Eternal Spring

Eternal Spring
Chapter 78


__ADS_3

Sebelah tangan membawa tombak, sementara sepasang tungkai terus saja dibiarkan bergerak ke sana kemari. Meskipun begitu, pandangan terus ditajamkan ke area sekitaran, seakan melawan kencangnya embusan angin apalagi di kala embun kian saja turun dan menyebar. Yang mana purnama menjadi saksi, saksi akan semenderita apa kehidupan dari dua pria penjaga gerbang ini.


Bermodalkan api obor saja yang mampang di sisi kiri dan kanan, lantas bisakah menghilangkan dingin? Tentu tidak, bukan? Bahkan ditemani arak saja takutnya hal itu pun tidak akan bertahan lama. Namun, bagaimana bisa sewaktu kerja meminum arak, bukan? Mengobrol dengan sesama rekan saja sudah menjadi suatu jenis pelanggaran, dianggap melalaikan penjagaan. Apalagi gerbang yang dijaga bukanlah sembarangan gerbang, melainkan gerbang dari jantungnya Kota Yunnan-Fu, yaitu istana.


Meskipun memang benar adanya, gerbang ini bukanlah gerbang utama melainkan hanya berupa gerbang belakang saja. Yang mana beragam jenis serangga termasuk nyamuk sudah siap menemani, pun pemandangan akan hamparan semak-semak setinggi pinggang sudah menjadi hal biasa untuk disaksikan.


Terkadang jikalau beruntung, beragam jenis burung-burung malam akan pula bersiul-siul ria seakan bernyanyi untuk memecahkan keheningan yang ada. Seperti saat ini misalkan, siulan terdengar begitulah lantang dan bahkan semak-semak bergoyang cukuplah liar hingga desauan terdengar jelas pula.


Akan tetapi, benarkah ini ulah angin? Karena kian dilihat kian pula terasa tidaklah demikian, melainkan lebih pada suatu pergerakan aneh dilakukan secara berkelompok. Tidak mungkin kawanan serigala, bukan? Ataukah anjing liar? Di kala dua penjaga kini mulai panik akan pergerakan yang kian mendekat, pun bersiap mengirim sinyal bantuan berupa tiupan peluit.


Namun, apa-apaan ini? Belum sempat meniup secara sempurna, nyawa dua penjaga gerbang telah lebih dahulu melayang. Menampilkan pula dua sosok misterius berpakaian serba hitamlah pelaku penggorokannya, yang tahu-tahu saja gerbang telah terbuka dengan begitulah mudah untuk siap dimasuki oleh mereka yang barulah memunculkan diri dari balik semak-semak, Azheng beserta pasukan Wei lainnya dalam balutan zirah hitam seadanya.


Yang mana setelah memasuki istana ini, Azheng mulai membagi regu untuk bergerak atau berpencar biar kata tujuan dan titik sasaran mereka adalah sama. Ambil jalan, langkah dan cara berbeda untuk meminimalisir risiko yang ada jikalau sampai tertangkap pengawasan penjaga patroli. Akan tetapi, apa yang dilakukan Azheng saat ini? Bukannya bergerak memimpin sejumlah pasukan yang mengikutinya, pria berwajah sangar ini malah mengedarkan pandangan ke sekitar seakan sedang mengingat jikalau istana ini tidaklah banyak berubah.


Meskipun memang benar, ia dulu lebih banyak menghabiskan waktu di area perbatasan ketimbang dalam istana ini sendiri. Namun tetap saja, istana inilah yang dulunya ia dan Jenderal Wei selalu jaga. Biar kata kemudian istana ini pula yang menghancurkan mereka dikarenakan Raja yang mereka angkat dulunya tak rupa hanyalah seekor ular yang berpura-pura menjadi naga.


Lantas, salahkah tindakannya sekarang ini dengan melakukan pemberontakan? Setidaknya hanya dengan begini, banyak nyawa yang tewas dengan cara tidak adil akan kembali tenang. Dan singgasana naga sudah seharusnya diisi oleh generasi baru, meskipun memang benar adanya kalau karakter Putra Mahkota saat ini tidaklah lebih baik dari Raja. Namun, Zhen Chen sendiri dulu pernah mengatakan kalau ia pribadi tidaklah mempermasalahkan jikalau Pangeran Agung tersebut sungguhlah akan naik takhta.


Bukankah posisi tertinggi akan kian membuat Putra Mahkota itu menderita? Karena Zhen Chen yakin, dengan kepribadian yang dimiliki Putra Mahkota sekarang ini akan membuat semua orang menjauh darinya. Kesepian dan kesendirian, hidup dalam ketidakpercayaan pada siapa pun, bukankah itu adalah suatu jenis hukuman terbaik bagi Pangeran Agung itu?


Maka, di sinilah kini Azheng berada. Kediaman Raja. Anehnya, kenapa kediaman ini begitulah sepi bak taklah berpenghuni? Apakah mungkin Raja hidup dalam begitulah penuh ketenangan sampai tidak perlu lagi dijaga? Ataukah justru ada hal aneh yang telah Raja ini persiapkan?


Yang mana Azheng mulai memasang kewaspadaan penuh, mengedarkan pandangan ke seluruh bagian area termasuk atap-atap dari bangunan yang ada. Bahkan deruan angin mulai dirasakan, pun purnama tertutupi sudah oleh gumpalan awan putih. Apakah benar, Azheng telah masuk ke dalam jebakan? Jikalau memang benar, lantas ke mana perginya insting dari seorang mantan tangan kanan jenderal tinggi ini menghilangnya? Benarkah karena sudah tua, dan sudah selama belasan tahun kemampuan tidak pernah terasah lagi, membuat semua instingnya tumpul? Ataukah ... ada sosok baru di sisi Raja yang membuat seorang berpengalaman seperti Azheng sendiri tidak menyadari akan jebakan yang mengintai?


Karena Azheng berani menjamin, ini bukanlah gaya seorang Raja. Karena Raja sendiri adalah tipe penyerang depan, pun gayanya adalah agresif dan tergesa-gesa. Sedangkan cara saat ini adalah cantik, halus, teliti, berhati-hati, penuh pemikiran, tapi bergerak dengan yakin dan penuh tekad akan kemenangan.


Namun, tidak bisa dipungkiri. Jikalau pembuat strategi ini belumlah berpengalaman, melainkan hanyalah seorang pemain catur nan handal. Yang mana bukan hanya gerakan saja yang tidaklah mampu terbaca, melainkan pula pikiran sulit ditebak. Lantas, apa mungkin pembuat ide strategi ini tak lain adalah sang Putra Mahkota? Yang mana pernah sekali Zhen Chen mengatakan kalau Pangeran Agung itu sangatlah cerdas pun licik. Jikalau belum pernah bertemu, maka akan terkecoh akan penampilan ramah, santai nan berkelasnya.


Hanya saja, bukankah harusnya sang Putra Mahkota sibuk akan pencarian sang selirnya yang kabur? Bahkan kabar angin yang tersebar di istana terkait pemberontakan saja tidaklah Putra Mahkota tersebut percayai, lalu kenapa malah seperti ini jadinya? Apa mungkin, ketidakpercayaan dan sikap mengabaikan akan kabar pemberontakan tersebut adalah bagian dari kepura-puraannya? Bagian dari rencana untuk menjebak musuh kian yakin jikalau target mereka telah memakan umpan? Di kala kini benar saja Putra Mahkota sungguhlah memunculkan diri bersama dengan ayahnya, Raja yang sangat ingin dimusnahkan Azheng.


“Si Lin?” tebak Raja, menajamkan lagi pandangan seraya penuh harap jikalau apa yang dilihat ini tidaklah salah. “Memang benar kau. Tidak kusangka kau masih hidup, dan malah dengan beraninya sekarang menerobos kemari! Si Lin ... kau pasti telah bosan hidup, bukan? Ingin sesegera mungkin bergabung dengan Tuan Pengkhianat itu!”


Namun, Azheng terdiam. Mengeratkan lebih lagi pegangan pada gagang pedang tersarung yang sewaktu-waktu siap ditariknya keluar. Pun keterdiaman ini malah membuat Raja kian menjadi-jadi berucap menjelekkan sang Jenderal, semacam sang Jenderal memanglah orang sekotor dan sekeji itu hingga memanglah pantas diperlakukan dengan sangat tidak adil selama belasan tahun ini.

__ADS_1


“Hanya karena semua orang memanggilmu Huangdi dan Huangdi kau sungguh menganggap demikian? Lucu, sangatlah lucu candaan ini.”


“Kala itu siapa yang mengangkatku ke posisi ini, apa kau sudah lupa?” Tersenyum sinis, Raja bahkan kembali mengingatkan siapa dalang di balik kudeta belasan tahun lalu yang mana mati-matian pula membuka jalan agar singgasana naga diduduki pemimpin baru. “Jika kau merasa kehidupan yang dijalani ini tidaklah adil, maka salahkan saja tuanmu alih-alih menyalahkanku.”


Benar. Azheng memang tidak mampu memungkiri hal tersebut. Karena memang itulah kenyataannya, saat di mana Jenderal Wei terlalu bermurah hati sampai termakan jebakan pria ular ini.


“Si Lin, kala itu aku adalah pemilik singgasana naga yang baru, bagaimana bisa aku membiarkan rakyat melahirkan dan menjadikan pemimpin yang harusnya hanyalah satu menjadi dua?!” bentaknya, meluapkan segala hal mengganjal yang dulu pernah dirasakan kembali terulang. “Aku memanglah bukan apa-apa jika dibandingkan Jenderal Wei, tapi aku juga tidak ingin terus duduk di singgasana naga dengan terus saja melihat bayang-bayangnya! Semacam aku tak lain hanya sekadar seorang penguasa di atas nama!”


“Aku memang tidak pernah menyukaimu sedari dulu, dan selalu meminta Jenderal Wei untuk berpikir ulang mengangkatmu duduk pada singgasana.” Meluruhkan sebulir air mata, ingatan masa itu kembali datang pun penyesalan semacam menyerang. “Kekuasaan pada akhirnya menggelapkan pandanganmu, menggelapkan pula pikiranmu pada sang Jenderal. Jika kala itu aku kian mendesak dan mendesak untuk menahan, maka sang Jenderal tidak perlu pula berakhir seperti ini di tanganmu yang hanya seorang pangeran menyedihkan, Jin Yong!”


Jangankan Raja, bahkan Jin Kai saja tampak tidak suka ada yang dengan berani menyebut nama sang ayah dengan begitulah lantang. Bahkan, apa? Pangeran menyedihkan dia bilang? Lantas, siapa sebenarnya yang lebih menyedihkan kini? Di kala Jin Kai mendongakkan wajah, mendapati para pemanah telah bertengger siap siaga di atap dari seluruh kediaman ini. Belum lagi, para pasukan pemberontak telah dibekukan pun sebagian dimintai berkumpul bahkan bersujud untuk menemani pemimpin mereka agar setidaknya tidaklah terlalu kesepian.


Oleh karenanya, Jin Kai ingin tahu, bagaimana rasanya tertangkap duluan sebelum memulai pemberontakan? Ingin pula menyaksikan lebih dekat lagi akan reaksi yang dikeluarkan pria berwajah sangar seumuran ayahnya ini. “Tidak tahu haruskah aku memanggilmu Si Lin, Azheng ataukah paman. Menurutmu, panggilan apa yang harus kugunakan?” Yang mana Azheng terdiam, terus saja bertukar pandang dengan Putra Mahkota yang tidaklah bereaksi banyak ini. Namun, sorot sepasang netra jelas saja sinis. “Kenapa? Merasa harga dirimu hancur? Atau ... merasa setiap usaha dan rencana yang kau bangun selama belasan tahun ini sangatlah sia-sia? Karena hancur hanya di tangan seorang pria muda sepertiku ini?”


Dia memang pandai membaca pikiran seseorang.


“Sudah waktunya menyelesaikan dendam di antara generasi kalian, bukan? Tidakkah lelah? Dan sampai kapan kau ingin terus-terusan membawa dendam lama ini? Bahkan kau tanpa segan pula memanfaatkan putra dari jenderal, Zhen Chen.”


Pun Jin Kai menolehkan pandangan pada salah satu pasukannya, mendapati jikalau beberapa anak buah Azheng yang diketahui sebagai mata-mata telah tertahan pun babak belur semacam siap kehilangan nyawa. Mungkin akan lebih baik kematian saja yang menghampiri ketimbang harus menahan sakit kehilangan sebelah tangan seperti itu, bukan?


“Aku tidak tahu jika seorang Taizi yang dipuja-puja rakyat akan memiliki sikap mengerikan seperti ini. Terlebih tidak tahu pula jikalau akan mampu membuat cerita tidak masuk akal. Memanfaatkan Zhen Chen kau bilang? Bagaimana bisa ide gila itu terpikirkan olehmu, Taizi?”


“Benarkah? Kupikir kau akan menganggapku hanyalah seorang pangeran yang sibuk mengejar wanita. Sampai akhirnya lupa akan tugas utamaku tak lain adalah melindungi Huangdi dan istana ini.” Memondar-mandirkan diri seraya pandangan kembali diarahkan pada pasukan pemanah di atap sana. Serta merta, para pasukan yang diketahui pasukan Raja tersebut menurunkan panah pun berhenti menargetkan.


Namun, hal tersebut sama sekali tidak menenangkan Azheng. Melainkan bertanya-tanya sembari merasa waspada akan maksud dari tindakan Putra Mahkota ini sebenarnya apa. Belum lagi wajah tenang itu, serta sikap yang dikeluarkan bagaikan seseorang yang sama sekali tidaklah kekurangan pengalaman. Jujur saja, jikalau harus menilai dengan menyingkirkan perselisihan dengan ayahnya. Azheng menjamin, masa depan kerajaan ini akan jauh lebih gemilang di tangan sang Putra Mahkota.


Hanya saja, dendam masa lalu ini harus diapakan? Jika meminta nyawa Raja, tidak mungkin Putra Mahkota ini akan menyetujui, bukan? Yang mana Raja terus saja berkoar sedari tadi, mempertanyakan alasan dari kenapa putranya ini malah meminta pasukan pemanah menghentikan bidikan.


“Angkat kembali panah kalian! Dan bunuh langsung semua pemberontak ini!”


Sejadinya pula Putra Mahkota kembali menghentikan, meminta Raja untuk memercayainya. Lantas, bagaimana bisa Raja mampu menolak, bukan? Di kala Jin Kai selama ini memanglah bekerja dengan sangat baik dihampir setiap misi yang diberikan. Dan meskipun benar Raja kesal, tapi pada akhirnya mengizinkan pula putranya ini bertindak.


Maka, inilah hal pertama yang Putra Mahkota ini lakukan. Mengulurkan sebelah tangan semacam ingin berjabat tangan dengan Azheng. “Mari kita bernegosiasi,” ucapnya, lekat pula memandangi Azheng. “Akan kupastikan jikalau Jenderal Wei akan mendapatkan gelar kehormatannya kembali, bahkan kuburan serta ruang sembahyang akan dibangunkan untuk mengenang jasa-jasanya terdahulu. Selain itu ... teman, kenalan ataupun kerabat dari pasukan pemberontakmu saat ini akan kuanggap tidak bersalah sama sekali. Akan kupastikan pula tidak akan mengusik mereka.”

__ADS_1


Yang mana Raja kembali berkoar-koar, tidak terima akan jenis negosiasi ini. Tidak tahu pula kenapa putranya malah membela pasukan musuh ketimbang ayahnya sendiri. Namun, Jin Kai dengan tegas meminta sang ayah tenang untuk mendengarkan respons seperti apa yang akan Azheng berikan.


Bukankah negosiasi yang ditawarkan Putra Mahkota ini cukuplah baik? Bahkan lebih dari sekadar baik. Hanya saja, bagaimana dengan nyawa semua pasukan Wei yang telah diringkus ini? Bukankah nyawa mereka yang jadi bayarannya?


“Tawaran ini sudah cukup bermurah hati kuberikan pada kalian semua. Kuharap kau tidak akan serakah, Paman.” Mengikis jarak lebih lagi, Jin Kai tanpa segan mendekatkan mulutnya tepat pada sebelah telinga Azheng yang mematung. “Lihatlah ... bahkan Huangdi yang sangat kau benci itu pun terlihat hampir gila akan tawaran ini. Sungguh benarkah tidak ingin menerimanya?” Menarik diri memundurkan beberapa langkah, kembali melekatkan pandangan pada Azheng, pria berwajah sangar ini.


Pun Azheng menoleh, memerhatikan satu demi satu para pasukan didikannya selama ini. Sebagian terlihat gemetar ketakutan, dan sebagian besarnya lagi tidaklah terlihat bereaksi banyak. Namun, siapa yang tidak akan ketakutan jikalau sudah dihadapkan dengan kematian, bukan? Di kala usia mereka sendiri kebanyakan masihlah cukup muda.


“Jadi jawabannya? Aku tidak mungkin berlama-lama menunggumu di sini, bukan?”


“Lalu apa yang kau inginkan sebagai balasannya? Tidak mungkin kau puas hanya dengan nyawa kami, bukan? Dan apa pula jaminan yang bisa kau berikan terkait keseriusan tawaranmu itu?”


Alhasil, bukan jawaban yang didapat, malahan Putra Mahkota ini dengan gerakan cukuplah cepat menarik, menanggalkan pedang dari sarung yang dibawakan Azheng. “Yong Gan,” gumamnya, dan Raja serta merta memberitahukan jikalau itulah pedang milik Jenderal Wei. Yang mana serta merta setelahnya, hampir semua orang dibuat terkesiap akan tindakan sang Pangeran Agung ini.


Bagaimana tidak? Di kala tiap orang berpikir kalau jaminan yang akan diberikan tak lain berupa sumpah pada langit dan bumi ataupun pada leluhur. Namun, apa yang dilakukan Putra Mahkota ini justru tak lain adalah menggores sebelah telapak tangannya sendiri hanya untuk kemudian menempatkan tiap tetesan darah yang ada menyelimuti bilahan pedang Yong Gan ini. Di mana pandangan lurus diarahkan pada Azheng, seakan menanyakan apakah janji darahnya ini cukup untuk dijadikan jaminan? Dan Azheng sukses dibuat bergeming, menandakan jikalau jaminan ini bisa diterima.


Lantas, keinginan seperti apa yang diinginkan sang Putra Mahkota ini belumlah diucapkan. Tak bisa dipungkiri pula, jikalau wajah tenang Putra Mahkota yang sedari awal dimunculkan malah kini berubah mengelam. Pun sepasang netra bukan hanya memunculkan kesinisan dan kelicikan, melainkan juga nyalang dan dipenuhi rasa pengkhianatan serta sakit hati.


“Zhen Chen ... di mana saat ini ia berada.”


Serta merta Azheng menggeleng, tidak menyukai dan tidak bersedia akan keinginan yang diinginkan Putra Mahkota ini. Sudah cukup menderita dan merasa bersalah akan kematian yang siap menjemput semua pasukan pengikut ini, lantas haruskah Zhen Chen pun ikut terlibat? Haruskah di antara banyaknya nyawa pasukan Wei, Zhen Chen, pria malang itu juga ikutan mengorbankan nyawanya? Tentu Azheng tidak bisa melakukan hal tersebut, tidak akan dan jangan pula berharap.


Namun, situasi dan kondisi saat ini tidaklah memungkinkan bagi Azheng pilih-pilih, bukan? Dan pernahkah mendengar ucapan, jikalau hal yang paling menyakitkan bagi seorang pemimpin pasukan tak lain adalah saat di mana menyaksikan betapa tersiksanya para pengikut. Yang mana Jin Kai mulai melancarkan cara tersebut, memotong satu demi satu tangan dari pasukan Wei tepat di hadapan Azheng yang terus saja mendengarkan seruan dan erangan nan menyakitkan.


Sekiranya, sampai berapa lama Azheng mampu menahan siksaan ini, bukan? Di kala tangisan ketakutan kian terdengar, amis dan anyir darah mulai menguar terbawa angin, permukaan tanah tak lagi berwarna kecokelatan melainkan siap segera menjadi lautan darah. Belum lagi, mohonan dari para pasukan Wei terus saja disuarakan, meminta untuk membunuh saja alih-alih harus merasakan sakit seperti ini hanya untuk kemudian sudah dipastikan akan dibunuh pula.


“Si Lin!” seru Raja, tersenyum puas melihat betapa pucatnya pria berwajah sangar ini. Pria yang dulunya selalu memiliki beribu alasan untuk melawan, tapi lihatlah sekarang. Selain keterdiaman seraya menahan geraman, apa lagi yang bisa dilakukan. “Hentikan keras kepalamu, dan setujui saja apa yang diinginkan putraku ini,” ucap Raja dengan nada mengejeknya.


Pun Azheng mulai memejamkan sepasang netranya, merasakan semilir angin menggelitik sembari purnama terbebas dari gumpalan awan yang ada. Menerangkan lebih jelas lagi, bawah Azheng, pria berwajah sangar ini sedang diliputi kesedihan teramat. Kian diperjelas pula kala ia membuka kembali sepasang netra yang meluruhkan buliran air mata, tepat saat Putra Mahkota mengembalikan pedang Yong Gan yang berlumuran darah tersebut padanya.


“Kediaman Jenderal Wei ... di sanalah dia berada.”


DEG!

__ADS_1


__ADS_2