Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 56


__ADS_3

“Apa perlu aku mengikuti mereka, Taizi?”


“Tidak perlu.”


Balasan dingin itu pun sontak membawa Lin Feng serta Kasim Ma mengikuti sang tuan menjauh, cukup sudah diam-diam menyaksikan kegilaan dan keberanian dua saudara Zhen yang telah berlenggang pergi meninggalkan istana melalui jalan rahasia yang dipercayai pula sebagai jalan dari keluarnya mereka ke kota semalam. Tanpa diketahui, jikalau efek yang diberikan pada Putra Mahkota ini sangatlah menyesakkan dan memilukan dari yang pernah dialami sebelum-sebelumnya.


Namun, tak ada tanda-tanda akan keberadaan ataupun keinginan mencurahkan rasa sakit itu dengan menenggelamkan diri dalam suatu air mata atau tangisan. Melainkan, netra yang mengelam itu kian ditajamkan seraya gerakan bergantian dari sepasang tungkai melajunya dihentikan.


Hal ini sungguh sudah di luar batasan yang ada. Kubiarkan sekali, tapi tampaknya pembiaran yang kuberikan justru membuat kalian lebih berani dan tak menghormatiku sama sekali.


Yang mana kedatangannya ke Kediaman Chahua tepat setelah meninggalkan kediaman sang ayah seharian ini hanya bertujuan untuk menemui Zhen Xian, melepaskan kerinduan biar kata gadis itu tidak akan menunjukkan ketertarikan apalagi memberikan senyuman padanya seperti yang diberikan pada Zhen Chen. Tetap saja, bertemu lebih baik ketimbang tidak sama sekali.


Akan tetapi, lihatlah apa yang terjadi kini? Malahan ia menemukan hal yang sangat tidak diinginkan terjadi. Padahal, kasus di mana Dayang Yun dan pelayan lainnya di Kediaman Chahua sudah diputuskan untuk tidak diperbesar atau ditindaklanjuti. Semua demi kedamaian hidup gadis itu sendiri, yang mana bahkan Que Mo si pelakunya tak ikut diadili.


Namun, perasaan dikhianati ini cukup bagi Jin Kai untuk memikirkan kembali keputusannya itu. Menengadah, membiarkan sepasang netra memandangi langit berbintang, menimbang lebih lanjut apakah ajaran sang ayah yang diterima hari ini harus digunakan saat ini juga untuk mendisiplinkan mereka yang menentang dan tak menghormatinya. Pun Jin Kai berakhir menurunkan tengadahan, menolehkan wajah ke samping yang serta merta menjadikan Lin Feng mengambil posisi bersebelahan dengannya.


“Aku ingin kau cari tahu tepatnya siapa Zhen Chen. Seperti misalnya ....” Menempatkan dengan mantap sebelah tangan pada pundak pengawal sekaligus teman dekatnya ini. “Benarkah dia putra kandung Tuan dan Nyonya Zhen,” lanjutnya.


Sontak saja Kasim Ma dan Lin Feng bertukar pandang, apa perlu berpikir sedemikian jauhnya pada dua saudara itu? Bagaimana pula jikalau hasil pencarian menunjukkan bahwa Zhen Chen memanglah putra kandung Tuan dan Nyonya Zhen? Akankah Jin Kai menerima? Akankah pula hatinya lebih tenang dan tak tersakiti dari saat ini?


“Jika mereka saudara kandung, tidak akan mereka saling menatap seperti itu. Apa mungkin di dunia ini ada seorang saudara yang menatap adik perempuannya dengan tatapan intim seperti itu? Bahkan Zhen Xian melakukan hal yang sama.”


Meskipun benar Lin Feng tidak tahu bagaimana dan apa itu perasaan menyukai seseorang, tapi dirinya taklah buta sampai titik di mana tidak mampu melihat jikalau ucapan Jin Kai memang benar adanya, dan lagi-lagi Lin Feng tak mampu membantah keinginan atau bahkan titah Jin Kai ini.


Karena aku bawahan, dan sudah menjadi tugasku untuk setia dan mengikuti arahannya. Zhen Chen ... apa pun hasil yang akan kudapat nanti, akankah ada hal baik untukmu?


Pada akhirnya, anggukan yang diperoleh Jin Kai. Melalui anggukan itu pula, Lin Feng membawa diri meninggalkan Jin Kai di bawah pengawasan Kasim Ma seorang. Yang mana Kasim Ma tak banyak berucap, tahu jikalau sepanjang perjalanan sang Pangeran Agung ini kembali ke Kediaman Chahua telah diliputi banyak pikiran yang menggejolakkan perasaan tak karuan.


Alhasil, memandangi mekaran chahua yang menjadi bunga favorit mendiang ibunya sekaligus wanita terkasihnya ini menjadi pilihan terbaik. Di mana Kasim Ma membawa diri beberapa jarak jauhnya, memberikan waktu pribadi bagi sang Putra Mahkota yang entah sudah keberapa kalinya menangis hanya karena seorang gadis biasa bernama Zhen Xian itu.


Jika harus membenci, Kasim Ma pun tak tahu haruskah membenci Zhen Xian. Karena dari sedari awal memang Putra Mahkota-lah yang memaksa menjadikan gadis itu seorang selir. Namun, bukan berarti pula Zhen Xian bebas dari kesalahan karena memperlakukan Putra Mahkota seperti ini. Yang mana Putra Mahkota Jin Kai taklah seburuk itu jikalau benar-benar memahaminya, tak kalah hangat pula hatinya dan tak perlu pula khawatir akan berbagi perasaan dengan siapa pun. Bahkan kekuasaan yang dimiliki tak akan pernah bisa dibandingi dengan orang lain.


Zhen Xian gadis itu, hanya tak bisa dan tak mampu melihatnya saja berkat kebencian yang menggebu tak kunjung surut itu. Mengharuskan Jin Kai yang saat ini menyudahi sesi memandangi chahua, menajamkan pandangan sembari netra diarahkan pada kediaman Zhen Xian. Pun barulah kemudian menarik diri meninggalkan kediaman ini dengan netra kelam menyala-nyala.


Lihatlah siapa yang akan mendapatkan Zhen Xian akhirnya. Aku ... atau kau, Zhen Chen. Di mana kepergian Jin Kai dengan Kasim Ma ini sukses mendatangkan sedikit angin, meributkan suasana sekitar seraya kumpulan awan yang menggantung di atas menghalangi pandangan rembulan pun bintang.


Suara gebrakan dari jendela yang terbuka paksa pun ikut terdengar, dengan lancang pula angin masuk sembari lilin-lilin dalam ruangan ini sedikit-sedikit menyala pun hampir padam sepenuhnya. Membangunkan seseorang dari tidur, Que Mo si pemabuk siang tadi. Bergegas pula dirinya mendekati jendela, menutup dan mengunci rapat pusat dari masuknya angin yang baru disadarinya hari telah malam.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” Memegang kepala seraya sedikit meringis, membawa diri mendekati satu-satunya meja dari ruangan kamar sederhana tak terlalu besar ini, meraih cangkir pun menuangkan air yang menguarkan uap dari mulut teko untuk menyadarkan diri sepenuhnya. Namun, belum sempat isi cangkir tersebut membasahi bibirnya, ada hal lain yang lebih mampu menyadarkan sembari Que Mo menempatkan kembali cangkir. “Bagaimana bisa aku melakukan kegilaan itu? Hampir saja mulut ini mengatakan hal yang menggemparkan.” Mendesah, bahkan menampar wajah serta mulutnya akan kecerobohan dan kebodohan yang dilakukan siang tadi.


Akan tetapi, keberadaan dari secarik kertas yang terselip pada meja ini pula sukses menghentikan Que Mo dari penghukuman dirinya sendiri. Dengan cepat pula dibukakan, bersama akan hadirnya perasaan waswas juga khawatir kalau-kalau isi dalam kertas ini tak lain berupa laporan terkait kejadian yang terjadi siang tadi memang telah pada tahap buruk. “Berharap saja tidak terjadi hal buruk apa pun,” gumamnya, dan membaca dengan saksama tulisan singkat yang tertera.


Namun, efek yang ditinggalkan oleh tulisan secarik kertas itu sukses menjadikan Que Mo bergeming dalam kekosongan, membiarkan api dari lilin memakan habis hingga tak lagi ada jejak yang tertinggal.


“Kalian rupanya sudah lebih gila dariku.”


Bagaimana tidak jikalau secarik kertas yang terbakar barusan bukanlah mengenai laporan akan kejadian buruk dari efek mabuknya siang tadi, melainkan mengenai Zhen Xian yang keluar meninggalkan istana untuk pulang ke rumah. Meskipun dikatakan sebentar, tapi sebentar saja sangatlah berisiko, bukan? Di saat kejadian Dayang Yun dan pelayan lainnya di Kediaman Chahua hari ini terjadi, Jin Kai harusnya akan lebih waspada. Lantas, bagaimana bisa dua orang saling menyukai itu malah bertindak gegabah seperti ini? Apa benar kepintaran Zhen Chen pun ikut terganggu berkat rasa sukanya pada Zhen Xian?


Di mana dua orang yang dikhawatirkan Que Mo ini, kini terlihat tiba di rumah. Bahkan Tuan dan Nyonya Zhen sendiri tak serta merta mengizinkan atau menyukai sikap kabur diam-diamnya kedua anak muda ini, terutama sang ayah yang terus saja meminta Zhen Chen untuk sesegera mungkin membawa kembali putrinya ke istana.


Namun, mana ada orang tua yang tak merindukan anak-anak mereka, bukan? Cukup dengan satu kata ‘rindu’ saja keluar dari mulut Zhen Xian, sudah mampu menggoyahkan hati orang tua. Katakan saja sosok dari seorang ibu, terus membujuk suaminya untuk membiarkan saja kali ini. Lagian hanya sebentar, hanya sampai waktu makan malam saja.


Alhasil, terbujuk sudah sang suami.


Menyaksikan sang putri satu-satunya kembali menempati kursi dari meja makan rumah ini, pun begitulah menikmati santapan seakan dalam istana taklah memberikan makanan enak. Zhen Xian, memakan dengan sangatlah lahap bagi seseorang yang tinggal dalam istana sebagai seorang selir Putra Mahkota.


Tak tahu pula bagaimana kerajaan, tempat itu dalam mengajarkan tata krama berperilaku. Jika Zhen Xian bersikap sesuka hati dan sebebas ini, bukankah dirinya akan selalu dapat masalah dan dihukum?


“Tenang saja, Xian’er tidaklah berperilaku seperti yang kalian pikirkan itu selama di istana.”


“Kau akan menyelinap keluar lagi?”


“Die, hanya kali ini saja,” mohon Zhen Xian. “Akan kubawa Que Mo juga, aku janji tidak akan ketahuan,” lanjutnya, melirik pada ibu yang duduk di samping ayah. Namun, ibu hanya diam seakan hanya menuruti keputusan sang suami.


Baik itu setuju ataupun tidak.


“Lebih baik kau minta izin pada Taizi.”


“Dia tidak akan mengizinkan, Die.” Dan jawaban Zhen Xian ini sukses membuat kedua orang tuanya saling bertukar pandang, ingin tahu alasan kenapa putri mereka berkata demikian.


Pasalnya, selama Zhen Xian memasuki istana sebagai selir Jin Kai, apa pun yang terjadi tidaklah pernah Zhen Chen ceritakan. Bukan karena menutupi, melainkan tak ingin membuat mereka khawatir akan kehidupan terkekang Zhen Xian selama di sana.


“Itu karena Taizi terlalu khawatir, dan terlalu membatasi tindakan Xian’er,” jawab Zhen Chen akhirnya, bergantian memandangi orang tua yang membesarkannya ini. “Maafkan aku, tidak memberitahukan hal ini pada kalian.”


“Taizi, apa dia melarang kalian terlalu dekat?” Yang mana Zhen Chen mengangguk, membenarkan pertanyaan sang ayah dengan ucapan lirihnya. Tentu saja sang ayah taklah bodoh untuk tak memahami kesusahannya sang putra ini, mencintai wanita yang dianggapnya sebagai adik selama ini. Dan sekarang, wanita itu adalah istri dari seorang Putra Mahkota. Perjalanan Zhen Chen jelaslah masih jauh untuk mampu bersama wanita pilihan hatinya, halangan dan rintangan yang ada terlalu dan teramat sulit untuk dilalui. Lantas, haruskah sekarang tak mengizinkan keinginan Zhen Xian? Di saat ulang tahun Zhen Chen selama ini selalu dirayakan bersama Zhen Xian. “Maka baiklah, tapi ingat hanya lusa. Setelah itu jangan bertindak sembarangan. Apa kalian mengerti?”

__ADS_1


“Tentu saja mengerti. Terima kasih, Die, dan juga dirimu, Niang,” timpal Zhen Xian, tersenyum puas.


“Jika ingin melakukan sesuatu maka pikirkan baik-baik. Jangan gegabah ... jangan membuat Taizi marah hingga menggunakan cara licik lagi pada kalian,” ucap ayah lagi, tapi kali ini ucapan tampaknya lebih diarahkan pada sang kakak. Karena itulah yang Zhen Xian tangkap, di mana sang kakak akhirnya mengangguk paham.


Entah kenapa pula, terasa ayah dan kakaknya ini ingin mengobrol empat mata saja. Mungkin karena alasan itu, ibu akhirnya meminta pergi meninggalkan ayah dan sang kakak berdua saja.


Namun, ada apa dengan reaksi ibunya yang terbilang cukup serius? Jikalau bukan karena merindukan kamar yang telah ditinggalkan lama ini, Zhen Xian pasti sudah merasa tak betah terus-terusan dipandangi seperti ini. Di mana ibu akhirnya memanggil untuk duduk bersebelahan dengannya di pinggiran ranjang kamar pribadi yang tak berubah sedikit pun dari waktu terakhir kali ia meninggalkan rumah ini.


“Sekarang kau sudah dewasa. Sudah menjadi wanita bersuami meskipun itu bukan keinginanmu. Apa kau ingat sudah berapa lama menjadi istri Taizi?”


“Aku tidak ingat, dan tidak mau mengingatnya.”


“Sudah hampir setahun ... hampir setahun, Xian’er. Niang hanya ingin bertanya, apa kau sama sekali tidak ada perasaan terhadap Taizi?”


Dengan yakin dan tanpa ragu pula, Zhen Xian mengangguk. “Aku sangat membencinya, dan sampai kapan pun akan. Setahun, dua tahun atau berapa tahun sekalipun, hal itu tidak akan berubah sama sekali, Niang.” Memasang reaksi malas jikalau ingin membahas Jin Kai. Sudah cukup dalam istana, kenapa pula di rumah yang jarang memiliki kesempatan untuk pulang seperti saat ini harus diisi dengan topik terkait Jin Kai? “Niang, bisakah kita jangan membahas terkait istana ataupun Jin Kai?”


“Lalu, jika aku tanya adakah orang yang mengisi hatimu ... apakah boleh?”


Apa ini? Apa sejelas itu diriku yang sedang menyukai seseorang sampai mampu dibaca seperti ini ...? Tidak, bukan itu yang harus kau pikirkan sekarang, Zhen Xian. Berdeham berkali-kali, tak sanggup mengarahkan pandangan pada sang ibu yang mulai paham akan jawaban tak terucap putrinya ini. Namun, tetap saja ibu ingin mendengarkan langsung meskipun telah tahu siapa pria yang telah mengisi hati Zhen Xian ini


“Benar, aku memang menyukai seseorang, Niang ... hanya saja aku tidak bisa memberitahumu siapa orang ini. Dia berjanji akan memberitahuku sesuatu tentang dirinya jika sudah tiba waktunya. Makanya, Niang ... akan kuberitahu jika aku sudah tahu apa hal yang ingin disampaikannya itu.”


“Kau pasti sangat menyukainya, bukan?”


Di mana Nyonya Zhen sendiri merasa bodoh akan pertanyaan barusan, tahu jawabannya apa, tapi masih saja bertanya. Bahkan jika ditanya berapa kali pun, sudah pasti putrinya ini akan membenarkan dan mengiyakan. Bagaimana bisa tidak, bukan? Di saat perasaan itu bisa saja telah ada sejak lama, dan baru tersadarkan kini setelah dirinya dewasa.


“Dia adalah bagian dari seluruh hidupku, Niang.”


“Jika itu yang kau rasakan maka lakukan. Niang dan Die akan selalu mendukungmu, apa pun itu ... dan siapa pun itu.” Mengelus lembut wajah putrinya. “Waktu memang mengubah segalanya, berharap kau akan hidup bahagia bersama pilihan hatimu, Xian’er.”


Tak kuasa menahan haru, Zhen Xian serta merta memeluk ibu tercinta dan terkasihnya ini. Memiliki seorang ibu yang selalu mendukung, dan memahami keinginannya seperti ini, bukankah ini salah satu dari sekian banyak berkat dan anugerah yang diberikan langit dalam hidupnya? Yang mana air mata ibu dan anak ini tak lagi mampu terbendung, luruh begitu saja layaknya mengikuti arus.


Namun, ke mana arus akan membawa? Di saat rembulan di luar sana pun tak melihat ataupun bermaksud ingin menyinari arahan pergi arusnya. Hanya satu yang disinari sang rembulan, sosok seseorang dalam balutan pakaian kasim tak biasa terburu-buru dalam tiap langkahan. Pun dari sepasang tangan tampak pula membawa sesuatu, diserahkan pada seseorang lainnya yang tak lain adalah Kasim Ma.


“Huangdi mengatakan untuk segera memberikannya pada Taizi, dan segera mengusut kasus terkait benda itu.”


“Apa ini gulungan ...?”

__ADS_1


“Potret Jenderal Wei.”


DEG!


__ADS_2