
Pagi hari yang cerah itu, dua orang yang tidak diketahui jelas jenis entitas mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak beberapa meter. Tatapan dan gimik yang tajam dikeluarkan oleh wanita yang memiliki pupil mata bak rumput itu.
Sedangkan lawannya saat ini yang tidak lain adalah bocah sok kuat yang seolah haus akan perhatian bagi Mei Lin. Berdiri dengan memasang kuda-kuda dan posisi pedang yang siap melawan guru yang berada di depannya.
“Lawan aku dengan seluruh kekuatan yang kau punya. Lakukan sekarang!”
Wushhh
Lin Xuan sudah bergerak dengan sangat cepat bagaikan angin yang lewat. Kecepatannya saat ini sudah meningkat dibandingkan dengan kemarin karena ini pengaruh dari terobosan yang baru saja dia dapatkan.
“Pergerakanmu masih bisa diikuti. Kau lemah sekali. Apakah ini hasil yang kau pelajari selama berbulan-bulan, iblis jatuh?” Ucap Mei Lin sambil mengeluarkan kipas yang menjadi senjatanya.
Dengan anggunnya wanita itu mengelak ke samping saat Lin Xuan mengayunkan sebuah pedang. Barulah dia mengibaskan kipas yang dia pegang ke arah Lin Xuan hingga mengakibatkan dia terdorong ke belakang.
“Tarian naga surgawi!”
Mei Lin memutar dirinya di udara, tatapan yang begitu serius seolah hendak membunuh anak muda itu. Sebuah hembusan angin dan membentuk siluet naga berwarna putih keluar, bergerak dengan sangat bebas mengikuti kemana alunan kipas yang digerakkan oleh Mei Lin.
“Guru licik! Anda menggunakan jurus tertentu di depan muridmu yang belum menguasai apa-apa!”
Lin Xuan melompat mundur ke belakang saat naga putih itu berputar hendak mengelilingi dirinya. Kemudian, Lin Xuan mengalirkan qinya ke seluruh tubuh dan mencoba bergerak bebas dengan sangat cepat. Baik itu menjauh dari Mei Lin atau naga yang dia keluarkan.
“Lantas apa yang kau dapatkan selama berbulan-bulan?” Tatap serius dari sorot mata wanita yang mengerikan itu.
Naga putih terus mengikuti kemana perginya Lin Xuan. Sehingga dengan begitu jengkel, dia mengayunkan pedangnya ke arah moncong kepala naga tersebut dengan jurus sutra kecepatan.
Pyarr!
__ADS_1
Suara nyaman terdengar nyaring saat naga putih itu pecah dan menyebar menjadi butiran cahaya. Lin Xuan bisa menghela napas dengan lega saat menghancurkan jurus yang dikeluarkan oleh gurunya. Tapi dia yakin bahwa itu hanyalah teknik kecil yang dia keluarkan.
“Kau lengah!”
“Sial, kecepatannya!” Gumam lirih Lin Xuan saat sebuah alunan kipas secara horizontal mengarah tepat di depannya.
Lin Xuan dengan cepat melompat ke belakang, menghindari serangan Mei Lin yang tiba-tiba. Dia memperhatikan gurunya dengan hati-hati, mengamati setiap gerakan dan mempertimbangkan strategi berikutnya. Lin Xuan tahu bahwa dia masih jauh dari menjadi kuat, dan Mei Lin masih bisa mengalahkannya dengan mudah.
Mei Lin melihat Lin Xuan dengan tatapan tajam. "Kau masih terlalu lambat," katanya sambil mengayunkan kipasnya lagi.
Lin Xuan tersenyum tipis dan mengambil sikap siap tempur. Dia tahu bahwa ini bukan saatnya untuk menyerah. Dia perlu fokus dan bersikap tegas dalam menghadapi gurunya. Setelah beberapa menit berlalu, Lin Xuan dengan cepat mengeluarkan serangkaian jurus yang rumit dan sulit diprediksi.
Lebih tepatnya bukan jurus, lagipula dia tidak tahu jurus apa yang cocok nantinya. Ini hanya sebuah atribut api yang tiba-tiba mengalir pada meridian dan membakar pedangnya. Sehingga, dia mengayunkan dari jarak yang begitu dekat.
Mei Lin terkejut melihat kemajuan Lin Xuan. Dia mulai melihat kekuatan dalam muridnya dan merasa bangga melihat kemampuannya tumbuh seiring waktu. Keduanya terus bertarung dengan sengit, saling melancarkan serangan dan menghindari setiap gerakan yang berbahaya.
“Maafkan aku guru, tapi aku mendapatkan atribut baru-baru ini.” Balasnya.
“Api kecil seperti itu jangan berpikir untuk melukaiku bocah tengik!”
Mei Lin mengimbanginya dengan teknik yang lebih elegan dan efisien. Dia menggerakkan tangannya dengan kelenturan dan kecepatan yang membuat Lin Xuan terkesima. Lin Xuan melanjutkan serangannya, namun semakin banyak serangan yang gagal dan membuatnya semakin lelah.
Dia mulai mempertanyakan apakah dia akan pernah mampu menang melawan guru kultivasinya yang jauh lebih berpengalaman. Mei Lin akhirnya mengakhiri pertarungan dengan serangan terakhir yang mengirim Lin Xuan terbang ke belakang dan jatuh di tanah.
Dia menatap muridnya dengan senang meski tidak secara langsung, sambil mengucapkan kata-kata yang menenangkan hati Lin Xuan. "Kamu sudah berkembang dengan baik, Lin Xuan. Terus berlatih dan jangan pernah menyerah. Kamu akan menjadi kultivator yang hebat suatu saat nanti."
Pupil mata Lin Xuan melebar setelah gurunya memujinya seperti itu. Senyum cerah terukir dan hatinya menjadi lebih bertekad untuk menjadi seorang kultivator yang hebat seperti apa yang Mei Lin perintahkan.
__ADS_1
Kemudian anak itu mengepalkan tangannya dan memberikan hormat. “Terimakasih atas pujiannya guru.”
“Guru, maafkan aku tentang atribut itu. Tapi aku pikir apakah aku ini memang seorang iblis hingga bisa menguasai elemen api?”
“Apa kau pikir elemen api hanya dikuasai iblis? Apakah kau berpikir api dan kegelapan adalah elemen yang jahat? Tentu saja tidak Xuan’er, jangan berpikir seperti itu. Kau itu bukan iblis, jadi lupakan bahwa kau adalah seorang iblis.” Balas Mei Lin sambil memasukkan kipasnya di cincin penyimpanannya.
“Kenapa guru bisa menyimpulkan jika aku bukanlah seorang iblis?”
“Bocah tengik, wujudmu itu membosankan dan tidak ada ngeri-ngerinya. Kulitmu bahkan secerah rakyat jelata pada entitas manusia.”
Lin Xuan berpikir bahwa apa yang dikatakan Mei Lin ada benarnya. Tubuhnya saat ini mungkin mirip dengan manusia dan sama sekali tidak memiliki kesan mengerikan. Mungkin itulah faktor kesekian dia mendapatkan sikap diskriminatif di daratan Mao.
“Sudahlah. Aku saat ini memiliki pikiran jika kau terus melakukan latihan di hutan ini kau tidak akan berkembang. Maka dari itu, kita akan keluar dan ke kota untuk bersosial.” Kata Mei Lin. “Jika kau bisa bersosial, maka mungkin kamu bisa melihat bermacam-macam jenis manusia yang bahkan mungkin memiliki sifat seperti iblis.”
“Murid ini hanya menurut guru. Tapi apa yang engkau sarankan itu sepertinya sangat baik.” Jawab Lin Xuan senang.
Sore hari setelah mereka bersiap-siap, mereka akhirnya keluar dari pinggiran hutan dan beranjak menuju ke kota terdekat untuk mencoba hawa baru. Karena tidak mungkin bagi Mei Lin untuk latihan bagaikan suku primitif yang memilih untuk bersembunyi dan takut dunia luar.
Jujur kedatangan mereka di sebuah kota membuat mereka cukup takjub. Terutama Lin Xuan yang melihat para manusia hidup tentram dan berdampingan. Apalagi hawa dan suasana yang ada di sini tidak mengerikan sama seperti di daratan Mao tersebut.
Untungnya Lin Xuan menyadari bahwa tampangnya tidak memiliki kemiripan dengan seorang iblis, bahkan lebih condong kepada manusia. Sehingga orang-orang juga tidak terlalu memperdulikan keberadaan Lin Xuan.
Tapi, semenjak mereka keluar dari wilayah pinggiran hutan, justru keberadaan Mei Lin lah yang mengganggu fokus mereka. Terutama para lelaki yang tidak mengedipkan matanya saat melihat seseorang bagaikan dewi kecantikan itu.
“Kita ada di mana guru?”
“Daratan Jian, kekaisaran Han dan kota Jinling.”
__ADS_1