
“Bagaimana menurutmu tentang anak itu Byakko?”
Seorang wanita yang duduk di atas atap itu berbicara, seolah berbicara sendiri karena tidak ada lawan bicaranya. Rembulan juga bersinar separuh seolah hendak habis dimakan oleh entitas tertentu.
Tapi saat itu juga, sebuah retakan muncul di depan wanita tersebut. Bagaikan udara kosong yang tiba-tiba pecah dengan sinar warna ungu yang keluar. Wanita dengan ekor kucing, tidak, lebih tepatnya harimau itu muncul, telinga yang imut tapi tidak meninggalkan paras yang sangat elok.
“Apakah aku harus meragukan dia? Dia siapa, kita sudah tahu. Ah, rasanya aku sungguh ingin membantai daratan iblis tersebut sendirian.”
“Benar, sayangnya yang mulia melarangnya sebelum genap sepuluh ribu tahun. Hanya kurang 5000 tahun untuk sepuluh ribu tahun itu berlalu, dan yang mulia akan menyelesaikan pertarungannya secara pribadi dengan demon of demon. Sayangnya, kita juga tidak tahu bagaimana pertarungan sepuluh ribu tahun itu, apakah dia kalah, menang, atau seimbang?” Ucap Mei Lin.
“Maksudmu tentang segel kutukan pertarungan sepuluh ribu tahun yang dibuat oleh demon of demon? ketika ras iblis dan dewa ternyata ada yang melakukan peperangan, maka segel kutukan akan bertambah menjadi sepuluh ribu tahun lagi. Yang mulia dan pemimpin iblis tidak akan bisa keluar dan terus melakukan pertarungan tanpa henti.” Kata Byakko yang duduk di samping Mei Lin.
“Ini sudah dibahas. Maka dari itu, untuk melepaskan mereka berdua, maka diperlukan seorang dewa kematian yang baru untuk menyerang daratan Mao. Ini sudah direncanakan, karena dewa kematian kali ini memang dewa, tapi juga memiliki kehidupan terdahulu dengan iblis. Tapi hati juga merupakan seorang manusia.
Sehingga, apabila dia menyerang darata Mao, maka tidak ada masalah tentang segel kutukan pertarungan sepuluh ribu tahun itu dan berjalan dengan normal.” Ucap Mei Lin.
Byakko kemudian tertawa dengan lirih, “Hahaha sial, sepertinya daratan Mao yang membunuh dewa kematian, siapa sangka akan dibunuh oleh dewa kematian yang baru itu sendiri.”
“Ini akan menarik. Yaah, intinya aku hanya berterima kasih karena kau telah menjaga makam dewa kematian. Kau juga mewarisi 10% yang dimiliki oleh dewa kematian kepada anak itu.” Ujar Mei Lin.
Kemudian, Byakko berdiri dan menundukkan kepalanya. “Aku juga berterima kasih karena kau menjadi gurunya. Dewa kematian adalah tuanku. Sudah semestinya aku sebagai tangan kanan menghormatinya. Tapi aku juga berjanji untuk berpihak kepadanya saat masa itu sudah selesai.”
“Tidak, menjadi guru mungkin akan berakhir minggu ini. Aku akan membiarkan dia bergerak bebas bagaikan air mengalir, lagi pula suatu saat dia akan tahu dengan sendirinya. Lebih tepatnya aku harus kembali ke tempat asalku untuk mengurus sesuatu.”
Kemudian, Byakko beranjak masuk ke dalam retakan dimensi tersebut. Namun, dia juga mengeluarkan kata-kata. “Apa ini ada hubungannya dengan Dragon Monarch?”
__ADS_1
“Benar sekali, saat Lin Xuan berada di makam kuno, orang-orang dari Dragon Monarch datang menemuiku katanya ada masalah. Seperti biasa, perselisihan antara naga timur dan juga naga barat yang tak kunjung selesai. Sebaiknya kau juga kembalilah ke Emperor Beast karena kamu adalah kaisarnya.”
“Ah lupakan, itu urusanku ratu Dragon Monarch. Selamat tinggal.” Kata Byakko pergi menghilang bersama dengan retakan tersebut.
Kemudian, Mei Lin menatap langit. Senyum cerah terukir di wajahnya. “Apakah suatu saat, aku memanggil murid sok kuat itu dengan sebutan tuan? Rasanya sangat aneh. Mengesalkan, aku tidak bisa berada dengannya untuk terus menerus.”
........
Puluhan jam, atau mungkin kemungkinan sudah dihitung satu bulan didunia liontin mata ilahi. Lin Xuan membuka matanya perlahan dan merasakan sebuah ledakan sebanyak tiga kali di dalam tubuhnya.
Duarr
Duarr
Duarr
Meski begitu tampaknya itu sudah sebanding dibandingkan yang dia dapatkan. Naik kultivasi sebanyak tiga langkah selama satu bulan lamanya. Tidak, sepertinya itu lebih dari sebanding dan terlihat sangat cepat.
Kemudian, Lin Xuan memutuskan untuk keluar dari liontin mata ilahi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dunia luar. Tapi hal yang mengejutkan rasanya dia seperti bangun dari tidur dan hanya menghabiskan satu malam saja di atas ranjang.
Tubuhnya juga tidak ada rasa tidak nyaman selain bugar bagaikan bangun di pagi hari. Sehingga dia memutuskan untuk keluar dari kamar untuk mencari udara yang segar.
Saat dia membuka pintu kamarnya, seorang pelayan tampaknya berdiri di samping pintu dan menunggu Lin Xuan keluar. Wajah Lin Xuan juga menjadi kebingungan tentang perihal apa yang sebenarnya terjadi.
“Tuan, maaf. Guru Anda menunggu Anda di lantai paling atas.”
__ADS_1
“Ba-baik, aku akan naik ke atas.” Ucap Lin Xuan.
“Jika memang begitu saya undur diri. Jika ada sesuatu Anda bisa memanggil saya.” Kata pelayan itu menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari hadapan Lin Xuan.
Lin Xuan menggarukkan kepala dan segera menuju lantai paling atas karena gurunya telah menunggu. Dia heran, padahal satu bulan telah berlalu tapi gurunya seolah tahu bahwa Lin Xuan akan bangun hari ini.
Saat dia di atas, Lin Xuan bisa melihat bahwa gurunya sudah duduk bersila dengan dua teh herbal di atas meja.
“Guru, kau menungguku satu bulan?”
“Satu bulan? Apakah otakmu bermasalah? Aku berjanji untuk mengajakmu minum teh yang kau berikan kemarin.”
“Kemarin?” Pikir Lin Xuan. Tampaknya dia menyadari adanya sebuah perbedaan waktu di dalam liontin mata ilahi dan juga dunia nyata. Kemungkinan dia menghabiskan waktu di dunia nyata adalah delapan jam, sedangkan di dunia mata ilahi adalah satu bulan. Itu artinya, dia bisa menyimpulkan 24 jam di dunia nyata sama dengan 3 bulan di dunia mata ilahi.
Dia hanya tertawa lirih dan menggarukkan kepalanya bagaikan orang linglung. Namun dia segera duduk di depan Mei Lin.
“Ini teh daun tulang merah yang kau bawa. Manfaat yang begitu besar yang tidak akan kau sadari Lin Xuan. Serta ....” Mei Lin berbicara dengan ragu.
“Serta?”
“Serta ada yang katakan di depanmu. Tapi minumlah teh itu terlebih dahulu agar kamu bisa lebih tenang.” Mei Lin memerintahkan.
Lin Xuan menurut yang membuat dia segera menyeruput teh daun tulang merah yang dia bawa. Tak di sangka, setelah menjajalnya, dia berpikiran bahwa gurunya itu benar-benar sangat pintar untuk meracik teh seperti ini.
Terus terang, Mei Lin langsung berkata langsung tanpa ragu. Walaupun rasanya berat baginya, dia sedikit tersenyum di hadapan Lin Xuan.
__ADS_1
“Guru, kau terse ....” Lin Xuan membuka matanya lebar-lebar saat melihat senyuman Mei Lin yang dia harapkan selama ini. Selama berbulan-bulan lamanya yang sebelumnya selalu memberikan sebuah kesan sinis selama ini.
“Aku hanya berbicara, jaga dirimu baik-baik. Guru tidak akan bersamamu lagi karena guru harus kembali ke tempat asal guru. Tapi guru akan berjanji akan kembali suatu saat apabila waktunya telah tiba. Atau mungkin kau bisa mencari gurumu lagi di suatu tempat.”