Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian

Fallen Devil: Kebangkitan Dewa Kematian
Acara Lelang (3)


__ADS_3

Semua orang terdiam, mereka sangat ragu untuk melontarkan harga setinggi itu. Apalagi 600 koin emas itu sudahlah sangat banyak yang membuat mereka setidaknya harus mengambil kekayaan sebuah keluarga selama bertahun-tahun. Tapi, Jin Wu sama sekali tidak ingin mengalah.


“610 Koin emas!”


“Raja kota, aku tahu Anda adalah tamu terhormat. Tapi izinkan aku yang mendapatkannya. 630 Koin emas!” Ucap patriak keluarga Wue.


“Aku tidak ingin mengalah. 650 Koin emas!” Teriak Jin Wu.


“Jika memang begitu, aku tidak punya cara lain. 700 Koin emas!” Teriak patriak keluarga Wue.


Jin Xuan terdiam. Karena itu sudah terlalu banyak dan dia juga sangat ragu untuk menaikkan harganya. Sehingga, dia menggertakkan giginya dan memilih untuk mengalah. Dia menyadari bahwa tidak mungkin untuk menyaingi keluarga Wue meskipun dia adalah seorang raja kota.


Lin Xuan tersenyum saat memperhatikan bahwa para tamu khusus terutama kelurga Wue dan Jin berusaha keras menghabiskan uang mereka hanya untuk baju zirah naga es tersebut. Tapi, meskipun keluarga Wue menawarna 700 koin emas, dalam hati Mei Lin seolah tidak begitu rela yang membuat Lin Xuan mengerti.


700 koin emas itu rasanya masih terlalu rendah. Lin Xuan tidak tahu mengapa sebelumnya Mei Lin berkata seperti itu, tapi dia juga berambisi mendapatkannya untuk gurunya sendiri seolah gurunya ingin mendapatkan dengan harga yang sangat tinggi. Jadi, Lin Xuan akan bermain di permainan ini.


“Apakah tidak ada yang menawar lagi? 700 Koin emas?” Teriak Madam Li dengan penuh semangat.


“701 koin emas.”


Ucapan barusan tiba-tiba muncul di kamar ruang nomor 9. Pandangan mereka tiba-tiba menoleh ke asal suara tersebut dengan terkejut dan takjub. Pasalnya, mereka menganggap tamu khusus nomor 9 sama sekali tidak berguna karena tidak menawar. Tapi siapa yang berpikir bahwa tamu khusus nomor 9 muncul di akhir permainan.


Namun ada juga yang menertawakan Lin Xuan karena dia menawar secara mepet, yaitu hanya 1 koin emas lebih tinggi dibandingkan dengan patriak keluarga Wue.


“Xuan’er, apa yang kamu katakan! Tarik kata-katamu!” Ucap Mei Lin dengan tatapan serius.

__ADS_1


“Guru tenang saja. Jika bagi guru itu adalah barang berharga dan tidak pantas dibeli dengan koin emas sekalipun, aku akan mendapatkannya untuk guru.” Balas Lin Xuan.


“Tapi Xuan’er, kau ....”


“Duduklah guru, nikmati saja permainan ini.” Potong Lin Xuan.


Mei Lin menggertakkan giginya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh anak yang sok itu. Tapi, dia juga berpikir untuk setidaknya menikmati permainan yang dibuat oleh Lin Xuan.


“Hahaha, tampaknya kau membuat lelucon di akhir perminan nak. Menaikkan satu koin emas seperti itu apakah menurutmu sudah menang? bagaimana dengan 750 Koin emas!” Teriak patriak keluarga Wue.


“751 Koin emas.” Timpa Lin Xuan.


“Hei, apa-apaan ini. Apakah kau meremehkanku?” Patriak keluarga Wue menatap Lin Xuan dengan sangat sinis. “800 Koin emas, dua kali lipat dibandingkan dengan harga asal.”


“801 Koin emas? Apakah boleh?” Lin Xuan berkata dengan nada meremehkan.


Padahal secara terus terang, emas seperti itu merupakan harta kekayaan keluarga Wue selama bertahun-tahun. Mengeluarkan 900 koin emas hanya untuk baju zirah pasti akan membutuhkan waktu yang lama agar uangnya kembali. Tapi, apakah dia peduli? Tentu saja tidak. Dia ingin mencari perhatian agar dianggap keluarga paling kaya di kota Jinling dengan mengeluarkan emas sebanyak itu.


“50 Koin.” Teriak Lin Xuan.


Semua orang yang mendengar itu tertawa dengan sangat keras, hingga membuat pavillium ini sedikit bergetar karena mendenga ucapan Lin Xuan yang tidak masuk akal. Mereka berpikir bahwa Lin Xuan menawarkan 50 koin emas, yang mana itu sangatlah rendah dibandingkan dengan apa yang ditawarkan oleh patriak keluarga Wue.


“Hahaha apakah kau sudah gila. Kau taruh mana otakmu.” Kata tamu khusus nomor 6 dengan tawa yang terbahak-bahak.


“Ku pikir kau tidak bisa menutupi rasa malumu. Tapi ternyata kau masih mempermalukan dirimu sendiri.” Ucap patriak keluarga Wue.

__ADS_1


“Tuan tamu nomor 9. Tolong untuk tidak bermain-main dalam acara ini. Ini adalah acara yang serius.” Madam Li berbicara.


“Orang mengikuti lelang untuk menaruh harga yang paling tinggi. Tapi mengapa kau menawar harga paling rendah. Sudah seharusnya kau dari awal turun daripada kau mempermalukan dirimu sendiri.” Kata penonton yang bukan dari kalangan tamu khusus menghina Lin Xuan.


Lin Xuan tersenyum sambil melemparkan sesuatu ke arah penonton biasa yang menghinanya tadi. Dan saat mengenai kepala penonton itu, wajah Lin Xuan terangkat dengan tatapan yang cukup sinis dan sangat mengerikan.


“Gunakan koin platinum itu untuk menyumpal mulutmu. Aku sama sekali tidak berkata bahwa aku ingin menawar dengan 50 koin emas. Tapi koin platinum. Maksudku, 50 koin platinum.”


Semua orang tiba-tiba menjadi terdiam tidak berkata apa-apa. Apalagi penonton biasa yang baru dilempar oleh Lin Xuan menggunakan setengah koin platinum yang menjadi tidak berharga sama sekali.


Baik itu Jin Wu, patriak keluarga Huo maupun Wue, kemudian tamu kamar ruang yang lainnya menatap ruangan nomor 9 dengan tatapan yang mengejutkan. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja Lin Xuan katakan. Bahkan madam Li yang diam dan hening sejenak.


Tidak mungkin bagi para tamu khusus untuk menawar lebih dari 50 koin platinum. Memiliki satu koin platinum saja sudah sangat jarang, apalagi 50 koin platinum? Mereka bekerja sama selama berpuluh tahun sekalipun sangat tidak mungkin untuk mendapatkan 50 koin platinum.


“Xuan’er, kau tidak bercanda kan?  itu bukanlah sebuah batu yang kau pungut dengan begitu mudah.” Mei Lin mengalami keraguan.


“Dari makam kuno itu, aku memiliki tumpukan koin emas dan platinum seperti tumpukan sampah. Jadi, aku ingin membantu guru dengan kemampuanku. Aku akan membelikan zirah naga es yang menurut guru tidak bisa dibeli dengan ratusan emas.” Wajah Lin Xuan terlihat sangat meyakinkan.


Mei Lin hampir tidak percaya.. Padahal dia berniat untuk menjual barang berharganya untuk Lin Xuan. Tapi siapa yang sangka bahwa dirinyalah yang justru dipermainkan oleh Lin Xuan itu sendiri. Sehingga dia menggelengkan kepala dan sedikit tersenyum akan kebodohannya.


“Li-lima puluh koin platinum? A-apakah tidak ada?” Madam Li berteriak, namun dia tahu meskipun dia berbicara seperti itu tidak akan ada yang bisa menandingi harga setinggi itu.


“Lima puluh koin platinum satu.”


“Lima puluh koin platinum dua.”

__ADS_1


“Lima puluh koin platinum tiga. Selamat untuk tamu khusus di ruang kamar nomor 9.”


__ADS_2