
Untuk ketiga kalinya, ular itu hendak mengibaskan ekornya untuk menyerang Lin Xuan.
Remaja itu berusaha mencari celah, sehingga dalam hitungan detik sebelum ekor ular itu menyerang Lin Xuan, sedangkan dia berusaha untuk bergerak secepat mungkin menggunakan teknik sutra kecepatan.
Tetapi Lin Xuan sama sekali tidak mengambil serangan terlebih dahulu. Dia hanya menjaga jarak untuk mengambil napas dan menyeka darah dari bibirnya. Tubuh depan belakang rasanya sangat sakit saat harus berhadapan dengan dinding ataupun ekor ular tersebut.
“Bergerak dengan sangat cepat di tempat sempit ini sangat sulit.”
Lin Xuan melompat ke atas saat melihat sebuah serangan dari ekor ular. Tubuhnya yang lemah harus terpaksa bergerak di area sempit untuk menghindari setiap serangan. Pun, rasanya juga sedikit sulit karena area yang licin.
Ular tersebut kemudian menggeliat dengan sangat cepat memenuhi isi gua. Selain itu matahari juga semakin terbenam sehingga membuat keadaan benar-benar sangat gelap sepenuhnya.
Lin Xuan dilanda kebingungan, dia tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan. Hanya suara dari ular tersebut yang Lin Xuan dengar sehingga mengakibatkan ia sedikit was-was.
Beberapa detik kemudian, Lin Xuan merasakan adanya sebuah bahaya disamping, sehingga dia berusaha untuk menghindar dengan sangat cepat. Sayangnya, yang dia dapat adalah membentur sebuah dinding gua disusul dengan benturan dari kepala ular tersebut.
“Arggghhh!”
“Dasar kau ular sialan!” Lin Xuan mengayunkan pedang yang dia pegang. Berharap ayunan pedang itu mengenai atau memberi kerusakan pada ular tersebut.
Sayangnya ular itu bisa menghindari kecepatan Lin Xuan, sehingga membuat Lin Xuan dilanda keputusasaan saat ini. Apalagi pertarungan di dalam gua membuat suara gemuruh yang sangat mengganggu.
Posisi ini sangat dirugikan oleh Lin Xuan yang sangat mengandalkan kecepatan. Di sisi lain kecepatan sangat tidak cocok berada di ruangan sempit. Apalagi tubuh ular itu sangat besar dan mendominasi isi gua sehingga keadaan juga semakin sempit bagi Lin Xuan.
Semua benturan terus Lin Xuan rasakan. Bahkan belum menyerang menggunakan pedang sekalipun, ular itu terus memainkan ekor dan kepalanya untuk menabrak Lin Xuan. Seolah ular itu tidak memberikan kematian yang instan.
__ADS_1
“Ah sialan, aku ini belum ingin mati!” Ucap lelah Lin Xuan yang terbaring di atas batu. Dia memperhatikan sebuah siluet ular yang membuka mulutnya dan memperlihatkan taringnya yang begitu tajam.
Saat itu juga meridian Lin Xuan seolah beraksi. Memberikan sebuah hawa panas yang menghangatkan tubuh Lin Xuan di seluruh badannya.
Dan saat itu juga, gua yang sebelumnya benar-benar sangat gelap, berubah sedikit terang saat setitik cahaya muncul. Sebuah api bersumber bersumber di tangan kanan Lin Xuan berkobar. Bagaikan membakar tangan remaja yang terbaring dengan tubuh bergetar hebat.
Mata Lin Xuan terbuka lebar saat tangannya terbakar, tapi dia sama sekali tidak merasakan hawa panas yang akan melepuhkan kulitnya. Justru ada perasaan hangat yang mengalir di dalam meridiannya.
Dia tersenyum cerah saat api itu seolah menjadi sumber kekuatan baginya. Sehingga dia mengayunkan tangannya ke depan saat kepala ular dengan mulut terbuka lebar itu hendak melahapnya.
Sebuah kobaran api menyebar, membuat ular tersebut terdorong ke belakang.
Lin Xuan mengambil pedang menggunakan tangan kirinya dan akan bertarung dengan serius karena saat ini dia baru memiliki sebuah penerangan yang akan memudahkan dia untuk bertarung.
“Apakah aku ini masih seorang iblis hingga membangkitkan sebuah atribut api?” Tanya Lin Xuan penasaran.
“Ahhh panas!” Api di tangan Lin Xuan justru membesar dan tidak bisa dikontrol. Namun Lin Xuan tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan bergerak sangat cepat ke arah ular itu dan mengayunkan tangannya.
Ular itu meraung dengan sangat keras sehingga mengakibatkan gemuruh gua terdengar sekali lagi. Tetapi ular itu juga tidak ingin kalah dengan cara mengibaskan ekornya ke arah Lin Xuan
Lin Xuan melompat ke atas sambil mengayunkan pedang dan tangan kanannya secara bersamaan. Dia melakukannya tepat pada wajah ular tersebut sehingga memberikan sebuah dua serangan sekaligus.
“Rasakan ini ular jelek!”
Kemudian Lin Xuan melepaskan apinya, membuat ular itu terbakar sebelum Lin Xuan kembali mendarat ke bebatuan tanah. Dia mundur ke belakang untuk menjaga jarak karena panas api yang membakar ular itu membuat Lin Xuan sama sekali tidak tahan.
__ADS_1
Api di tangan Lin Xuan juga menghilang setelah dia melepaskan api itu pada ular. Bahkan dia sangat heran saat api itu tidak bisa muncul kembali di tangan Lin Xuan.
“Sebaiknya aku menanyakan ini kepada guru suatu saat.”
Lin Xuan duduk sebentar sambil memperhatikan ular itu habis. Tapi dia juga bisa melihat permata yang menancap di dahi ular itu jatuh. Lin Xuan benar-benar sangat tertarik, kemudian dia mengambil sebuah permata yang mirip dengan inti binatang spiritual ini.
Kemudian dia mencari tiga inti binatang spiritual lainnya yang dia letakkan seolah menjadi saksi pertarungan Lin Xuan dengan ular tersebut.
“Huuh, untungnya tidak mengalami kerusakan.” Senyum Lin Xuan terukir di bibirnya.
Agar bisa lebih fokus lagi saat berkonsentrasi, Lin Xuan memutuskan untuk masuk ke dalam gua lebih dalam lagi. Dengan memanfaatkan pembakaran ular yang mana sanggup memberikan pencahayaan yang maksimal meskipun semakin ke dalam cahaya juga semakin redup.
Di sisi lain pula, semakin ke dalam, Lin Xuan juga bisa mendengar sebuah aliran air. Dia berpikir mungkin ini ada sebuah sungai di dalam gua ataupun air yang memancar. Sehingga ini menimbulkan sebuah rasa penasaran baginya.
Rahang Lin Xuan kemudian jatuh saat memperhatikan sebuah kolam yang berada di ujung gua dengan air yang keluar dari dindingnya. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dan sangat yakin bahwa ular itu tadi tengah menjaga kolam ini.
Sehingga muncul sebuah pemikiran di dalam benak Lin Xuan bahwa ini bukan kolam biasa jika dijaga oleh binatang spiritual.
Dia yang penasaran pada akhirnya menanggalkan seluruh bajunya. Tubuh remaja yang sangat elok itu pada akhirnya masuk ke dalam kolam tersebut dengan sedikit hati-hati. Kemudian, dia bersandar di tepi kolam sambil meletakkan empat inti binatang spiritual.
“Aku mengerti, kolam ini sepertinya mengandung sebuah esensi tertentu. Rasanya bagaikan membuang sebuah emas apabila tidak memanfaatkan kolam ini.”
Lin Xuan kemudian memejamkan matanya, dia mencoba berkultivasi sambil menyerap esensi yang terkandung pada kolam ini dengan sangat hati-hati.
“Aghh tunggu! Rasanya i .. ni! Arghhhh!”
__ADS_1
Sebuah sensasi panas seolah membuat daging Lin Xuan melepuh, tapi sensasi dingin juga seolah membuat tulang Lin Xuan retak. Tapi dia tidak memiliki pikiran untuk menyerah, dia akan terus menahan rasa sakit yang baginya amat-teramat ini.