Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian

Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian
Tak Berakal


__ADS_3

“Rasanya Meridian ku terbakar saat aku terus mengeluarkan atribut yang tak terkontrol ini. Panas luar dalam sulit untuk ditahan.”


Lin Xuan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Menahan sebuah perisai seperti ini bagaikan menahan puluhan gajah dalam satu waktu. Membuat tangannya yang mengangkat sebuah pedang untuk menahan perisai harus bergetar hebat.


Kaki dia juga berusaha untuk menahan tumpuan. Meskipun sepertinya akan berakibat fatal seperti tanah yang terus retak dan menghasilkan kawah sedalam beberapa meter dengan Lin Xuan yang masih berusaha untuk berdiri.


Tubuh Lin Xuan terbakar, saat dia berusaha mengalirkan QI ke dalam seluruh tubuhnya. Sebelumnya hanya terasa hangat, tapi siapa yang berpikir bahwa api tersebut tidak terkontrol dan membakar tubuhnya sendiri?


Justru dia tertawa di balik rasa sakit. Dia mendorong perisai tersebut dengan sekuat tenaga hingga patung terdorong ke belakang. Kemudian, dia bergerak cepat menggunakan sutra kecepatan dan melakukan putaran di udara hingga membentuk sebuah kobaran api yang berputar.


“Rasa sakit ini, aku belum pernah merasakannya.” Lin Xuan berputar di udara bagaikan sebuah roda. Bagaikan ingin melahap patung emas yang membawa perisai tersebut.


Sayangnya, patung pembawa kapak melihat dengan jelas kemana perginya Lin Xuan. Sehingga dia mengayunkan kapaknya secara vertikal. Itu juga ditambah dengan patung pembawa pedang yang juga mengayunkan senjatanya secara bersamaan dengan patung pembawa kapak.


“Hahaha kalian benar-benar sangat bodoh!” Dia bergerak dengan sangat cepat saat dua patung itu menyerang secara bersamaan. Lebih tepatnya dia sudah mendarat dengan berusaha sekuat tenaga menekan qi nya yang seolah membakar dirinya.


Di sisi lain, dua patung yang memberikan serangan secara bersamaan itu memberikan sebuah dampak. Bukan dampak kepada Lin Xuan, tapi dampak sesamanya. Patung dengan membawa pedang harus kehilangan pedangnya saat tidak sengaja berbenturan dengan kapak saat menargetkan Lin Xuan.


Begitupun dengan kapak yang mengalami keretakan saat tidak sengaja berbenturan dengan pedang. Hal tersebut membuat Lin Xuan bahwa keempat patung tidak  tahu apa yang namanya kerja sama. Mereka sama sekali tidak memiliki akal, seolah hanya sekedar patung yang memiliki energi spiritual dan digerakkan.

__ADS_1


Di sisi lain, Jin Xie hanya bisa tercengang. Dia menganggap bahwa Lin Xuan sama seperti iblis yang sedang mengontrol diri. Entah bagaimana reaksi para tetua dan patriak sekte yang melihatnya, mereka pasti akan terkejut.


Dan memang, di sisi lain di sebuah tempat berkumpulnya para patriak sekte merasa dihebohkan tentang sudut pandang Jin Xie. Mereka bisa melihat Lin Xuan yang bertarung bahkan hingga membakar dirinya sendiri.


“Itu tadi adalah seseorang yang baru saja membodohi murid dalam sekte langit biru?” Ji Huang atau patriak sekte Pedang Suci angkat bicara.


“Dia sangat berbakat. Seharusnya anak itu bisa mati saat tidak bisa mengontrol atributnya. Teknik pernapasan juga terlihat kurang. Tapi siapa yang berpikir dia hanya mengandalkan sebuah kecepatan dan api tidak terkontrol?” Ucap Chang Ai sebagai patriak Kuil Emas.


Dia sebenarnya juga terkejut saat melihat dari sudut pandang salah satu muridnya yaitu Jin Xie. Memperhatikan anak tersebut yang tidak lain adalah Lin Xuan tengah bertarung sekuat tenaga. Bahkan dia berspekulasi bahwa seharusnya Lin Xuan mati.


“Apa yang dikatakan patriak dari sekte Kuil Emas benar. Anak itu seharusnya sudah mati karena tidak memiliki teknik pernapasan untuk mengontrol atribut. Bahkan itu bisa membakar meridiannya sendiri. Aku benar-benar tertarik, aku akan merekrutnya nanti.” Sahut Fen Jihyang.


Jin Huang dan Chang Ai diam-diam juga tertarik dengan anak itu. Bahkan juga berpikiran untuk memasukkannya ke dalam sekte tanpa ujian masuk terlebih dahulu. Karena menyia-nyiakan potensi dari anak itu sama seperti membuang berlian.


.....


Lin Xuan menghela napas. Tubuhnya bergetar dan ada sensasi terbakar di seluruh tubuhnya. Tapi dia juga tidak melihat tubuhnya terbakar lagi. Napasnya terengah-engah. Pedang yang dia pegang juga berubah menjadi warna merah dan mengeluarkan hawa panas yang luar biasa.


“Ini titik dimana aku akan kehabisan qi. Pedang juga akan semakin melunak dan patah karena panas.” Batinnya.

__ADS_1


Sebuah ayunan tombak bergerak ke arahnya. Lagi-lagi Lin Xuan bergerak dengan sangat cepat untuk menghindar. Hal tersebut membuat ujung tombak milik salah satu dari mereka menciptakan lubang yang tidak kecil di tanah.


Saat ini Lin Xuan berada di pundak salah satu patung yang membawa sebuah pedang. Dia sempat berpikir bahwa masing-masing patung sama sekali tidak memiliki akal. Sehingga Lin Xuan ingin membuktikan spekulasinya apakah benar atau tidak.


Dan itu benar saja, ketika patung pembawa perisai, dia mendorong perisainya ke arah Lin Xuan dengan sangat cepat. Kemudian, saat hampir mengenai dirinya, Lin Xuan langsung berpindah tempat ke arah patung lain.


“Ternyata benar bahwa patung ini tidak memiliki akal sama sekali.” Pikir Lin Xuan saat memperhatikan bahwa perisai patung itu menghancurkan bahu patung pembawa pedang. Sehingga membuatnya roboh dan tidak tahu apa-apa bagaikan orang bodoh.


Tidak berhenti begitu saja, saat ini juga dia berdiri di atas bahu patung yang membawa tombak. Secara, dia cepat menyadari bahwa patung pembawa kapak mengayunkan kapaknya secara horizontal yang seharusnya ini menghancurkan leher patung pembawa tombak ini.


Tapi patung pembawa perisai sepertinya jauh lebih sensitif dan cepat bergerak. Bahkan saat menyadari bahwa Lin Xuan berdiri di atas patung pembawa tombak, patung pembawa perisai itu juga mengayunkan perisainya tidak peduli ada patung pembawa kapak di sekitarnya.


Lagi-lagi Lin Xuan bergerak dengan sangat cepat, ke arah sekitar kaki patung yang membawa perisai dan menghancurkan leher patung pembawa tombak. Tapi siapa yang berpikir bahwa patung pembawa kapak juga terkena dampaknya yang membuat permukaan patung itu hancur.


Sepertinya apa yang dilakukan oleh Lin Xuan adalah memancing patung pembawa pedang yang masih bertahan meskipun bahunya hancur. Meskipun juga pedangnya sudah patah, patung pembawa pedang tersebut tidak menyerah dan bergerak ke arah Lin Xuan dengan sekuat tenaga.


“Ini, ini yang terakhir.” Dengan sekuat tenaga Lin Xuan bergerak dengan sangat cepat sebelum dia berdiri bertahan di atas sebuah tanah dan bertumpu pada pedang. Darah segar dari mulutnya juga keluar yang menandakan bahwa dia menghabiskan banyak qi di dalam tubuhnya.


Namun sesaat itu juga, pedang yang panas membara membuat pedang itu lapuk. Hal tersebut juga karena terus menerus mendapatkan benturan di saat pedang tersebut terbakar begitu hebat. Lin Xuan yang bertumpu pada pedang tersebut langsung ambruk, bersamaan dengan melihat patung yang saling menghancurkan.

__ADS_1


Patung pembawa pedang berhasil menghancurkan patung pembawa perisai karena Lin Xuan yang memancingnya. Karena kehilangan keseimbangan, patung pembawa perisai roboh, dan perisainya jatuh menimpa kepala patung pembawa pedang. Semuanya sudah berakhir di atas senyuman cerah Lin Xuan.


“Sialan, andaikan aku menyadarinya dari awal aku pasti tidak akan hancur seperti ini.” Ucapnya sambil tersenyum. “Tapi jika aku tidak melakukan ini, maka aku juga tidak mengetahui kemampuanku yang sebenarnya.”


__ADS_2