
Waktu terus berlalu, hampir setengah bulan Lin Xuan terus melakukan apapun kecuali hanya dengan lari setiap pagi di puncak bukit dan mendapatkan hukuman dari Mei Lin.
Kali pertama Lin Xuan mendapatkan hukuman, dia merasa tidak tahan untuk mengangkat batang kayu menggunakan kedua lengannya selama empat jam. Hal tersebut membuat dirinya frustasi. Tapi mengingat bahwa dirinya memiliki tekad yang kuat, rasa sakit itu seolah dikalahkan oleh kemauan pada diri Lin Xuan.
Namun, ini sangat aneh baginya. Memang sudah setengah bulan, tapi rasanya berlari menuju puncak bukit sebelum matahari terbit terlihat sangat mustahil baginya. Bahkan waktu paling cepat adalah satu jam setelah matahari terbit baru dia sampai di puncak.
Walaupun begitu siapa yang berpikir ada perubahan yang signifikan? Otot tubuh Lin Xuan terbentuk dengan perlahan, dia juga terlihat lebih cepat dan lebih gesit dari biasanya. Kemudian dia juga menyadari bahwa apa yang diperintahkan oleh Mei Lin bukan tanpa alasan.
“Xuan’er, kau terlambat satu jam.”
Lin Xuan tidak heran dengan hukuman itu. Tapi apa yang membuat dia heran sebenarnya, karena setiap dia naik ke puncak bukit, dia mendapati Mei Lin tengah duduk di atas kursi dengan sangat elegan sambil memegang lepek dan cangkir tehnya.
Tidak menunggu perintah gurunya, Lin Xuan langsung mengangkat batang kayu menggunakan kedua lengannya. memang terlihat sangat sulit, akan tetapi jika memang sudah sedikit terbiasa, maka Lin Xuan bisa sedikit mengatasinya.
“Kultivasimu baru naik satu bintang setelah setengah bulan.” Ucap Mei Lin sambil menatap malas Lin Xuan yang melakukan hukumannya. “Tapi aku sungguh takjub dengan usahamu. Setelah ini aku akan memberimu sebuah kitab.”
“Terimakasih guru.”
Lin Xuan benar-benar bahagia. Setelah setengah bulan pada akhirnya dia akan mendapatkan sebuah jurus yang diberikan oleh gurunya. Karena selama ini dia hanya diajarkan tentang bagaimana cara memperkuat fondasi dan memurnikan energi qi menjadi lebih baik.
Mengangkat batang kayu menggunakan kedua lengannya terlihat sangat berat. Setidaknya itulah yang Lin Xuan rasakan. Meski juga sudah terbiasa, tapi nampaknya dia juga masih sedikit mengeluh dengan rasa pegal yang luar biasa.
Apalagi Lin Xuan juga tidak berani mengeluh atau yang terjadi, maka hukuman yang diberikan bertambah menjadi dua kali lipat.
__ADS_1
Selama Lin Xuan mendapati hukuman. Maka Mei Lin akan menguliti hewan buruannya dan memasaknya di atas bukit. Entah kenapa, wanita yang menjadi guru Lin Xuan itu selalu mendapatkan hewan spirit tingkat menengah.
Yang pasti hewan spiritual tingkat menengah sudah dipastikan berada hampir di tengah hutan. Bahkan pernah sesekali Mei Lin membawa binatang spiritual tingkat tinggi dan dimasak dengan begitu saja. Hal tersebut tentu saja membuat Lin Xuan penasaran apapun tentang Mei Lin, baik itu ranah kultivasinya ataupun gaya bertarungnya.
Dan satu jam kemudian, Lin Xuan menjatuhkan batang kayu yang dia angkat menggunakan lengannya. Lin Xuan benar-benar bergetar hebat, bahkan langsung lemas dan mati rasa. Akan tetapi, Lin Xuan sudah biasa merasakan hal ini karena yang paling penting setelah ini adalah .... makan.
“Bagaimana Xuan’er?” Tanya Mei Lin sambil menghidangkan makanan yang aromanya benar-benar sangat wangi. Bahkan aroma tersebut menusuk hidung Lin Xuan yang saat itu tengah kelelahan.
“Tanganku seolah patah. Namun guru tahu sendiri bahwa setiap aku selesai menjalani hukuman, tangan yang seharusnya lemah dan tidak berdaya, justru terlihat sangat kuat dan antusias saat mengangkat makanan. Masakan guru tidak pernah mengecewakan.” Puji Lin Xuan dengan tatapan yang sumringah seolah ingin membuat Mei Lin tersenyum.
Tidak seperti yang ia harapkan. Wajah Mei Lin selalu datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Bahkan Lin Xuan menganggap bahwa Mei Lin sama sekali tidak memiliki jiwa dan persis dengan mayat hidup yang sama sekali tidak memberikan ekspresi apapun.
“Hewan spiritual apa yang guru masak?”
“Hanya? Sekedar?” Batin Lin Xuan kagum.
Beberapa lama setelah mereka makan. Tentunya mereka membereskan terlebih dahulu. Di saat itu juga, Lin Xuan juga benar-benar tidak sabar saat gurunya menjanjikan akan memberikannya sebuah manual atau sebuah kitab yang berisikan tentang teknik atau jurus yang akan menjadi bagian pertama miliknya.
Lagipula jika hanya mengandalkan Qi atau tenaga dalam yang dilepaskan, dia hanya bisa menghancurkan batu saja. Jelas itu masih terlihat sangat lemah. Maka dari itu, baginya membutuhkan manual yang jelas akan membuat bela dirinya lebih berseni.
“Guru, apakah Anda lu ....”
Belum menyelesaikan ucapannya. Mei Lin mengeluarkan sebuah kitab dari cincin penyimpanan. Hal tersebut tentu saja membuat Lin Xuan benar-benar terdiam seketika.
__ADS_1
“Ini adalah Manuskrip Sutra Kecepatan.” Ucap Mei Lin sambil memperlihatkan kitab itu kepada Lin Xuan.
Tangan Lin Xuan sedikit bergetar saat melihatnya. Dia tidak tahu pasti apa kitab ini yang sebenarnya. Tapi yang paling pasti jika sudah mendengar kata manuskrip, pikirannya bahwa kitab ini seolah berisi catatan yang usianya lebih tua dari dirinya.
Memang faktanya begitu. Kemudian Mei Lin menjelaskan bahwa kitab sutra kecepatan adalah sebuah buku sutra langka yang berisi teknik-teknik kultivasi untuk meningkatkan kecepatan.
Kitab ini ditulis dengan huruf-huruf emas dan halaman yang terbuat dari kertas langka selembut sutra yang diimbuhi dengan energi spiritual untuk mempertahankan keutuhan buku selama bertahun-tahun. Manuskrip sutra kecepatan ini terdiri dari banyak teknik, termasuk gerakan kaki, gerakan tangan, teknik napas, dan teknik visualisasi.
Teknik gerakan kaki membantu kultivator untuk meningkatkan kecepatan dan fleksibilitas kaki, sedangkan teknik gerakan tangan membantu meningkatkan koordinasi antara kaki dan tangan untuk memaksimalkan kecepatan dan kekuatan serangan. Bisa dibilang, saat mengayunkan sebuah pedang, maka kecepatan ayunan dan langkah tersebut di atas rata-rata.
Teknik napas membantu kultivator untuk mengatur napas dan mengumpulkan energi spiritual untuk mendukung aktivitas fisik yang intens, sementara teknik visualisasi membantu kultivator untuk memvisualisasikan diri mereka bergerak dengan kecepatan super cepat, meningkatkan fokus dan konsentrasi mereka.
“Kitab ini sangat langka. Jadi pelajari dengan sangat baik dan jangan sampai mengecewakan diriku.” Ucap Mei Lin.
“Guru, ini terlalu berharga. Aku masih sangat lemah untuk menerima barang berharga ini.”
“Jangan membantah. Apa kau ingin mendapatkan hukuman karena membantahku?”
Lin Xuan memandang kitab itu dengan hati-hati, mengamati setiap detail pada sampul dan halaman depan. Tulisan sutra yang indah menari-nari di hadapannya, mempesona matanya dan mengisi hatinya dengan rasa ingin tahu.
"Dalam kitab ini, kau akan belajar bagaimana meningkatkan kecepatanmu hingga mencapai tingkat yang luar biasa," jelas Mei Lin sambil menyodorkan kitab tersebut. "Namun, teknik yang tercantum di dalamnya bukanlah teknik yang mudah dikuasai. Kau perlu berlatih keras dan tekun untuk memahaminya dengan benar."
Lin Xuan merasa terharu oleh kebaikan hati Mei Lin. Dia tahu bahwa untuk menjadi lebih kuat, dia harus mempelajari teknik-teknik kultivasi yang lebih hebat. Dan kitab ini adalah hadiah yang sangat berharga bagi dirinya. Sehingga, tanpa ragu, dia menerima sodoran kitab manuskrip tersebut
__ADS_1
Dengan perasaan yang sangat senang Lin Xuan tersenyum dan membungkukkan badan berulang kali.. "Terima kasih, murid ini akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan berlatih dengan tekun." Katanya dengan penuh hormat.