
Rembulan tertutupi, kabut menghujani. Di balik itu, samar-samar pula terlihat bayang-bayang dengan pendar cahaya kekuningan bergerak dalam langkah yang barangkali disamakan. Apa itu dua orang? Ataukah barangkali tiga? Terus saja mendekati suatu rumah, rumah yang mana kini mengeluarkan sosok Zhen Chen.
Namun, apa yang membuat pria ini tak senang? Pun embusan napas yang dikeluarkan ikut mengeluarkan uap putih, bergabung dengan kabut yang entah bagaimana mulai menipis kini. Memperlihatkan cukup jelas, bayang-bayang yang mendekat tak lain adalah teman-temannya. Que Mo, Meng Jun dan juga Mo Zhu.
“Haruskah kita mulai bekerja?” tanya Que Mo, dan anggukan-lah yang Zhen Chen berikan sebagai jawaban. Di mana embusan hawa dingin sukses membebaskan rembulan sepenuhnya dari selimutan awan, terang menyebarkan sinar kedamaian itu pada seluruh bagian area lahan bunga yang menyapa penuh senyuman.
Berbeda sekali dengan gadis muda yang masih meringkuk dalam kamarnya ini. Alih-alih membebaskan diri, malah dirinya menarik selimut lebih tinggi lagi menutupi tubuh. Entah apa pula yang membuat dirinya menyunggingkan senyuman. Yang mana pula senyuman itu tak bertahan lama, terganti oleh kening yang dikerutkan pun tubuh kian berusaha mencari kehangatan bagai satu selimut saja taklah cukup.
“Siapa yang membuka jendela?” lirihnya, sepasang netra belumlah siap dibukakan karena memanglah enggan. Namun, rasa dingin yang kian menusuk mengharuskannya bangun, mendapati sang kakak hadir bersila tangan memerhatikan. “Apa sudah waktunya pergi sekarang, Ge?”
“Cepatlah bersiap, ini sudah lewat tengah malam.”
“Aku mengerti.”
Seperginya sang kakak, Zhen Xian serta merta mengenakan pakaian yang sedikit lebih tebal, memastikan pula rambut dan wajahnya taklah tampak seperti orang yang baru saja bangun tidur. Di mana rasa kantuk itu menghilang, terganti dengan suatu semangat penuh.
Hari sepenting ini jelas akan membuat siapa pun merasa demikian. Apalagi sang kakak dan tim dari Departemen Dekorasi lainnya yang ada. Tak heran, apabila Meng Jun dan Mo Zhu siap sedia dibantu pula Que Mo yang sibuk memetik bunga di lahan kini, menyiapkan hal terdasar yang akan digunakan tuk mendekorasi area pesta dari ulang tahun seorang Putra Mahkota.
Bukankah kinerja tim sang kakaknya ini sungguh patut diberi pujian besar? Sekali bekerja tak pernah setengah-setengah. Oleh karenanya, Zhen Xian yang melangkah keluar rumah dengan hati-hatinya, takut jikalau akan membangunkan waktu istirahat kedua orang tuanya ini, berakhir menghampiri sang kakak yang tampak baru saja memberitahukan hal penting pada Meng Jun. Di mana Meng Jun sendiri hanya merespons dengan anggukan paham dan paham, barangkali sang kakak mengoordinasikan ulang apa rencana yang tak boleh terlewatkan.
“Ge, ayo kita pergi.”
“Baiklah, Zhen Chen, serahkan semua yang di sini padaku. Kalian pergilah, jangan sampai terlambat.”
“Hmm ... kita bertemu lagi di istana,” balas Zhen Chen, dan Meng Jun pun kembali sibuk bergabung dengan Mo Zhu dan juga Que Mo.
Sontak pula Zhen Chen mengulurkan tangan pada sang adik, pergi setelahnya dengan membawa satu lentera gantung biar kata rembulan terbilang terang. Alhasil, di sinilah keduanya kini berada. Gerbang istana, yang mana penjaga seketika mengizinkan keduanya masuk bagai telah diinformasikan dahulu sebelumnya tuk tak menghalangi dua saudara ini memasuki istana di jam dan di hari ini.
Sangat mudah memang, jika seorang Putra Mahkota-lah sosok yang membantu mereka di belakang. Segalanya akan terasa mulus tanpa harus usaha lebih.
Maka, inilah waktunya tuk mendapatkan bunga tersulit dalam rencana dekorasi ulang tahun Pangeran Agung ini. Tiba pada kediaman, tak lain Kediaman Chahua yang begitulah sepi bahkan Dayang Yun saja taklah terlihat. Yang mana pula, Zhen Xian menghentikan seketika langkah sang kakak yang hendak ke area halaman belakang.
Tak heran apabila Zhen Chen bertanya-tanya akan sikap adiknya ini, bukan?
Namun, bukannya menjawab pertanyaan, sang adik malah memposisikan diri tepat di belakang menutup sepasang netranya. Barulah kemudian gadis ini mengarahkan langkah ke area taman belakang yang ada.
“Jangan begitulah terpukau saat kau melihatnya, Ge.”
“Baiklah, sekarang bisa aku melihatnya?”
__ADS_1
Tentu dengan senang hati Zhen Xian menurunkan tangannya, mempertunjukkan bagaimana indahnya mekaran dari setiap chahua yang ada. Tak tahu pula, rahasia apa yang digunakan hingga bunga-bunga ini bisa begitulah seindah ini. Menjadikan Zhen Chen sendiri, tak bisa jika tak terus-terusan tersenyum, tak bisa pula jika tak menyentuh bunga-bunga ini. Yang mana membangunkan kunang-kunang yang barangkali bersembunyi, berterbangan menambah keindahan tiada tara. Sungguh terasa layaknya sedang berada di dunia lain. Pun Zhen Chen jadikan momen indah ini dengan menyisipkan chahua pada telinga sang adik.
“Apa kau tahu kalau kau begitu mirip dengan chahua? Susah diurus, tapi penuh kelembutan dan juga keindahan. Bahkan, kau menyukai warna merah muda sama seperti chahua itu sendiri.”
“Aku juga setia,” balas Zhen Xian, tersenyum. “Setia padamu dan akan tetap bersamamu menghabiskan waktuku,” lanjutnya, seketika pula memeluk sang kakak.
Pelukan hangat di antara kedua saudara ini pun bagaimana mungkin tak membuat iri apa pun yang melihat? Rembulan kembali menutupi diri dari tipisnya awan, sementara kunang-kunang perlahan ikut menghilang bagai sengaja memberikan waktu pribadi bagi keduanya yang entah kenapa malah kian mengeratkan pelukan.
Tak heran, apabila kedua saudara ini tak menyadari akan kehadiran Jin Kai. Mematung dalam posisinya yang melihat pun barangkali mendengar semua hal atau ucapan yang diucapkan mereka barusan.
Pada akhirnya, Putra Mahkota ini pun memutuskan pergi. Kembali ke kediamannya dengan wajah sulit diartikan. Tak heran apabila Lin Feng yang berjaga meminta tuk dihadirkan Kasim Ma, tapi Jin Kai dengan tegas menolak. Yang mana Lin Feng berakhir membawa diri keluar ruangan.
“Mereka adalah saudara, tapi kenapa tatapan mereka layaknya pria dan wanita?” gumamnya. “Dan kenapa pula ... aku merasa terganggu dengan hal itu?”
Mendesah, membawa sepasang tungkai bergerak mendekati jendela yang dibukakannya. Merasakan deruan angin menembusi diri, netra dibiarkan terpejam bagai sedang mendinginkan ataupun mungkin sedang memikirkan sesuatu. Entahlah apa itu, karena yang pasti waktu terus saja berjalan tanpa terganggu sedikit pun, biar kata pria berulang tahun ini taklah mampu mengistirahatkan kembali tubuhnya.
Namun, pukul berapa kini? Istana yang tadinya terbilang cukuplah sunyi kini terganti seketika dengan suara-suara gemerincing, di mana seseorang yang membunyikan gemerincing itu berseru bagai sedang mengumumkan sesuatu ke sekitar. Tepatnya berkeliling, menyuarakan hal serupa yang tak lain pemberitahuan hari telah subuh.
Oleh karenanya, orang-orang menyelesaikan sesi istirahat tuk kembali memulai aktivitas sebagai pekerja istana. Baik itu dayang, pelayan, penjaga, prajurit atau apa pun itu jabatannya. Bersiap-siap menyambut hari baru yang akan menemui terang kembali.
Tak terkeculi dengan mereka yang memasuki istana membawa dua gerobak cukuplah besar. Dipenuhi pula beragam jenis bunga yang tanpa menunggu lagi dibawakan segera ke halaman Aula Utama Istana, tempat di mana telah dijanjikan akan berkumpul di sini. Namun, apa ini? Apa sungguh ini tempat yang telah dijanjikan sebelumnya?
“Lebih baik kita bersiap dulu sambil menunggu Zhen Chen dan tim lainnya tiba,” timpal Meng Jun, yang mana pula Mo Zhu setuju.
Namun, tetap saja Que Mo tak tenang. Hari jelas telah subuh, terlambat sedikit saja lebih lama lagi dari waktu yang direncanakan, akankah tim dekorasi mampu memaksimalkan waktu yang ada dengan sebaiknya?
“Salah satu dari kalian cobalah menyusul dan memanggil segera tim yang ada,” pinta Que Mo. Akan tetapi, tampaknya hal itu tak diperlukan lagi. Yang mana Meng Jun dan juga Mo Zhu bernapas lega.
Benar, seluruh tim departemen tiba. Meskipun ketua mereka belumlah terlihat batang hidungnya dari kerumunan yang mendekat ini, tapi semua orang bergerak seketika tanpa perlu diberitahukan lagi seolah telah menghafal baik tugas atau rencana yang telah dibuat.
Kompak? Tentu saja kompak. Namun, bukan berarti bisa tenang sepenuhnya. Karena Que Mo sendiri mampu menilai, bagaimana lambatnya pergerakan tim ini bekerja. Bahkan setelah setengah jam berlalu, tak banyak kemajuan yang terlihat. Apa sungguh, mereka akan menyelesaikannya tepat waktu?
Kekhawatiran ini pun akhirnya menjadi pengantar kedatangan yang dinanti-nanti, dua saudara Zhen bersama sekumpulan chahua segar dalam gerobak.
“Maaf, kami terlambat,” ucap Zhen Chen duluan, mendapati segala jenis bunga yang diperlukan tersedia lebih dari cukup. Hal itu entah bagaimana justru membuat dirinya tenang, biar kata Que Mo telah memberitahukan bahwa waktu mereka sangatlah tipis kini. “Jangan khawatir, akan cukup waktunya.”
Jika seorang ahli saja sudah berkata demikian, apalagi yang Que Mo bisa katakan, bukan?
“Mari semuanya bergerak dan makan bersama setelah acara ini selesai,” seru Zhen Chen, menyebarkan penuh semangat pada seluruh anggota tim. Pun dirinya kemudian bergabung.
__ADS_1
Boleh percaya ataupun tidak, tapi inilah kenyataan. Layaknya prajurit di medan perang, tanpa pemimpin mereka akan bergerak kacau. Namun, tidaklah demikian ketika pemimpin ada. Karena apa yang disaksikan Que Mo dan juga Zhen Xian kini, sangatlah luar biasa. Katakan saja, sisi ahli mereka keluar, taklah seperti yang disaksikan Que Mo sebelumnya. Menjadikan Zhen Xian pun bergabung dengan riangnya, tak terkecuali pula Que Mo.
Namun balik lagi, bukan berarti mereka boleh mengurangi kecepatan yang ada. Karena waktu mereka memanglah hanya sampai ketika matahari terbit. Setelahnya, akan menjadi jatah bagian dapur istana tuk melengkapi meja dan juga mengisi berbagai jenis makanan. Oleh karenanya, Zhen Chen tiada hentinya mengawasi, memberikan arahan serta masukan yang mana membuat mereka tanpa sadar percaya bahwa bukanlah waktu yang mengejar mereka, melainkan mereka yang akan mengejar waktu.
Bukankah Zhen Chen ini lebih dari sekadar pantas menjadi Ketua Departemen Dekorasi? Bukankah posisi ini tepat bagi karirnya? Karena para anggota tim dengan mantap akan mengiyakan, di mana rembulan kini mulai tergantikan dengan pasangannya, matahari. Menandakan waktu habis, yang mana pula mempertunjukkan halaman Aula Utama Istana telah terhias dengan sangat indah penuh warna-warni menyegarkan mata pun aroma segar memenuhi penghidu. Bahkan, hadirnya kupu-kupu kian menambah keindahan itu sendiri begitulah hidup.
“Semuanya!” seru Zhen Chen. “Kalian sudah bekerja keras selama seminggu ini. Aku, sangat berterima kasih pada kalian,” lanjutnya, tersenyum begitulah puas.
“Kami semua hanya mengikuti arahanmu. Itu kau yang sudah bekerja keras, bukankah begitu?!” seru Mo Zhu, yang ditimpali oleh seruan demi seruan setuju serta tepuk tangan meriah.
Yang mana tepuk tangan ini pula menjadi tanda bagi mereka tuk meninggalkan lokasi yang mulai didatangi bagian dapur istana. Kembali ke Departemen Dekorasi, tempat di mana mereka akan melanjutkan rasa puas penuh kebahagiaan ini secara bebas tanpa perlu khawatir akan menjadi suatu gangguan ke sekitar.
Namun, kehadiran seseorang berwajah kaku penuh ketegasan, sukses menjadikan mulut semua anggota dari tim seketika diam.
“Lin Feng,” panggil Zhen Chen. “Kenapa kau kemari?”
“Taizi menyiapkan makanan untuk kalian semua nikmati, katanya ... sebagai balasan atas kerja keras kalian.”
“Sampaikan rasa terima kasihku dan para tim pada Taizi, makanan ini akan menjadi suatu berkah bagi Departemen Dekorasi kami ini,” balas Zhen Chen, tapi tampaknya pengawal pribadi Jin Kai ini masih belum sepenuhnya menyampaikan apa yang barangkali menjadi pesan Putra Mahkota-nya. “Kalian semua, masuklah lebih dulu. Kau juga, Xian’er.”
Pun serta merta yang lain menuruti, di mana Lin Feng mendekatkan langkah lebih lagi bagai pesannya ini taklah boleh didengarkan orang lain. “Taizi meminta untuk bertemu denganmu sore ini di rumah makan biasa. Hanya kau seorang, tanpa Zhen Xian.”
“Aku mengerti. Apa ada hal lainnya lagi?”
Menggeleng, Lin Feng tanpa berlama-lama pun seketika membawa diri pergi meninggalkan Departemen Dekorasi. Yang mana membuat Zhen Xian menghampiri sang kakak yang terus saja memerhatikan kepergian pengawal pribadi itu.
“Ada apa?”
“Jin Kai ingin bertemu denganku nanti sore, tapi hanya denganku.”
“Mungkin Jin Kai ingin merayakan ulang tahunnya berdua saja denganmu, lantas kenapa kau terlihat melamun begitu, Ge?”
“Yang lain meminta kalian masuk,” seru Que Mo, menghentikan seketika Zhen Chen yang hendak menjawab pertanyaan sang adik. “Mereka tidak berani makan atau minum duluan,” lanjut seruannya.
Berakhirlah, Zhen Xian si penanya melupakan apa yang menjadi pertanyaannya pada sang kakak barusan. Di mana dirinya pun meraih tangan sang kakak, bergabung ke dalam departemen tuk menikmati hadiah dari Jin Kai.
Percayalah, di antara seluruh departemen yang ada dalam istana ini, hanya Departemen Dekorasi saja yang akan begitulah menikmati kebersamaan dengan begitu santainya penuh tawa, obrolan, candaan yang diikuti pula akan suara dentingan sulang-menyulang.
Bukankah suasana ini, lebih cocok dikatakan sebagai suasana pesta yang sebenarnya? Lantas, bagaimana suasana pesta perayaan sesungguhnya di sana? Akankah seramai dan semembahagiakan apa yang dirasakan Zhen Chen dan timnya? Karena Zhen Chen dan juga Zhen Xian berharap demikian, meskipun tampaknya tidak akan demikian adanya.
__ADS_1