
Lin Xuan dan Jin Xie berdiri di depan gerbang inti makam kuno yang terbuat dari batu besar. Gerbang itu memiliki tinggi lebih dari sepuluh meter dan lebar lima meter. Dinding gerbang dihiasi dengan relief yang rumit dan berukir dengan indah.
Lin Xuan tidak bisa membaca tulisan aneh di dinding, namun ia merasa ada semacam kekuatan yang terkandung di dalamnya.
Di depan gerbang, terdapat empat patung penjaga yang terbuat dari emas murni dengan senjata yang berbeda-beda. Patung-patung itu diletakkan di atas empat tiang yang terbuat dari batu besar dan diletakkan di masing-masing sudut gerbang. Setiap patung memiliki tinggi sekitar lima meter dan wajah yang datar tanpa ekspresi.
Patung penjaga pertama memegang pedang panjang yang dihiasi dengan batu permata. Pedang itu terlihat tajam dan kuat, dengan lapisan emas yang mengkilap di sekitar gagangnya.
Patung penjaga kedua memegang tombak yang panjang dan tipis, dengan ujung yang tajam dan mengkilap.
Patung penjaga ketiga memegang sebuah kapak dengan ukiran emas di kapak tersebut. Patung penjaga terakhir memegang perisai besar yang terbuat dari emas, dengan gambar naga yang diukir di permukaannya.
Semua patung itu tampak sangat nyata dan indah, seakan-akan mereka hidup dan siap untuk bergerak sewaktu-waktu. Lin Xuan merasa aura yang sangat kuat dan tak terduga dari setiap patung. Dia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di depan gerbang inti ini.
“Kita ada dimana?”
“Sial, besar kemungkinan semua yang ku lalui hanyalah sebuah tempat tidak berguna seperti teras rumah? Atau mungkin halaman rumah? Karena besar kemungkinan makam utamanya berada di dalam gerbang itu.” Batin Lin Xuan terlihat sangat kesal.
Tapi ini merupakan keberuntungan yang baik baginya. Untung saja, dia di teleportasikan di tempat ini secara langsung seolah nasib dan takdir baik mendukungnya untuk kali ini. Karena jika gerbang teleportasi itu diperuntukkan orang lain, maka Lin Xuan sangat menyesalinya karena melewatkan hal seperti ini.
Dia mencoba untuk berjalan perlahan ke arah gerbang dengan ukiran aneh baginya. Karena dia juga penasaran dengan apa yang ada di dalam gerbang tersebut kecuali spekulasinya bahwa di dalamnya adalah makam utama.
Seharusnya ini tidak simpel, Lin Xuan berpikiran demikian. Masalahnya untuk berjalan ke arah gerbang terlalu mudah, jadi dia berpikir pasti ada sebuah jebakan di sekitarnya. Sehingga berhati-hati sepertinya diperlukan.
“Kau harus hati-hati, ini terlalu mencurigakan. Jangan bertindak bodoh.” Ujar Jin Xie memperingati.
“Aku tahu, aku tidak sebodoh itu.”
Sampai di depan sebuah gerbang, Lin Xuan menyentuh gerbang dengan ukiran tersebut dengan berhati-hati. Namun seketika dia merasakan sebuah krisis yang luar biasa, karena itulah dia langsung melompat ke belakang.
“Di atasmu!”
__ADS_1
Respon Jin Xie lebih lambat dibandingkan dengan Lin Xuan. Padahal dia bersikap sebagai seorang penonton. Ucapan seperti itu terselesaikan baru Lin Xuan melompat ke belakang, karena menghindari sebuah ayunan kapak dari salah satu patung yang tampaknya hidup.
“Patungnya hidup?” Lin Xuan menyadari sesuatu saat keempat patung memiliki mata yang menyala seolah hidup.
Itu dimulai tadi saat salah satu patung mengayunkan sebuah kapak. Untung saja Lin Xuan berhasil menghindarinya tepat waktu atau yang terjadi tubuhnya akan tercacah.
Disusul oleh patung pembawa pedang, yang mengayunkan pedangnya ke arah Lin Xuan yang berukuran mungil baginya. Sayangnya, Lin Xuan tidak bisa bergerak tepat waktu selain dia tergores oleh pedang besar yang membuat tangannya hampir patah karena ujung pedang tersebut.
“Lari! Sebaiknya kita lari.” Teriak Lin Xuan.
Dengan kekuatan penuh, dia mengalirkan qi ke seluruh tubuhnya. Berusaha untuk menggunakan jurus sutra kesempatan untuk menghindari empat patung penjaga yang mengamuk.
Sayangnya pergerakan patung yang membawa perisai juga bisa dibilang sangat cepat. Dia menghantamkan permukaan patung ke arah Lin Xuan, sehingga membuat Lin Xuan membentur gerbang inti makam kuno hingga tulangnya seperti hancur.
Depan belakang tubuhnya mengalami rasa sakit yang begitu berat. Seteguk darah keluar dari mulut dan membasahi bibirnya. Di depannya sudah ada patung dan hendak menghunuskan sebuah tombak ke arah Lin Xuan.
“Hahahaha, kalian ingin bermain denganku? Baiklah!”
Dengan menyeka darah di bibir, Lin Xuan menarik pedang dan mengalirkan qi ke pedangnya. Hingga terjadilah sebuah pembakaran yang membuat pedang Lin Xuan menghitam.
Tapi sepertinya itu sia-sia, meskipun Lin Xuan melompat dan mengayunkan kobaran api di pedangnya, tidak ada kerusakan apapun yang terjadi pada patung yang menjadi target sebelumnya.
Kini dia hanya bisa fokus untuk menghindar. Terlebih kekuatan satu patung bisa jadi berkali lipat lebih kuat dibandingkan Lin Xuan. Jelas, karena Lin Xuan sendiri tidak bisa melihat ranah kultivasi apa yang dimiliki keempatnya.
Di sisi lain, Jin Xie hanya melihat, dia tidak tahu harus berbuat apa. Matanya seolah merekam semua kejadian tentang pergerakan Lin Xuan yang begitu elegan saat menghindari semua serangan dari empat patung penjaga.
“Kau, berhati-hatilah! A-aku akan membantu.”
“Tidak perlu, jangan menjadi beban bagiku!” Teriak Lin Xuan sambil menghindari sebuah kapak yang ukurannya jauh lebih besar dari dirinya.
Memang Lin Xuan bisa menghindar dengan baik, tapi ayunan pedang mengarah kepada dirinya. Sehingga dengan penuh tenaga, Lin Xuan bergerak dengan sangat cepat.
__ADS_1
Sayangnya, sebuah ayunan tombak menghantam tubuh Lin Xuan. Untung tak terkena ujung tombak atau yang terjadi dia akan terbunuh begitu saja. Mengakibatkan tubuh Lin Xuan membentur tanah dengan sangat kuat dan menyakitkan.
“Aghh, keempat patung itu bukan lawanku.” Kata Lin Xuan lirih sambil melihat sebuah perisai di atasnya terjun bebas bagaikan meteor yang akan menimpa dirinya.
“Hahaha, kenapa bodohnya diriku yang ingin menyerah begitu saja. Guru mempercayai diriku, tidak akan ku biarkan diriku mati begitu saja.”
Lin Xuan mengangkat pedangnya yang terbakar, tapi dia semakin membakar pedangnya tidak peduli melukai dirinya sendiri. Dia mengangkatnya secara vertikal ke atas, seolah bersiap untuk menerima sebuah serangan mematikan dari sebuah perisai yang akan menerima dirinya.
Braak!
Sebuah benturan tanah terdengar begitu hebat, Jin Xie diam mematung, wajahnya seputih kertas saat melihat penolongnya hancur begitu saja. Jelas ada penyesalan di dalam dirinya, bahkan dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak mau untuk bergerak.
“Tidaaak! Jangan mati begitu saja!” Teriak Jin Xie sambil berlari ke arah patung emas yang memberi bulan-bulanan kepada Lin Xuan. Wajahnya menurunkan air mata.
“Mundurlah! Aku bilang jangan bergerak di tempat!”
Pria yang pernah sok kuat di hadapan gurunya itu berteriak dengan sangat kencang. Memberikan aba-aba kepada tuan putri keluarga Jin untuk tidak bergerak dan ikut campur.
Hal tersebut tentu saja membuat putri itu penasaran apa yang terjadi. Tapi setelah mendengar suara dari laki-laki tersebut, dia bisa tenang.
Kepulan asap perlahan menghilang. Lin Xuan di bawah tekanan pedang yang menahan perisai berpuluh kilo sedang tersenyum. Dia juga seperti tenggelam di tanah karena tekanan yang begitu luar biasa.
Pedang di tangan Lin Xuan memberikan sebuah kobaran api yang begitu kuat. Bahkan tangannya sendiri hangus melepuh. Di tambah beban berat yang muncul, membuat Lin Xuan cukup merasakan kesakitan. Sayangnya, Lin Xuan sama sekali tidak menyerah.
...****************...
Jangan lupa like dan komentarnya 🙂🥺
__ADS_1