Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian

Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian
Desas-desus


__ADS_3

Mereka sama sekali tidak memiliki tujuan. Tentang apa yang harus mereka lakukan, itu semuanya membuat mereka berdua bimbang. Karena baik Mei Lin ataupun Lin Xuan sama sekali tidak memiliki kenalan yang harus mereka datangi untuk meminta bantuan.


Sesaat Mei Lin memiliki ide, dimana dia mengajak Lin Xuan untuk makan terlebih dahulu di sebuah kedai dengan keadaan yang ramai. Karena dia tahu bahwa kedai merupakan tempat bertukarnya informasi yang mana akan sangat mudah didengar oleh siapapun.


“Kedai itu tidak cukup buruk. Ayo kita makan terlebih dahulu.” Ajak Mei Lin.


“Apakah guru punya uang?”


“Sejujurnya aku memiliki uang terbatas di cincin penyimpanan. Hanya ada sekitar sepuluh koin emas.”


“Jika memang begitu, tidak perlu Anda melakukan seperti itu guru. Simpan saja uang Anda, aku sama sekali tidak lapar.” Ucap Lin Xuan sambil menggarukkan kepalanya.


“Ini bukan daratan Mao atau Nirwana, 10 koin emas itu sudah begitu banyak.” Balas Mei Lin.


Mau tidak mau Lin Xuan mengangguk. Sejujurnya perjalanan mereka dari pinggiran hutan menuju ke kota sudah membuat perut Lin Xuan terguncang. Itulah yang dia sesali mengapa rumitnya menjadi seorang kultivator di tahap yang begitu rendah..


Mereka masuk ke dalam kedai. Tapi tatapan takjub tertuju kepada guru Lin Xuan dengan sangat serius. Wajah mereka tidak teralihkan. Beberapa orang juga mungkin memiliki mata yang kotor terhadap Mei Lin. Namun tidak sedikit juga orang-orang yang paham bahwa Mei Lin bukanlah orang yang tidak bisa disenggol seenaknya.


Kulit semulus giok itu menandakan bahwa wanita itu pasti terawat. Apabila terawat maka kemungkinan merupakan seorang kultivator hebat. Itulah mengapa sedikit orang yang tidak bisa bermacam-macam dengan Mei Lin meskipun mereka tidak dapat melihat ranah kultivasinya.


Yang mereka kecam hanyalah seorang kultivator yang berada di ranah Core Formation itu.


Tapi itu tidak berlangsung lama, ada yang lebih penting daripada memandang seorang wanita cantik. Beberapa memilih menyadari diri sendiri dan memilih berbincang-bincang tentang urusan mereka.


“Nona, bawakan kami dua makanan paling populer di sini.” Ucap Mei Lin.


......


Di atas meja makan, sebuah hidangan tersaji. Tampak cukup harum bagi Lin Xuan. Akan tetapi ini sama sekali tidak mengubah fakta bahwa masakan gurunya tidak lebih buruk. Meski juga terlihat sangat femillier karena ini baru pertama kali dia melihat hidangan di daratan Jian.

__ADS_1


Saat itu juga, Lin Xuan yang fokus pada makannya tidak sengaja mendengar sesuatu.


"Kau tahu tidak, kabarnya telah ditemukan makam kuno yang sangat berharga di daerah timur," ujar pelanggan di sampingnya dengan semangat. Menatap lawan bicaranya yang seolah tidak terkejut mendengarnya.


“Aku tahu dan baru saja mendengarnya kemarin.” Ucap pelanggan lainnya. "Kabar burung hantu mengatakan bahwa tiga sekte besar akan mengirim anggota terbaik mereka untuk menjelajahi makam tersebut. Bahkan ini juga menarik perhatian besar raja kota  Jin Wu. Sayangnya mereka  tidak akan membiarkan orang luar masuk.”


Mereka terus membicarakan pembicaraan ini hingga Lin Xuan bisa mendengarnya dengan baik. Sebuah kabar angin mengatakan ditemukan sebuah makam, itu tidak terlalu buruk karena kemungkinan terbesar makam kuno itu dipenuhi oleh sumber daya yang melimpah. Pikirnya bahwa ini tidak bisa dibiarkan meski makam itu menarik perhatian tiga sekte besar kota Jinling.


Dari apa yang Lin Xuan dengar, ada tiga sekte yang mendominasi kota Jinling antaranya adalah sekte Pedang Suci sebagai peringkat pertama, kemudian diikuti oleh sekte Kuil Emas dan juga Langit Biru. 


“Guru, apa kau mendengarnya tadi?” Lin Xuan menatap fokus ke arah gurunya yang menyeruput teh herbal.


“Aku mendengarnya. Tapi aku pikir kau harus menghindari masalah karena tidak baik mencampuri sebuah urusan tiga sekte besar. Selain itu, mereka pasti tidak akan membiarkan orang luar untuk merebut harta mereka.”


Memang, apabila sudah ada tiga sekte besar, rasanya akan sangat sulit untuk berdamai. Meski seolah bagaikan perang dingin, tetapi besar kemungkinan jika tiga sekte besar ingin membuat sekte mereka terpandang dan menjadi lebih baik.


“Jadi aku harus mengurungkan niatku.”


“Bukan begitu Xuan’er. Aku bilang untuk berusahalah untuk menghindari masalah, bukan melarangmu untuk ikut. Aku bisa menebak bahwa disetiap sekte besar memiliki konflik dingin dengan sekte besar lainnya dan aku tidak ingin kamu sebagai orang luar terlibat.” Ucapnya.


“Apa maksud guru?” Lin Xuan mengerutkan dahinya karena tidak paham.


“Jika kamu memiliki masalah dengan mereka bukankah lebih baik meminta maaf dan menjauh. Tapi jika mereka yang memiliki masalah denganmu, kamu bisa melindungi diri dan melawan mereka.”


“Guru, aku tidak paham apa yang Anda maksud.”


“Aku berbicara tentang ketika kamu berada di dalam makam nantinya.”


Lin Xuan mengerti, dia tersenyum cerah saat ternyata gurunya tidak mempermasalahkan Lin Xuan untuk masuk ke dalam makam kuno. Meskipun dia tahu bahwa ini bukanlah milik umum, selama bisa menyelinap ini bukanlah sebuah masalah.

__ADS_1


“Guru, Anda tidak ikut masuk ke dalam nantinya?” Tanya Lin Xuan.


“Tidak perlu. Aku pikir aku akan duduk manis seperti para tetua dari tiga sekte besar. Karena posisiku sebagai gurumu.” Balas Mei Lin.


Saat itu juga, posisi kedai tiba-tiba menjadi kisruh. Ketika para pelanggan menatap seorang berjalan dengan santainya ke arah meja yang ditempati oleh Lin Xuan dan Mei Lin. Mulut mereka seolah tidak bisa diam, ketika seorang yang menggunakan pakaian bangsawan dan di kawal oleh beberapa pengikutnya.


“Nona, tidakkah sebaiknya Anda duduk bersamaku? Aku tidak yakin seorang kultivator tahap Core Formation bintang pertama dapat menghiburmu.”


Semua orang menatap pria tersebut. Jin Hao, seorang jenius yang berasal dari keluarga Jin. Lebih tepatnya dia adalah seorang tuan muda dari seorang raja kota yang menjabat kota ini. Tidak begitu heran mengapa semua orang memandangnya kagum.


Bahkan telinga Lin Xuan mampu menangkap bahwa anak ini tidak sederhana. Seorang murid dalam di sekte pedang emas, membuat Lin Xuan tidak heran mengapa dia bisa menjadi jenius di keluarga Jin. Selain itu, dia juga merupakan seorang kultivator Core Formation bintang lima.


Tapi siapa yang berpikir bahwa Lin Xuan hampir menahan tawa, ketika gurunya hanya fokus untuk menyeruput teh kesukaannya dan bersikap dingin. Bahkan menganggap sesuatu di sampingnya hanyalah seekor lalat lewat yang tidak perlu diperhatikan.


“Tuan, dia adalah guruku. Jadi, jangan salah paham terlebih dahulu. Tapi tuan, saya sarankan untuk tidak mengganggunya.” Ujar Lin Xuan dengan lembut.


“Diam, jika kau seorang murid maka kau tidak berhak berbicara. Apa kau tidak tahu siapa aku!”


Sebuah aura yang tidak terlalu pekat keluar dari tubuh Jin Hao. Seolah dia mencoba untuk mengintimidasi posisi Lin Xuan yang baginya lebih lemah darinya. Wajahnya terangkat, dia ingin menyombongkan diri, seakan memang begitu.


Dampaknya banyak pengunjung yang terintimidasi dan mengangkat lengannya. Bagi mereka yang bukan kultivator itu adalah aura yang begitu besar untuk seorang tuan muda arogan.


“Aku senang, siapa yang berpikir bahwa Xuan’er sama sekali tidak terintimidasi? Meski kultivasinya jauh di bawah anak itu.” Batin Mei Lin sambil mengeluarkan koin emas dan meletakkannya di atas meja.


“Xuan’er, ayo kita pergi.”


“Sangat disayangkan guru, hembusan angin yang sangat nyaman harus ditinggalkan begitu saja. Tapi aku tidak ingin membantah.” Kata Lin Xuan dengan sedikit tersenyum sambil beranjak.


“A-apa? Dia justru menikmati aura yang ku keluarkan?”

__ADS_1


__ADS_2