
Sulit memasuki istana, tapi akan lebih sulit lagi keluar.
Itulah kalimat yang dikeluarkan pemilik Kediaman Chahua ini, berposisi duduk di mana meja tergeletak sebuah buku yang baru saja ditutupnya. Pandangan terus saja diarahkan pada pintu yang memasukkan sejumlah semilir angin, membawa masuk pula akan suara decitan demi decitan burung-burung kecil di halaman depan seakan menyampaikan suatu pesan tersirat.
Serta merta, gadis ini membangunkan diri. Wajah menyunggingkan suatu senyuman sembari tungkai bergantian digerakkan mendekati pintu. Yang mana menampilkan kehadiran pelayan pribadinya, Que Mo yang bahkan ikutan tersenyum antusias.
“Sudah aman.”
“Que Mo, kau memang terbaik.”
Yang pada akhirnya, dua orang bertingkah mencurigakan ini pun meninggalkan kediaman, meninggalkan burung-burung kecil yang kian memperbesar decitannya seolah tak terima ditinggalkan dalam kediaman nan sepi layaknya tak berpenghuni ini.
Aneh, bukan? Ke mana perginya semua dayang dan pelayan di saat hari telah mendapatkan sinar kehangatan? Pertanda aktivitas rutin harusnya telah dimulai dari beberapa waktu lalu, dan keanehan itu hanya dialami Kediaman Chahua saja.
Namun, ke mana dua orang yang kini melenggang bebas ini akan menuju? Bukankah arah ini taklah asing? Yang mana Zhen Xian yang tak sering berkeliaran di istana tampak begitulah hafal jalannya. Langkah, ekspresi dan yang paling penting ... gairah penuh semangat yang menguar dari tiap langkahan dipercepatnya ini begitulah terasa. Mengharuskan Que Mo mau tak mau harus mengimbangi, biar kata telah beberapa kali dimintai untuk tak terlalu buru-buru.
“Memang susah jika hati sedang bersemi.” Menggeleng-geleng, tapi jujur saja Que Mo sangat senang melihat keceriaan gadis ini layaknya dahulu, seakan terasa istana ini tak akan mampu mengubah pribadi hangat yang memanglah harus selalu ada dalam diri seorang Zhen Xian. Karena jikalau padam, Zhen Xian bukan lagi Zhen Xian melainkan hanya seorang gadis yang terkurung dalam sangkar emas.
Siapa yang akan membantunya keluar jikalau bukan dirinya sendiri yang berniat, bukan? Dan sang kakak menjadi alasan dari keberadaan menguatnya niatan itu.
Katakan saja, sang kakak adalah penolong. Di saat semua orang hanya datang untuk melihat betapa mewah sangkar emas tanpa memedulikan apa yang terkurung di dalam sana, sang kakak justru satu-satunya yang datang bukan untuk melihat melainkan untuk membuka dan menarik keluar apa yang terkurung.
Oleh karenanya, di sinilah Zhen Xian dengan segala keceriaan awalan harinya. Departemen Dekorasi, atau tepatnya diam-diam masuk ke dalam ruang penyimpanan bunga untuk menghindari tiap pasang mata yang ada. Mendapati pula, sang kakak dengan Meng Jun juga Mo Zhu telah sibuk dalam urusan mereka.
Wajar saja jikalau mereka kaget, bukan? Karena memang sebelumnya tidak ada janji atau ucapan apa pun yang mengatakan bahwa gadis ini akan kemari. Namun, bagaimana dengan Zhen Chen sendiri? Yang tentunya sangatlah senang alih-alih terkejut layaknya dua temannya itu.
__ADS_1
“Karena kau sudah kemari, maka bantulah kami membersihkan ruangan ini.”
“Apa kau sudah gila, Zhen Chen? Bagaimana bisa meminta adikmu ini membantu kita?” protes Mo Zhu. “Jika Taizi tahu, maka kita semua yang di sini ....” Menunjukkan gerakan pedang melibas leher dengan tangannya. “Masih ingin memintanya membantu kita?”
“Taizi sedang sibuk dengan pekerjaan jadi jangan khawatir,” timpal Zhen Xian, mengarahkan pandangan pada sang kakak. “Jangan khawatir.”
“Istana ini punya banyak mata-mata. Apa kau yakin Taizi tidak akan tahu?” tanya Meng Jun.
“Paling tidak satu mata-mata sudah kutangani,” timpal Que Mo, senyum-senyum jail yang mana memancing rasa penasaran Mo Zhu. “Dayang Yun juga dayang pengikut lainnya, kuyakin mereka saat ini masih sibuk dengan urusan mereka dan mungkin akan dirawat seharian oleh tabib.”
Serta merta Zhen Xian terkekeh, tapi pandangan sang kakak padanya justru menghentikan kekehannya. Penjelasan, itulah yang dituntut oleh ahli bunga muda ini. Akan tetapi, sang kakak ini marah,’kah?
“Itu ide gila Que Mo. Dia memasukkan obat pencuci perut dalam sarapan mereka,” lirih Zhen Xian. “Tadi pagi, Que Mo melihat Dayang Yun berbicara dengan Lin Feng. Meminta untuk mengawasiku sepanjang hari.”
Namun, berbeda dengan Que Mo yang tak begitu menanggapi ucapan Mo Zhu ini. Malahan ia mengarahkan pandangan pada Zhen Chen, bertukar pandang dalam diam. Lagian bagaimana bisa menanggapi? Di saat rahasia sesungguhnya Zhen Chen dan Zhen Xian telah diketahuinya.
“Baiklah, waktunya bekerja!” seru Zhen Chen akhirnya. Membubarkan teman-temannya ini untuk kembali sibuk bukannya mengobrol. Akan tetapi, tidak dengan Zhen Xian yang justru dibawanya ke sudut belakang ruang penyimpanan bunga ini. “Ada apa, Ge?” Mendapati teman-teman lainnya di sana tampak tak sadar akan menghilangnya mereka.
“Kau percaya jika aku bisa membawamu keluar dari istana ini suatu hari nanti, bukan?” Dan gadis ini mengangguk yakin seraya mengembangkan senyuman. Pun Zhen Chen tak tahan jikalau tak menyentuh wajah manisnya. “Karena itu tunggulah ... tidak peduli berapa lama waktunya, aku pasti akan menepatinya, Xian’er.”
Tanpa ragu pula Zhen Xian menyentuh tangan sang kakak yang mengelus wajahnya ini. Saling tersenyum, saling melempar netra berbinar. Di mana pandangan ini pun membuat Zhen Chen kian menyelami netra pujaan hatinya, seakan terhipnotis oleh suatu daya pikat tak kasatmata, mengharuskan ahli bunga ini berakhir kian mengikis jarak sampai titik di mana Zhen Xian menurunkan pandangan. Bahkan Zhen Chen sendiri mampu merasakan napas hangat gadis ini menerpa wajahnya.
Apa yang sedang kau lakukan, Zhen Chen? Saat ini dia masih berpikir kami saudara, kau tidak bisa melakukan ini padanya ... setidaknya untuk saat ini. Memundurkan langkah, gantinya Zhen Chen mengusap-ngusap sebelah pipi gadis ini dengan ibu jarinya seolah ada noda menempel di sana. “Sudah bersih, mari kita bantu yang lainnya,” ucapnya, kemudian berlalu pergi seakan tidak terjadi apa-apa. Namun, siapa yang tahu bagaimana tak karuannya detak jantung telah berdetak, bukan?
Pun Zhen Xian masih bergeming, terus saja memandangi punggung sang kakak yang entah kenapa ia merasa tadi, semacam sang kakak punya maksud lain mungkin? Namun, sejadinya pula Zhen Xian membuang pikiran tidak-tidaknya. Tepat ketika sang kakak berseru memanggilnya, meminta membantu jikalau ingin di sini, dan kembali saja jika memang hanya ingin berdiam diri. Tanpa satu pun yang tahu di antara mereka yang ada dalam ruangan penyimpanan bunga ini, jikalau Lin Feng telah menyaksikan semuanya pun berlalu pergi.
__ADS_1
Ke mana lagi jikalau bukan melaporkan pada sang tuannya, bukan? Karena semalam dirinya memanglah telah ditugaskan untuk mengawasi kedua saudara Zhen ini. Belum lagi, kasus yang dialami Dayang Yun beserta pelayan lainnya di Kediaman Chahua hari ini, dilaporkan pula secara lengkapnya pada Jin Kai.
Namun, reaksi balasan yang didapat Lin Feng taklah terduga. Jin Kai malah menanggapi dengan cukup santai, meminta pula untuk membiarkan saja mereka bertindak sesuka hati, melihat seberapa jauh mereka akan bertindak. “Lagian ... mereka tak akan bisa lepas dari pengawasanku,” gumamnya seraya membawa diri meninggalkan kediaman pribadinya ini bersama Lin Feng juga Kasim Ma yang memberitahukan jikalau Raja meminta pertemuan pribadi.
Maka, di sinilah kini ia tiba. Memberikan hormat di kediaman pribadi milik sang ayah. Mendapati pula kehadiran orang lain sedang sibuk menggambarkan potret, dialah pria tua yang ditangkapnya semalam. Pria yang diminta Raja untuk membuatkan potret Jenderal Wei.
“Kenapa diam saja? Kau tidak penasaran alasan kenapa diriku menginginkan pria ini yang harus membuatkan potret tersebut?”
Serta merta Jin Kai mengarahkan pandangan pada Raja, meskipun benar mulut tak bertanya, tapi bukan berarti Raja tak tahu akan rasa penasaran putranya ini cukuplah besar dirasakan.
“Pria ini dulunya pernah bekerja di bawah kepemimpinan Jenderal Wei. Setiap perang terjadi, dirinya akan ikut serta. Tugasnya tak lain adalah membuat potret juga menulis pesan,” ucap Raja, memulai. “Dia memiliki kemampuan dalam membuat tulisan tangan seseorang dengan sangat mirip ... berkat dirinya pula, aku memiliki bukti bahwa Jenderal Wei adalah pengkhianat.”
“Jadi dia mengkhianati Jenderal Wei semudah itu?”
“Jika kita merampas kelemahan seseorang, maka dengan mudah pula orang itu akan tunduk pada kita. Karena itu, Taizi, jika kau ingin mendapatkan sesuatu maka rampaslah kelemahan mereka. Tunjukkan bahwa kau yang berkuasa, maka mereka akan tunduk serta padamu.”
“Aku akan mengingat ajaranmu, Huangdi,” balas Jin Kai dengan penuh keyakinan jikalau ia akan menerapkan hal itu. Pun sangat berterima kasih pada sang ayah yang telah mengatakannya seakan dirinya baru saja mendapatkan pencerahan. “Huangdi, lalu kenapa membiarkan pria ini hidup?”
“Dia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Kenyataan dirinya yang mengkhianati Jenderal Wei tidak akan pernah terhapuskan, dan hal itu tidak akan mampu membuatnya berani melawanku yang berkuasa ini.”
Kekuasaan, benar. Itulah hal yang harus dimiliki seseorang untuk mampu menaklukkan segala hal. Jangankan seseorang, bahkan dunia pun mampu berada dalam genggaman. Dan Jin Kai, telah memiliki kekuasaan itu meskipun belumlah sekuat sang Raja yang kini memintanya untuk bermain catur bersama.
Namun, tidak menutup kemungkinan jikalau ia pun akan sama kuatnya atau bahkan jauh lebih kuat dari kekuasaan sang Raja saat ini, bukan? Di mana Jin Kai sendiri adalah seseorang yang akan mendapatkan apa pun keinginannya jikalau ia berkehendak. Apalagi di saat kini ia telah menerima dan sangat bersyukur akan jalan hidupnya yang menjadi Putra Mahkota, tidak seperti dahulu yang sama sekali tidak menyukai jabatannya ini.
Rampas ... kelemahan ... bukankah ini caranya agar kau tunduk padaku, Zhen Xian?
__ADS_1