
Lin Xuan mulai untuk mempelajari kitab sutra kecepatan. Mungkin di dalamnya terdapat bahasa yang Lin Xuan kurang mengerti, akan tetapi dia berusaha semampunya agar bisa menguasai kecepatan yang tertulis di atas lembaran manuskrip tersebut.
Bahkan dia mempelajarinya setelah kembali atau turun dari puncak bukit. Lebih tepatnya saat malam hari, Lin Xuan seolah rela begadang karena bersemangat untuk mempelajari kitab itu.
“Aku sedikit kesulitan untuk memahami teori sebuah teknik di balik kitab ini. Ini sangat sulit daripada yang dibayangkan.” Lin Xuan menghela napas dengan malas. “Rasanya juga tidak mungkin untuk membangunkan guru untuk meminta bantuan karena ini sudah malam.”
“Tapi aku tidak bisa menyerah. Aku akan terus berusaha.” Batin Lin Xuan.
Dengan perlahan dan teliti, ia membaca setiap penjelasan yang ada pada buku tersebut meski ada beberapa yang kemungkinan sangat sulit dicerna. Bahkan dalam satu lembar sekalipun, dia perlu membacanya berulang kali agar dia dapat memahami apa yang kitab itu jelaskan.
Dia mencoba mengikuti gerakan yang ada di atas kitab sutra kecepatan ketika dia bisa mengerti apa yang dimaksud. Walaupun sedikit sulit, akan tetapi Lin Xuan sedikit memaksa dirinya. Bahkan dia mencoba untuk melawan rasa kantuk untuk sementara waktu dan tidak peduli apa konsekuensi yang terjadi pada esok dini hari.
Hampir satu jam Lin Xuan mempelajari apa yang dituangkan dalam kitab tersebut. Bahkan dia terus membaca dan mengulangi setiap gerakan kecepatan tangan dengan mengalirkan energi qi. Tidak heran dia sedikit kesulitan karena ini kali pertamanya Lin Xuan belajar hanya menggunakan media buku saja.
Andaikan Mei Lin sedikit memberinya sebuah dasar dan tidak hanya sekedar teori, maka kemungkinan Lin Xuan bisa menerimanya. Sayangnya, guru Mei Lin hanya memerintahkan Lin Xuan untuk mempelajari terlebih dahulu sebelum ke dalam ranah yang sangat serius.
Lama-kelamaan, Lin Xuan juga merasa sangat lelah. Dia tidak sengaja memejamkan matanya karena benar-benar kelelahan dalam mempelajari teknik tersebut.
Keesokan harinya, Lin Xuan terbangun. Tapi dia menyadari bahwa fajar telah terbit di ufuk timur, bahkan lebih sedikit terang yang membuat dia sebenarnya benar-benar terlambat kali ini. Tentunya dia benar-benar terkejut saat mengintip dari balik dinding papan kayu yang menunjukkan bahwa matahari benar-benar akan terbit.
Jelas bahwa Lin Xuan kalang kabut melihatnya. Dengan membawa kitab sutra kecepatan, Lin Xuan keluar dari rumah gubuknya dan segera berlari menuju puncak bukit sebelum matahari terbit. Atau yang terjadi, dia akan mendapatkan hukuman berjam-jam yang tidak bisa dia bayangkan.
__ADS_1
“Sial! Sial! Sial! Aku benar-benar terlambat bangun karena mempelajari kitab ini. Andai saja aku sudah menguasai tekniknya itu bukan lagi masalah!”
Lin Xuan terus berlari untuk naik dengan sekuat tenaga. Tidak peduli apakah matahari hendak menampakkan diri beberapa menit lagi, yang paling penting dia harus lari.
“Buug!”
Tanpa Lin Xuan sadari, Lin Xuan tiba-tiba terpental seolah membentur sesuatu. Sehingga hal tersebut membuat dirinya merintih kesakitan dan sedikit emosi saat ada sesuatu yang mengganggunya.
Namun saat berdiri, dia melihat sebuah batang kayu yang terikat dan berayun yang membuat dia tahu bahwa ini adalah sebuah jebakan. Tapi dia sama sekali tidak berpikir lebih panjang dan segera berlari kembali untuk menggapai setengah jalan.
Lin Xuan terus berlari, tapi siapa sangka banyak jebakan yang seolah terpasang tidak hanya batang kayu yang terikat dan berayun tadi, tapi sebuah parit yang ditutup rerumputan dan tidak tampak sedikitpun bahwa itu adalah jebakan. Untungnya, Lin Xuan langsung memasang insting kuat dan langsung melompat agar tidak terjatuh dalam jebakan tersebut.
“Sial, kenapa banyak sekali jebakan. Ini membuat diriku terhambat! Siapa yang memasang jebakan di sini? Padahal kemarin tidak ada jebakan sama sekali!” Ucap Lin Xuan dengan sangat kesal.
Tapi sering juga dia juga termakan sebuah jebakan yang membuat dirinya terluka. Sehingga mau tidak mau, Lin Xuan harus menahan luka tersebut untuk sementara waktu.
“Aku sangat lelah. Matahari sudah naik tapi aku belum setengah jalan. Sial!” Ucap Lin Xuan. “Jika saja aku sudah menguasai penuh teknik sutra kecepatan, pasti aku sudah sampai semenjak tadi.”
Meski ingin sekali berjalan perlahan, setidaknya untuk meredakan rasa lelah yang kian bertambah, Lin Xuan masih berusaha untuk tetap lari meskipun entah kenapa ada aja sebuah jebakan yang membuat dia terhambat.
Dia mungkin berpikir positif karena ada seseorang yang sengaja memasang jebakan pada malam kemarin untuk menjebak hewan.
__ADS_1
Sesaat kemudian, akhirnya Lin Xuan berhasil menyeret tubuhnya untuk menuju ke atas bukit dengan tubuh yang lemas. Kondisi juga hampir siang yang membuat Lin Xuan tidak percaya bahwa dia melakukannya jauh lebih lama dibandingkan biasanya. Sehingga, dia hanya bisa menerima apapun yang Mei Lin komentarkan.
“Hari ini kau terlambat empat jam.”
“Maafkan aku guru. Murid ini akan melakukan hukuman seperti biasa.” Lin Xuan bertekuk lutut di hadapan Mei Lin yang menyeruput teh yang ada di cangkir.
“Tidak, tunggu. Minumlah teh herbal ini.” Mei Lin menyodorkan secangkir teh berwarna coklat keruh kepada Lin Xuan.
“Te-terimakasih guru dengan teh herbal ini.” Kata Lin Xuan dengan sedikit ragu menerima teh herbal ini. Akan tetapi, entah kenapa dia merasakan aroma yang sangat harum dari teh tersebut yang membuat Lin Xuan penasaran dengan rasa yang keluar dari aroma khas tersebut.
“Aku sungguh takjub kepadamu. Aku mengerti keadaanmu bahwa semalaman kamu sudah mempelajari kitab yang kuberikan sehingga membuatmu terlambat bangun. Namun saat aku mengerti bahwa kamu kemarin malam tengah berusaha, aku juga memasang puluhan jebakan saat kau berusaha naik ke puncak bukit.”
“A-apa?” Tanya Lin Xuan tidak percaya mendengarnya.
“Jika kau hanya belajar hanya sekedar teori dari kitab tersebut, maka kamu tidak akan bisa menguasainya. Sehingga kau juga perlu latihan secara langsung. Apa kamu menyadari bahwa insting kecepatanmu sedikit meningkat saat mencoba menghindari beberapa jebakan tersebut? hal itu kamu lakukan karena mencoba mempelajari sedikit dari apa yang kitab itu tulis.” Jawab Mei Lin.
Kemudian, dia menyambung apa yang dia ucapkan. “Jika kamu terus belajar dengan latihan, maka kamu akan menguasai teknik itu mulai dari tingkat pertama. Jadi mulai sekarang kamu harus berhati-hati saat naik maupun turun bukit.”
“Gu-guru, aku tidak menyangka bahwa dia ada adalah seorang yang sangat perhatian meskipun kejam.” Gumam Lin Xuan dengan sangat senang.
Kemudian dia dengan sopan menyeruput secangkir teh yang diberikan oleh Mei Lin kepadanya. Tapi siapa sangka, bahwa tubuhnya sedikit lebih baik dari sebelumnya yang membuat perasaan Lin Xuan sangat senang.
__ADS_1
“Setelah merasa baikan jangan lupa untuk melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan.”
“Ba-baik guru.” Jawab Lin Xuan dengan penuh semangat.