
Langit yang menyambut pergantian hari begitulah cerah, sang surya tersenyum begitulah memukau hingga pasang mata siapa pun tak akan mampu melihat langsung bahkan jika hanya mengintip dari balik jari tangan yang menghalau. Sinar kehangatan yang kian meninggi kian memanas ini pun entah kenapa malah berbeda, bagai sang surya enggan menyebarkan sinarnya khusus pada tandu tertarik seekor kuda yang meringkik, berhenti.
Warna hijau keemasan bagaikan bulu merak, katakan itulah yang mendominasi keseluruhan dari tandu terbilang cukuplah besar ini. Mungkin, dapat memuat sekitar empat orang di dalamnya. Yang mana kini pintu tandu mulai bergeser, menampilkan seorang pria keluar. Pun netra diedarkan, mendapati beberapa pelayan wanita dalam kediaman bertuliskan ‘Kediaman Chahua’ mendekat.
“Tuan Que Mo?”
Akan tetapi, pertanyaan yang terlontar dari mulut wanita paruh baya diketahui Dayang Yun barusan diabaikan seolah tak didengarkan. Karena jelas, sosok yang menuruni tangga tandu saat ini jauh lebih penting ketimbang apa pun. Tanpa ragu dan bergegas, Que Mo mengulurkan sebelah tangan yang seketika pula diterima baik oleh sosok berbalutkan berhiaskan pula kemewahan di sekujur tubuhnya. Merah, itulah warna yang menyelimuti jubah terluar dari gaun dengan bagian kepala dipenuhi pernak-pernik keemasan, menyembunyikan tusuk konde chahua yang biasa digunakan.
“Selir Zhen, selamat datang,” sambut Dayang Yun beserta beberapa pelayan lainnya. Barangkali saja baru ditugaskan kemari, karena Zhen Xian yang bahkan taklah tersenyum sedikit pun ini tak pernah melihat mereka sebelumnya. “Mulai hari ini, aku dan yang lainnya akan menjadi bawahanmu, Selir Zhen.”
Bukankah sangat menggelikan, posisi selir yang didapatkan ini? Semacam inilah tali pengekang yang melilit lehernya, menuntun atau bahasa kasarnya menyeret paksa untuk mendiami kediaman yang sangat tidak diinginkan. Pun kediaman yang tak lagi asing bagi Zhen Xian ini, masih tak begitulah banyak berubah dari terakhir kali dirinya berkunjung. Tidak, bukan berkunjung melainkan saat itu hampir dinodai oleh pria yang mau tak mau kini berstatus sebagai suaminya.
Kejadian itu, masih cukuplah jelas. Namun, situasi saat ini jauh lebih memberatkan lagi. Yang mana Zhen Xian sesegera mungkin memerintahkan para pelayan, terkecuali Que Mo pastinya untuk tidak keluar. “Bantu aku menggantikan pakaian ini, Que Mo. Aku merasa muak akan penampilanku sendiri.”
“Kau yakin bisa hidup di sini?”
Menggeleng sembari mengembuskan napas. Zhen Xian akhirnya meneteskan air mata. “Entahlah, sekarang saja aku sudah merindukan rumah,” ucapnya, menyeka pergi air mata yang menghadang pandangan.
Apa gunanya air mata saat ini, bukan? Bahkan jika harus menangis sebanyak apa pun air mata tidak akan menyelesaikan permasalahan terkekangnya, tidak akan pula berubah menjadi emas ataupun orang berkekuasaan penuh seperti Jin Kai. Yang ada air mata hanya menunjukkan betapa rapuh dan menyedihkan kehidupannya, dan Zhen Xian tidak ingin memperlihatkan hal semacam ini pada siapa pun, terlebih pada seseorang yang dikasihinya. Yang mana kini sedang dinantikan Meng Jun dan Mo Zhu.
“Dia keluar, Mo Zhu,” ucap Meng Jun, pandangan tak bisa dilepaskan dari sosok yang melangkah keluar bersamaan kedua penjaga penjara. Pun Mo Zhu sontak melambaikan tangan seraya mulut menyerukan nama Zhen Chen.
Ahli atau jenius bunga ini, jelas saja telah begitu menderita. Fisik memang tidaklah terluka sedikit pun, tapi lemahnya langkahan yang dilakukan dengan wajah memucat nan begitu tirus itu cukuplah mengganggu mengundang keprihatinan. Serta merta, Meng Jun berinisiatif mendekat, memapah Zhen Chen yang tampak begitulah terganggu akan masuknya cahaya dalam netra sayup-sayupnya ini.
Namun, itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Apa lagi jikalau bukan menanyakan keadaan sang adik, menjadikan Meng Jun sendiri yang biasanya lebih baik dalam berkata-kata serta merta bergeming. Yang mana Mo Zhu akhirnya gelagapan, tak tahu bagaimana harus menanggapi pandangan Zhen Chen yang diarahkan padanya.
Jikalau demikian reaksi kedua temannya ini, bukankah jelas kabar buruk-lah yang telah terjadi? Berusaha Zhen Chen menahan air mata untuk tak luruh, berharap bahwa apa yang dipikirkan taklah terjadi bahkan jika kemungkinannya hanyalah kecil. Akan tetapi, ucapan Meng Jun berikutnya sukses meruntuhkan harapan kecil itu menjadi kepingan abu menguar bebas ke arah datangnya angin. Menuntun pula keinginan lebih bagi si jenius bunga ini untuk pergi.
“Sekarang dia adalah Selir Zhen bukan lagi Zhen Xian!” seru Meng Jun, meskipun tahu seruannya ini akan sangat menyakitkan temannya. Namun, Zhen Chen jauh lebih pantas dan harus sesegera mungkin bersepakat akan hal ini, bukan? “Dia adalah Taizi, dan kau baru saja bebas atas perintahnya. Jika menemuinya sekarang itu tidak akan ada gunanya,” lanjutnya, menolehkan wajah ke samping tak tahan menyaksikan runtuhnya sepasang tungkai Zhen Chen yang memanglah telah lemah sedari awal.
“Dia menjebakku ... merencanakan semuanya dari awal untuk mengancam Xian’er menjadi selirnya menggunakan diriku. Jika kalian di posisi ini, apa yang akan kalian lakukan?” tanya Zhen Chen, menangis, tapi sejadinya menahan isakan itu. Di mana tidak ada siapa pun yang mampu berucap, kenyataan pahit ini memanglah telah terjadi. Sebagai seseorang yang tak memiliki kekuasaan setinggi Putra Mahkota, apa yang bisa dilakukan?
Oleh karenanya, Mo Zhu dengan berat berkata, “kendalikan dirimu dahulu, dan terimalah kenyataan ini, Zhen Chen.”
“Aku bahkan tidak berani bertemu dengan Xian’er sekarang. Apa yang harus aku katakan padanya ...? Apa?”
Ambruk begitu saja, pria bernama Zhen Chen yang ramah ini hanya mendapati samar-samar kedua temannya berlarian menghampiri. Apa mungkin mulut mereka menyuarakan sesuatu? Karena telinganya tak lagi mampu menangkap seruan itu. Degungan, hanyalah degungan yang terdengar sampai titik di mana kegelapan memenuhi. Apa biasanya ... dunia ini memanglah segelap dan selicik ini?
Pun bayang-bayang Jin Kai di hari pertama kali rebutan tusuk konde chahua jelas terlihat. Saat itu, begitulah indah. Penuh tawa dan obrolan, santai dan begitulah menikmati suasana serta situasi. Tak ada niatan buruk atau apa pun, yang ada hanyalah keinginan untuk berteman sebelum menuju tahap persahabatan. Namun, kedatangan sang adik malah mengubah dunia di sekitar terhenti.
Tak peduli bagaimana Zhen Chen bersuara memanggil, sang adik tetaplah mematung sembari memandangi Jin Kai. Tersenyum,’kah?
Dan Zhen Chen dengan yakin menggeleng, mendapati jelas sebulir air mata mengalir pelan di wajah sang adik seraya netra digerakkan lurus padanya. Itulah, saat di mana sang adik satu-satunya ini berakhir tersenyum sembari sepasang telinga menangkap suara terus memanggil-manggil dirinya dalam sebutan ‘Ge! Ge!’ yang biasanya menjadi andalan sang adik. Namun, bukan adik di hadapannya kini, melainkan seperti di luar dari situasi aneh. Tempat yang entah kenapa pula berubah menjadi putih menyilaukan.
__ADS_1
Meskipun demikian, Zhen Chen mampu merasakan kehangatan tergenggam di sebelah tangannya. Setetes, tidak ... barangkali dua tetes air tumpah di atasnya. Yang mana tetesan itu pun sukses membukakan sepasang netra tertutupnya, mendapati langit-langit tak asing mampang. Termasuk pula kehangatan dari genggaman seseorang yang tak asing pula kian menghangat. Perasaan ini, jelas perasaan yang sangat dirindukannya.
Xian’er ....
Namun, apa benar ini sang adik? Penampilan tak lagi bagaikan biasa, menyadarkan seketika bahwa segala hal buruk yang terjadi bukanlah mimpi seperti dialaminya barusan. Di mana sang adik yang saat ini erat pun memandang penuh kekhawatiran bukanlah hanya seorang adik, melainkan selir dari seorang Putra Mahkota.
“Ge ... kau akhirnya sadar,” ucapnya sembari tersenyum lebar pun menyeka pergi air mata, tak mengizinkan mengganggu pandangan akan sosok yang berhari-hari ini sangat dinantikan akan pertemuan kembalinya. “Ini aku, Xian’er, Ge.”
Serta merta pula Zhen Chen dibuat membangunkan diri dari pembaringan Departemen Dekorasi ini, yang mana serta merta sang adik memeluk erat, merasa sangat lega akan kondisi sang kakak yang baik-baik saja biar kata masih sedikit linglung akan keadaan.
Beruntung, hal yang dirasakan Zhen Xian ini hanya sebentar saja. Karena setelahnya pertanyaan sang kakak sukses mempersempit jarak di antara mereka. “Hmm ... aku baik-baik saja, Ge.”
“Maafkan aku ... maafkan aku, Xian’er.” Mendekap lebih erat lagi, menangis bersama dalam tangisan haru kebahagiaan pun kesedihan. Apalagi ketika menangkap tusuk konde chahua pemberiannya masih dikenakan. Benar, ini adalah Xian’er. Tidak peduli bagaimana statusnya kini, dia tetaplah adikku tercinta ... Xian’er.
“Kenapa meminta maaf? Kau tidak melakukan apa pun dan tidak seharusnya minta maaf, Ge.”
“Karena aku tidak bisa melindungimu.”
Sontak saja Zhen Xian melepaskan pelukan, menatap dekat langsung ke sepasang netra sang kakak seraya menghapus air mata pun tersenyum. “Ge, kau sudah melindungiku ... keluar dengan selamat dari penjara sudah cukup untukku. Jadi, hiduplah dengan baik sekarang dan menemaniku di sini, bisakah?”
Pun Zhen Chen melakukan hal serupa seperti yang dilakukan sang adiknya ini, menghapus pergi air mata sembari tersenyum. “Bodoh ... tentu aku akan melakukannya. Aku akan menemanimu sepanjang waktu hingga kau bosan dengan kehadiranku,” ucapnya, terkekeh kemudian.
Bertepatan dengan itu pula, kehadiran Meng Jun, Mo Zhu dan juga satunya yang sukses mengejutkan Zhen Chen, siapa lagi jika bukan Que Mo orangnya. Yang mana pakaian menunjukkan Que Mo bukan lagi orang bebas tanpa ikatan dengan istana, katakan saja seragam dari seorang pelayan istana.
Mengambil, Zhen Xian meniup dengan hati-hati bubur yang masih beruap begitulah banyak ini. “Makanlah dulu, Ge. Kudengar kau tidak makan dan minum apa pun sejak dalam kurungan.”
Dengan senang hati pastinya, Zhen Chen menerima tiap suapan yang diberikan sang adik. Yang mana Zhen Xian sendiri sangat menikmati momen ini yang sampai lupa caranya berhenti tersenyum barangkali.
“Zhen Xian, tidak ... kurasa harusnya memanggilmu Selir Zhen sekarang, bukan?” ucap Mo Zhu, tapi Zhen Xian masih bergeming dan sibuk menyuapi sang kakak. “Apa tidak apa-apa kau datang kemari?”
Yang mana pertanyaan itu bertepatan pula dengan permintaan Zhen Chen yang ingin minum, pun Zhen Xian menyerahkan mangkuk bubur tersebut pada Que Mo seraya menuangkan secangkir air minum hangat yang kemudian diserahkan pada sang kakak. “Panggil saja aku Zhen Xian. Selain itu, tidak ada yang bisa menahanku.”
“Tetap saja kau harus berhati-hati,” sela Meng Jun. “Jangan sampai mendapat teguran, apalagi teguran langsung dari mereka yang berposisi lebih tinggi dari Taizi,” lanjut Meng Jun, menasihati.
Akan tetapi, Zhen Xian tampak tak suka akan nasihat itu. Jikalau bukan sang kakak yang menahan, sudah dapat dipastikan gadis ini akan berkoar-koar menanggapi perkataan Meng Jun. Di mana Zhen Xian akhirnya sadar, kalau ucapan Meng Jun barusan memang demi kebaikannya sendiri, dan yang paling terpenting sang kakaknya ini sangat menyetujui nasihat dari Meng Jun tersebut untuk terus-terusan diterapkan. Karena memang hanya dengan cara itu, kehidupan dalam istana akan lebih baik dan barangkali jauh lebih damai.
Alhasil, Zhen Xian mengangguk-angguk menerima nasihat. “Aku tahu. Kalian jangan khwatir.”
Setidaknya ini membuktikan masih banyak orang yang peduli, dan membuktikan pula siapa yang benar-benar teman dan siapa yang bukan dalam istana ini. Tak mengherankan pula apabila di antara sesama teman mereka berbicara selepasnya, bukan? Canda sana-sini, tertawa lepas menyingkirkan segala hal buruk yang menerpa belakangan ini. Namun, sayangnya, kehebohan itu sendiri membawa mereka tak sadar jikalau sedang menjadi intipan seseorang. Tepatnya pelayan istana jika melihat dari jenis warna pakaian serupa dengan Que Mo. Akan tetapi, siapa pelayan yang diketahui wanita ini? Menjauh setelah menguping tanpa ada niatan untuk menolehkan wajah sedikit pun, terus saja menjauhi Departemen Dekorasi di mana sang surya sekalipun telah menenggelamkan diri.
Tak heran, jikalau sedari tadi tempat ini begitu sepi akan orang-orang. Yang mana pada akhirnya tiba pada waktu Zhen Chen dan kedua temannya, Meng Jun juga Mo Zhu untuk undur diri.
Jujur, Zhen Xian ingin rasanya ikut kembali pulang. Bersama sang kakak menelusuri jalanan yang akan membawa ke rumah hangat mereka, disambut pula oleh kedua orang tua yang telah menyajikan makanan hangat rumahan penuh cinta di meja makan. Namun, sekarang Zhen Xian hanya bisa mengucapkan kata-kata pamit seraya memeluk sang kakaknya yang juga tak tahan berpisah. Tetap saja, sebesar apa pun rasa tidak ingin berpisah itu harus ditahan, karena kedua orang tua mereka pun pasti sangat merindukan Zhen Chen yang telah empat hari tak berjumpa.
__ADS_1
Zhen Xian, tentu tidak boleh egois, bukan? Dan Zhen Chen, juga harus memikirkan perasaan orang tuanya.
Yang mana Zhen Xian akhirnya dimintai Que Mo untuk kembali ke Kediaman Chahua, dan Zhen Xian sontak saja cemberut seraya membawa diri kembali. Pun malam kian dingin, seakan kehangatan dibawa pergi seutuhnya oleh sang kakak, dan kian pula dingin layaknya membeku saat diri tiba pada kediaman pun mendapati seseorang yang sangat tidak ingin dijumpai hadir.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Zhen Xian yang barangkali tanpa berpikir, terlontar begitu saja.
“Kau adalah istriku, dan malam ini adalah malam pertama. Jadi, apa aku salah kemari?” ucapnya santai, sesantai dirinya yang menikmati secangkir teh bersama camilan malam yang tersaji. Mengejutkannya lagi, Que Mo-lah yang justru merespons ucapan Putra Mahkota menyebalkan ini dengan seruan yang jelas saja tak sopan. “Kau hanya seorang pelayan, beraninya bersikap demikian padaku!”
Menyadari hal tak akan baik jika terus-terusan seperti ini, belum lagi sang kakak baru saja bebas, bagaimana jika Que Mo yang sekarang akan ditangkap? Tidak, tentu Zhen Xian tak akan membiarkan hal itu. “Que Mo, keluarlah.”
Namun, Que Mo tak menuruti. Mengharuskan Zhen Xian menoleh memandang seraya mengangguk, tanda bahwa Que Mo mau tak mau harus menuruti demi kebaikan mereka berdua pastinya.
Dengan terpaksa, Que Mo menarik diri keluar dari ruangan. Lagian memang benar, jika itu Zhen Xian yang memprovokasi barangkali Jin Kai masih bisa menerima, tapi lain halnya jika itu Que Mo pribadi yang melakukan. Akan sangat tidak baik jikalau sampai tertangkap dan dimasukkan dalam penjara, bukan? Karena Zhen Xian, tak ada yang menemani dalam kehidupan baru terkungkungnya ini.
“Kemarilah, tuangkan teh padaku.”
“Kau pikir aku akan melakukannya untukmu?”
Yang mana Jin Kai seketika menghentikan sesi menikmati camilan, melepas kasar bagai membuang potongan kue ke piring yang ada. “Jika bukan aku ... kau sudah pasti dihukum oleh Huanghou!” teriaknya. “Kau berpelukan, menyuap dan tertawa bersama laki-laki lain. Mereka bahkan memanggil namamu tanpa rasa takut! Apa kau pikir pantas bagi mereka bersikap demikian padamu yang seorang selir saat ini?” tegasnya.
“Kau mematai-mataiku?”
“Aku tidak akan melakukan itu, tapi bukan berarti orang lain tidak akan,” murkanya. “Ini adalah istana dan kau adalah selirku. Jika kau tidak ingin dihukum atau orang-orang sekitarmu dihukum, maka jangan pernah bertindak seperti hari ini. Bahkan terhadap Zhen Chen, apa kau mengerti, Zhen Xian?”
“Jangan pernah memanggilku Zhen Xian! Jangan pernah memanggil nama Zhen Chen dari mulutmu itu, kau tidak pantas dan aku bahkan merasa tidak tahan dalam satu ruangan denganmu!” pekiknya, dan benar saja Zhen Xian membawa diri menuju pintu keluar.
Namun, bagaimana bisa dirinya keluar sesuai keinginan jikalau Jin Kai sendiri menyusul pun menahannya? Bagaimana bisa seorang gadis muda melawan sang suami yang nyatanya begitulah kuat? Terus menarik dirinya menuju kamar tidur, dan tidak peduli bagaimana kuatnya meronta ... Zhen Xian pada akhirnya tetaplah terjebak dalam tindihan pun tatapan lekat nan dekat sang suami yang dibencinya ini. Yang mana Zhen Xian sendiri, memalingkan wajah takut-takut jikalau pria ini akan melakukan tindakan tak senonoh padanya.
“Perhatikan sikapmu. Hanya itu yang kuminta.” Pun tangan dibiarkan menyentuh lembut, menyusuri wajah mulus gadis dicintainya. Namun, ketakutan dari gadis ini cukup membuat Jin Kai menghentikan kegiatannya seraya menarik tubuhnya menjauhi Zhen Xian. Tak sampai di situ saja, Jin Kai bahkan keluar dari kamar tidur ini. Melegakan Zhen Xian, yang akhirnya mampu bernapas normal.
Jin Kai sadar lebih dari sekadar sadar, jikalau malam ini belum saat yang tepat untuk menyempurnakan hubungan suami-istri mereka. Bukankah gadis ini akan kian menjauh dan membencinya jika sampai melakukannya secara paksa? Dan Jin Kai tidak ingin hal itu terjadi, tak ingin jarak di antara mereka kian merenggang lagi.
Oleh karenanya, ketika malam kian larut dalam kepekatan, Jin Kai kembali masuk dalam kamar tidur. Mendapati gadis pujaan hatinya ini telah terlelap dalam mimpi, dan menyaksikan pula Zhen Xian mengalirkan sejumlah air mata nan memilukan efeknya bagi Jin Kai seorang untuk disaksikan.
“Jangan membenciku ... bisakah? Mari pelan-pelan membangun hubungan baik, Zhen Xian. Kumohon,” pintanya, menyeka netra berembun miliknya sendiri seraya menarik selimut bahkan mengecup kening Zhen Xian. “Istirahatlah, dan biasakan kehidupan barumu dalam istana ini.”
Berakhirlah, Jin Kai benar-benar meninggalkan kediaman. Di mana di luar dari kediaman ini sendiri Que Mo telah menanti, tapi Jin Kai tak berfokus pada dirinya. Melainkan mengedarkan pandangan ke sekitaran dengan begitulah waswas. Pun Jin Kai mengikis jarak lebih lagi pada Que Mo seraya menurunkan kewaspadaan, tepat ketika mendapati Lin Feng yang berada tak jauh dari Kediaman Chahua ini memberikan aba-aba berupa anggukan.
“Jika kau ingin menjaga dua saudara Zhen, maka beritahu Zhen Xian untuk tidak bertindak seperti hari ini di hadapan banyak orang.”
Apa ini nasihat? Tapi kenapa pula terasa bagaikan suatu kecaman?
Di mana Que Mo bergeming dalam keterpakuan menyaksikan kepergian Jin Kai bersama Lin Feng. Mengembuskan napas pun netra penuh ketidaksukaan yang dilemparkan pada Jin Kai akhirnya dialihkan pada langit berbintang, dan yang paling mengesalkannya adalah ketika diri tak bisa menyangkal perkataan Jin Kai.
__ADS_1
Tak peduli bagaimana dan seberapa lama pula memikirkan, ucapan Jin Kai memang ada benarnya dan mungkin akan selalu benar jikalau menyangkut keselamatan Zhen Xian ataupun Zhen Chen. Karena inilah istana, bukan kediaman ataupun tempat tinggal keluarga Zhen yang damai nan tentram layaknya surga dunia itu.