
“Murid ini menghadap kepada guru. Murid ini telah keluar dari makam kuno guru.”
Remaja berusia 15 tahun kini sedang bertekuk lutut dan menundukkan kepala di depan seorang wanita. Tidak lain adalah Lin Xuan, dia cukup senang saat Mei Lin turun tangan menghadapi masalah itu.
Di malam yang semilir itu, Mei Lin menyipitkan matanya. Dia bisa melihat dengan jelas ada perubahan yang mencolok pada Lin Xuan. Dimulai dari sebuah cincin, kalung liontin dan juga tato pedang berwarna merah terukir di tangan murid satu-satunya itu.
Tidak ada luka juga, serta tubuhnya lebih bugar dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini membuat Mei Lin yakin bahwa Lin Xuan mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Mei Lin sebelumnya.
Masuk dari sore hari dan keluar hampir tengah malam itu merupakan ekspedisi yang cepat. Mei Lin sempat berpikiran bahwa anak ini akan keluar esok pagi karena sulitnya musuh yang dia lawan di dalam. Tapi itu ternyata di luar pemikirannya.
“Apa yang kau dapatkan selain benda tampak?” tanya Mei Lin dengan tatapan sinis.
Meski sedikit gelap dan posisi yang masih menunduk, tapi Lin Xuan bisa merasakan bahwa Mei Lin tidak menunjukkan ekspresi apapun yang membuat dirinya terintimidasi sedikit.
“Dua jurus tingkat tinggi. Dan warisan tentang apa yang tidak ku ketahui tentang segala sumber daya dan semua kekaisaran di dunia ini. Seolah penjaga makam kuno tahu bahwa aku bukan dari daratan dunia ini.” Jawabnya.
“Bagus, ini sangat membantu dirimu. Sebaiknya jangan penasaran siapa pemilik makam kuno yang sebenarnya.”
“Guru tahu?” Lin Xuan mengangkat wajahnya seolah terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh gurunya tersebut.
“Entahlah.”
Wajah Lin Xuan penuh pertanyaan. Dia merasa bahwa gurunya seperti menyembunyikan sesuatu yang seolah menunjukkan bahwa apa yang menimpa dirinya telah diatur. Dan dirinya sama sekali tidak diizinkan untuk mengetahui segala sesuatu tentang pengaturan tersebut. Tapi jujur, itu membuatnya sangat penasaran.
“Guru, tapi ....”
“Sebaiknya kita istirahat. Ini sudah menjelang tengah malam. Saat kau masuk ke dalam makam kuno, aku sudah mencarinya, jadi tenang saja.” Kata gurunya.
__ADS_1
Lin Xuan mengangguk. Dia segera mengurungkan atau lebih tepatnya membuang semua pertanyaan yang hendak dia lontarkan. Rasanya hidupnya menjadi penasaran tentang apakah makam kuno itu muncul secara kebetulan dalam hidupnya? Apalagi Byakko juga seolah merahasiakan semuanya terjadi.
Mereka akhirnya sudah keluar dari hutan wilayah timur dengan aman. Menuju ke sebuah kota yang mana sudah mulai sepi karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Mungkin hanya beberapa anak muda yang berlalu lalang untuk menikmati keadaan yang tenang.
“Guru, seseorang yang engkau serang tadi, apakah guru tahu dia siapa?” Tanya Lin Xuan sambil dia berjalan.
“Tidak.”
“Aku hanya khawatir ini akan menjadi masalah. Pasalnya, orang itu adalah patriak dari sekte Langit Biru.”
“Apa yang dikhawatirkan?”
Lin Xuan terdiam. Jika dilihat dari serangan yang gurunya keluarkan, hembusan naga api yang terhempas dari kipasnya itu membuat hutan di sekelilingnya hampir hancur dilahap naga api tersebut. Tapi sayangnya dia tidak melihat apa yang terjadi pada patriak sekte Langit Biru setelan Lin Xuan beranjak pergi dengan kemampuan gurunya.
Perjalanan yang tidak terlalu jauh, pada akhirnya Lin Xuan telah sampai di sebuah tempat yang kemungkinan itu menjadi sebuah penginapan yang sebelumnya dipesan oleh Mei Lin untuk Lin Xuan.
“Selamat datang kembali nona, kamar Anda dan kenalan Anda sudah disiapkan. Kami akan ...”
Kemudian, Mei Lin menyerahkan kunci kamar kepada Lin Xuan. “Ada di lantai dua, sekarang istirahatlah.”
“Terimakasih guru. Tunggu, aku mempunyai sesuatu untuk Anda.”
Sambil menerima sebuah kunci, Lin Xuan mengeluarkan beberapa jenis tanaman herbal yang ada di cincin penyimpanannya. Ini dia dapatkan dari inti makam kuno setelah mendapatkan izin dari Byakko.
“Ginseng berumur sepuluh ribu tahun, serta ada daun teh tulang merah yang juga berumur sepuluh ribu tahun. Ku harap guru menyukainya.”
Mata Mei Lin terbuka lebar saat murid satu-satunya memberikan sebuah tanaman herbal yang sangat berharga. Sebenarnya dia ingin tersenyum, tetapi rasanya dia tidak mau menunjukkannya di depan Lin Xuan. Sehingga dia hanya memejamkan matanya sejenak dan sedikit mengangkat ujung bibirnya sambil menerima hadiah yang Lin Xuan berikan.
__ADS_1
“Terimakasih, aku berjanji besok kita akan minum teh dari Ginseng dan teh tulang merah ini.”
Lin Xuan tersenyum cerah. Kemudian dia undur diri dan beranjak naik ke lantai dua untuk beristirahat. Bukan istirahat, sebenarnya dia ingin berkultivasi di liontin mata ilahi yang baru saja dia dapatkan.
“Ah, sepertinya apakah ini kamarnya?”
Merasa cukup yakin Lin Xuan kemudian membuka pintu menggunakan kunci dari Mei Lin. Dan yang benar saja, sesuai dengan instingnya dia berhasil masuk ke dalam kamar dan berniat untuk berkultivasi.
Sekarang posisinya adalah mengunci kamar dan langsung duduk bersila di atas kasur. Kemudian, dia masuk ke dalam liontin mata ilahi sesuai yang diajarkan oleh Byakko tadi.
Kini saat dia berada di liontin mata Ilahi, dia mengeluarkan sumber daya yang dia dapatkan. Seperti beberapa kristal beast yang baru saja dia dapatkan untuk membantu kultivasinya. Sedangkan untuk kristal beast tingkat legenda yang ada pada cincin penyimpanan, Lin Xuan tidak akan menyia-nyiakannya untuk sementara waktu.
“Huh, mungkin aku akan dianggap bodoh karena aku tidak mendapatkan sumber daya untuk meningkatkan kultivasi. Tapi rasanya juga akan percuma jika tidak memiliki pengalaman yang baik. Sebagai gantinya aku memiliki barang berharga, yaitu tumpukan harta, liontin mata ilahi dan juga pedang abad kematian.”
“Aku sama sekali tidak boleh rakus dan mendapatkan sesuatu yang seharusnya tidak ku butuhkan. Berkultivasi perlahan tanpa tergesa-gesa dan mengimbanginya dengan pengalaman yang sangat baik harus ku lakukan.”
“Ah aku, aku lupa jika aku memiliki darah yang entah ini darah apa. Sebaiknya aku menanyakan kepada guru esok. Juga, aku tidak mengambil risiko untuk meminumnya secara langsung. Jadi aku hanya fokus untuk berkultivasi.”
...****************...
“Apa kau tahu identitas tentang laki-laki yang menolongmu?” Tanya raja kota kepada putrinya yaitu Jin Xie.
“Seingatku dia bernama Lin Xuan ayah.” Jin Xie menundukkan kepalanya.
“Putriku, ku harap kau tidak terbawa perasaan olehnya. Tapi ayah akan berjanji untuk memberikannya hadiah.” Jawab raja kota tersebut.
Jin Xie mengerti, ini masalah perbedaan status yang mencolok. Lin Xuan bukanlah siapa-siapa dan bukan berasal dari keluarga terkenal sehingga dia menyadari akan hal ini. Dirinya adalah putri raja kota, seharusnya pasangannya harus memiliki status yang sebanding seperti keluarga Huo atau keluarga Wue di kota Jinling ini.
__ADS_1
“Aku paham ayah, sekarang izinkan aku kembali ke sekte Kuil Emas sekarang.” Ucapnya dengan tatapan sedih.
“Ini sudah malam. Sebaiknya kau kembali esok pagi saja.”