Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian

Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian
Mendapat Warisan


__ADS_3

Semua orang juga berinisiatif menghancurkan gerbang yang sangat tertutup rapat itu. Tapi berulang kali mereka memukulnya, serangan mereka hanya memantul dan menghancurkan diri sendiri. Itu juga berlaku pada jurus mereka.


Jadi apa yang mereka lakukan sama sekali tidak berguna. Huo Ran sempat berpikiran bahwa menghancurkan gerbang itu sama saja bunuh diri. Tapi disisi lain dia sempat berpikiran tentang orang asing yang menolongnya tempo hari itu kini bisa berada di dalam gerbang itu dengan sangat mudah.


“Nona muda, bagaimana caranya orang itu masuk?”


“Aku tidak tahu, tapi yang ku lihat sangat tidak masuk akal. Dia kelelahan karena melawan empat patung ini, setelah itu dengan mudahnya dia mendorong gerbang tanpa ada beban.” Jawab Jin Xie.


Jika memang begitu maka ada sebuah spekulasi bahwa pintu itu hanya bisa dimasuki oleh satu orang. Itulah yang dipikirkan oleh Huo Ran saat ini. Karena sekuat apapun berusaha, pintu itu tidak akan terbuka kecuali yang dikehendakinya.


“Sial, sialan! Kenapa orang asing bisa masuk ke dalam gerbang tersebut. Seharusnya kita! Kita yang merupakan anggota sekte tiga besar di kota Jinling yang menguasai tempat ini!” Teriak Wue Yei dengan penuh emosi ingin masuk ke dalam gerbang dan merebut semua harta di dalamnya.


“Yang lebih ku herankan, mengapa orang asing bisa masuk ke makam kuno ini sebelumnya.” Jin Hao juga berkata. Dia persis tidak tahu bahwa penyusup itu adalah Lin Xuan yang memiliki masalah dengannya.


Saat itu juga, sebuah gempa terjadi. Guncangan yang begitu kuat membuat mereka benar-benar sangat panik mereka beranjak pergi dari tempat ini, atau yang terjadi mereka akan tertimpa sebuah reruntuhan dan menjadi mayat di makam kuno ini.


Saat itu juga, ketika mereka hendak pergi, retakan di udara muncul yang membuat mereka memasang sebuah kewaspadaan. Pasalnya retakan ini seolah terjadi bagaikan dinding yang retak karena sebuah gempa. Sangat persis seperti itu.


“Tidak, ini adalah jalan keluar!”


Menyadari bahwa retakan itu semakin besar, dan membentuk sebuah lubang yang mana terhubung secara langsung oleh dunia luar, membuat semua murid sekte langsung bergegas keluar secara berdesak-desakan, karena mereka tidak ingin tertimpa menjadi reruntuhan.


Jin Hao sangat menyayangkan hal ini. Padahal matanya menunjukkan ketidak puasan dan ingin mengeruk harta di balik gerbang. Sayangnya keadaan membuat dia harus keluar di tempat.

__ADS_1


.......


Lin Xuan membuka matanya saat kondisi tubuhnya menjadi lebih baik. Kultivasi di bawah air terjun membuat dia memiliki sebuah perubahan yang sangat signifikan. Kulitnya yang sebelumnya melepuh, kini kembali mulus, wajahnya begitu cerah secerah giok.


Qi nya juga telah pulih dan juga dia lebih bertenaga sebelumnya. Padahal dia hanya sekedar berkultivasi selama 30 menit yang membuat dantiannya hampir penuh. Tapi dia sadar dia harus bangun karena sedikit merasakan sebuah guncangan yang terasa.


“Kau akhirnya sudah bangun. Baguslah, sekarang kembali gunakan pakaianmu dan duduk di atas altar.” Kata kucing itu yang berdiri di pinggir ruangan dengan tatapan yang terlihat begitu senang. Namun, pandangan Lin Xuan mengatakan ada yang aneh pada wajah kucing tersebut.


Kembali menggunakan pakaian atasnya, Lin Xuan berjalan kembali ke atas altar dengan tubuh yang bugar. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, tapi sepertinya instingnya mengatakan lebih baik untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh kucing tersebut.


Dia duduk bersila di atas altar, lebih tepatnya di atas patung yang berbentuk seperti peti mati tersebut. Kemudian, dia memejamkan matanya dan membiarkan kucing itu bekerja.


Kucing bercorak itu melompat ke arah pundak Lin Xuan. Kakinya yang lembut seolah memberikan kenyamanan bagi Lin Xuan, apalagi saat Lin Xuan sedikit mendengarkan dengkuran kucing itu yang membuat dia bisa sedikit lebih tenang.


Matanya keluar bercahaya meski tertutup dan dia ingin berteriak, tapi hanya sekedar membuka mulut dan tidak mengeluarkan sama sekali. Pikirannya kacau, seolah syaraf otaknya terbebani sebuah pikiran yang mendadak muncul dan membuatnya hampir putus. Namun pernapasannya jauh lebih lancar dibandingkan dengan sebelumnya.


Disisi lain, dia juga merasakan bahwa jalur meridiannya terbuka lebih banyak. Ada potensi di dalam dirinya yang seolah baru terbuka dan Lin Xuan baru menyadari itu. Energi qi di dalam dirinya juga mendadak jauh lebih murni, serta fondasi kultivasinya kembali dibangun menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya.


Beberapa saat setelah itu, Lin Xuan seolah ingin terpental ke depan setelah dia menerima sebuah warisan dari kucing tersebut. Napasnya yang sebelumnya berjalan mulus, tiba-tiba menjadi terengah-engah sebentar sebelum kembali berjalan mulus.


“Jujur, ini bukan warisanku. Semua yang ku berikan bukan warisanku, aku hanya sekedar perantara melalui tuanku yang sebelumnya untuk memberikanmu warisan sebagai orang terpilih karena berhasil sejauh ini.” Kata Kucing itu.


“Teknik pernapasan yang mana kau bisa mengontrol atributmu. Kemudian ada jurus lautan kematian, dan jurus seribu pedang. Semuanya berada di tahap tinggi tanpa harus kau pelajari. Semua wawasan tentang dunia ini, baik itu sumber daya yang sebelumnya tidak kau kenali.” Sambungnya. "Ditambah dengan semua apa yang tidak kau ketahui, termasuk orang-orang penting di sini."

__ADS_1


“A-apa?” Lin Xuan terkejut, wajahnya seputih kertas karena dia tidak tahu bahwa tiba-tiba dia memiliki sebuah wawasan yang begitu luas. Bahkan di pikirannya juga sudah terbesit sebuah jurus yang dikatakan oleh kucing tanpa harus mempelajarinya. Sungguh, ini adalah sebuah anugrah yang begitu luar biasa.


“Siapa kau dan tuanmu sebenarnya, kau bukanlah kucing biasa kan?”


“Hahaha seharusnya kau bertanya lebih awal. Tapi tidak apa-apa.” Kucing itu mengelilingi Lin Xuan dengan langkah yang begitu lembut. “Namaku Byakko, penjaga makam kuno selama ribuan tahun ini. Untuk tuanku sebelumnya, aku tidak bisa mengatakannya.”


“Byakko, baiklah, aku tidak akan memaksa. Sekarang, apakah sudah selesai? Aku ingin keluar. Tapi bisakah aku menuju ruangan tanaman obat sebelum aku keluar dari tempat ini?”


Byakko menghela napas. Padahal dia sebelumnya menganggap bahwa ruangan lainnya sangat sia-sia bagi Lin Xuan. Tapi siapa yang menyangka?


“Tentu saja, jika kau mau. Tidak perlu khawatir, jika aku sudah merasa bahwa kau pantas, ini semua akan menjadi milikmu."


“Baguslah.” Kata Lin Xuan dengan tenang.


Byakko kemudian duduk di atas altar dan menatap Lin Xuan dengan penuh senyuman. Senyuman puas, senyuman bangga dan senyuman ketenangan, setelah ribuan tahun berlalu.


......


Semua murid telah keluar dengan menghela napas dengan lega. Tapi ada beberapa murid yang tidak mengalami kepuasan setelah apa yang mereka lalui. Baik kehilangan rekan mereka, atau tidak mendapatkan harta yang mereka mau.


Sebuah hembusan angin juga perlahan muncul seolah baru saja ada yang muncul. Mereka semua adalah patriak ketiga sekte yang langsung bergerak ke arah gerbang keluar dari makam kuno.


Tentu saja itu membuat para tetua dan murid terlihat kebingungan, tentang kedatangan ketiga patriak dengan wajah penuh antusias. Sayangnya, tatapan ketiga patriak seolah bukan untuk menyambut kembali murid dari sekte mereka, melainkan ada yang lain.

__ADS_1


“Dimana anak itu!” Teriak patriak ketiga sekte itu dengan penuh semangat secara bersamaan.


__ADS_2