Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian

Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian
Kompetisi Kultivator Muda (3)


__ADS_3

Kemampuan Wue Yan


Tibalah masalahnya di urutan peserta nomor kesekian yang mana menjadi pertarungan yang hampir terakhir di babak pertama ini. Yang jelas bahwa di pertarungan ini, Wue Yan turun ke area kedua menjadi peserta ke 85.


Dalam kesempatan ini, Lin Xuan bisa melihatnya dengan begitu jelas bahwa Wue Yan menaikkan kepalanya dengan tatapan yang begitu sombong. Hal tersebut disebabkan karena dirinya menjadi seorang putra marga Wue yang kelak akan mewarisi keluarga Wue itu sendiri.


“Jika kalian mau menyerah maka ini akan mudah, kalian tidak akan terluka berat.” Kata Wue Yan berbicara dengan nada merendahkan.


Wue Yan benar-benar menunjukkan kesombongannya, jelas itu membuat empat orang yang menjadi lawannya menggertakkan giginya dan ingin menghabisi Wue Yan meskipun dia tahu siapa Wue Yan itu sebenarnya.


“Mulai!”


Tanpa menunggu lama, sebuah aba-aba ditembakkan. Wue Yan sudah memasang kuda-kuda dan bersiap melawan mereka berempat yang tampaknya memilih untuk beraliansi dan bersama-sama untuk melawan Wue Yan.


“Pukulan ganda tapak harimau!”


Tanpa berpikir panjang, Wue Yan langsung bergerak dengan sangat cepat sambil mendorong tangannya ke depan untuk memberikan serangan kepada mereka berempat.


Namun, lawan Wue Yan justru juga menggabungkan kekuatan mereka untuk melawan teknik yang baru saja dikeluarkan oleh Wue Yan.


“Boom!”


Sebuah ledakan terdengar yang membuat penonton semakin bersemangat untuk mendengarkannya. Mereka kembali bersorak saat melihat sebuah kepulan asap yang begitu besar akibat hantaman sebuah kekuatan melawan empat kekuatan sekaligus.


Pandangan mereka tetap berada di arena nomor dua, dimana ketika kepulan asap itu menghilang, Wue Yan masih berdiri meskipun dia terlempar ke belakang akibat lima serangan yang beradu tersebut.

__ADS_1


“Itu bisa dibilang sangat baik, dia benar-benar berbakat. Melawan empat kekuatan sekaligus dan masih berdiri dengan tegak merupakan hal yang tidak biasa.” Ucap Lin Xuan melihat pertarungan tersebut.


Lantas, Wue Yan kemudian bergerak dengan sangat cepat lagi, dia mengeluarkan jurusnya sekali lagi untuk menyerang keempatnya sekaligus. Sedangkan keempat lawannya tidak berhenti untuk diam dan bergerak menyerang Wue Yan secara bersamaan.


Itu mungkin terlihat sangat mustahil bagi Core Formation bintang tiga bisa menghadapi musuhnya yang juga sama dengan dirinya. Tapi, Wue Yan mampu menepis kekuatan mereka berempat menggunaakan teknik yang Wue Yan miliki.


“Aku harus menang dan menunukkan kepada patriark sekte pedang suci.” Ucapnya sambil terus menjaga jarak. “Aku harus menggunakan teknik yang dimiliki oleh ayah.”


“Alunan tapak arwah!”


Wue Yan kemudian mengayunkan tangannya ke arah mereka berempat di saat mereka berusaha menendang Wue Yan keluar dari arena. Sayangnya, sebuah telapak tangan yang terlihat bercahaya muncul dari atas mereka dan menimpanya dengan sangat kuat.


Semua orang tertegun dan terus bersorak di tambah dengan tepukan tangan yang begitu meriah. Orang-orang benar-benar senang, bahkan mereka langsung melirik ke tiga patriark sekte untuk melihat reaksinya.


“Wue Yan hanya mengandalkan teknik spiritual, bahkan dia terus mundur untuk menjaga jarak. Kelemahannya hanya pada kemampuan martial artnya yang lemah. Jika empat orang tadi fokus untuk mendekat, maka Wue Yan pasti akan kalah.” Batin Lin Xuan tersenyum sinis.


Itulah yang dipikirkan oleh tiga patriark sekte, terutama patriark pedang suci. Kemampuan Wue Yan hanya sebatas pada sebuah teknik, yang mana Wue Yan hanya terus mundur menjaga jarak dan takut apabila mendekat. Kemungkinan martial artnya benar-benar minim.


Tidak peduli seberapa kuat teknik itu tadi di hadapan orang lain, tapi sebenarnya jurus itu sangat mudah untuk dibaca. Jadi, mereka hanya menganggap jurus itu hanyalah sebuah sampah yang sama sekali tidak berpengaruh.


“Meski mudah dibaca, tapi apabila terlanjur terkena jurus itu, maka juga berakibat fatal seperti sebuah tekanan energi yang kuat.” Batin Lin Xuan.


“Ka-kami menyerah!”


Wue Yan kemudian dengan sombongnya keluar dari arena, dia tidak memiliki ekspresi apapun dan terus berharap bahwa ketiga patriark, terutama patriark pedang suci meliriknya. Sayangnya Ji Huang sama sekali tidak peduli dengannya.

__ADS_1


Hal tersebut tentu saja membuat dirinya berdecak begitu kesal, apalagi dirinya setelah melihat pertandingan tadi, patriark Ji Huang langsung berdiri dan memberikan reaksi pada peserta nomor pertama.


……


Hari telah menjelang malam, dan pertandingan babak pertama juga sudah selesai. Lin Xuan merasa cukup lelah saat dirinya memandangi terus menerus lapangan arena semenjak tadi sampai menjelang malam ini. Namun, hanya beberapa pertandingan yang membuatnya cukup terhibur.


“Babak pertama telah selesai, ada sekitar 20 peserta yang berhasil lolos menuju babak selanjutnya. Untuk yang tidak berhasil, jangan berkecil hati, namun bagi yang lolos juga jangan bertinggi hati.” Kata seseorang wanita paruh baya tadi yang berdiri di tengah-tengah arena.


“Karena waktu sudah hampi malam, untuk babak selanjutnya akan di lanjut esok hari. Para peserta dan penonton bisa kembali esok hari lagi.”


Lin Xuan menghela napas, akhirnya babak pertama ini telah selesai yang membuat dia benar-benar sangat lelah. Apabila dia bisa memilih, dia bisa memilih untuk bertarung secara terus menerus daripada meonton terus menerus yang berakibat jenuh.


Untuk bermalam kali ini, dia tidak memiliki niatan untuk masuk ke dalam liontin mata ilahi. Lebih tepatnya dia memilih untuk bermalam di sebuah kedai yang memiliki penginapan tersendiri. Jelas-jelas dia sangat lapar semejak tadi.


Lin Xuan memasuki kedai penginapan di sebuah kota kecil di tepi Sungai Kuning. Dia merasa lelah setelah berhari-hari bepergian untuk mencari harta karun dan memperkuat kultivasinya. Saat melihat ke sekeliling, dia menyadari kedai penginapan ini cukup ramai dengan pengunjung.


“Selamat datang di penginapan kami, apa yang bisa saya bantu?” tanya pemilik penginapan, seorang wanita paruh baya yang ramah.


“Aku ingin memesan kamar untuk satu malam, dan juga membeli makanan untuk malam ini,” jawab Lin Xuan dengan sopan.


“Baiklah, kamar kosong ada di lantai dua, dan restoran kami di sebelah kanan. Silakan pilih meja dan pesan apa yang Anda inginkan,” kata wanita itu sembari memberikan kunci kamar dan mengarahkan Lin Xuan ke arah restoran.


Lin Xuan memilih meja yang agak tersembunyi, agar dia bisa makan dengan tenang tanpa terganggu oleh pengunjung lainnya. Dia melihat daftar menu dan memutuskan untuk memesan sepiring makanan dan juga minuman.


Setelah makan makam barulah dia memulai untuk memeriksa kamar penginapan. Kamar yang diberikan cukup besar dan bersih, ada sebuah kasur besar dengan selimut tebal, sebuah meja kecil, dan sebuah kamar mandi. Lin Xuan puas dengan kamar yang diberikan dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2