah dapat dipastikan tidak akan bisa tidur. Terbukti dari hadirnya sebulir cairan bening luruh dari ujung terluar netranya. Pun isak tangis yang dikeluarkan, sukses pula teredam oleh desauan angin yang menarikan seluruh bunga-bunga di lahan keluarga Zhen ini, menjadikan dirinya mampu menangis sepuasnya tanpa khawatir akan diketahui orang lain.


Besok ... hari seperti apa yang akan menanti hidupmu, Zhen Chen.

__ADS_1


__ADS_2